“Ayah?”
Pak Resno ayah Afifah dengan wajah merah padam, area wajah yang mengkerut dan gemeletuk gigi yang sengaja ia tahan untuk meredakan emosinya saat melihat putri kesayangannya. Ia tak percaya dengan yang ia lihat ,namun kenyataannya seperti itulah. Ia telah berusaha memberikan kepercayaan pada anaknya itu, tapi kenapa anaknya mengecewakannya.
Ia datang ke Jakarta untuk menjenguk putrinya, Selepas meminta alamat kos putrinya dari Buk Jihan, ia memboyong sekeluarga untuk pergi ke Jakarta. Ia sampai tidak masuk kerja tadi pagi karena ingin melihat anaknya, betapa dadanya yang menyesak merindukan putrinya, ia ingin bertemu dan melepas rindu kepadanya mengingat kepergian Afifah ke Jakarta tanpa ia temani Resno berinisiatif datang ke kota metropolitan Kota yang di juluki sebagai ibu kota dari Jakarta. Namun betapa hancur hatinya melihat putrinya berbaur dengan seorang pria.
“ Apakah begini perlakuanmu Afifah ketika di luar, apakah kepercayaan yang Ayah berikan hanya angin lalu buatmu! ”Ucap Resno membentak.
“ Nggak Ayah, Afifah tidak seperti itu”
Afifah berkaca – berkaca, Hatinya benar – benar hancur ketika Ayahnya membentaknya, sekali kedipan butir air mata membasahi pipi putihnya. “ Ayy- a.hh” ucap Afifah terbata – bata. Ia tak bisa mengeluarkan suaranya,Hanya isak tangis yang tak dapat ia tahan keluar dengan sendirinya.
“ Ayah benar – benar kecewa samamu Fah” ucapnya pelan.
“ Fah sebenarnya ada apa ini Fah”Tiara mengguncangkan Bahu Afifah, Tetesan air mata Afifah yang begitu deras, Tiara dengan sigap membawa Afifah ke dalam pelukannya. Menenangkannya.
Satria yang masih belum mengerti apa pokok permasalahannya hanya terdiam menatap dalam diam.
“ Om sebenarnya ada apa ini om,kenapa om tiba – tiba marah?” Tanya Tiara ,Ia mempertanyakan kenapa Ayah Afifah begitu marah, padahal ia merasa bahwa Afifah tidak melakukan kesalahan.
“ DIAM KAMU! Bukan urusanmu. ”Bentak Resno. Menunjuk Tiara dengan telunjuknya.
Tiara yang merasa Kaget, Ia menunduk matanya juga berkaca – kaca, ia sama sekali tidak bisa di bentak, ia berusaha menghalau agar air matanya tidak terjatuh. Menunduk adalah satu – satunya menyembunyikan tangis.
“Yah,ini tidak seperti yang Ayah lihat Yah,”Ucap Afifah .
“ Apa kamu bilang tidak salah lihat, jelas – jelas Ayah lihat dengan mata kepala ayah sendiri!” Ucapnya pitam.
“ Yah sudah Yah,jangan marahi Afifah, kasihan Afifah”. ucapnya lembut, mengelus lembut punggung suaminya untuk meredahkan emosi sang suami.
“ Tidak Bisa gitu Bu!, ini benar – benar tidak bisa di biarkan Bu!,dia menyia – nyiakan kepercayaan kita,Bu”tanpa menoleh kepada sang istri.
Para penghuni kos – kosan yang mendengar suara keributan, mereka keluar dan menyaksikan perdebatan antara pria dewasa dengan seorang anak remaja. Mereka berbisik – bisik dan pandangan menatap rendah kepada Afifah. Semakin buruklah Afifah di mata mereka.
“ Apakan aku bilang ,bener!, kalo anak zaman sekarang tuh pada gak beres!” bisiknya pelan.
“ Iya ya, emang anak sekarang tuh Krisis moral, Kasihan ya ayahnya” balas temannya.
Afifah mengabaikan suara – suara yang memanasi keadaan.
“ Yah tolong dengarin penjelasan Afifah dulu, Ayah salah paham.” Ucap Afifah tersedu – seduh,
“Tidak ada yang perlu di jelasin semua udah jelas!”
Resno mengarah masuk ke dalam kossan Afifah, berjalan dengan langkah kasar. Ia berjalan ke sudut kasur ,mengambil koper Afifah dan memasukkan semua baju – baju Afifah ke dalam Koper. Ebo yang berada di atas kasur menatap dengan pandangan asing, mengaum dengan keras seakan sedang menatap musuh.
Maung... Maung
Afifah melepas pelukan, mengejar langkah Ayahnya yang masuk ke dalam, Pandangan Afifah tertuju pada dalam kossan berantakan lemarinya telah kosong, matanya menatap kopernya yang di pegang Ayahnya.
“Yah,mau di apakan baju – baju Afifah?”tanyanya dengan air mata yang semakin deras. Suaranya begitu serak karena kebanyakan menangis.
“Mulai sekarang kamu berhenti sekolah!,dan kamu pulang ke kampung ikut Ayah!.” ucap Resno tegas tanpa penolakan.
Bahu Afifah melemas setelah mendengar ucapan sang Ayah. Air matanya bercucuran ,dadanya sesak, suaranya tergagu – gagu . “ Yah”ucapnya lemas.
Tiara, Satria dan Ibu Afifah ikut masuk ke dalam, Pandangan mereka tertuju pada Afifah yang menunduk dan terduduk di lantai. Sang ibu mendekati putrinya membawa ke dalam pelukannya.
“ sudah nak!” ucapnya lembut, mengelus pucuk kepala Afifah dengan sayang.
“Ibu ,Afi- Fah ma- sih mau sekolah Bu”ujarnya dengan suara serak.
“sudah – sudah sayang, kali ini dengar kata Ayah” ucapnya lembut.
Afifah menggelengkan kepalanya. “nggak Buk ”. mengusap air mata dan menarik ingusnya kasar .
Afifah mendekati Ayahnya, memeluk ayahnya dari belakang . “ Yah, Afifah mohon, Afifah gak mau pulang ke kampung Yah”
Resno terdiam lalu melepas kasar pelukan Afifah. “ Keputusan Ayah sudah bulat!, Kesempatan yang Ayah berikan sudah habis” Melanjutkan memasukkan pakaian Afifah ke dalam koper.
Selepas mengemasi semua pakaian Afifah, Resno menggeret kopernya. “Ayo Buk!” ajaknya.
Afifah melangkah mendekati ayahnya, memeluk kaki sang ayah ,menangis sejadi – jadinya. Ia tak bisa berkata – kata hanya air mata yang dapat menjelaskan semuanya. Betapa hatinya hancur , ia akan kehilangan semuanya. Mimpinya akan terkubur selamanya , Ia tak membayangkan jika kejadiannya akan seperti ini . Baru sebentar ilmu yang ia dapat, akankah ia harus berpisah dengan sahabat syurganya. padahal tadi siang ia masih tertawa lepas dan bahagia. Namun kenapa kebahagiaan itu hanya sekejap. Afifah jadi teringat akan hak buku yang telas ia baca.
Tadi siang ia dan Tiara emang banyak sekali tertawa, tertawa berlebihan hingga tanpa sadar lalai dari memuji dan bertasbih mengingat Allah. Tapi ini hanya sebuah ke salahpahaman ,kenapa ayahnya tidak mau mendengarkannya dulu .
Ia jadi teringat kata orang jika banyak tertawa maka nantinya akan merasa menangis, Ia tak tahu benar atau tidak persepsi itu ,Namun yang pasti sekarang ia membenarkan itu.
“ Om tolong dengar penjelasan Afifah dulu, Saya emang tidak tahu dimana duduk permasalahannya ,Tapi saya harap om mau mendengarkan penjelasan Afifah om. Kasihan Afifah Om” Ucap Satria buka mulut, ia menatap Afifah iba, Afifah dengan kondisi yang benar – benar berantakan.Matanya bengkak ,hidung merah .Tiara juga meneteskan air mata,rasanya ia sakit hati ketika Afifah bersedih seperti itu.
“ Diam kamu!,” ucapnya sarkas menatap tajam ke Satria. Satria terdiam seribu bahasa, niatnya ingin menegahi malah seperti ini, posisinya jadi serba salah. Ia berkata salah ia diam juga tak tega melihat Afifah.
Resno melepas pelukan Afifah pada kakinya, hingga Afifah terhempas ke depan, Rasa sakit benturan pada bokongnya tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang, Rasa sakit dimana ayah yang ia sayangi tak mau mendengar sepatah katapun ucapan darinya.
“ ini semua gara – gara kamu !” sambung Resno Marah ,menatap benci ke arah Satria.
“ Yah, Afifah mohon Afifah masih mau sekolah Yah, ini tidak seperti yang ayah lihat .” ucap Afifah putus asa.
“ Yah Satria gak ada salah, ini hanya salah paham”
“ Dan sekarang kamu bela dia” Jawab ayah menunjuk Satria.
“ Afifah gak bela siapa – siapa ayah, tapi emang seperti itu ayah, ini kesalahan”jelas Afifah di sela – sela isak tangisnya.
“ Ooo pandai ya kamu sekarang menjawab ucapan ayah, jadi ternyata benar apa yang ayah fikirkan”
Resno menggeret koper Afifah, menarik Afifah kasar agar mengikuti langkahnya. “Buk ayok kita balek!”ajaknya kepada istrinya.
“ Yah ,Afifah gak mau pulang Ya”parau Afifah.Afifah berontak melepas cengkaraman tangan ayahnya pada lengannya.
Tiara tidak bisa berbuat apa – apa hanya menatap iba kepada Afifah.
Sampai di depan pintu, Ebo mengaum keras matanya menatap sedih dan berkaca – kaca kepada majikannya yaitu Afifah, Ebo mengelus kepalanya kepada kaki Afifah. Afifah melepas kasar cengkraman tangan Ayahnya,ia membawa Ebo pada pelukannya. Ebo yang seakan mengerti kedaannya ikut berkaca – kaca. Afifah mengelus dengan sayang kucingnya itu, mungkin ini akan jadi perpisahan yang terakhir untuknya.
“ Ebo,maafin Afifah,,Afifah harus pergi”ucap Afifah berpamitan dan menangis sejadi – jadinya.
Resno menarik kembali Afifah,dan menggiring keluar , Afifah menatap pasang mata yang menatapnya iba. Ia harus meninggalkan tempat yang baru beberapa minggu menjadi tempatnya tinggal, tempat yang menjadikan ia mempunyai sahabat yang selalu menuntunnya pada kebaikan. Sekali lagi Afifah menatap mata Tiara ada rasa kehilangan yang nanti bakalan ia rasakan, sahabat yang selalu menuntun pada kebaikan .
Tatapan mencibir ke arah Afifah yang di layangkan dari penghuni kossan, Afifah menunduk sedalam – dalamnya.
“ Yah” ucapnya pelan,ia berharap Ayahnya mau mendengarkan sepatah kata ucapannya.
Resno tak menggubris, tetap melangkah keluar gerbang.
Tiba – tiba di hadapan mereka hadir Buk Hajjah Romlah yang sehabis dari pulang sholat di mesjid, menatap heran Afifah dan juga barang – barangnya.
“ Ada apa ini nak Afifah, Apa yang terjadi?”tanyanya. Menampilkan kening yang berkerut.
Tanpa sempat Afifah berucap, Ayahnya telah menariknya .
Bu Hajjah Romlah membawa Afifah pada pelukannya“ Istighfar pak, tenangkan diri bapak. Lebih baik bapak duduk untuk meredahkan amarah” ujar Hajjah Romlah.
“ Ibu-” panggil Ara yang baru keluar .
Sesampainya tadi mereka di kossan Afifah, Lena yang melihat sang suami dengan amarah yang meledak – ledak, dan tak ingin membuat putri kecilnya terbangun dari gendongannya, maka Lena menitipkan pada tetangga kossan. Untung penghuni kossan itu mengerti dan mau menerima untuk di titipkan Ara.
Lena menatap putrinya yang masih dengan muka habis bangun tidur.
“ Buk kita dimana?” tanyanya dengan wajah polos dan memandang sekitar dengan pandangan baru.
Selama perjalanan hingga sampai Ara memang tertidur dalam gendongan Lena, sehingga ketika sampai ia merasa asing dengan tempat yang ia lihat.
“ Sayang sini, Kita lagi di tempat kak Afifah sayang” Ucap Lena lembut dan membawa Ara ke dalam gendongannya. Mencium pipi gembilnya dengan sayang.
“ Kak Afifah mana Buk?” tanyanya mencari – cari keberadaan Afifah.
Pak Resno terdiam,dalam hatinya beristigfhar memohon ampun ia telah melampaui batas dari rasa wajar amarah. Ia menatap Afifah yang berantakan, mata bengkak dan wajah pucat.
“ Begini Buk Hajjah, Oom ini tanpa mendengarkan sepatah penjelasan dari Afifah Buk langsung marah – marah “ adu Tiara.
“ Lebih baik kita masuk ke dalam , kita selesaikan dengan kepala dingin , karena Amarah hanya merusak keadaan saja. “ ujarnya bijak.
Hajjah Romlah menggiring masuk ke dalam kossan Afifah, Ia membawa ke dalam supaya tidak terjadi pergunjingan yang menimbulkan fitnah dari para penghuni kos.
Para penghuni kossaan menatap dengan pandangan tak suka , Mereka suka menonton keributan yang terjadi tadi, karena Hajjah Romlah tontonan gratis tersebut harus terhenti.
“ sudah – sudah sana bubar” ujar Buk Hajjah Romlah kepada .
Para ibu – ibu kos meninggalkan tempat itu dengan pandangan tak suka. Sesekali mencibir.
janganlah menceritakan seseorang tanpa tahu betul bagaimana alurnya ceritanya itu bisa menyebabkan fitnah. dan tentu fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.