Lebih Baik Menjauh

1389 Kata
Keesokan harinya, ketika kaki Afifah sudah lebih baik. Mereka bersiap untuk ke sekolah bersama. Tiara sebenarnya agak cemas karena dalam pandangannya, Afifah masih belum sembuh total. "Fa, apa gak sebaiknya kamu enggak sekolah dulu hari ini?" tanya Tiara dengan wajah perihatin. "Jangan terlalu di besarin, Ra. Cuma luka kecil, enggak terlalu besar. Aku juga udah ngerasa baikan kok jadi enggak papa lah," jawab Afifah dengan senyum lebar, meyakinkan Tiara. "Sekarang kita harus segera berangkat ke sekolah." Tiara mau tak mau mengangguk saja menuruti. Mereka kemudian berjalan bersama ke arah sekolah, karena masih sangat pagi dan waktunya cukup banyak tersisa, maka kali ini sama seperti yang sebelum-sebelumnya, lebih baik menggunakan kedua kaki kemana-mana. Hemat uang sekalian berolahraga. "Jadi yang ke panti asuhan itu jadi ya?" tanya Afifah pada Tiara. "Enggak tau, Fa. Kamu ikut kalau misalnya jadi?" Afifah mengangguk kencang. "Pasti, Ra. Mau banget, apalagi kalau ada banyak anak bayi di sana. Wah suka banget pastinya." Tiara tertawa melihat Afifah yang kegirangan. "Kamu suka anak bayi ya, sama aku juga. Ngegemesin soalnya." "Iya jadi pengen cubit pipinya kan," sahut Afifah dengan pipi menggelembung meniru wajah bayi yang muncul di dalam kepalanya. "Nanti nangis dong, Fa." "Kalau nanti nangis, aku kasih ke kamu," selorohnya dan tertawa ketika melihat tatapan datar Tiara. "Giliran yang enggak enak aja kamu kasih ke aku." "Haha bercanda, Ra." Tiara mendengus pura-pura marah. Tapi ekspresinya hilang ketika melihat Mila sudah berdiri menunggu mereka di depan sana, tepatnya di depan pintu gerbang. Afifah juga melihat ke arah yang sama dan ia menghela nafas pelan. Ia melipat bibirnya kemudian menoleh ke Tiara. "Ra, aku pengen jujur tapi aku takut kalimat aku ini salah atau su'udzon," ujar Afifah pelan, mereka berhenti berjalan dan membuat Mila kebingungan di depan sana. "Apa yang mau kamu bilang, Fa?" tanya Tiara ikut menoleh ke arahnya. "Aku cuma ngerasa kita salah deketin Mila. Dia ... entah kenapa terasa beda, Ra. First impression ngeliat dia, aku langsung suka sama karakternya, tapi rupanya aku enggak bisa lihat dari awal aja, dia rupanya agak beda ketika kita berteman lebih dalam sama dia," jelas Afifah cukup panjang. Tiara menghela nafasnya dua kali. "Aku juga ngerasa hal yang sama, Fa. Bukan kamu aja," sahutnya tersenyum. "Beneran? Aku kira aku aja!" "Dari dia yang minta cuma aku yang dateng ke rumah dia juga aku udah ngerasa beda, aneh aja. Kenapa memangnya sama kamu? Kan enggak ada apa-apa tapi dia kok udah keliatan enggak suka sama kamu," ujar Tiara, ia sebenarnya merasa tidak enak pada hatinya mengucapkan hal ini, tapi memang ia sependapat dengan Afifah. " Kamu tahu gak Fah, kalok berteman dengan teman baik itu layaknya kita berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan tertular wanginya. tapi kalok kita berteman dengan orang yang buruk akhlak maka seperti kita berteman dengan pandai besi, kena bau bakar" " Ya aku ngerti kok aku pernah baca hadis itu Ra, kalok berteman sama yang akhlaknya baik maka kita terkrna dampak yang baik, tetapi srbakiknya kalok kita berteman dengan yang buruk akhlak maka kita bisa jadi ikut dengannya." Tiara Dari dulu pun ia tidak ingin berteman dengan seseorang yang tidak baik akhlaknya, cukup menjadi kenal saja. tapi tidak akrab. Tiara juga pernah baca jika sesulit apapun hubungan pertemanan kita, janganlah kita kembali pada orang-orang yang memilliki racun didalam hati dan pikirannya. Tiara kemudian melihat Afifah yang masih tampak cemas, mungkin ia juga berpikir bagaimana caranya menjauhi Mila. "Fa, ayo ikut aku." Tiara segera menarik tangan Afifah. "Kita harus tegas, Fa. Kita harus jauhin, tapi jangan kelihatan banget." "Maksud kamu, Ra?" Tiara tidak menjawab lagi. Ia dan Afifah kini berjalan beriringan, sebentar lagi sampai ke gerbang sekolah di mana Mila sudah menunggu mereka berdua. "Tiara, Afifah! Kalian tadi kenapa lama banget di sana? Ngapain? Ngomongin apa hayo? Ngomongin aku ya?" tanya Mila dengan tampang kesal yang dibuat-buat. Tiara tertawa. Tangannya masih menggandeng tangan Afifah. "Haha maaf ya, Mil. Tadi ada sedikit yang kita bahas, tapi bukan tentang kamu kok," ujarnya menjawab Mila, tapi yang membuat Mila terheran-heran, Afifah dan Tiara tidak berhenti berjalan, mereka terus melangkah meninggalkan Mila yang terdiam. Afifah yang sudah tahu apa yang dilakukan Tiara pun menambahkan. "Duluan ya, Mil!" serunya yang membuat Mila tegang, ucapan terakhir itu sudah kedengaran seperti ucapan selamat tinggal di telinga Mila. "Mereka ... menjauhiku?" Nyatanya Mila juga peka dengan apapun yang terjadi padanya, sekecil dan sehalus apapun perbuatan itu. Ia sadar jika Afifah dan Tiara tidak ingin berteman dengannya lagi. Tapi apa yang membuat mereka seperti itu? Ada kesalahan yang ia perbuat? *** “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17] Semua hadis itu tergiang-ngiang di dalam kepala Tiara. Ia sebenarnya tidak enak menjauhi Mila dan pasti Mila sudah merasakannya sejak tadi pagi ia dan Afifah cukup terang-terangan menjauhinya. Tapi memang mau bagaimana lagi, Mila harus memperbaiki dirinya terlebih dahulu, Mila harus sadar jika ia tidak boleh memiliki sikap yang sama lagi, ia harus berubah. Tiara juga bukanlah orang sabar yang dengan lapang d**a menuntun Mila ke jalan yang benar, tapi setidaknya dengan ia menjauhi perempuan itu. Ia akan sadar kalau ia harus merubah sifatnya. Tiara sebenarnya ingin memiliki sahabat yang ilmunya jauh di atasnya, tapi ia pikir Afifah dan ia setara dalam keilmuan dan ia tidak apa, ini sudah lebih baik. Afifah sendiri sebenarnya khawatir, ia dari tadi tidak melihat Mila di dalam kelas padahal tadi pagi perempuan itu sudah berdiri di depan gerbang. Pertanyaannya ia kemana? Kenapa tidak ada di kelas? Bahkan ini sudah masuk jam ketiga pelajaran dan ia belum terlihat juga. Sampai akhirnya lonceng istirahat berbunyi, Mila juga tidak ada di sana. "Ra, si Mila kemana ya?" Tiara menghentikan tangannya yang hendak memasukkan buku ke dalam laci meja. "Enggak tau, Ra. Mungkin dia di UKS atau di mana gitu, aku juga enggak tau, Ra." "Hm apa gak papa kita ngejauhin dia kayak gini?" Tiara menghela nafas, ia tidak tahu harus menjawab apa, inginnya tidak tapi jika bertahan mereka yang akan terbunuh. Tapi untuk sekarang mungkin mereka bersabar tapi jika memang sudah melampui batas mereka akan menegurnya. Afifah mengangguk paham, ia sudah mengerti maksud Tiara. "Aku paham, Ra. Dalam memilih teman, kita harus memilih teman yang taat beribadah kepada Allah dan berakhlak baik agar dapat menularkan ketaatannya kepada kita., ya kan? Dianjurkan juga memilih teman yang berilmu dan mau membagikan ilmunya kepada kita, baik yang pintar dalam ilmu pengetahuan maupun agama." Tiara mengangguk membenarkan. "Teman yang berilmu bakal selalu memperingatkan kita untuk selalu menuntut ilmu dan tidak malas dalam menuntut ilmu, Fa. Berteman dengan orang yang berilmu lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak berilmu. Itu sih jelas ya." "Terus. Dalam berteman kita juga perlu memilih teman yang akan senantiasa mengingatkan kita kepada Allah SWT," lanjut Tiara menjelaskan. "Jadi kalau ada yang buruk dan malah ngebuat kita jadi punya sifat buruk, mending dijauhin, Fa." Afifah diam. Ia tahu itu. "Tapi, Ra. Teman yang baik ketika kita melakukan kesalahan dan berada pada jalan yang tidak benar, dia akan selalu menegur dan mengingatkan kita. Jadi sebagai teman, bukannya lebih bagus kita bilang ke Mila kalau ia tidak boleh bersikap egois kayak gitu?" Tiara melipat bibirnya. "Bisa aja sih, Fa. Tapi kalau kita deket ke dia lagi, takutnya gak bisa ngejauh atau dia yang mau nempel terus ke kita. Kita tuh harusnya memilih teman yang tidak senang berbuat maksiat. Berteman dengan orang yang suka berbuat maksiat dikhawatirkan akan membuat kita tertular dan melakukan perbuatan maksiat, karena itu kita harus ngehindarin temen yang suka berbuat maksiat." Afifah paham, paham sekali. "Tapi aku rasa Mila enggak terlalu jahat banget kok, Ra. Gimana kalau kita samperin nanti pas ketemu dia dan kita diskusi sama dia tentang ini." Tiara tampak berpikir. "Tapi dari ekspresi dia yang gak suka ke kamu buat aku agak gimana gitu, Fa. Dia jelas-jelas enggak suka sama kamu." "Kita kan enggak tahu jelas pastinya gimana, Ra. Mending kita samperin dulu, gimana nantinya baru kita buat keputusan." Tiara memijit pelipisnya. "Iya yauda nanti kita samperin dia." Afifah tersenyum dan menunjukkan jempolnya. Ia hendak berbicara lagi tapi tiba-tiba sebuah teriakan di depan kelas membuatnya menunda perkataannya. "Woi di suruh ngumpul di lapangan, ada pengumuman katanya! Ayo buruan!" Afifah dan Tiara saling lirik sebelum sama-sama bangkit berdiri. "Kalau gitu kita harus dengerin pengumuman dulu baru bahas ini lagi," celetuk Tiara yang membuat Afifah tertawa. "Siap!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN