Bel keluar main telah berbunyi , Afifah dan Tiara menghampiri meja Tiara dan duduk di sebelahnya, sebelumnya kursi telah kosong karena teman sebangku Mila Telah pergi ke kantin.
“ Eh Mil ke kantin Yuk” Ajak Afifah.
“ Gimana Ra?, yuk ke kantin” tanya Mila, tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Afifah.
Afifah hanya tersenyum kecut, bathinnya sakit jika di acuhkan seperti itu , Apa salahnya kenapa Mila tidak begitu menyukainya.
Tiara yang mengerti dengan raut wajah Afifah ia mengelus bahunya untuk memberikannya kekuatan sabar. “ Yaudah Fah kamu sama Mila aja ke kantinnya , aku gak bisa ikut” ujar Tiara menjawab perkataan Afifah.
“ Kenapa Ra?” ujar mereka bersamaan.
“ Aku lagi puasa” ucap Tiara lembut di iringi senyum.
Mila mengangguk paham , sedangkan Afifah mengernyit heran . “ Hah?, Puasa apa Ra?”
“ Puasa Sunnah senin dan kamis Fah,” jawabnya.
“ Puasa senin dan kamis itu Apa Ra?”tanyanya.
Sejarahnya Afifah belum pernah melakukan puasa sunnah seperti yang di katakan oleh Tiara , yang ia hanya tau Puasa Ramadhan.
“ Puasa sunnah senin kamis yaitu merupakan salah satu puasa sunnah di lakukan pada hari Senin dan hari Kamis yang sering dikerjakan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Mengingat adanya mukjizat dan manfaat di balik puasa sunnah ini Fah “ terang Tiara.
“ Oh gitu ya Ra, soalnya aku taunya puasa Ramadhan , hehehe”
“ Gitu aja gak tau,” sindir Mila menatapnya rendah.
Afifah tersentil akan ucapan Mila barusan, mata menunduk berkaca – kaca. Begitu lembutkah hatinya hanya sebuah ucapan ia menangis.
Salahkah ia jika bertanya?, Apakah bertanya itu rendah , Apakah hanya dirinya yang paling miskin ilmu Agama sehingga hal sekecil itu dirinya tidak mengetahui. Tapi salahkan jika dirinya bertanya akan ketidaktahuannya. Ataukah emang dirinya paling miskin ilmu agama?.
Afifah berusaha menghalau agar air matanya tidak terjatuh, ia berusaha agar terlihat baik – baik saja, ia tidak mau jika mereka sampai mengetahui bahwa dirinya menangis. Itu akan akan membuat tanda tanya di diri mereka.
Setelah dirasa air matanya bisa di tahan Afifah mendongak. “ Ra , Mil gua ke kamar mandi dulu ya” ujar Afifah langsung ngacir dari hadapan Tiara dan Mila. Tiara yang melihat itu hanya bisa diam, sedangkan Mila masa bodoh, seakan tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
“ Fah mau aku temani gak” Teriak Tiara sebelum Afifah keluar dari pintu kelas.
“ gausah Ra, aku bisa sendiri “ ucapnya serak menahan tangis.
Sepanjang koridor Afifah terus menunduk , ia terus melangkahkan kakinya ke kamar mandi , ia ingin menumpahkan semua air matanya. Tidak tahu kenapa perkataan itu sungguh menyakitkan di relung jiwanya, ia tak tahu apakah Mila sadar atau tidak dengan ucapannya barusan.
Afifah melewati kerumunan lapangan basket , di lapangan ramai para pria bermain basket, Afifah tidak tahu kelas mana yang sedang bermain itu, Afifah sama sekali tidak menoleh sedikitpun , tetes bening satu persatu jatuh di pelupuk mata Afifah, Afifah mengusapnya kasar. Ia gak boleh cengeng. Tapi kenapa rasanya begitu sesak di dadanya.
Afifah tak memperhatikan langkahnya hingga sebuah bola menggelinding dan menyerimpet langkahnya, “ Augh” ringisnya memekik.
Ia tersungkur dengan posisi lututnya membentur semen lantai yang kasar, Afifah melihat bagian roknya telah robek dan mengeluarkan darah.
Afifah melenguh kesakitan, ia terduduk di lantai dengan banyak pasang mata yang menatapnya, rasanya ia tidak bisa bangkit untuk berdiri , begitu perih luka itu hingga ke tulang – tulang. Semua mata menatapnya dan ada beberapa memilih mendekati dirinya.
“ Kamu gak papa Fah?” suara cemas sosok pria yang tidak asing.
Afifah mendongak menatap sosok yang menutupinya dari cahaya matahari. Ternyata sosok Satrialah. Afifah terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Satria. Itu memegang pinggir lukanya ,mengelus pelan ia harap dapat meredahkan perih lukanya.
Satria menatap pada luka kakinya , “ ini luka kamu harus segera di obati Fah , Yaudah yuk kita ke UKS” ajak Satria hendak menarik Afifah.
Afifah menolak dengan menjulurkan tangan. “ Tidak Sat” tolaknya halus.
“ Gimana tidak, ini pasti sakit Fah, udah ayo” Berusaha memapah Afifah.
Afifah masih terperanjat lalu memekik . “ Augh , A-aku gak bisa jalan Sat, ngilu rasanya” ringis Afifah.
Satria spontan langsung memapah bahu Afifah . Afifah menatapnya kaget atas perlakukannya barusan , Namun Satria mengabaikan tatapan dan juga tolakan tubuh yang meminta di lepas. Satria merasa bersalah , Afifah terluka karena dirinya, tadi yang melempar bola itu dianya walaupun tidak sengaja . Niatnya ingin mensmash malah berujung melukai orang lain.
“ Sat lepasin gue, gak baik kita di lihat seperti ini, kita bukan mahrom “ Ujar Afifah pelan .
Ia teringat akan hal yang ia dan Tiara baca pada buku pada waktu itu. Bersentuhan dengan yang bukan mahrom dimana di sebutkan bahwa lebih baik ditusuk kepala dengan pasak dari besi daripada menyentuh wanita yang bukan mahrom.
“ Tidak Fah, ini kondisinya darurat , kamu tenang aja bentar lagi UKS nyampek kok”
Afifah hanya pasrah menolak pun percuma karena Satria tetap keras kepala ingin memapahnya, Lagipula kakinya sulit untuk berjalan, tidak mungkin ia terus terduduk di lapangan yang akan menjadi tontonan para siswa lain.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bercampur (bergaul) bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus.
Apakah ia bisa menyangkal, jika perlakuan itu emang benar – benar darurat. Maafin Afifah ya Allah jika Afifah telah bersentuhan dengan lelaki bukan mahrom.
****
Seorang wanita sedang mengiris sebuah bawang, ia ingin menyiapkan sebuah makanan untuk suaminya, setengah jam lagi suaminya akan kembali pulang untuk membawa bekal makan siang. Tadi pagi ia tak sempat masak karena putri bungsunya sedang demam tinggi.
“ pasti mas resno senang aku masakin makanan Kesukaannya” tutur wanita itu riang ,dengan semangat ia kembali memotong bawang.
“ Mak Fifah ngapai to?” sapa salah tetangga.
“ Aughh..”
“ Ya Allah mak Fah, Eneng opo toh?, keiris piso yo” Menghampiri Lena dan duduk di sampingnya.
“ gak eneng opo – opo kok mak Nis, hanya terkejut ae awak tadi . Ya iki lah dadi ke iris piso tanganku” menunjukan tangannya.
Lena memasukan tangannya yang terluka pada mulutnya, lalu mengisap dan meludahkan darah lukanya.
“ Pasti riko melamun yo, mikirin opo sih mak Fa?”
Tidak tahu kenapa Ia jadi memikirkan putrinya yang jauh disana. Perasaannya benar – benar tidak enak.
Ya Allah lindungi anakku dimana pun ia berada.
“ Ora melamun kok Mak Nis, terkejut aja tadi.”
“ Yauwes yo kalo ngono aku arek balek dulu. Arek jemput Nisa nang sekolah”
Lena segera menyiapkan makanan siang untuk suaminya, ia menunggu Dengan gelisah suaminya, ia harus tahu segera kabar putrinya.
“ Bu eneng opo toh kok mondar mandir” kata Resno ketika memasuki rumah, dan mendapati istrinya yang terlihat gelisah. Sampai – sampai kehadirannya tidak disadari.
Lena menghampiri suaminya,“ Yah..Yah.. Cepet telpon Afifah Yah”desak Lena.
“ Eneng opo toh Bu, Afifah jam segini masih sekolah pasti Bu.” Meletakkan topinya pada paku yang tertancap.
“ Yah,, perasaan Ibu benar – benar gaenak Yah, Ibu takut kalau Afifah kenapan- napa yah” Lena menggigit kukunya,matanya memancarkan kekhawatiran yang tak bisa ia pendam.
“ ibu tenang toh, nanti malam ayah akan telpon Afifah, kalau sekarang takutnya nanti kita ganggu Afifah belajar Bu”
Lena hanya terdiam, benar juga apa yang di katakan suaminya, lebih baik ia sholat untuk menenangkan fikirannya.
“ Yaudah kalok gitu Ayah makan dulu, makanananya udah ibu siapkan di meja”
“ Iya Bu”
****
Sesampainya di UKS Afifah di letakkan di brankar . Afifah menyender dengan tumpuan bantal. Menatap ruangan yang serba putih dan juga suasana begitu senyap, Satria keluar untuk memanggil petugas UKS tinggal ia seorang diri di dalam.
“ Fah petugas UKS hari ini gak masuk, Mau gak mau kita obati sendiri “ ujar Satria .
“ Kebetulan di meja Peralatan P3Knya di taruh situ” sambungnya .
Satria melangkah ke brankar Afifah. Dan melihat luka Afifah.
“ Maaf ya Fah aku agak lancang, maksudku baik kok ingin ngobati luka kakimu saja, gada maksud lain kok “ ujar Satria pelan.
Satria tak mau jika Afifah berfikir yang tidak – tidak tentang dirinya, ia tak mau jika kejadian yang kemarin – kemarin terjadi lagi, karena salah paham .
“ T- tapi..” Afifah panik.
Ia tak mau jika sampai Satria melihat auratnya, pasalnya jika Satria yang mengobati otomatis ia akan bersentuhan dan juga bagian aurat kakinya akan terlihat. Ia sama kali tak rela jika lelaki yang bukan mahromnya menyentuhnya atau melihat auratnya.
“ kenapa Fah” tanyanya.
Tiba – tiba pintu terdorong kasar oleh seseorang , Ya ternyata Bayu lah orangnya , ia masuk tergesa – gesa. “ Fah kamu gak kenapa napa kan?”
“ gak papa kok Bay, hanya luka kecil , gak perlu di khawatirkan.” Ujar Afifah
“ oh Alhamdulillah lah kalok gitu Fah” jawabnya lega.
Bayu menatap Afifah yang duduk terlalu dekat dengan Satria, ntah kenapa matanya melihat pemandangan itu begitu sakit, ada rasa tidak rela , Ada apa dengannya?.
“ kamu kok bisa tau aku disini Bay” Tanya Afifah heran.
“ Tadi gak sengaja aku pas mau ke kantor kepala sekolah , gak sengaja lihat kamu di papah sama Satria, makanya aku kesini” terang Satria.
“ Oooh “ Afifah ber oh ria.
Tiba – tiba Afifah di kejutkan dengan kehadiran Tiara yang ngos – ngosan. “ Fah k- kamu gapapa?” tanya Tiara khawatir.
Tiara menstabilkan pernafasannya ,menyesuaikan hingga stabil ia melanjutkan ucapannya. “ Fah kata kelas lain kami tadi jatuh ya” ucap Tiara cemas.
“ iya Ra, tapi gapapa kok Cuma luka sikit kok" ujarnya tak mau membuat sahabatnya semakin khawatir dengan dirinya.
“ Alhamdulillah” ujarnya lega.
Jdddaar
Suara pintu kembali terdengar. “ Ra...Kamu kok tinggalin aku sih” ujar Mila . Padahal ia tadi sama Tiara , Namun karena mendengar kabar Afifah jatuh , Tiara meninggalkannya , Kenapa sih , Afifah.. Afifah mulu yang Tiara peduli. Bathin Mila kesal.
“ Maaf Ya Mil, abisnya tadi aku udah khawatir kali sama Afifah” jawabnya meminta maaf kepada Mila karena telah meninggalkannya.
“ Yaudah iya gapapa” jawabnya , berdiri di samping Tiara.
“ Yaudah karena udah ada teman loe Fah, biar teman loe aja ya yang ngobati kalok gitu gue pamit ke kelas” Ucap Satria bangkit dari kursi yang telah ia duduki di samping Brankar Afifah.
Afifah terkesiap, “ Oh iya Sat, sekali lagi makasih ya udah nolong aku”
“ Iya Fah sama – sama, lagian kan yang buat kamu hingga begini kan Aku Fah, jadi aku harus tanggung jawab, sekali lagi aku minta maaf ya.”
Afifah hanya menganggukkan kepalanya , Satria beserta Bayu telah meninggalkan ruangan , kali ini hanya tersisa mereka bertiga.
“ Yaudah Fah sini luka kamu biar aku obati” ucap Tiara sembari mengambil kotak P3k yang terletak di meja.
“ Augh pelan – pelan Ra” ringis Afifah ketika cairan Alkohol mengenai lukanya.
“ Sabar Fah ini bentar aja kok perihnya, bentar lagi juga enggak “ jawab Tiara lalu menyelesaikan balutan kain kasa pada luka Afifah, berhubung plester tidak ada, mau tidak mau Tiara menggunakan apa yang ada .
Setelah menyelesai mengobati Afifah mereka kembali memasuki kelas, kali ini Afifah di papah hingga sampai kelasnya, banyak pasang mata yang menatapnya iba sekaligus ada juga yang menatapnya dengan pandangan mencibir .
Namun Afifah tidak mempedulikan sama sekali pandangan itu.
Sementara di sebuah ruangan lain, pandangan menatap tajam , rasa ingin meluapkan semuanya. Bagaimana tidak kekasihnya Satria memapah wanita lain, wanita yang tak lain musuh baginya. Wanita yang begitu beraninya menetang dirinya.
“ Kil loh yakin loe diam aja disini ,satria nolongin sih Afifah tuh, masa loh gak cemburu gitu?” ujar teman Kila.
Kila hanya terdiam, tetapi matanya tetap menahan amarah. Liat aja nanti loe!”
“ Iya benar Tuh Kil, mending loe datengi deh perempuan sok alim itu. Udah kampungan berani – beraninya dia merayu Satria dengan alasan sok jatuh. Memuakkan” Timpal salah satu teman Kila sembari mengunyah bonbon lolipop.
“ Kalian semua tenang aja, liat aja nanti !” ujar Kila dengan pandangan sinis.
“ Tapi Kil?, “
Tanpa membalas perkataan, Kila pergi meninggalkan teman – temannya. Mereka saling melempar pandangan. Ada apa dengan Kila, Tumben ia dia diam aja?.