“Apaan sih, engga kenapa-kenapa Rose, ngapain juga aku sakit hati,” ucap Ana dengan diriringi senyum manisnya. Rose mendecih pelan sebelum menoyor kepala Ana pelan, membuat Ana memasang wajah betenya, mempoutkan bibirnya dan mengembungkan pipinya ke arah Rose. Rose mendelik melihat kelakuan Ana, bukan karena sikapnya yang seolah memasang wajah bete tapi sikapnya yang seolah terlihat biasa saja tapi mata tidak bisa menipu siapapun, terutama seorang sahabat. “Sana siapkan barang-barang buat nanti perjalan, jangan sampai ada barang yang tertinggal Ana. Aku gak mau kamu ataupun yang lain malah kenapa-napa karena kalian yang lupa membawa perlengkapan sendiri.” Ana mendengus dan melangkah ke arah lemari pakaiannya dan mengambil beberapa helai pakaian, memasukan

