Berbanding terbalik

2097 Kata
Sampailah mereka di depan rumah Mila. Tiara dan Mila turun dari mobil, Tiara menatap bangunan di depannya berlantai 2 ,rumah yang cukup minimalis dengan nuansa bangunan modern , Namun tidak terlalu mencolok , Warna cat Hijau yang selaras membuat bangunan rumah terlihat segar di pandang. Ternyata Mila anak orang kaya. Bathinnya. “ Ra , Hei kok bengong sih” ucapnya. Menatap Tiara yang masih dalam keterpukauan. “ eh iyaa Mil, hehe gak kok .” menggaruk pucuk kepalanya yang tertutupi jilbab. “ iiinii rumah kamu ya Mil?” tanyanya sembari matanya menatap sekeliling rumah. “ Iya Ra ini rumah aku” jawabnya . “ Yaudah yuk masuk” Sambungnya, menggandeng Tiara masuk ke dalam rumahnya. Mila membuka pintu besar berwarna putih, memasukkan kepalanya sedikit ke dalam rumah melihat seisi ruangan yang kosong. “ Assalamualaikum Bun! Mila pulang Bun” Ucapnya nyaring . Mila meletakkan tasnya di sofa , sembari duduk di ikuti juga oleh Tiara yang duduk di sebelahnya. “ Bun!” panggilnya sekali lagi. Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik muncul dari belakang. “ Iya sayang” ujarnya lembut di sertai tarikan yang membentuk senyum tipis. “ Bunda darimana saja sih kok Mila panggil – panggil dari tadi gak nyaut” ujarnya kesal sedikit memerucutkan bibirnya. “ Bunda tadi masih masak sayang, ini siapa nak?” Ucapnya melihat Tiara, yang baru menyadari sosok yang baru ia lihat. “ Ini teman baru Mila Bun di sekolah” jawabnya menatap Tiara yang tersenyum sungkan. “ Iya Tan, kenali saya Tiara teman sekelasnya Mila Tan” ujar Tiara mengenalkan diri, lalu menyalimi tangan Bundanya Mila. “ Oo teman baru Mila, Alhamdulillah akhirnya anak tante punya kawan baru , sebelumnya anak Tante ini gak pernah punya teman di sekolah sehingga ia bolak – balek pindah sekolah.” Ujar Bundanya Mila sedikit menceritakan aib Mila. “ ih Bunda....Kok cerita – cerita sih , ih Mila ndak suka” ucapnya manja, dan bergelayut manja di lengan Bundanya. Siska Bundanya Mila mengelus kepala putrinya dengan sayang. Tiara yang memperhatikan sosok ibu dan anak itu jadi merasa rindu akan ibunya yang di kampung . Sudah beberapa minggu ia tinggal di kota yang keras ini merasakan kehidupan yang mandiri , Hidup dimana ia harus merelakan rasa bermanja kepada orang tuanya, berdiri di atas kakinya berpegang pada semangat dan dukungan dari keluarga yang selalu membuatnya kuat sampai saat ini. Satuhal yang Tiara tangkap ada perubahan yang mencolok pada diri Mila. Mila sangat berbeda sekali jika di sekolah dengan di rumah, berbanding 180 derajat . Di rumah dia begitu tampak menjadi pribadi yang begitu ekstrovert dan mudah dalam bergaul. Apa hal yang membuat Mila begitu berbeda?. Apakah Mila aslinya emang begini?. Ntahlah cukup Mila yang tahu jawabannya. Tiara tak berhak mengurusi kehidupan orang lain, Apalagi mencari – cari cela dari keburukan orang lain, tentu bukanlah pekerjaannya. Hanya Mila yang tahu letak proporsi di balik sikapnya yang seperti Bipolar. Namun ia yakin jika Mila bukan Bipolar. “ Yaudah yuk kita makan siang bareng, pasti udah pada laper kan, Ibu udah masak semur ayam sama tumis sawi” ujar Siska senang. “ Yeah Asyikk , ia Bun Mila emang laper banget Bun” ujarnya girang, sembari memegang perutnya . “ Eitss tapi ganti bajunya dulu” ujar Bunda dengan menunjuk jari telunjuknya. “ Iya deh iya Bun” Jawab Mila masam. Kepergian Siska ke dapur menyisakan hanya mereka berdua. Tiara hanya terdiam saja dari tadi memerhatikan mereka. Dia sangat canggung jika berada di rumah orang lain, Apalagi ada Bundanya Mila ,membuatnya semakin kelekep canggung. “ Yaudah yuk Ra kita ganti baju yuk” tawarnya. Tiara hanya mengangguk sembari mengikuti langkah kaki Mila menuju lantai atas. Melewati beberapa kamar , hingga mentok di ujung kamar bertuliskan my room Mila . Mila membuka kamar tersebut , Tiara hanya diam di depan pintu tanpa mengikuti Mila masuk ke dalam. “ Loh kenapa berhenti Ra” ujar Mila mengernyitkan dahi menatap Tiara yang berhenti di depan Pintu. “ Hm kan kamu belum nyuruh aku masuk Mil” Jawab Tiara pelan dan menautkan satu sama lain jarinya. “ Ha Ha.. Kamu mah Ra terlalu ini kali , Masuk aja kali , anggep aja kayak rumah sendiri” Ucap Mila tertawa melihat tingkah Tiara yang menurutnya begitu formal banget. “ Bukan gitu Mil soalnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.“ ujar Tiara menerangkan. “ Oo gitu Ya Ra, Yaudah sekarang aku izinin kamu masuk , Yaudah yok” Ujar Mila mengangguk – angguk , ia rasa ia tidak salah dalam memilih teman , Ia sangat suka dengan teman yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Tiara mengenakan gamis punya Mila Ukuran tubuhnya sama sehingga pakaian yang ia gunakan pas di tubuhnya, Tiara melipat pakaian sekolahnya lalu memasukkan pakaian sekolahnya ke dalam ransel sekolahnya. “ Yaudah yuk Ra ke bawah kita makan siang dulu” ajak Mila . Mila tak mengenakan hijab sama sekali. Lagian ia di rumah jarang memakai hijab . “ Kamu duluan aja deh Mil, aku mau sholat zuhur dulu “ ujar Tiara . “ Boleh kan aku numpang sholat di kamarmu” sambungnya pelan , Ia takut merepotkan sang tuan rumah. “ Aelah Ra, gak perlu izin pun aku pasti bolehin, lagian sholat kenapa harus minta izin , kali ini anggep aja rumah kamu” “ Yaudah yuk kita sholat bareng” Selepas melaksanakan sholat zuhur Tiara dan Mila menuju ruang makan, disana bundanya Mila terlihat sibuk menata makanan di atas meja. “ Eh kok lama sayang” Ujar bundanya menatap putri kesayangannya. “ Iya Bun tadi Sholat zuhur dulu” menarik kursi lalu mendudukinya. Tiara juga ikut duduk di samping Mila. “ Nak Tiara jangan sungkan – sungkan , anggep kayak rumah sendiri” ujarnya ramah. “ Eh iya Tante” Ucap Tiara dengan senyum kikuk. Mila meletakkan piring di depan Tiara, Tiara menunggu sang tuan rumah selesai mengambil nasi beserta lauknya, kemudian barulah dirinya. “ Raa N-taar kk-ita lihat ke-linci ku ya” ucap Mila dengan mulut penuh makanan. “ sayang habiskan dulu makanan yang di mulut baru ngomong” nasihat siska. Mila menyelesaikan kunyahan makanan di dalam mulutnya lalu ia menenggak segelas air putih hingga menyisakan separuh. “ Ntar kita lihat kelinci punyaku ya” Ucapnya ulang. Tiara hanya menganggukkan kepalanya, di mulutnya masih penuh makanan sehingga ia tidak bisa berbicara. Selepas menyelesaikan makannya Tiara bangkit lalu membawa piring kotor ke belakang . “ Nak Tiara gak usah biar tante aja nanti” “ Gak papa kok tan” jawab Tiara melanjutkan langkahnya dengan membawa piring kotor. ***** Seperti perkataan Mila tadi , disinilah mereka berada di samping rumah Mila . “ Nah ini dia kelinci aku Ra” memperlihatkan kelinci yang di dalam kandang setinggi setengah meter. “ Wah imut banget ya kelinci kamu Mil, Putih bersih lagi badannya” Tiara menatap geram kepada beberapa ekor kelinci Mila. “ Iya Ra, emang Ra bikin gerem banget, kadang aja aku sangking geremnya sampai aku peluk erat kali loh Ra , sampai gak bernapas dianya.. Ha .Ha” ucap Mila tertawa . “ Ha. Ha samalah Mil akupun gitu loh kalok sama si udin, Habis dia kukunyel – kunyel badannya sampai di cakarnya tanganku loh Mil” Ujar Tiara mengingat kelakuan si udin . Mila hanya tersenyum pelan . Matanya menatap fokus kepada kelinci yang sedang melompat sana kemari. “ Oh ya Mil kelinci kamu Cuma 2 ekor ya” ucap Tiara . “ Gak ah Ra , kelinci aku ada 3 ekor “ “ Tiga ekor mana Mil , itu tapi Cuma dua “ ucap Tiara memperjelas kembali penglihataannya. “ Nah ..Nah itu dia Ra kelincinya “ sorak Mila menunjukkan kelinci yang bersembunyi di dalam kamar kecil yang emang di bangun khusus untuk para kelincinya tidur. “ Eh iya Ra, ih geremnya jadi pengen megang” Tiara melipat kedua tangan geram ketika melihat kelinci yang malu – malu di depan mereka. “ Kamu mau megang Ra?, kalok mau biar aku keluarin nih” tanya Mila. “ Emang boleh Mil?” tanyanya. “ Ya boleh dong “ timpalnya. “ oh iya Ra itu kelinci yang warnanya abu – abu namanya Moren , kalok yang matanya merah itu Marona sedangkan yang ada tompel di dekat mata itu namanya Max” ucap Mila mengenalkan satu persatu kelinci kepunyaannya. “ Tapi aku paling sayang sama si Max Ra abisnya dia paling endut terus juga badanya yang gemuk jadi bikin tambah gemes” sambungnya Tiara hanya mendengarkan sesekali ia merespon dengan tawa pelan. “ Tapi ya Mil kata orang – orang kalok megang kelinci terus di gigit katanya ntar bisa putus jarinya” ucap Tiara ketakutan, sebelumnya ia begitu geram ingin memegang namun karena teringat kata – kata itu , ia mengurungkan niat tersebut . Mila tertawa terpingkal - pingkal mendengar ucapan Tiara , Ia mengibaskan tangannya “ Ah mitos kali itu Ra, gausah di percaya, aku pernah kok di gigit ya gak sakit Ra, B aja” ucap Mila. Mila membuka kayu kecil yang menjadi sanggahan kandang tersebut agar tidak terbuka, Mila memasukkan tangannya ke dalam lalu mengeluarkan satu persatu kelincinya. Kelinci melompat kesana kemari bersembunyi di balik rumput teki yang sedikit panjang . Mila memegangnya dengan kedua tangannya lalu mengangkat tinggi – tinggi . “ Nah mau kemana kamu” serunya . “ ini Ra cak pegang “ menjulurkan kelinci kepadanya. Tiara menghindar “ ja.jangan Mil ,aku takut” mengayunkan kedua tangan dengan kode menolak. Mila tetap kekeh dan terus mendekatkan kelincinya ke Tiara. “ Ini Ra gak papa” Mila menarik tangan kanan Tiara lalu ia arahkan kepada kepala kelinci dengan sedikit menggerakan sehingga terkesan elusan yang kasar. Awalnya Tiara agak takut lama kelamaan ia tidak takut lagi , Malah Tiara bersorak senang sembari mengejar kelinci yang terus bersembunyi. “ Ra ambil jambu air yuk “ ucap Mila, dengan peluh yang membasahi dahinya karena mengejar kelinci – kelinci. “ Jambu air dimana Mil” Tiara menatap sekitar tak melihat satupun pohon jambu air. “ Gak disini kali Ra pohonnya, Pohonnya di belakang sana Ra” Ucap Mila seakan tahu isi fikiran Tiara. “ Yaudah yuk , akupun juga lagi pengen makan jambu air udah lama soalnya gak makan jambu air” **** “ Udah banyak apa belum Ra?” ucap Mila agak keras ,Mila berada di pucuk pohon jambu air, “ udah Kok Mil udah banyak” sembari mengutipi jambu yang terjatuh di atas rerumputan. Mila turun perlahan lahan dari pohon. Membersihkan pakaiannya yang sedikit terdapat semut gula yang tidak menggigit. “ Yaudah yuk kita bawak ke joglo aja” Mereka bercerita banyak, Namun yang lebih mendominasi percakapan adalah Tiara. Tanpa terasa pukul tiga sore . Tiara sedikit gelisah . “ Mil kayaknya aku harus pulang deh soalnya udah mau sore, aku takut pulang kemaleman takutnya ntar gak berani pulang” ucap Tiara gelisah. “ Yaudah kalok kamu mau pulang, ntar biar di antar supir aku” “ oke Mil ,makasih banyak ya” ucapnya di ikuti anggukan dari Mila. “ Oh ya Mil sisa jambu airnya aku bawak pulang aja ya buat Afifah” Ucap Tiara , melihat jambu yang masih lumayan banyak belum termakan . Daripada mubazir lebih baik ia kasihkan ke Afifah. “ Ngapai Ra Afifah di kasih belum tentu dia doyan lebih baik di kasih Ayam aku aja Ra” ucap Mila tidak suka ketika Tiara menyebut nama Afifah. “ Kamu gak boleh su’ udzoon gitu Mil” “ Dan satuhal lagi Mil mubazir makanan juga gak baik Mil, lebih baik di kasih orang” nasihat Tiara. “ Hmm” Mila berdehem pelan. **** “ Makasih ya mang” Tiara turun dari mobil Mila. Seperti perkataan Mila tadi dia di antar sampai kossannya. “ Iya neng” jawabnya “ Hati – hati mang” Tiara melihat mobil yang semakin hilang di g**g jalan. Tiara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kawasan kos. Tiara melihat Afifah yang berada di depan kos bareng adiknnya yang sedang bermainan pasir . “ Eh Fah Assalamualaikum” sapanya “Waalaikumussalam Ra, baru pulang kamu Ra” Ucap Afifah memperhatikan Tiara . “ Iya Fah barusan aja nyampek , oh iya ini aku bawak jambu air nih dari rumah Mila tadi” menyodorkan seplastik kecil berisi jambu air yang sangat merah. Afifah mengibaskan tangannya yang kotor karena pasir, lalu ia menerima uluran pemberian dari Tiara. “ Makasih Ya Ra” “ Yaudah ya Fah, aku masuk dulu udah gerah nih badan rasanya pengen mandi” mengibaskan tangan fi wajah. “ Iya Ra, sekali lagi makasih ya” “ Iya Fah “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN