Piknik

1845 Kata
Ketika para murid berkumpul, Afifah celingak-celinguk mencari Mila. Tapi gadis itu memang tidak ada. Ia entah kemana. Lain Afifah maka lain Tiara, gadis yang satu itu tampak santai dan tidak kecarian seperti Afifah. Mungkin Afifah memang yang tidak disukai Mila, tapi entah kenapa Tiara yang lebih merasakan dampaknya, ia tidak tenang dan tidak nyaman berada di sekitar orang-orang seperti Mila. Orang-orang yang bisa tidak suka pada orang lain hanya karena masalah sepele yang bahkan tidak bisa disebut masalah dan tidak juga disebabkan oleh si orang lain. "Ra, si Mila emang enggak ada.," ujar Afifah. "Yauda, Fa. Mungkin dia lagi pergi, besok paling masuk sekolah lagi. Besok aja ya kita samperin," jawab Tiara. Afifah diam, ia memang tidak bisa melakukan apapun lagi selain menunggu besok dan berharap kalau Mila baik-baik saja. Pasalnya, perempuan itu menghilang begitu saja padahal sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolah, aneh rasanya jika ia balik ke rumah. Afifah sebenarnya juga merasa bersalah karena mengucapkan tanda selamat tinggal pada Mila. Ia takut gadis itu sakit hati padanya. "Baiklah, mohon perhatiannya semuanya." Afifah menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak memikirkan itu lagi. Sekarang ia hanya harus fokus pada apa yang akan dikatakan oleh kepala sekolah di depan podium itu. "Jadi kemarin ada kabar kalau kita hendak mengunjungi panti asuhan, dan maaf kita tidak jadi melakukannya." Banyak suara kecewa terdengar. Afifah pun kecewa karena sebenarnya ia sudah mendambakan dan memimpikan akan bertemu dengan banyak anak-anak di sana. "Alasannya karena banyak dari kalian yang tidak setuju ke sana." "IYA PAK! BETUL!!" Seruan kencang dari arah barat itu membuat Afifah dan Tiara sama-sama menoleh ke arah sumber suara, ternyata Kila orangnya. Ia mengunyah permen karet dan berlagak seperti bos di sana. Ia dan teman-temannya tertawa. "Tujuan kita bepergian seperti ini agar kalian lebih mendalami perasaan tentang simpati, empati dan kepedulian sesama. Tapi karena sebagian siswa tidak setuju, maka kita harus menggantikannya, bukan berarti tidak jadi ya." Kalimat itu mendapat banyak sorakan. "Jadi kita akan piknik ke puncak. Dan--" "WOAAA!!!" "BENERAN NIH?!" Afifah hampir tertawa melihat yang lainnya bersorak kegirangan, saking senangnya akan ke puncak. Tampaknya rencana ke puncak membuat semuanya setuju. Afifah sendiri juga senang jika bisa ke puncak. "Asik nih, Fa," celetuk Tiara yang juga sudah senang bukan main. "Bener banget, Ra. Aku belum pernah piknik kemanapun apalagi puncak," sahut Afifah tertawa kecil. "Mohon tenang ...." Kepala sekolah memperingati, begitu suasana mulai tenang, barulah ia melanjutkan kalimatnya. "Dan kegiatan ini dimulai besok. Yang ingin ikut segera mendaftarkan diri ke OSIS. Perjalanan kali ini cuma memakan waktu tiga hari dan diharapkan kalian semua membawa bekal dan persiapan masing-masing. Tujuan kali ini agar kalian bisa menghargai makhluk hidup selain manusia, melestarikan lingkungan dan sadar betapa pentingnya lingkungan bagi kehidupan kita. Di akhir acara juga kalian yang ikut wajib membuat secarik catatan tentang pelajaran apa yang kalian dapatkan lalu kumpul ke ketua kelas masing-masing." Penjelasan kepala sekolah cukup panjang. Namun bisa dimengerti mereka semua. "Baiklah itu saja, saya akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit kepala sekolah dan turun dari podium. Tiara yang berdiri di depan Afifah berbalik, matanya membesar dan bibirnya merapat. "Ya Allah, Fa! Ini bakalan jadi perjalanan yang seru banget! Aku gak sabar kita ke sana bener deh!" serunya dengan teriakan-teriakan pelan. Afifah mengangguk kencang. Tidak hanya Tiara yang merasakan hormon dopamin yang tinggi, tapi Afifah juga! Rasanya ingin meloncat-loncat sekarang sebagai bentuk dari rasa senangnya. Setelahnya, mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Afifah dan Tiara sedang membereskan buku-buku mereka ke dalam tas ketika satu kelas membicarakan tentang piknik itu dan mereka tertawa terbahak-bahak saking senangnya. Bahkan sebagian sudah berteriak-teriak melampiaskan rasa senangnya. Tiara tersenyum perlahan, ia menyela ucapan mereka. "Gak usah seneng banget guys, ntar takutnya enggak sesuai ekspetasi," celetuknya yang membuat teman-teman sekelasnya menatap ke arahnya. "Maksudnya?" "Eh iya tapi bener juga loh yang dibilang Fara. Kadang kalau kita ngarepin sesuatu, seneng-seneng, ntar pas udah hari H, jadinya gak sesuai ekspetasi, kirain seneng eh malah sedih," tambah seseorang dari mereka. "Ya kan kita gak tau takdirnya gimana, apa salahnya coba seneng-seneng?" Kalimat itu mendapat sorakan dari yang lainnya, mereka setuju karena mereka berpikir kenapa ketika senang kita harus menunda untuk mengungkapkan kebahagiaan yang di rasakan. "Tapi guys!" seru Afifah. "Bener yang dibilang Fara, enggak perlu seneng-seneng banget karena hal itu. Biasa aja nanggepinnya, seneng boleh tapi jangan terlalu." Seseoran dari mereka menghela nafas panjang. "Gue sebenernya muak loh ada ginian di kelas kita. Kayak apa gitu, apa-apa di larang," serunya menatap tajam Afifah dan Tiara. "Terserah kalian! Jangan ikut campur, oke? Kalau kalian mau biasa aja yauda biasa aja, kalau kita mau bahagia banget juga hak kita, kan?" "Iya memang terserah kalian. Mau ketawa kayak gimanapun juga urusan kalian. Aku sama Tiara cuma ingetin supaya enggak ketawa berlebihan kayak gitu," balas Afifah tidak ingin kalah. Ia pikir ia dan Tiara tidak salah, mereka bagus malah mengingatkan teman kelasnya, tapi balasannya malah tidak sesuai dugaan, kalau begitu lebih baik mereka diam saja, batinnya. "Yauda-yauda!" Bayu menengahi, ia menyuruh orang-orang itu keluar lebih dulu dari kelas, menyuruh mereka pulang dan Afifah serta Tiara paling akhir untuk mencegah keributan lebih lanjut. "Fa, yang aku bilang bener kan ya." Afifah mengangguk. "Yang kita bilang bener kok, Ra Cuma ya merekanya aja yang engga mau dengerin." Tiara menghela nafas pelan, kecewa dan sakit hati rasanya. Kenapa ketika kita ingin berbuat baik dan mengingatkan sesama, malah buruk responnya. "Aku pernah baca, Fa ...." “ Bahwa kita di suruh sedikit tertawa dan menangis, kamu tahu gak Fah kalok banyak tertawa itu dapat mematikan hati” “ jadi maksudmu Ra gaboleh tertawa gitu?” tanya Afifah dengan raut wajah polos. Seketika Tiara tertawa lebar. “ Hahahahha ya gak gitu juga kali Fah. Boleh tertawa tapu jangan berlebihan. Upsss..” “ kenapa Ra?” “ Gak. Tadi kan aku padahal baru aja bilang gaboleh tertawa berlebihan. Aku malah sendiri tadi ngelakuin itu. “ “ Wajar sih Ra. Namanya juga manusia. Nothing is perfect” “ bener kamu Fah, emang gak ada yang sempurna. Tapi setidaknya kita ada niatan untuk menjadi diri yang lebih baik” Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya berkata ayat diatas menunjukkan ancaman bagi orang yang sering tertawa atau menertawakan orang. Dan bukan berarti kita disuruh menertawai orang lain. Orang yang banyak tertawa terbahak-bahak dapat mematikan hati. Afifah mengangguk, ia juga pernah membaca hal yang sama. Dan ia paham betul. "Memang sesuatu yang berlebihan enggak baik ya, Ra." "Yauda deh, Fa. Lupain aja, sekarang kita cepet-cepet pulang dan beres-beres semuanya, oke?" Afifah kembali bersemangat, ia tersenyum dan mengangguk. Ia juga senang tentang piknik ini. Tapi ia tetap mengontrol hormon dopaminnya dalam batas wajar. "Oke, Ra!" Bayu tiba-tiba muncul di depan pintu kelas. "Kalian berdua, aku lupa bilangin. Abis ini jangan pulang dulu, ke ruang osis dulu buat daftarin diri biar di sesuaiin sama bus yang disiapin buat besok," ujarnya dan mendapat anggukan dari Afifah dan Tiara. "Oke, makasih, Bayu." Setelah Bayu pergi meninggalkan mereka. Afifah mengernyit. "Dana buat ke puncak itu dari mana ya, Ra? Secara kan pasti banyak uang dikeluarin." "Mungkin dari SPP, Fa. Karena kan kata kepsek kegiatan ini juga tujuannya biar kita semakin punya perasaan peduli satu sama lain, peduli tentang mahkluk hidup lain. Ini tuh ngedukung moral kita banget," ujar Tiara menjelaskan. "Bener sih, Ra. Yauda ayo ke ruang osis, biar lebih cepet pulangnya." Tiara mengangguk menyetujui, ia kemudian mengikuti langkah Afifah dari belakang sekaligu menutup pintu kelas karena ia yang terakhir keluar. Mereka berjalan pelan ke arah ruang osis dan mendaftarkan nama dengan segera. Di sana ada Kila dan teman-temannya yang juga mendaftar, dan jangan lupa, ada Satria juga yang berdiri dengan tatapan terus ke arah Afifah. Sayangnya Afifah tidak menyadarinya, begitupun Tiara. Mereka berdua sibuk membaca peraturan apa saja yang harus mereka taati besok dan apa-apa saja yang mereka harus bawa sebagai bekal, persiapan mereka sepertinya harus banyak mengingat mereka di luar rumah selama tiga hari. Afifah dan Tiara juga sama-sama tidak peduli dengan sekitar, termasuk ke Kila karena kalau Kila di lihat sekali saja, ia pasti langsung meledak dan mengajak ribut. Jadi Afifah dan Tiara memutuskan untuk diam saja dan tidak banyak bicara. Dan benar, Kila memang tidak ada menyenggol mereka, perempuan itu dan teman-temannya langsung berbalik pergi begitu mereka selesai mendaftar. Afifah melirik Tiara dan tersenyum kecil, Tiara pun sama, ia tertawa pelan. Ya, lebih baik begini. Menghindari Kila adalah dengan diam, itu adalah cara terbaik yang bisa mereka lakukan. "Kalian mau daftar?" Seorang siswa yang duduk di bangku osis berkata pada Afifah dan Tiara. "Eh iya, Kak," jawab keduanya bersamaan. "Kalau gitu cepet di isi, kami juga mau pulang ini." Afifah dan Tiara mengangguk dan menghampiri meja itu, mereka dengan cepat mengisi formulir dan mencentang semua peraturan yang ada karena mereka yakin bisa mentaatinya. "Kalian anak baru di kelas IPA dua bukan?" Seseorang siswa laki-laki lagi bertanya pada mereka, sepertinya ia ketua OSIS karena ada name tag khusus OSIS dan khusus ketua OSIS, ada sedikit yang berbeda karena warnanya keemasan, sedangkan name tag anggota OSIS lainnya berwarna hitam. "Iya, Kak," jawab Tiara cepat, karena Afifah diam saja di tempat. "Yang katanya punya masalah sama Kila?" Afifah mengernyit. "Bener, Kak. Tapi masalahnya udah selesai, terjadi cuma karena masalah sepele kok, Kak," sahutnya buru-buru, takut ketua OSIS ini malah mempermasalahkan mereka lagi atau malah menindaklanjuti ke arah yang lebih serius, kan tidak lucu jika seperti itu. "Oh yauda. Cuma nanya aja." Afifah tersenyum lega. Akhirnya, ia pikir entah sesuatu yang buruk apa yang akan terjadi. Ternyata ekspetasinya salah. Afifah dan Tiara berpamitan dan mengucap salam sebelum berbalik pergi meninggalkan ruang OSIS dan sekolah. Ketua OSIS tadi mengambil dua lembar formulir yang di isi Tiara dan Afifah. Ia tersenyum kecil lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret kertas formulir itu, bagian Afifah dan juga Tiara. "Kenapa lo foto formulir dua orang itu, Bib?" Habib, ketua OSIS yang terkenal baik itu tersenyum. "Sebenernya gue suka banget cewe muslimah kayak mereka berdua, dan gue pengen aja deket sama mereka." Temannya tertawa. "Ah ya gue lupa. Lo kan ngidamin banget sama yang sholehah begitu. Tapi ya lo salah juga, kalau udah sholehah mana mau di deketin bro. Terus lo kok mau deketin keduanya? Buaya ah lo, satu aja dulu." "Diem aja. Gue gak tau juga gimana sifatnya, jadi coba deketin dua-duanya dulu," ujar Habib mulai menambahkan nomor telepon yang di tulis Tiara dan Afifah tadi di kertas formulir mereka ke dalam kontak ponselnya. "Iya deh serah lu." *** Afifah dan Tiara sangat bersemangat, mereka memilah-milah mana baju yang cocok di pakai dalam berpiknik. Kadang Tiara yang memilihkan untuk Afifah dan begitupun sebaliknya. Mereka juga membeli makanan cepat saji seperti mi untuk jaga-jaga besok siapa tau mereka kelaparan tengah malam. Al hasil, mereka masing-masing membawa satu ransel besar yang isinya banyak sekali. "Seriusan aku bawa ini besok, Ra?" Afifah meringis melihat betapa besarnya tasnya. Tampaknya besar, tapi memang tidak terlalu berat. "Iya dong, Fa." Tiara bangkit berdiri, ia sedang berada di dalam kos Afifah. "Yauda aku balik ke kamar aku, ya. Ngantuk banget udah jam sembilan. Besok kita banyak gerak, jadi raga harus dipersiapin. Assalamu'alaikum," sambungnya dan melambaikan tangan pada Afifah. "Wa'alaikumussalam, Ra," balas Afifah dan menutup pintu kamar kosnya, ia juga membaringkan tubuhnya di atas kasur, mulai mengantuk dan tidur terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN