Hari ini, Afifah dan Tiara berangkat bersama. Ketika mereka hampir tiba di gerbang sekolah, tiba-tiba seorang perempuan mendatangi mereka. Ia tidak berlari, melainkan berjalan, tapi dengan cepat. Ia juga memeluk lengan Afifah dan Tiara dari belakang dan membuat dua sahabat itu terpisah dengan Mila berada di tengah-tengah mereka.
"Mila?" Kejut Tiara,
"Assalamu'alaikum Tiara, Afifah," ujarnya riang, menampilkan gigi nya yang putih. "Makasih ya, berkat kalian berdua aku udah agak bisa aktif. Sebelum-sebelumnya aku enggak punya kawan dan jadinya selalu sendirian. Itu tuh gak enak banget."
"Wa'alaikumussalam," jawab Tiara dan Afifah bersamaan.
Afifah kemudian tertawa. "Santai aja, Mil," ujarnya riang, membuat Mila menoleh padanya dan ikut tersenyum walau kecil.
"Oh ya, Ra." Mila menoleh pada Tiara. "Kapan-kapan ke rumah aku lagi yuk," ajaknya santai, ia juga berlagak seolah hanya ada Tiara di sana, tidak ada Afifah.
"Boleh, Mil. Tapi ajak Afifah juga, ya." Menatap Afifah, Afifah yang seakan mengerti hanya tersenyum kecut membalasnya.
Mila masih tersenyum, namun sebenarnya hatinya mengerut. Kenapa Afifah harus ikut juga? Kalau Afifah ikut maka dunia seperti milik Tiara dan Afifah saja, ia akan tersingkirkan dan tak dianggap. Tidak perlu berkhayal ataupun mempertimbangkan, Mila sudah sangat yakin jika hal itu akan terjadi.
"Boleh. Tapi nanti aku bilangi lagi ya, soalnya aku lupa kalau Bundaku ada urusan mendadak hari ini dan besok," ujar Mila kemudian.
Afifah yang sudah tahu jika Mila punya rasa sedikit tak suka padanya pun hanya maklum dan mengangguk mengiyakan. Ia tidak tahu alasan Mila sebenarnya, tapi jika memang hal ini berlanjut lebih lama, maka ia akan menanyakannya langsung pada perempuan itu. Sejujurnya, Afifah tidak suka situasi ini, ia ingin sesama teman itu terbuka. Apapun masalahnya, apapun kondisinya, sebisa mungkin berbicara agar temannya yang lain bisa paham apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ia tak pernah berbuat salah dengan Mila, Tapi sikap Mila seakan menunjukkan ketidak pertemenann.
"Yauda kita cepet masuk yuk, bentar lagi bel kayaknya nih," ajak Tiara diangguki Afifah dan Mila.
Walaupun hubungan antara Mila dan Afifah sedikit tegang dan renggang. Mereka tetap berbicara banyak layaknya teman dekat. Obrolan mereka yang terdengar seru juga mengundang banyak perhatian dari orang-orang yang ada di koridor kelas.
"Hari ini pelajaran agama ya kan?"
"Yep, pelajaran kesukaan."
"Pelajaran kesukaan aku juga," timpal Tiara yang membuat Afifah tertawa.
"Sama, aku juga suka." Mila tidak ingin kalah tentu saja. "Oh ya, kalian berdua ngerasa ada yang beda gak sih sama kelas kita?" tanya Mila sembari berjalan.
"Beda gimana, Mil?" tanya Tiara heran, ia tidak mengerti maksud dari Mila.
"Iya beda, Ra. Enggak kayak pesantren yang semua berhijab, di sini enggak padahal agamanya Islam. Aneh ya kan?" Ia mendesah pelan. "Aku ngerasa enggak nyaman aja gitu."
Afifah dan Tiara saling lirik, mereka berdeham pelan. "Beda dong, Mil. Namanya juga sekolah umum. Kalau mau yang begitu ya pesantrennya langsung," ujar Tiara.
"Bener apa kata Tiara, Mil. Kita juga enggak bisa memaksakan kehendak karena di sini enggak di wajibkan berhijab untuk seluruh murid perempuan islam," sambung Afifah.
"Engga diwajibkan emang sama sekolah. Tapi kan diwajibkan sama Agama," ujar Mila menyanggah.
"Ya tapi kan ini sekolah, Mil." Afifah tersenyum. "Intinya sih kita gak bisa nyuruh orang seenaknya gitu aja, yaa saling ngehormatin aja sih."
Mila mengernyit. "Kok kamu sewot gitu, Fah?" tanyanya yang membuat Afifah gelagapan, pasalnya ia tak merasa ia sewot. "Aku kan cuma bilang."
"Eh, Mil. Ya Allah aku enggak bermaksud sewot kayak yang kamu bilang kok. Maaf ya, aku cuma mau ngutarain pendapat aku doang," ujar Afifah cepat, takut Mila sakit hati padanya.
Mila tampak menghela nafas. "Yauda enggak papa."
Afifah tersenyum dan menghela nafas lega, untung saja. Ia juga merutuki dirinya sendiri kenapa bisa berbicara dengan begitu gamblangnya, kenapa juga ia tak menyaring kata-katanya dulu sebelum terucap begitu saja.
"Berhati-hatilah terhadap lisan karena sebuah ucapan bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Apabila kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, sebaiknya kita diam saja. Dan janganlah kita mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan. Sebab di akhirat kelak, segala apa yang kita ucapkan dengan lisan pasti akan dimintai pertanggung jawaban."
sudah jelas bahwa jika kita berbicara hendak harus mengoreksi apa yang hendak di ucapkan,jangan sampai perkataan yang diucapkan sampai menyakiti perasaan orang lain, karena kita tidak tahu bagiaman perasaan orang lain. bisa saja ia terlihat tersenyum namun hatinya menangis karena perkataan yang telah kamu lontarkan.
***
Pelajaran agama yang ditunggu-tunggu oleh Afifah, Tiara dan Mila akhirnya tiba. Sang guru yang berpenampilan selayaknya seorang ustadz membuat tiga gadis itu terkagum-kagum.
"Assalamu'alaikum." Sapanya ketika memasuki kelas.
"Wa'alaikumussalam," jawab seluruhnya dengan kompak.
Sang guru memperhatikan satu persatu muridnya, ia tersenyum ketika melihat ada tiga diantara para perempuan yang memakai hijab di kepala mereka. Ia berhamdalah di dalam hatinya.
"Baiklah, anak-anak. Hari ini tutup buku kalian, karena saya akan menjelaskan pada kalian bagaimana pentingnya menjaga lisan itu. Lebih tepatnya saya akan menguraikan sedikit tentang manfaat jika kamu semua menjaga lisan."
Afifah dan Tiara yang duduk bersama sama-sama tersenyum, mereka melipat kedua tangan di atas meja. Mereka sangat suka mendengar penjelasan tentang agama. Siapa yang tidak senang karena setelah ini pengetahuan mereka tentang agama islam semakin bertambah.
"Jadi, menjaga lisan itu wajib ya, bukan untuk seorang muslim aja, tapi semua orang," sang guru mulai menjelaskan. "Kalian harus menjaga perasaan orang lain, mau bagaimanapun ia berbuat jahat ke kita, baiklah padanya. Saya tahu ini sulit, tapi tidak ada salahnya mencoba, bukan?"
Afifah melirik punggung Mila. Benar, ia tetap harus bersikap baik mau bagaimanapun Mila menunjukkan jika ia tidak menyukai Afifah secara terang-terangan.
"Kalian juga sudah sering dengar tentang lisan yang lebih tajam dari pisau, benar kan? Nah memang setajam itulah lidah kita jika kita tidak menjaganya dengan baik." Sang guru menatap serius murid-muridnya satu persatu. "Baiklah. Selanjutnya, saya akan menjelaskan Pentingnya jika kita menjaga lisan kita."
Pak guru itu berdiri di depan papan tulis. Menjelaskan dengan rinci, sesekali ia bertyjar fikiran dengan siswanya.
Pak guru menyelesaikan ucapannya, ia tersenyum lembut. "Begitulah. Sudah tahu ya bagaimana manfaatnya. Banyak hal berguna yang kita dapatkan kalau kita menjaga lisan kita. Maka dari itu, ayo kita lakukan mulai dari sekarang."
Afifah dan Tiara tersenyum, mereka terharu. "Iya, Pak!"
“ Satu lagi bapak mau kasih tugas ke lain semua, Tugasnya yaitu kalian menghapal ayat yang ada di buku lks halaman 9 paragraf pertama. Jadi mulai minggu depan kalian bisa setor hapalannya sama bapak, ini untuk tugas Harian kalian. “
“ Oh iya dan untuk setoran harus memakai pakaian yang menutup aurat, karena inikan pelajaran Agama.jadi bapak mintak Untuk siswi perempuan mulai minggu depan ketika pelajaran bapak kalian harus menggunakan jilbab.” Ucap sang guru.
“ Tapi kan Pak baju sama rok kami pada pendek semua. ?” protes salah satu siswi.
“ Oh untuk itu kalian untuk atasan bisa menggunakan manset tangan dan untuk roknya kalian bisa memakai rok hitam yang panjang, bapak telah bicarakan sama kepala sekolah dan meminta pengajuan, dan Alhamdulillah pak Kepala sekolah menyetujuinya. Tapi itu hanya berlaku di jam bapak saja, sisanya di luar itu kalian harus mengganti kembali pakaiannya”
“ oke kalau gitu itu saja yang bisa bapak sampaikan lebih dan kurangnya bapak mohon ampun, dan kepada manusia Bapak meminta maaf, Bapak Akhiri ya wassalamualaikum wr.wb” ujarnya meninggalkan kelas.
“ Gimana sih bapak itu udah tau sekolah kita gak wajib pakai jilbab, masih aja di wajibkan di jamnya dia, issh nyebelin banget sih” dumel wanita berambut pirang. Salah satu juga temab sekelas Afifah yang bernama Risti, siswi terfashionable di kelasnya.
“ Iyakan Ris, akupun juga males loh mau makek, gimana kalok jam bapak itu kita cabut aja”
“ Hah benar juga ide kamu itu Mer..Mendingan kita ke kantin”
“ Tapi kalok nilai kosong cemana” timpal salah satu temannya.
“ Alah takut banget sih loh, lagian masih lama itu UAS. Jadi masih bisa kita setor tuh tugas. Santai aja deh loh gausah Kek siswi cupu.” Jawab Risti mengolok – ngolok.
“ Hmm yaudah deh kalok gitu aku juga iku kalian” Katanya pasrah.
Afifah dan Tiara yang mendengar itu hanya terdiam, hatinya cukup mendoakan semoga Allah memberikan mereka hidayah.
Ia jadikan pelajaran Yang ia dapat itu sebagai sebuah ilmu baru untuknya.Selanjutnya mata pelajaran lain akan segera di mulai beberapa Menit lagi, hanya tinggal menunggu kedatangan guru mapel. Afifah mengeluaran buku mata pelajarannya dan membacanya sembari menunggu guru masuk ke kelasnya.