Muhasabah

1113 Kata
“ Apa.....?” Tiara mempertajam pendengarannya ,ia takut salah “ Tapi kenapa Mil?” tanyanya. Mila menatap pintu kelas dengan pandangan sekilas, Kemudian menatap Tiara . “ Afifah kan orangnya aktif Ra, takutnya ntar dia berisik di rumahku, Aku gak suka keramaian.” Ujarnya pelan dengan raut wajah datar. Mila tidak terlalu suka dengan Afifah, menurutnya ia terlalu aktif sedangkan ia pribadi dengan karakter pasif tidak suka dengan suasana keramaian. “ Kamu kok gitu Mil?” ucap Tiara tidak merasa suka dengan ucapan Mila barusan. Mila memandang sepatunya “ jadi gimana Ra ?, kamu mau apa gak?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “ Hmm A-k..” Tiba – tiba Afifah muncul di depan pintu kelas . “ Apanya yang mau we?” Ucap Afifah yang mendengar sekilas ucapan. “ Enggak kok Fah,,yakan Ra?” mengedipkan mata ke arah Tiara. Tiara terdiam cukup lama sembari melihat Afifah yang membenahi roknya yang sedikit miring. “ Gini Fah ,tadi kan Mila ngajak aku main ke rumahnya habis pulang sekolah nanti..” ujar Tiara ,matanya menatap Mila yang membuang pandangannya ke samping. “ Lah terus Ra?,, K..Kamu mau ikut gak Fah ?” ucap Tiara pelan. Apapun itu alasannya Tiara harus mengatakan kejujuran, Bagaimanapun Afifah itu sahabatnya , tidaklah mungkin ia melupakannya hanya karena sebuah kehadiran orang baru. Bukankah mereka sudah berjanji akan selalu bersama dan selalu mengingatkan dalam kebaikan. Sahabat Bagai suatu buku dan pena saling membutuhkan satu sama lain, tiada satu maka tidaklah berfungsi . Mila memandang Tiara tidak suka, Mengapa harus mengatakannya pada Afifah, bukankah ia hanya ingin mengajak Tiara seorang tanpa ada kehadiran Afifah. “ Hmm kayaknya gak bisa deh Ra, kalok gak kalian dua aja, hitung – hitung pendekatan ...Eakk” ucapnya lalu tertawa nyaring. Tiara hanya tersenyum pelan menanggapi gurauan Afifah sedangkan Mila hanya menatap tanpa ekspresi apapun di wajahnya.menurutnya ucapan Afifah tidak ada lucunya sama sekali. “ Yaudah deh Fah kalok gak bisa biar aku berdua aja sama Tiara, Yakan Ra” ujar Mila menatap Tiara. Tiara terdiam sejujurnya ia merasa tidak enak kepada Afifah karena pergi tanpa ada dianya, Cuma di satu sisi menolak tawaran Mila juga tidak enak. Akhirnya Tiara mengangguk pelan. “ Soalnya ya Ra ini kan hari terakhir orang tuaku di Jakarta ,jadi aku gak mau nyia – nyiakan waktu kebersamaan ini , Apalagi belum tentu datang tiap bulan” ujar Afifah kepada Tiara. “ Iya juga ya Fah” “ Yaudah deh kita lanjut lagi nyapunya” Afifah mengambil sapu yang tadi telah ia sandarkan di meja , Tinggal bagian beranda depan meja, Afifah menyelesaikan nyapunya ,kemudian Tiara mengepel semua lantai kelas hingga bersih mengkilat tanpa bercak sedikitpun. Mila duduk di pinggiran semen selokan, sesekali tanganya mencuil dedaunan di sampingnya . “ Udah Ra” tanya Afifah yang barusan datang dengan ember di tangannya , Ia barusan mengganti air kotor bekas pel dengan air baru. “ Tinggal terasnya aja kok Fah,” Ucap Tiara menyeka sedikit keringatnya yang mengucur di dahi. “ Yaudah sini gantian Ra, biar aku aja Ra yang lanjutin pel terasnya” ucap Afifah lalu mengambil sapu pel yang berada di genggaman Tiara. Tiara memasukkan tangannya ke dalam ember berisi air bersih itu , lalu membersihkan tangannya ,selepas itu ia bergabung di samping Mila. “ Maaf ya Mil jadi kelamaan deh kamu pulangnya” Ucap Tiara . Mila mendongak menatap Tiara, ia tersenyum pelan . “ nggak papa kok,” “ Habis ini langsung ke rumahku ya!”sambungnya langsung. “ Eh..” “ tenang aja ntar ganti pakai baju aku aja, kalok balek ke rumah kamu lagi ntar kelamaan” Potong Mila seakan tau kelanjutan ucapan Tiara. Mila tidak ingin di bantah kali ini. “ Yaudah deh “ ujarnya pasrah. Tiara harap dengan pendekatan kepada Mila bisa membantu Mila untuk beradaptasi dengan lingkungannya, membuatnya bisa berbaur dan berinteraksi dengan orang lain, selain itu ia berharap pribadi introvert Mila berkurang sedikit. Tiara pernah membaca sebuah buku Dr. Jennifer Kahnweiler, penulis The Introverted Leader: Building on Your Quiet Strength, mengatakan bahwa, “Introvert merupakan seseorang yang mendapatkan energi melalui menghabiskan waktu sendirian. Kemudian mereka dapat kembali terhubung dengan dunia luar setelah energi mereka kembali penuh”. Kali ini kasus yang ia hadapi ada pada diri Mila, ia tahu sebenarnya Tiara ingin berbaur seperti orang lain , Namun yang membuat ia sulit adalah ia tak tahu bagaimana berinteraksi dengan mereka, seperti tadi ia berusaha mengakrabkan dan tertawa , Namun itu seperti terasa aneh bagi dirinya. Kali ini Afifah dan Tiara pulang sekolah tidak berbarengan, kali ini ia pulang dengan Mila. “ Hati – hati ya Fah” Ucap Tiara. Mereka di depan gerbang sekolah, kali ini mereka pisah jalan , Afifah lajur kiri sedangkan Tiara dan Mila lajur kanan. “ Oke Ra” mengacungkan jempol . Tiara dan Mila memasuki mobil , sedari tadi mobil Mila sudah menunggu dari awal jadwal lonceng pulang , Namun karena ia tadi menunggu mereka piket . “ Yaudah mang jalan” ucap Mila kepada supirnya. “ Iya neng” Selama perjalanan hanya sebuah keheningan yang tercipta. Mata Tiara sibuk memerhatikan bahu jalan , melihat ruko – ruko yang berdiri dari sepanjang jalan. Fikiran Tiara melambung ia baru tahu jika Mila anak dari orang berada, kali ini Tiara berfikir jika Mila adalah anak yang baik yang tidak membedakan kasta. Ada orang yang sedikit saja punya kelebihan harta menjadi pribadi yang congkak dan merendahkan orang lain dengan harta yang ia punya. Bukankah ia tak sadar jika apapun yang punya di dunia hanya sebuah titipan yang suatu saat mungkin Allah akan ambil. Allah lah pemilik dari semua harta yang ada di bumi ini dan manusia diamanahkan untuk menggunakannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika kita diberi “harta” yang sedikit, Allah ingin kita tidak terlalu pusing untuk melaporkan “titipan” itu. Dan jika kita diberi “harta” yang banyak, Allah ingin kita membantu orang lebih banyak. Jangan terlalu dibanggakan dan jangan mengeluh. Karena harta hanyalah titipan dan ujian untuk menguji siapa yang lalai dan yang tidak lalai untuk beribadah kepada Allah. Semoga kita termasuk orang – orang yang senantiasa selalu bersyukur dan bukan orang – orang yang di lalaikan oleh Allah. “ Ra?” ucap Mila menepuk pelan bahunya. “ Kenapa diam aja?”tanyanya. “ gak papa kok Mil” ujarnya menatap Mila. “ Hm ..” Berdehem pelan, sejujurnya Mila adalah tipe orang yang tidak pandai dalam mencari topik obrolan, dia hanya berbicara di mana kiranya menurutnya penting , selebihnya ia lebih banyak menjadi sosok pendengar yang baik. **** Beradptasi itu sulit bagi pribadi introvert , Membangun komunikasi rasa lidah itu kaku , Hanya kesunyian sebagai Rasa yang membuat itu mengalir begitu saja. Mungkin itu akan terlihat aneh .namun begitulah Terjadi memang dasar alamiah sulit untul dirubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN