Sudah Terlihat Walau Sedikit

1256 Kata
Pernah mendengar tentang tiga orang yang berteman dan pasti salah satu dari mereka akan merasa tersingkirkan atau sebenarnya memang tersingkirkan. Ketika dua orang yang lainnya terlalu searah dan memiliki kesamaan yang lebih banyak, secara tak sadar mereka meninggalkan yang satunya dan lupa padanya. Hal itu di rasakan Mila sejak pertama kali ia berteman dengan Afifah dan Tiara. Sebenarnya awalnya biasa saja, tapi ia merasa mereka berdua terlalu memiliki ketertarikan yang sama. Jadi, terkadang ia tidak bisa paham apa maksudnya dan hanya tersenyum serta tertawa menanggapi walau tidak tahu apa maksud asli dari ucapan mereka. "Haha, ada aja, Ra." Tiara tertawa dan Afifah memukulnya pelan karena tak tahan dengan jenakanya Tiara. Mila sebenarnya paham tapi entah kenapa tawa mereka tidak menular padanya. "Mil, kok kamu diam aja?" tanya Tiara heran ketika Mila hanya terdiam duduk di sana. "Eh enggak kok, Ra." Mila menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tersenyum walau terlihat sedikit dipaksa, tapi sayangnya baik Tiara maupun Afifah, tidak menyadari hal itu. "Oh ya Mil, kamu suka kucing gak?" Afifah bertanya padanya, bermaksud ingin membicarakan kelucuan kucing masing-masing. "Aku gak suka kucing, Fa. Lebih ke kelinci sih," sahut Mila jujur. Ia tampak senang karena sekarang ia ditanya, setidaknya tidak menjadi yang hanya memperhatikan. "Oh gitu, Mil. Kalau aku sama Tiara suka banget sama kucing," balas Afifah yang membuat Mila lesu. Jawaban ia tak sesuai, tak selaras. Tapi ia memang jujur, ia lebih menyukai kelinci ketimbang kucing, tapi mau bagaimana lagi kalau ia memang tidak begitu sefrekuensi dengan Tiara juga Afifah. "Tau gak, Mil. Nama kucingnya Tiara siapa?" tanya Afifah dengan sudut bibir menahan ketawa. Sedangkan Tiara di depan sana sudah memicing menatapnya. "Siapa emangnya, Fa?" "Udin ... hahaha!" Tawa Afifah lepas walau tidak terlalu kencang. Tapi ia tidak bisa mengontrol tawanya dalam sesaat ketika mengingat-ingat tentang pemberian nama itu. Lucu saja, Udin adalah nama anti mainstream pada kucing yang rasa-rasanya baru ia dengar pertama kali. "Udin?" Mila mengernyitkan dahinya dan tertawa. Awalnya tawanya ia tidak selepas Afifah, hanya tawa pelan. Tapi karena Mila merasa tidak seru seperti ini, ia akhirnya mencoba tawa sedikit lebih kencang seperti Afifah. Namun, sayangnya, tawanya jadi terdengar aneh dan kaku. Tidak terdengar natural sama sekali. "Mil? Kamu gak papa?" tanya Tiara bingung menatapnya, begitupun Afifah. Mereka berpikir ada sesuatu yang salah dengan Mila. "Hah?" Mila mengerjap. Apa yang ia perbuat barusan itu salah? "Eh enggak papa hehe," ia pun hanya tertawa canggung setelahnya. Afifah dan Tiara masih merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mila. Seperti ada rasa yang hanya ia sendiri yang pendam. Tapi entah apa. Sayangnya Mila tidak memberitahu. "Kamu ada masalah, Mil?" Afifah terlihat pengertian. Tapi memang jangan ditanya, sesama teman memang harus bersikap seperti itu. "Enggak kok, Fa. Cuma emang lagi capek aja." Mila tersenyum kaku, ia jadi malu sendiri dengan tawa paksa yang ia buat-buat tadi. "Udahlah lupain aja yang tadi. Enggak usah pikirin, kita lanjut obrol lagi." Afifah mengangguk-angguk, ia melirik Tiara yang melihat ke arah Mila. "Jadi kemaren tuh Udin ...." Tawa mulai datang bersahut-sahutan kembali, sedangkan Mila merasa tidak teracuhkan dan hanya diam di sana. Padahal mereka bertiga, mereka duduk bersama, tapi Mila sendiri yang diam tidak tertawa sedangkan dua lainnya asik bercerita. Orang-orang yang berlalu lalang masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi pelajaran dimulai pun hanya melirik sebentar ke Mila. Merasa kasihan karena tidak diajak bicara. Tapi sebenarnya tidak juga. Afifah dan Tiara sudah sama-sama bertanya pada Mila tentang apa saja, dan memang faktanya ketertarikan perempuan itu cukup beda dengan dua lainnya. Sebenarnya, kalau sudah seperti ini, Mila lah yang harus beradaptasi jika memang betul-betul ingin memiliki teman. Bukan hanya diam dan tunggu di tanya maupun merasa kukuh dengan ketertarikan sendiri. "Yauda deh, Fa. Kamu ketawa mulu," ujar Tiara di sela-sela tawanya, ia menghapus sudut matanya yang berair dan bangkit berdiri dari duduknya. "Ayo balik ke bangku kita." Afifah bangkit dan membawa kursi yang ia duduki ke tempat semula. Afifah juga sepertinya ingin mengucapkan sesuatu ke Mila, terbukti dengan mulutnya yang terbuka sedikit. Tapi, tiba-tiba guru sudah berada di depan pintu kelas, membuat ia dan Tiara cepat-cepat berjalan ke arah bangku atau guru akan marah karena mereka belum tertib padahal lonceng jam berikutnya sudah berbunyi. Sedangkan Mila, ia tertunduk. Mereka bahkan tidak menyapaku lagi saat berpisah, batinnya. Ia merasa dilema dan khawatir sekarang. Mila memang tipe perempuan yang overthinking. *** Saat pulang sekolah, kini menjadi tugas Afifah dan Tiara kembali untuk menyapu seluruh ruangan kelas. Mila sebenarnya tidak ditempatkan bersama mereka, tapi ternyata perempuan itu memaksa untuk tinggal dan membantu-bantu mereka. "Mil, aku bisa minta tolong?" Afifah berujar, ia mengusap keringat yang mengalir dari dahinya. "Kamu hapus coretan di papan tulis sama tutupin seluruh jendela kelas? Soalnya aku sama Tiara masih nyapu, banyak banget sampahnya, kayaknya ini mesti di pel juga." Mila mengerjap dan akhirnya mengangguk menyetujui ucapapan Afifah. Walaupun di dalam hati, ada rasa tak enak karena ia merasa ia diperintahkan ini itu oleh Afifah. Padahal kan Afifah sebenarnya juga sudah meminta tolong padanya. Mila adalah orang yang super sensitif, overthinking dan susah beradaptasi. Ketiga itu adalah hal yang membuatnya selalu dikucilkan dari yang namanya lingkaran pertemanan. Sebenarnya ini cukup menyedihkan, tapi Mila memang tidak bisa survive dari dirinya yang sekarang. Ia sudah pernah mencoba dan akhirnya gagal. Ia tak bisa dan akhirnya hanya akan terus seperti ini tiap harinya. Mila bahkan tidak bisa memprediksi apakah Tiara dan Afifah masih mau berteman dengannya jika sudah tahu sifat aslinya. Kemudian Mila tersenyum kecil, senyum kecil yang miring. Ya, tentu saja mereka akan tetap berteman dengannya. Mila merasa keyakinannya kembali. "Afifah! Haha!" Mila berbalik ketika mendengar tawa itu membahana di dalam kelas. Tiara sedang terbahak melihat Afifah yang menyapu dengan teknik super cepat. Ia bahkan sudah berada di garis bangku kedua sedangkan Tiara masih ke empat. Afifah begitu cepat, meskipun tetap saja ada pasir yang tertinggal di sana. "Fa, kamu pelan-pelan aja. Ngapain coba cepet-cepet gitu?" Tiara masih tidak bisa menahan tawanya. Afifah tiba-tiba diam dan menaruh sapunya menyandar pada meja. Ia meringis pelan. "Sebenernya aku mau ke kamar mandi," ringisnya yang membuat Tiara semakin terpingkal-pingkal. "Aku ke sana dulu ya!" Ia pun cepat-cepat ke kamar mandi diiringi dengan tawa yang tiada habisnya. Mila hanya diam memperhatikan, ia menaruh penghapus pada tempatnya ketika papan tulis sudah kembali putih bersih. Ia kemudian berjalan ke sisi kiri di mana Tiara menyapu karena ia ingin menutup jendela. "Ra," panggil Mila. "Iya, Mil? Kenapa?" tanya Tiara masih fokus dengan kegiatan menyapunya. "Menurut kamu Afifah gimana?" tanya Mila yang membuat Tiara heran. "Soalnya dia kayak terlalu aktif, ya," sambung Mila terkekeh pelan menatap Tiara. "Maksudnya, Mil?" "Iya, terlalu aktif. Jadi agak aneh aja gitu." Mila mengangkat kedua bahunya. "Kamu enggak ngerasa gitu?" Tiara mengernyit mendengar ucapan Mila, seperti salah, bukan seperti itu harusnya ucapan teman untuk temannya yang lain. "Apa cuma aku yang ngerasain ya? Haha." Mila tertawa sedangkan Tiara hanya diam saja. "Oh ya, Ra, kamu punya waktu habis pulang sekolah ini? Kalau ada, main ke rumah aku yuk. Tapi jangan ajak Afifah, kamu sama aku aja." "Apa ....?" ******* Selama tadi fikiran Tiara terus berkelana terhadap perkataan yang barusan Mila katakan tadi. Namun Tiara mencoba berfikir positif . mungkin ia salah dengar. " Hei Ra kamu kenapa melamun ?" " Gak papa Mil"ujar Tiara kepada Mila. Dalam Pertemanan sering sekali terjadi ketisukaan baik antar satu pihak mau pun pihak yang terlihat baik namun nyatanya diam - diam menghanyutkan. Kita tidak tahu dimana Yang itu benar - benar teman sejati dengan yang namanya musuh. Hidup itu penuh dengan yang namanya persaingan ,Maka dari Tetap selalu menjaga diri jangan mudah terlalu percaya, karena sejatinya Hanya dirimu yang bisa sepenuhnya engkau percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN