Makan Malam

1587 Kata
Di dalam kossan Afifah, suasana begitu hening tiada satupun yang mengeluarkan suara , Afifah duduk di samping Tiara, menenggelamkan wajahnya dalam – dalam pada bahu Tiara, sedangkan Ayah dan Ibunya duduk dekat Buk Hajjah Romlah. Satria duduk bersandar pada pintu. “ Jadi bisakah menceritakan duduk permasalahannya?” Ucap Hajjah Romlah membuka suara. Pandangannya ia arahkan kepada mereka yang menunduk. Lima menit berlalu namun hanya senyap, tidak ada yang buka mulut. “ Maaf sebelumnya Buk, saya bisa menceritakan kejadian tadi” Ucap Tiara mantap tanpa rasa takut di depan Ayah Afifah. Ia hanya ingin mengungkapkan kebenaran ,dia ingin membantu Afifah sebisanya , Ia tak ingin melihat sahabatnya sedih. Tiara menceritakan kejadian demi kejadian dengan rinci dan gamblang ,di mulai sejak kedatangan Ayah Afifah yang tiba – tiba marah tanpa hal yang jelas. Tiara menatap mata Ayah Afifah yang menunduk datar. Buk Hajjah Romlah mengangguk paham. “Ya saya bisa ngerti sekarang. Ini hanya sebuah salah paham dan lebih baik di antar pihak saling menjelaskan, terutama Afifah kamu harus menjelaskan kepada Ayah kamu, Dan untuk pak Resno seharusnya tidak boleh langsung menyalahkan , cari tahu dulu sebabnya” ujar Buk Hajjah Romlah. “ Di dalam Al – Qur’an di jelaskan Bahwa Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan , jadi seharusnya Pak Resno jangan mudah menyimpulkan terhadap apa yang bapak lihat, dan jangan prasangka dan dugaan sementara membuat Pak Resno gelap mata akan kebenaran” Sambungnya. Pak Resno menunduk dalam diam menyadari dirinya yang termakan oleh asumsi dan simpulan langsung dirinya, tanpa menanyakan lebih dulu. “ Ya benar Yah yang di katakan Tiara, Apa yang Ayah lihat itu tidak seperti yang ayah fikirkan , tadi itu Satria kakinya terluka Yah, jadi kebetulan kossan Afifah yang paling dekat di saat kondisi ia terluka Ayah” ucap Afifah sesenggukan. Resno hanya terdiam. Fikirannya berkecamuk, Ia telah berbuat kasar kepada putrinya. Maafin Ayah nak. Bathinnya “ Bagaimana pak apakah semua sudah jelas? “Tanya Buk Hajjah Romlah. Pak Resno berjalan mendekati Afifah, menatap anaknya yang tertunduk , Ia menarik anaknya ke dalam pelukannya. Afifah menangis sejadi – jadinya di dalam pelukan sang ayah. Resno mengelus pucuk kepala Afifah dan mengecup dengan sayang. Resno melepas pelukannya ,menghapus sisa – sisa air mata di pipi Afifah. “ Maafin ayah yah nak, Ayah terbakar emosi tadi”ucapnya lembut. “ Iya Yah, Tapi Afifah masih boleh sekolah kan Yah” Tanya Afifah dengan raut wajah penuh harap. Ia berharap ayahnya mau mengubah fikirannya setelah kebenaran terbuka. Resno menatap manik mata Afifah, lalu mengangguk dan menyuguhkan senyum. “ Iya boleh nak” Afifah memeluk erat ayahnya, perasaannya begitu bahagia karena ayahnya masih membolehkannya sekolah. “ Nah kalau begini kan enak kedengarannya dan lain kali cari tahu kebenarannya baru mengambil langkah, dan untuk pak Resno saya Cuma mau bilang kalau Afifah ini anak yang baik dan jujur, seharusnta pak Rasno ebrsyukur memiliki anak seperti Afifah” “ Fah, om maafin saya gara – gara kehadiran saya membuat oom sampai salah paham” ucap Satria , Ia merasa bersalah karena kedatangannya ke kos Afifah membuaf Afifah dalam masalah besar. Afifah melepas pelukannya, menolehkan wajahnya menghadap ke arah Satria,. “ Iya tidak Apa – Apa ini sudah Qodarullah, sudah takdir skenario yang Allah ciptakan, jadi apapun yang terjadi kita tidak boleh menyalahkan diri kita sendiri” Ucap Afifah bijak. Satria menatap kagum kepada Afifah yang tidak menyalahkan atas kejadian ini. Cukup gadis yang luar biasa menurutnya. “ Kayak gini kan enak kelihatannya damai tanpa ada permusuhan, lain kali apapun masalahnya di cari dulu pokok permasalahannya abis itu di selesaikan dengan kepala dingin” ucap Hajjah Romlah. “ Yaudah kalok gitu saya pamit “ sambungnya , berpamitan pulang. “ Terima kasih ya Bu” ucap Afifah tulus, mungkin jika tidak ada Buk Hajjah Romlah mungkin Afifah sudah di bawa ke kampung. Afifah dan yang lain menghantarkan Buk Hajjah Romlah sampai depan. Selepas kepergian Buk Hajjah Romlah Afifah masuk ke dalam. “ Astaghfirullah aku belum sholat maghrib” ucapnya nyaring dan panik. Afifah dan yang lain mengarahkan pandangan ke Tiara. “ Astaghfirullah iya ,ya Ra kita belum sholat” ucap Afifah , Ia teringat bahwa ia juga belum sholat. “ Yaudah lebih baik kita sholat berjama’ah saja, lagian ibu lihat belum masuk isya ,jadi masih sempat untuk sholat maghrib” Ucap Lena. Mereka melaksanakan sholat secara berjama’ah dengan Pak Resno sebagai imam, Tiara juga ikutan padahal kossannya dekat, Namun ia lebih memilih sholat berjama’ ah . Selepas sholat dan memanjatkan doa, Mereka duduk melingkar. Hanya kebisuan yang tercipta, suasana begitu canggung. Resno masih merasa bersalah, Ia malu dengan putrinya, Ternyata putrinya masih memegang janjinya. “ Gimana kalok kita makan malam bersama, kebetulan tadi ibu bawa makanan banyak dari kampung,.” Ucap Lena. “ Yeay Asyik,,ibu masak apa tadi Bu? “ Tanya Afifah. Sudah beberapa minggu ia tidak merasakan masakan ibunya, ia begitu merindukan masakan ibunya. “ Kalok gitu saya pamit Ya Fah, Om , Tante “ Ucap Satria, Ia merasa sungkan bila berada disini. “ Kok cepat bangef nak, lebih baik kita makan dulu” Ucap Lena menghalangi. Karena tak bisa menolak Satria mengiyakan tawaran dari Ibu Afifah. Ia merasa jika makan bersama sudah sangat lama di keluarganya tidak pernah terjadi, Keluarganya begitu sangat sibuk sehingga tiada waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Sepulang dari Kantor Ayah dan Ibunya tidak pernah menanyakan tentang bagaimana sekolahnya ?, yang mereka tahu semua kebutuhan Satria terpenuhi. Namun sebagai anak Satria tentu bersikap dewasa dengan memahami kondisi orang tuanya yang tentu lelah dan sibuk seharian di pekerjaannya, Ia tak mau bersikap kekananakan. Ia sudah cukup megerti akan kesibukan orang dewasa. “ Ibu Ara gak suka ini !” Ucap Ara dengan menyingkirkan butiran rimbang ke pinggir piring. “ Loh di makan sayang itu bagus buat kesehatan mata. Biar matanya cerah loh kayak di tv – tv yang sering lihat itu” Ujar ibunya. “ Pokoknya Ara ndak mau bu!” Ucap Ara “ Yaudah sini untuk ibu saja biar ibu makan” Lena memindahkan rimbang dari piring anaknya kepiringnya. .” Loh Nak Tiara kok tidak pakai sendok saja makannya?” Tanya Lena yang melihat teman dari putrinya yang makan dengan tangan tanpa sendok. “ He. He iya buk soalnya sudah kebiasa kalok makan tidak pakai sendok lebih sering pakau tangan Buk . Hmm terus juga Buk jika makan pakai tangan lebih mudah saja buk ,selain makanan juga makanan lebih cepat tercena karena bakteri dari tangan kita Buk” Jawab Tiara pelan, Ia sedikit berbicara pelan supaya tidak terkesan menggurui ,Apalagi yang sedang ia hadapi adalah orang yang lebih tua darinya makanya ia harus merendahkan suaranya. Lena mengangguk paham akan penjelasan dari Tiara, Tidak menyangka Putrinya mempunyai seorang teman yang begitu luas pemahamannya akan hal Agama. Sungguh beruntung anaknya memiliki teman seperti Tiara. Selepas makan Satria kembali pulang , Ia berpamitan dengan menyalami kedua tangan orang tua Afifah , Ia begitu bahagja karena sudah di sambut dan di perlakukan seperti keluarga tadi ketika makan malam. Lena dan Resno menghantarkan Satria sampai teras, Afifah dan Tiara berberes membersihkan piring sisa makan tadi. “ Gimana luka kamu nak, apa perlu di obati lagi?” tanya lena. “ Tidak usah buk, Tadi udah di obati kok sama Afifah dan Tiara” “ Yaudah kalok begitu Hati – Hati ya nak Sat “ petuah Lena. “ Ya Bu” Jawab Satria sambil memakai Helmnya. Selepas kepergian Satria , Mereka masuk ke dalam , Melihat semuanya bersih bisa dan rapi. “ Sudah pulang ya Bu Satria?” Tanya Afifah yang baru dari kamar . “ Iya sudah nak” jawabnya. “ Fa , Om Tante saya pamit balek ke kos “ ucap Tiara tiba – tiba. “ Eh iya nak Tiara, “ Ucap Lena. Saat sampai di depan kos. Tiba – Tiba Afifah muntah. “ Hueek “ “ Astaghfirullah Afifah kamu kenapa “ ucap Lena panik karena melihat anaknya muntah – muntah. Tiara yang hendak pulang karena mendengar suara dari ibunya Afifah ia menoleh ke arah Afifah. “Afifah “ ucap Tiara panik. Lena mengurut tengkuk Afifah , Hingga Afifah mengeluarkan semua isi dalam perutnya. “ Sudah Nak?” tanya Lena yang melihat butir air mata di tepi mata Anaknya. “ U..u dah buk” Ucapnya lemas. Lena memapah anaknya di bantu dengan Tiara , menyandarkan pada kasur dan memberikan minyak angin ke d**a dan perut Afifah. “ Kamu sakit ya nak,Apa perlu kita ke dokter” Ucap Lena . “ Tidak usah Bu ,Afifah hanya hanya masuk saja Buk “ Ujarnya pelan. “ Tadi siang Afifah telat makan Buk, Apalagi tadi Afifah mandi ke kolam Buk “ Ucap Afifah pelan. Tiara jadi merasa bersalah karena telah mengajak Afifah hingga menyebabkan Afifah sakit. “ Maafin aku ya Fa” Ucap Tiara menunduk dan merasa bersalah. “ Sudah Ra kamu tidak perlu merasa bersalah , ini salah aku tadi karena telat makan, Lagian aku orangnya gampang masuk angin Fa , dikit saja telat makan pasti langsung masuk angin deh” Ujar Afifah dengan senyum di wajahnya. “ Yaudah Ra kalok kamu pulang – pulang saja,” Ucap Afifah ,ia bukan masuk untuk mengusir hanya saja kasihan Tiara jika terus disini , “ Yaudah Fa aku pulang ya” Selepas kepergian Tiara , Afifah di kusuk ibunya hingga ia tertidur. itu sudah kebiasaan Afifah di kampung,jika ia merasa capek dan meminta ibunya memijati tubuhnya, tak lama ia akan tertidur,Menurutnya pijatan ibunya bagai candu penghilang rasa lelahnya. Malam ini akan menjadi hal melepas kerinduan juga hal mencekam, Dimana hampir saja masa depannya di pertaruhkan, Cukup sepeleh namun membawa dampak besar untuknya. Ia harap kejadian ini tak terulangi lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN