Hari Terakhir

1714 Kata
Untuk bahagia, tidak perlu mahal, tidak perlu mengeluarkan uang setumpuk untuk mendapatkannya. Bahagia itu sederhana, tapi memang tidak mudah. Kita, tidak dengan semua orang bisa bahagia, melainkan hanya beberapa. Dan ketika kamu tahu dengan siapa saja kamu bahagia, mengobrol dengannya saja sudah membuat hatimu damai dan tentram. Itulah makna bahagia sebenarnya. Afifah bercerita ria dengan orang tuanya, membicarakan banyak hal tentang kampung dan semua yang terjadi di sana. Sesekali Afifah menggendong Ara walaupun gadis kecil itu sudah memiliki bobot yang berat. Ibu kos juga datang dan bergabung bersama mereka sesaat, menambah keceriaan dan obrolan. Ketika hari menjelang sore. Lena, ibu Afifah menawarkan untuk makan nasi padang di depan g**g. Ibu melihat ada tulisan jika seporsi hanya sepuluh ribu dan itu sudah cukup murah dibandingkan yang lainnya. "Boleh banget, Bu. Kebetulan Afifah juga belum pernah ke sana." seru Afifah tersenyum girang, ia menoleh pada Ara yang asik bermain pesawat-pesawatan dari kertas hasil karyanya. "Ara juga mau, kan?" Ara yang telungkup, duduk dan menggelengkan kepalanya. "Ara enggak mau nasi padang, maunya nasi biasa," ujar Ara dengan bibir mengerucut. "Nasi padang berarti kita harus ke Padang, kan? Mending makan nasi biasa aja," lanjutnya melipat tangannya di depan tubuhnya. Hal itu sontak membuatnya semua tertawa. Apalagi Afifah, ia tidak percaya adik kecilnya sudah tahu kota Padang. "Emang kamu tau di mana Padang, Ra? Kok pinter banget sih." "Kata ayah, Padang itu jauh. Jauhhh banget," ujar Ara menunjuk ke arah kanannya, entah kemana ia maksudkan. "Ara. Ini kan mau makan nasi Padang, bukan mau ke Padang. Nasi padang itu udah ada di mana-mana, Ra. Bukan Padang aja," ujar Afifah meluruskan kesalahpahaman adiknya. "Hah? Tapi nasi padang?" Ayah berdiri dan menggendong Ara. Menjelaskan lebih rinci pada gadis kecil itu dan membawanya keluar dari kos Afifah. Ibu tersenyum. "Yauda yuk, Fah. Siap-siap." Afifah mengangguk. Untuk sesaat ia menoleh ke arah kos di sampingnya dan masih tutup, mungkin Tiara belum pulang. Afifah bertanya-tanya, apa yang dilakukan Tiar aya bersama Mila? Mungkinkah mereka bersenang-senang? Afifah merasa ingin ikut juga. Tapi, ia seperti sadar sesuatu jika Mila tidak terlalu suka akan kehadirannya di sana maka dari itu ia memutuskan untuk membiarkan Tiara yang kesana. Lagipula ada orang tuanya di rumah dan ia tidak boleh mementingkan hal yang sebenarnya juga tidak terlalu penting ketimbang orang tuanya yang sudah jauh-jauh datang dari kampung hanya untuk melihat keadaannya. "Jadi Tiara belum pulang?" tanya ibu yang dijawab gelengan oleh Afifah ketika ia masuk ke dalam kos dan mengganti jilbabnya. "Sayang banget, padahal bisa sama-sama kalau dia mau." Afifah hanya tersenyum kecil. Ia memakai jilbabnya yang lain lalu keluar mengikuti langkah ibunya di depan. Ayah dan Ara sudah jalan lebih dulu dan menyisakan jarak sekita duapuluh meter dari mereka. "Jadi, bagaimana sekolah? Maksud Ibu, enggak ada laki-laki yang macem-macem, kan?" Ibu sebenarnya ingin sekali menanyakan hal ini dari tadi. Tapi ia takut jika pertanyaannya ini malah memancing seribu satu pertanyaan yang akan keluar dari mulut suaminya. Jadi ia mencari waktu yang pas untuk menanyakan hal ini. "Enggak kok, Bu. Semua baik-baik aja," jawab Afifah tersenyum meyakinkan. Sebenarnya Afifah tidak ingin berbohong, tapi ia hanya tidak ingin membuat orang tuanya khawatir terhadapnya dengan menceritakan segala hal yang sudah ia alami dengan Tiara. Apalagi hal-hal menyakitkan yang Kila lakukan pada mereka. Jangankan ayahnya, ibunya saja kalau ia bercerita tentang itu, pasti akan memaksanya untuk keluar dari sana dan lebih baik menetap di kampung adalah jawaban akhirnya. Tentu Afifah tidak mau. Ada banyak hal yang ingin ia eksplor lebih dalam lagi. "Bagus, Alhamdulillah. Sekarang Afifah punya ponsel, jangan sungkan kabarin ibu sama ayah apapun yang kamu hadapi atau hal enggak penting pun bisa kamu kabarin, ayah sama ibu nih kalau lagi makan, mau tidur, terus kepikiran dengan bagaimana ya anaknya? Sudah makan belum? Sudah tidur belum? Itu dirasakan oleh hampir setiap orang tua yang ada di dunia ini, Fah. Makanya, sering-sering hubungi orang tua ya, biar mereka juga enggak terlalu mencemaskan kita," jelas ibunya panjang lebar, tidak terasa mereka sudah sampai di dekat jalan raya. "Siap, Bu. Insyaa Allah Afifah bakal selalu kabarin ibu sama ayah," ujar Afifah tersenyum lembut, ia ingin menangis rasanya, ingin juga memeluk ibunya, tapi entah kenapa, ia merasa malu walau hanya membayangkan memeluk ibunya. Bukan malu karena hal yang jelek. Tapi yaa malu saja, tidak bisa dijabarkan bagaimana malunya. Intinya, Afifah juga cemas kalau tindakan-tindakan emosional seperti itu akan membangkitkan sisi sedih dan pada akhirna menangis. Entahlah, tapi Afifah memang malu melakukannya. Sampai di warung nasi padang. Ibu langsung memesan nasi sekaligus ayam gorengnya tiga, dan teh manis dingin juga tiga. Untuk sesaat, mereka masih bercanda ria sembari menunggu nasi padanya disajikan di atas meja mereka. Tapi obrolan seru itu tak berkunjung lama karena tiba-tiba Afifah mendengar suara perempuan yang tentunya ia kenal. Tapi bukan hanya Afifah saja yang menoleh ke arahnya, melainkan hampir seluruh pengunjung menoleh ke arahnya. "Mas, tolong ya, ini gimana masa air putihnya ada jentik-jentik nyamuk? Dari awal saya emang udah riskan makan di sini, warungnya aja jelek banget kayak enggak pernah di urus. Gak heran kalau minumannya pun kotor kayak begini!" Semuanya terkesiap mendengar kalimat tanpa saringan itu. Hampir semua juga memerikasa gelas mereka dan mengintip ada atau tidaknya binatang seperti yang diucapkan perempuan yang berdiri di depan sana itu. Afifah merasa tak enak dengan si pedagang. Ia melirik ke arah Kila, perempuan yang marah-marah tadi. Memang ia yang marah-marah, tapi entah kenapa Afifah pula yang merasa tak enak dengan penjualnya. Seperti perkataan itu terdengar keterlaluan, ada banyak cara baik dan lembut untuk memberitahu si penjual kalau minumnya kotor, si penjual pasti akan meminta maaf dan menggantinya dengan yang baru. Mungkin itu hanya ada sedikit kesalahan. Namanya juga manusia, tidak luput dari kesalahan. Penjual juga tampak panik, karena para pembelinya banyak yang mengomel ini itu. Ia tampak menghela nafas sebelum menatap Kila dengan pandangan minta maaf. "Maaf ya, Mbak. Biar saya ganti ya air minumnya," ujarnya pelan, tangannya juga terulur hendak mengambil gelas yang dipegang Kila. Tapi belum juga tangan si penjual sampai, Kila sudah meletakkan, atau lebih tepatnya membanting gelas ke meja. Ia menatap penjual dengan mata tajam. "Nyesel saya beli di sini. Kalau gak karena kelaperan, saya gak sudi makan di pinggir jalan kayak gini," ujarnya pedas, membuat Afifah mencengkram meja saking tidak sukanya dengan ucapan Kila. Kila melirik ke arah kirinya dan terkejut melihat Afifah ada di sana. Ia juga melirik ke arah orang-orang yang ada di samping Afifah sebelum mengejek Afifah dengan senyum miringnya. Jadi ia bersama kedua orang tua kumuhnya dan adiknya, ya? Batin Kila jahat. "Maaf ya, Mbak. Ini mungkin dari galonnya." Kila kembali menghadap ke depan. "Mau gimanapun, harusnya bisa higenis dong. Mau galon mau gelas, higenis! Kepuasan pelanggan itu nomor satu. Kalau begini, gimana mau maju, yang ada malah mundur." Kila sangat kesal, ia juga memberi uang seratus ribu dengan kasar ke atas meja. "Ini bayaran makan saya. Sisanya buat beli galon baru biar enggak ada jentik-jentik nyamuk yang lain," sambungnya dan melangkah pergi dari sana. Mata Afifah terus mengawasi Kila sampai perempuan itu masuk ke dalam mobil merahnya dan pergi melaju dari sana. Terkadang, orang-orang dengan posisi tinggi di masyarakat seperti Kila, suka bersikap semena-mena seolah harga diri orang lain itu tidak penting. Apa mereka tidak berpikir jika diri mereka ada di posisi yang sama, seberapa sakit hatinya mereka. Afifah kemudian menatap si penjual yang tertunduk malu, ia memasukkan uang Kila ke dalam toples uang dan membuang minum yang kata Kila ada jentik nyamuknya. Setelahnya si penjual tetap profesional dengan melanjutkan membuat sajian makanan untuk keluarga Afifah. "Fah, kamu enggak boleh kayak gitu ya," ujar Ayah yang membuat Afifah menoleh ke arahnya. "Pasti, Ayah. Perasaan orang lain juga penting," sahut Afifah yang mendapat jempolan dari ayah. "Perasaan kita berharga, gitu pula perasaan orang lain. Kalau mau perasaan kita dijaga, setidaknya jaga dulu perasaaan orang lain." Ayah mengangguk. "Walaupun ada banyak orang yang kalau kita ngelakuin hal itu, dia gak ngelakuin ballik. Yauda gak papa, baikin aja. Jangan dia jahat, kamu bales jahat. Paham, kan?" Afifah tersenyum dan mengangguk pelan. "Paham, Ayah." *** Tentu kita tidak mengetahui bagaimana keadaan seseorang seseorang pada suatu saat. Bisa jadi orang yang dicela itu lebih mulia di sisi Allah, bisa jadi dia lebih banyak amal kebaikannya, boleh jadi dia lebih bertakwa. Dan tidak ada yang menjamin seseorang akan selalu lebih baik kondisinya dari orang lain. Orang yang tadinya kaya bisa jadi mendadak hilang hartanya. Orang yang punya jabatan tinggi, bisa lengser seketika. Orang yang tadinya mulia kedudukannya, bisa jadi nanti masyarakat merendahkannya. Sehinga, tidaklah pantas seseorang merasa sombong, merasa dirinya lebih baik dari orang lain sehingga mencela dan merendahkannya . Allah sanga tidak suka dengan orang - orang yang berbangga diri. Hal itu amat sangat diterapkan Afifah dalam hidupnya. Apapun itu, ia harus menghargai orang lain. Karena faktanya, semua orang punya posisinya masing-masing. Jadi, ada baiknya jika semua orang di dunia ini saling menghargai satu sama lain. Jujur saja, Afifah tidak suka melihat seseorang yang merendahkan orang lain. Seperti, memangnya setinggi apa dirinya sampai bisa-bisanya merendahkan orang lain? Semua manusia sama saja di mata Allah. Kalaupun memang ia orang kaya, orang yang memiliki jabatan tinggi, uang banyak, setidaknya hargailah orang lain. Berperilaku baiklah, tunjukkan jika kau adalah manusia bermartabat. Afifah di jalan terus memikirkan hal ini, rasanya tidak mau hilang. padahal ia sudah mencoba melenyapkannya dari kepalanya. Perbuatan Kila tadi masih terngiang-ngiang dan kalau boleh berterus terang, ia masih kesal. Kila harusnya tidak bersikap sepert itu. "Masih mikirin hal tadi, Fa?" tanya ibu padanya, menyadari kalau anaknya itu sedang memikirkan sesuatu. Dan bisa ditebak apa yang ia pikirkan. "Udah nggak usah dipikirin banget. Orang emang punya sifat dan sikapnya masing-masing." "Tapi, Bu. Kan lebih baik kalau sebelum ngelakuin sesuatu tuhdi pikirin dulu, apa wajar? Apa ini sopa? Gitu, bukan langsung bertindak aja," ujar Afifah merengut, kekesalannya terluapkan. "Iya emang. tapi kamu tetep nggak bisa judge gitu aja ya. Kita nggak tau keseluurhan tenang orang itu. Jadi, nggak bisa dinilai gitu aja. Di satu sisi darii sudut pandang kamu emang bisa aja, t*i janan dijadikan sebagai patokan kaean ya itu emang belum tentu bener aja. Paham, kan, Fa? " Afifah tersenyum malu dan mengangguk kemudian. Ia juga setuju dengan apa yang ibunya kataka "Oke, Bu. Afifah bakal usahain, maaf ya. Afifah memang gitu, kadang nilai seseorang dari sudut pandang Afifah aja. Tapi Afifah enggak pernah frontal kok, Bu." "Yauda tapi dikurangin aja ya." Ibu tersenyum lembut padanya. "Oke, Bu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN