Sedikit Rumit

1812 Kata
Padahal, masalahnya sepele. Satria hanya mencoba meminta tolong padanya untuk memberikan pertolongan pertama. Tapi, entah kenapa berujung menjadi masalah baru dan tak segan-segan menjadi mega problem. Sulit bagi Afifah menyesuaikannya, menenangkan air yang bergejolak marah. Salah paham dan cepat sekali memahami ternyata tidak sebagus itu. Mungkin ada kekeliuran yang tidak termakan otak dan malah memunculkan masalah. Afifah tidak menyalahkan Ayahnya, sama sekali tidak. Tapi, ia cukup sedih, ayahnya tidak mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Ia tahu ini dikarenakan ayahnya yang begitu peduli dan sayang padanya, tapi setidaknya dengarkanlah dulu penjelasannya. Afifah segan pada Satria, niatnya meminta tolong malah seperti ini. Satria menambahkan sedikit penjelasan jika ia bisa tahu letak kos Afifah dan Tiara karena jujur ia pernah mengikuti para gadis itu ketika mereka pulang dari sekolah. Satria merasa ia penasaran terhadap Afifah, seperti memiliki magnet terhadap dirinya yang mau tak mau ia harus mendekat. Afifah tidak menyangka ucapan itu keluar dari mulut Satria yang untungnya hanya ada mereka berdua di sana, jika tidak, mungkin masalah yanga da akan semakin panjang. Yang lebih parahnya mungkin ia akan betul-betul di kurung lagi oleh ayahnya, ia tidak boleh keluar dari kampung. "Aku minta maaf sekali lagi, Satria." Satria sebenarnya juga kesal di perlakukan seperti itu oleh ayah Afifah, tapi mau bagaimana lagi, ia tak mungkin melawan orang tua. "Iya. Gak papa." Tiara dan Afifah saling lirik. Tiara sendiri tidak terlalu merasa bersalah karena yang mengalami Afifah bukan dirinya. Jadi ia tidak tahu pasti bagaimana perasaan Afifah sekarang. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menyemangati dirinya,setidaknya itu bisa melegakan perasaannya. "Gue duluan." Ketika Satria berlalu, Afifah kembali meringis malu. Sebab yang tadi malam itu sangat sepele, padahal Satria hanya meminta bantuan. Tapi ayahnya terlalu marah duluan dan akhirnya menyebabkan suatu masalah yang sedikit besar. "Aku malu banget, Ra," ringis Afifah pelan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku juga enggak tahu pasti gimana perasaaan Satria sekarang karena dia keliatan baik-baik aja, bisa aja kan dia sakit hati di dalam." Tiara menghela nafas. "Udah gak papa, Fa. Udah berlalu juga, kan?" "Emang udah berlalu, tapi rasa malunya jadi benalu, Ra." Afifah masih saja meringis mengingat kejadian tadi malam. Rasanya ia tak punya muka dihadapan Satria, tapi mau bagaimana lagi, ia tentu tidak bisa menghilangkan wajahnya begitu saja. "Lagian emang kamu mau nyalahin siapa? Ayah kamu?" tanya Tiara yang menohok Afifah. Ya, sedari tadi ia meringis malu, memangnya secara tidak langsung siapa yang ia salahkan? Tentu ayahnya. "Ya Allah, Ra." Afifah kemudian menghela nafas panjang. "Oke, aku enggak bakal malu lagi. Ayah aku kan perhatian makanya begitu. Kalau enggak, pasti malah seneng lihat Satria ada di kos anak perempuannya." Tiara tersenyum dan mengangguk. Ia mengacungkan kedua jempolnya. "Oke mantep. Masalah Satria, ya mau dia kesel atau gimana ya udah terserah aja, yang penting kamu udah minta maaf walau sebenarnya gak ada yang salah di sini. Dia juga harusnya sadar sih ya, hampir maghrib tuh enggak perlu datang ke tempat tinggal perempuan." Afifah berdecak pelan. "Namanya mendadak, Ra. Jadi ya mau gak mau dia emang harus ke tempat kita." Tiara hanya menagngguk-angguk. Mau protes bagaimana pun ya memang benar jika hal itu mendadak dan urgent. Afifah dan Tiara memutuskan melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam sekolah. Tapi mereka berhenti ketika melihat Kila sedang menatap khawatir pada Satria. Samar-samar mereka mendengar suaranya. "Satria! Kaki kamu kenapa?" Memang Satria terlihat sedikit timpang, mungkin lukanya yang kemarin belum sembuh total. Di pikir-pikir iya juga, baru juga satu hari. "Enggak papa. Ada luka kecil," jawab Satria sedikit cuek, ia malas meladeni siapapun sekarang. Moodnya tidak enak. "Loh kok bisa?" Kila mengikuti langkah kaki Satria yang pergi begitu saja tidak peduli Kila mengikutinya dari belakang. Afifah menoleh pada Tiara. "Kalau Satria bilang ke Kila tentang tadi malam, pasti bakalan kena nih kita sama dia," ujar Afifah pelan. "Gak papa, Fah. Mau apa dia sama kita? Kita balas. Emangnya dia pikir kita takut?" "Kan emang takut." Tiara melempar tatapan sengitnya pada Afifah yang terkekeh pelan. "Enggak ya, Fa. Sama-sama manusia, kenapa juga harus takut." "Soalnya Kila garang, Ra," ujar Afifah jujur, tapi nada bicaranya lucu, membuat mereka berdua tertawa. "Yauda lah enggak usah bahas dia. Kita masuk kelas aja yuk!" seru Tiara sembari merangkul Afifah dan mereka berjalan kembali dengan ceria. *** Ayah Afifah duduk terdiam di dekat pintu kos Afifah. Kedua lengannya memeluk kedua kakinya yang tertekuk. Matanya memang sedang menatap Ara yang sedang bermain pasir di depan sana. Tapi pikirannya sedang tertuju pada Afifah. Ia tahu jika anak lelaki itu datang hanya meminta pertolongan kecil. Tapi, entah kenapa ia masih merasa tidak suka. Pasalnya, mereka bukanlah mahram. Lelaki itu datang dan Afifah menerimanya, seperti masih ada perasaan marah di dadanya. Ia masih tidak terima ada lelaki asing yang mendekati anaknya. Niatnya ingin mengunjungi Afifah dan bersenang-bersenda gurau dengannya, tapi malah seperti ini kejadiannya. Ayah sadar jika ini cukup sepele, tapi ia masih tidak bisa terima. "Yah." Ibu Afifah, Lena memanggil. Beliau duduk dengan kaki terlipat di samping Ayah. Tangannya juga menepuk beberapa kali bahu Ayah. "Pasti mikirin yang tadi malam, ya?" Ayah terdiam, tidak ia jawab pun, Lena sudah tahu pasti apa penyebab Rasno terdiam seribu bahasa sejak pagi tadi. "Gak usah dipikirin terlalu banget, Yah. Satria, anak laki-laki tadi malam kan cuma minta pertolongan kecil. Afifah dan Tiara sudah sepatutnya menolong. Jadi enggak perlu ada yang di khawtatirkan, itu perbuatan mulia, Ayah." "Ayah tau, Bu. Tapi rasanya kayak masih gak terima. Kalau anak itu memang butuh pertolongan, kenapa harus ke sini? Kenapa harus ke tempat Afifah? Dia pasti punya banyak temen pria yang lain." Ayah tiba-tiba teringat sesuatu. "Atau jangan-jangan Afifah berteman dekat dengan anak itu?" tanyanya dengan mata melebar memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. "Ya Allah, Ayah. Enggak papa berteman sama pria, asal tau batasan. Sewajarnya aja." "Bu, awalnya memang wajar, sewajarnya aja. Tapi lama kelamaan kurang ajar. Ayah udah bisa nebak pasti selalu begitu, Bu," balas Ayah tidak mau kalah dengan pendapat ibu. "Yah, itu namanya Ayah suudzon. Gak baik. Kita gak bisa memprediksi sesuatu karena takdir enggak ada yang tau," marah ibu. "Intinya Ayah enggak perlu mikirin apapun lagi, enggak usah mikirin tentang tadi malam karena Ibu sendiri menganggap perbuatan Afifah itu sudah tepat." Ayah menghela nafas dan beristighfar dalam hati. Ia kemudian bangkit berdiri diikuti oleh Lena. "Ayah mau cari mesjid. Mau sholat dhuha. Tenangin pikiran. Ayah soalnya enggak bisa ada sesuatu yang aneh terjadi sama Afifah," ujar ayah sembari mengambil pecinya. "Yauda, Yah. Nanti pas Afifah pulang. Ayah enggak boleh kayak tadi lagi. Kasian dia, pasti juga terbebani." Ibu memperingatkan. "Ayah harus inget kalau besok kita udah harus balik ke kampung. Jadi cuma hari ini hari terakhir bersama Afifah." Ayah tercenung mendengarnya. Benar, hari terakhir yang tidak bisa di sia-siakan begitu saja. "Yauda Ayah berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ibu tersenyum. "Wa'alaikumussalam." *** Afifah dan Tiara masih mengerjakan soal dari guru ketika tiba-tiba seorang siswa perempuan masuk ke dalam kelas. Siswa yang memakai kerudung cukup lebar hingga menutupi siku-sikunya. Ia juga terlihat malu-malu dan menunduk tidak berani menatap ke seluruh kelas. Dan tentu hal itu menjadi pusat perhatian kelas. "Ra, kok kayaknya dia sefrekuensi sama kita, ya?" tanya Afifah tersenyum senang. "Nanti ajak kenalan yok, Ra. Siapa tau kita cocok sama dia dan jadinya punya temen baru." Tiara tertawa. Ia juga merasakan hal yang sama. "Boleh banget, Fa." "Mila. Ayo perkenalkan diri kamu." Afifah dan Tiara saling lirik dengan wajah antusias. Namanya Mila! "Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," ujar Mila dengan mata yang tak fokus, ia menatap tidak hanya ke satu arah. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Afifah dan Tiara menjawab paling kencang. Yang lainnya hanya di awal dan bahkan ada yang diam saja tidak menjawab. "Pagi semua. Nama saya Mila Cahaya, pindahan dari SMA Mestika Putri. Salam kenal semuanya." "Salam kenal Mila!!" seru semua orang di sana. Mila pun di persilahkan duduk di bangku paling depan karena memang salah satu bangku di sana kosong karena murid sebelumnya memutuskan untuk tidak lanjut sekolah. Afifah sudah semangat sekali ingin berkenalan dengan Mila, begitupun Tiara. Mereka berdua yakin jika Mila akan menjadi teman kedua mereka yang tentunya akan sangat menyenangkan nantinya. Ketika pelajaran berakhir, semuanya bubar dan tinggal Mila seorang diri di sana. Ia duduk sendirian dengan mata lurus ke bawah membaca buku-buku baru miliknya yang tadi di bawakan oleh Bayu, ketua kelas mereka. "Fah," panggil Bayu mendekati meja Afifah dan Tiara. "Tadi kata bu guru, coba kalian dekati Mila dan ajak ngobrol, teman, atau apalah. Katanya dia anaknya pendiam banget, gak suka bicara dan jarang punya temen. Mungkin kalian bisa bantu." "Bu guru yang bilang?" Bayu mengangguk pasti. "Iya dia pindah pun alasannya karena enggak punya temen di sana. Makanya coba ajak ngobrol ya biar dia nyaman di sini." Afifah dan Tiara tentu bersedia dengan senang hati. Tapi mereka tidak sadar, tidak semua orang pendiam tidak punya teman, terkadang ada beberapa alasan lain mengapa seseorang bisa sampai tidak punya satupun teman. Dan mereka melupakan pertanyaan itu terhadap Mila. "Assalamu'alaikum Mila," sapa Tiara duduk tepat di samping Mila. Sedangkan Afifah mengambil kursi lain dan menyeretnya ke depan meja Mila. Mila menatak kaget mereka berdua. "Wa'alaikumussalam," jawabnya kaku. Afifah dan Tiara saling lirik. Mila sepertinya memang sependiam itu karena sekarang saja dia sudah menunduk menatap bacaannya kembali. Mungkin ia tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan dengan Afifah dan Tiara selain menjawab salam. "Kamu enggak ke kantin, Mil?" tanya Afifah yang di jawab gelengan oleh Mila. "Aku enggak kebiasa ke kantin," jawabnya pelan. "Engga terbiasa?" Heran Tiara. "Kenapa enggak terbiasa, Mil? Kalau boleh tau." "Enggak ada yang mau berteman dengan aku. Jadi ya ...." Mila tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong nama kalian siapa?" "Aku Tiara." "Aku Afifah." Tiara dan Afifah menjawab hampir berbarengan dan itu membuat Mila tersenyum. Sepertinya dua orang di hadapannya ini benar-benar teman sejati. "Aku Mila, salam kenal ya ke kalian berdua." Afifah dan Tiara sama-sama tersenyum dan menunjukkan jempol mereka. "Aman, Mil. Kamu juga gak perlu takut apapun, takut gak punya temen atau apapun itu. Karena ada aku sama Afifah di samping kamu," ujar Tiara dan disetujui oleh Afifah. "Bener, Mil. Kita tuh gak suka ada orang yang di sendirikan padahal enggak punya salah apa-apa," sahut Afifah tersenyum lembut. Mila pun ikut tersenyum, ia terharu mendapat teman baru seperti Afifah dan Tiara di sekolah barunya. "Makasih ya, Ra, Fa. Semoga aku gak salah pilih sekolah lagi dan aku bakal tamat di sekolah ini." "Eh tunggu. Kamu udah beberapa kali pindah sekolah, ya?" Mila mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Tiara. "Iya, beberapa kali dan ini yang ke empat, Ra. Aku juga pernah depresi sampai ketinggalan satu semester pelajaran dan akhirnya ngulang dari awal." Mata Afifah membesar. "Kalau gitu harusnya kamu senior dong! Kita sopan ga manggil nama aja kayak gini? Enggak perlu embel-embel kakak gitu?" Mila terkekeh, lucu melihat ekspresi Afifah. "Enggak perlu, Fa. Panggil Mila aja," ujar Mila mengibaskan tangannya, ia sudah terlihat akrab dengan mereka berdua. Tiara dan Afifah lega, mereka pikir akan tidak sopan kalau memanggil nama saja. Tapi untungnya Mila merespon baik dan rasa yakin jika mereka akan sefrekuensi pun semakin besar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN