Membenci

1491 Kata
Terkadang banyak hal yang selalu tidak menyukai kita di sekitar kita , apapun yang kita lakukan akan selalu salah di mata mereka, mencobalah bersikap tidak peduli akan hal itu , karena jika kamu terlalu memikirkan banyak omongan mereka hanya lelah yang akan di dapat, cukup satu hal yang perlu di jaga yaitu perasaanmu yang paling berarti dari apapun, jika mental lemah ujungnya akan frustasi. "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." ~ Ali bin abi thalib Kali ini Afifah tetap mengikuti pelajaran akhir, Bisa saja ia berdiam diri di UKS , Namun Afifah tidak mau barang sekejap meninggalkan pelajaran, baginya jika ia meninggalkan maka ia kehilangan ilmu . Dirinya begitu haus akan ilmu, Ia datang kesini dengan penuh perjuangan air mata , butuh usaha besar untuk menyakinkan Ayahnya. Maka dari itu ia tak akan menyia – nyiakan barang sedetik pun waktu belajarnya. Salah satu keindahan ketika seseorang telah berilmu adalah Allah akan meninggikan derajat kita beberapa derajat. Mengapa kita harus senang akan hal ini? Karena semakin tinggi derajat kita, semakin dekat pula kita dengan Allah. “ sekian pelajaran kali jangan lupa bahasan tadi di ringkas, minggu depan ibu periksa. ibu akhiri Wassalamualaikum wr.wb” Ujar guru meninggalkan kelas. “ Fah kali ini kita pulangnya naik angkot aja ya , kan kaki kamu masih sakit “ Ucap Tiara di sebelahnya. Afifah menoleh “ Iya Ra, kita naik angkot aja” ucap Afifah sembari memasukkan bukunya ke dalam laci. Mila menghampiri meja Afifah dan Tiara. “ Eh Ra tadi katanya semua siswa kelas sepuluh suruh baris ke lapangan loh, kita baris yok" ajaknya. “ Kapan Mil?” tanya Afifah. Pasalnya sedari tadi ia tak mendengar apapun pengumuman. “ Tadi loh Fah pas kamu jatuh tadi “ jawab Mila. “ Kamu sini aja ya Fah biar kami aja yang baris , kaki kamu kan masih sakit ,Yaudah yuk Ra, “ Ajak Mila sedikit memaksa langsung menarik Tiara yang belum mengucapkan sepatah katapun. Afifah hanya memperhatikan itu , ia cukup sedih rasanya, Kenapa Tiara begitu tak menyukainya, Bahkan sekarang ia tidak di ajak, Ia tahu walaupun itu alasan demi kebaikannya . Namun secara tak langsung sikap tersebut tetap saja membuatnya tersisihkan. Astaghfirullah kenapa ia begitu su’udzon kepada Mila. Bathinnya menyesal. kita sebagai umat muslim memang diperintahkan untuk selalu menjaga lisan dan perilaku. Termasuk tak boleh berprasangka jelek ataupun suudzon terhadap orang lain.karena bisa saja hati kita salah menduga. Afifah beristighfar sebanyak – banyaknya. Kali ia hanya ia sendiri di dalam kelas, matanya beredar menatap satu persatu bagian sudut kelas. Setelah sekian menit akhirnya Tiara dan Mila kembali , lalu menghampiri bangku Afifah dan menghempaskan bokongnya. Suasana terik siang hari membuat mereka cukup gerah. “ Jadi apa yang tadi di umumkan Ra?” tanya Afifah langsung. Tiara menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. “ ini Fah minggu depan kelas sepuluh ada acara bakti sosial ke Panti anak Yatim” ujar Tiara. “ Hah dimana itu Ra tempatnya?” tanyanya lagi. “ kurang tau sih itu dimana yang pasti di panti..hehhe” jawabnya. “ tapi wajib kata pigi kata bapak itu “ potong Mila lesuh. Lagi dan lagi mungkin ia akan di hadapkan pada situasi asing dimana ia harus beradaptasi dengan orang baru, baginya ia tak perlu akrab dengan banyak orang cukup sedikit namun berarti dan setia. Nah kali ini ia telah mendapatkannya yaitu Afifah dan Tiara, walaupun ia tetap memasukkan Afifah ke dalam golongan orang yang ia tidak sukai.Baginya ia hanya mau satu teman yang mengganggu dirinya, Dan menurutnya Afifah selalu mengganggu dirinya .Katakanlah ia egois. Tapi Mila tak peduli akan hal itu. “ Yaudah Fah yuk kita balik “ ajak Tiara. “ Yuk Ra,” Jawab Afifah . Ia sedikit minta bantuan kepada Tiara agar memapahnya. “Eh tunggu !” ucap Mila. “ Kenapa Mil?” jawab Tiara. “ Kawani aku piket ya, hari ini jadwal aku piket” ucap Mila. “ Gimana Ya Mil kayaknya kami gabisa nunggui kamu , Takutnya angkot keburu sepi, lagian kasihan juga Afifah kalok pulang jalan” ucap Tiara tidak enak. Ya angkot yang lewat jalan depan g**g mereka hanya beberapa, itupun sangat jarang . Mila mengkerut lagi dan lagi pasti Afifah . “ Yaudah deh” ujarnya pelan. “ sekali lagi maaf ya Mil gak bisa ngawani” “ Iya gapapa” Mila benar – benar kesal , bukankah waktu ia pernah mengawani dan juga membantu mereka pas piket, Namun gikirannya sekarang malah mereka tidak mau, Mila sungguh – sungguh kesal karena kebaikannya tidak di balas. Orang yang beramal karena selain Allah, maka amal itu tak ada nilainya di sisi-Nya karena amal itu tidak ditujukan kepada-Nya, tetapi kepada selain-Nya. Bagaimana mungkin Allah memberikan nilai kepada orang yang amalnya bukan ditujukan kepada-Nya? Orang yang ikhlas beramal berarti ia mengorientasikan segala amal, kerja, dan aktivitasnya baik itu yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, hanya karena Allah. Sehingga, mindset atau pola pikirnya untuk amal itu adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Orang yang ikhlas akan dapat mengontrol amalnya. Ia akan berpikir lebih dulu sebelum berbuat, bukan berbuat dulu baru kemudian berpikir. Atau, berpikir dulu sebelum berbicara, bukan berbicara dulu baru berpikir. Orang yang ikhlas dapat menentukan amal apa yang baik untuk dilakukan atau amal yang buruk untuk ditinggalkan. Orang yang ikhlas tidak akan memikirkan apa yang akan di dapatkan dari manusia karena baginya apa yang didapat dari Allah sudah cukup bahkan lebih utama. Orang yang ikhlas berarti lebih menginginkan keridhaan Allah dibandingkan keridhaan manusia. Lebih baik tidak disukai manusia karena benar, daripada tidak disukai Allah karena salah. Mila mulai menyapu setiap sisi bagian kelas beserta teman yang piket pada hari itu , Namun baginya ia merasa tetap sendiri di ruangan itu, sedangkan teman seregu piketnya tiada niat untuk mengajaknya bicara. ***** Afifah dan Tiara berjalan di koridor sekolah, melewati lorong - lorong kelas yang telah sepi, sebagian siswa sudah banyak yang pulang. Hingga suara terdengar dari luar menyebutkan namanya. " Gila banget tuh cewek punya nyali gede juga dia ngerebut Satria dari Kila, Kalo sempet Kila tau bisa abis tuh cewek" " Iya emang, Udah tau itu Kila kayak gitu masih aja berani deketi" Sahut yang lain. " Kalo gak salah namanya Afifah gitu" ujar yang lain. Afifah dan Tiara yang mendengarkan di balik tembok hanya terdiam . Ntah kenapa lagi dan lagi ia selalu di kait - kaitkan dengan Satria, padahal apa yang mereka gunjingkan tidaklah benar, Ia sama sekali tidak berniat sama sekali untuk merebut Satria dari Kila. " Udah Fah gausah di fikirkan kali atas ucapan mereka Fah " bisik Tiara pelan agar tidak ketahuan. Afifah hanya mengangguk , Walaupun ia berusaha mengiyakan dan seolah tidak terjadi apapun , Namun tetap saja Afifah memikirkan perkataan mereka. " Yaudah yuk kita lanjut lagi" Mereka sudah berada di dalam angkot, penumpang siang cukup ramai , untung saja Afifah dan Tiara lebih cepat naiknya sehingga tidak perlu terlalu berdesakan. Wangi keringat yang menguar dari para penumpang sungguh tercium , Afifah mencoba untuk menahan rasa mualnya karena bau tersebut. Satu persatu penumpang telah turun tinggal Afifah dan Tiara , cukup lengang. " Om turun di depan g**g itu ya" ucap Tiara. Supir itu hanya mengangguk di balik kaca spion di atas dashbord. Mobil menepi di bahu jalan , Afifah dan Tiara segera turun dan menyerahkan ongkos tersebut. ***** Malamnya Afifah termenung, menatap bintang di balik jendelanya. Secangkir teh manis menemani malamnya yang sepi. Ia ingin ke kamar Tiara, Tapi takut Tiara sudah tidur, Gak tahu kenapa matanya sulit terpejam. Fikirannya kembali pada kejadian tadi siang. “ Sat kenapa loh nolong gue?, Kamu tahu itu bikin aku semakin banyak gak di sukai orang. “ kata Afifah seakan ia berbicara dengan satria. “ Gue tuh pingin hidup tenang tanpa ada yang dengki ke gue, aku tahu itu mustahil. Tapi aku ingin terlihat biasa tanpa ada menonjol sedikitpun” lanjutnya tetap bermonolog. Afifah masih tetap menatap bintang malam yang bersinar, tangannya meraih secangkir teh di sampingnya. Prang..prang Isi cangkir teh tumpah mengenai lukanya Afifah. “ Aughh..panas... Perih” Afifah mengembuskan lukanya, berharap lukanya segera dingin. Dering Hp menghentikan pergerakan Afifah pada lukanya. Dengan segera ia mengambil hpnya di dalam tas sekolahnya. Ayah? “ Halo Assalamualaikum Yah” ucap Afifah ketika panggilan sudah terhubung. “ Wa’ alaikumussalam” panggilan diseberang telepon. “ Gimana kabar ayah?” Ucap Afifah lembut. “ Alhamdulillah baik nak, oh iya ini ibu kamu mau ngomong katanya” “ Nak ...” “ Ya Bu” “ Kamu tidak apa – apakan?, kamu sehat – sehat ajakan?” Afifah terdiam . Ia tidak boleh mengatakan bahwa ia terjatuh tadi siang. Pasti ibunya akan khawatir nanti. “ Fah?,,kamu masih disana kan?” “ Eh iya bu, Afifah sehat – sehat kok Bu” “ Alhamdulillah, Yaudah kalok gitu kamu istirahat, ini udah malam, gabaik tidur larut malam” pesan ibunya. “ Baik Bu” panggilan pun terputus. Afifah terenyah. Maafin Afifah Bu sudah berbohong sama ibu, Afifah gamau ibu khawatir nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN