Afifah dan Tiara sedang melipat mukenah kembali lalu mengembalikannya dengan rapi ke tempat semula. Sudah pukul empat dan mereka berencana langsung pulang tanpa singgah kemanapun lagi. Ini karena jarak kolam yang cukup jauh dari kos mereka, kalau mereka mengendarai motor atau apapun ya dekat. Tapi masalahnya, mereka kesana hanya dengan jalan kaki. Tentu memakan waktu lebih lama.
"Ra, udah siap?" tanya Afifah dan diangguki Tiara.
Mereka berdua lalu berjalan keluar dari mushola dan dengan langkah pelan namun cepat, berjalan pergi ke arah pintu keluar.
"Assalamu'alaikum, ukhti."
Afifah memberengut kesal ketika seorang pria dari kumpulan pria itu memberi salam dengan gaya menggoda pada mereka. Afifah tidak tahu dan tidak bisa membedakan, pria itu tulus mengucapkan salam atau mengolok-olok mereka.
"Wa'alaikumussalam."
Afifah terkejut ketika Tiara menjawab salam mereka. Perempuan itu menoleh dan mengangguk samar tapi tidak menatap mata para pria itu. Afifah juga merasakan ada dorongan di punggungnya, menyuruh ia melanjutkan langkahnya.
Tiara menoleh dan tersenyum pada Afifah ketika mereka keluar dari pemandian itu. "Dia salam, Fa.Kita harus jawab."
Afifah awalnya masih terlihat terkejut, namun kemudian senyumnya perlahan terbit. "Mm bener kata kamu, Ra."
Tiara mengedikkan kepalanya ke samping dan mulai melangkah. "Udah ayolah kita pulang."
Afifah mengangguk setuju dan mereka berjalan bersama kemudian. Bercerita dan tertawa sampai tak terasa sudah sampai di tujuan.
"Ra, gimana kalau kita lanjut baca buku yang kemaren aja" saran Afifah dan langsung disetujui Tiara.
"Yauda, Fa. Ke kamar kos aku aja ya bacanya."
"Oke, aku bawa Ebo ya."
"Sip."
Disinilah sekarang mereka. Afifah dan Tiara yang sama-sama terduduk dengan tangan memegangi punggung kucing mereka. Ebo dan Udin dari tadi tak hentinya menggeram tanda ingin berkelahi. Maka dari itu Afifah dan Tiara sama-sama memegangi kucing mereka kalau tidak ingin hal itu terjadi.
"Bandel banget ini Udin. Dari tadi dia aja yang geramannya paling kenceng," seru Tiara pura-pura marah ke Udin dan memukul kepalanya dengan amat pelan.
"Haha. Kasian banget, Ra. Lihat tuh dia merajuk jadi ke sudut kan," tawa Afifah sembari menunjuk Udin yang memang berjalan dan duduk di sudut ruangan dengan wajah ingin dikasihani.
"Udah biarin aja. Kan tenang kalau gini."
Tiara memutuskan untuk tidak peduli walau sebenarnya ia juga kasihan. Ia kemudian mengajak Afifah untuk duduk di sampingnya ketika kucing mereka berdua akhirnya damai.
"Oke. Kita lanjut."
Mereka mulai membaca buku itu secara seksama, sesekali merek bergantian membaca dan salah satunya medengarkan.
"Hem ini bener banget, kenikmatan dunia yang kita rasa hanya sebentar ," ujar Tiara yang diangguki Afifah.
"Jadi kita tetep harus balance ya, Ra. Seimbang."
"Bener, Fa."
"Aku rasa hampir semua muslim udah tau hal ini."
"Tapi kadang ada aja yang buat kayak gini ya, Fa.kayak mintak sesuatu kepada yang lain kecuali Allah"
"Bener itu Fah, padahal itukan dosa besar”
"Wah ini kayak aku berteman sama kamu, Ra, disatu sisi aku banyak ilmu yang aku dapat dari kamu," ujar Afifah dengan semangat.
"Haha sama kayak aku berteman sama kamu, Fa. Kita sama kok."
"Dari hadist ini kita paham, cari teman itu yang benar-benar baik sekaligus bisa menuntun kita ke hal-hal yang positif."
"Yep. Bener banget, Fa."
"Kita jangan sedih-sedih, Fa. Allah selalu sama kita."
Afifah mengangguk dengan mata berkaca. "Bener, Ra."
"Dengki itu sifat yang lumayan susah diilangin. Cepet banget nempelnya, susah banget buangnya, Kalau udah nempel bawaannya pasti selalu benci jika lihat dapat hal yang baik" celetuk Afifah.
"Betul! Tapi ya semoga kita dijauhkan. Enggak baik dengki itu, nyusahin diri kita sendiri juga."
bahkan rasa dengki itu selalu ada di jati diri setiap manusia,karena emang itu datang tanpa di sadari, maka dari itu jagalah hati kita dari segala fikiran kotor, agar tidak adanya penyakit hati .
"Nah ini juga nih. Banyak orang terlalu memperbaiki bentuk rupa sama memperbanyak kekayaan tanpa peduli sama iman," ujar Afifah terlihat percaya diri dengan kalimatnya.
"Sebenarnya, kalau dari sudut pandang aku ya, Fa. Aku tuh setuju banget kalau ada yang bilang wajah itu penting. Penampilan kita ini penting. Uang juga penting dan iman pun begitu. Kayak yang kamu bilang. Semuanya seimbang. Tapi memang, Allah enggak melihat yang lain-lain selain hati dan amal kita," ujar Tiara mengemukakan pendapatnya. "Sebisa mungkin kita harus seimbangin semuanya. Bahagia di dunia dan akhirat, siapa yang enggak mau kan."
“ Tapi semua itu jangan sampai berlebihan dan mengubah ciptaan Allah”
Afifah tampak berpikir. "Tapi, Fa. Menurut aku penampilan itu gak terlalu deh. Banyak perempuan di luar sana pada glowing, aku enggak dan biasa aja, malah aku suka dengan diri aku yang gini – gini aja”
Tiara tertawa, pikiran Afifah belum sampai sana. "Mungkin suatu saat nanti kamu bakal paham sepenting apa penampilan itu, Fa. Bener-bener penting banget."
"Iyakah, Ra?"
Tiara mengangguk tegas. "Yep. Aku gak mungkin bohong. Di luar sana ada banyak orang yang di tolak kerja hanya karena penampilan. Tapi kata penampilan, enggak bisa di bilang hanya, karena itu emang berpengaruh besar."
"Gimana, Ra maksudnya?"
"Dari sudut pandang aku. Dunia itu kejam, Fa. Ya diisi sama sebagian manusia-manusia yang enggak paham sama apa namanya perbedaaan," jelasnya. "Misal ada orang yang penampilannya kurang, emang udah keturunan, terus dia lamar kerja di satu stan dan di tes ternyata mampu, trus di terima. Sedangkan di stan lain, pelayannya cantik-cantik banget. Nah terus, ada pembeli nih, cowok-cowok, mereka bingung pilih mana sampai akhirnya mutusin buat pergi ke stan yang cantik-cantik berada."
"Karena penampilan?"
"Iyap. Emang begitu, Fa. Kejam banget kan," ujar Tiara tersenyum kecil. "Mau percaya atau enggak ya emang sepenting itu. Coba kamu pikir, buat apa orang-orang di sana pada operasi plastik kalau bukan buat penampilan."
"Oh gitu. Iya aku paham."
"Tapi ya kita syukuri ajalah apa yang ada sekarang. Di diri kita. Kecuali kalau cacat, baru deh, Fa."
“ emang sih kalok aku lihat – lihat kamu tuh cuek amat sama yang namanya penampilan Fah”
“ memang benar kali itu Ra, aku memang gitu orangnya Ra, males amat dandan – dandan, aku suka yang natural – natural”
“ Tapi sesekali juga harud dandan juga lah Fah, masa iya sampai bersuami gamau dandan, nanti kalau suaminya kepincut wanita lain bagaimana?”
“ Issh Tiara kok jadi doain gitu sih” Afifah memerucutkan bibirnya.
“ Hehehhe iya bercanda kok Fah, jangan di masukin hati ya”
Afifah mengangguk-angguk. "Yauda yuk baca lagi yuk."
Mereka sudah akan membuka lembaran berikutnya dari buku itu kalau saja tidak terdengar suara deru motor yang terasa memekakkan telinga dari arah depan kamar Tiara.
"Siapa itu, Fa?"
Afifah melirik Tiara dan menggeleng pelan. "Enggak tau, Ra. Mending kita lihat dulu," ujarnya sembari bangkit diikuti Tiara.
Mereka berdua berjalan ke arah jendela dan mengintip dari sana. Untuk sesaat, tidak tahu siapa orangnya karena ia memakai helm. Tapi ketika orang itu membukanya. Baik Afifah maupun Tiara sama-sama terkejut.
"Satria?!"
Afifah dan Tiara saling lirik. Mereka sama-sama heran sekaligus penasaran dengan apa yang dilakukan pacarnya Kila itu di sini?
"Itu yang pacarnya Kila, bukan sih, Fa?"
"Iya bener, Ra."
Mereka terus memperhatikan kemana Satria melangkah. Tapi pria itu juga kelihatan kesakitan, terlihat jelas dari wajahnya yang meringis pelan. Kakinya juga tidak berjalan normal, ada yang aneh dengannya.
"Kayaknya dia mau ke kamar kos kamu deh, Fa," gumam Tiara. "Tapi mau ngapain?"
Afifah juga tidak tahu makanya ia terus melihat ke arah Satria. Jam hampir menunjukkan pukul maghrib, semua kos yang lain sudah tutup pintu, jadi tidak ada yang menyadari kehadiran Satria.
"Fa, dia ngetok pintu kamu."
Ya, Afifah juga melihatnya. Dia juga sesekali memanggil Afifah.
"Kok dia ke sini? Mau ngapain? Kenal deket aja enggak. Aku jadi ngeri, Ra," ujar Afifah dengan bibir melengkung ke bawah.
"Gak papa, Fa. Ayo aku temenin samperin dia."
Afifah sebenarnya tidak mau. Tapi karena Tiara memaksanya, akhirnya ia menurut dan mereka keluar dari kamar kos Tiara. Satria pun menyadarinya dan kaget melihat Afifah malah muncul di kos sebelahnya. Ia melirik pintu kos yang ia tadi ketuk, apa ia salah kos? Pikirnya.
"Ada apa, ya?" tanya Tiara langsung. "Aku lihat kamu tadi ketuk-ketuk pintu kos Afifah. Mau apa? Cari apa maksudnya?"
Satria mengangguk paham. Yang tadi memang kos Afifah ternyata, ia lega ia tak salah orang.
"Em ...." Satria tampak canggung. "Aku tau salah ke sini, tapi aku enggak tau mau kemana lagi. Tapi kalian bisa gak pinjempin plester atau kain kecil gitu?"
Afifah dan Tiara sama-sama heran. Satria pacarnya Kila, bukan? Pria itu biasanya terlihat ganas dan garang, tidak bisa disentu sama sekali. Tapi sekarang, sifatnya seperti berubah total, menjadi seseorang yang pemalu dan canggung. Apa karena berhadapan dengan mereka, ya?
"Buat apa?" Tiara bertanya lagi.
"Kakiku tadi luka," ujar Satria menunjukkan kakinya yang memang terluka.
"Terus kenapa ke sini?" Tiara tampak terus terang dengan penolakannya.
Mungkin mereka tidak tahu. Tapi Satria tidak suka apapun di tubuhnya terluka lebih lama. Sangat kebetulan, daerah itu dekat dengan kosnya Afifah. Karena hendak maghrib, banyak kios yang tutup hingga Satria memutuskan ke kos Afifah.
"Terus kenapa bisa tahu kos Afifah di sini? Kamu penguntit, ya?"
Afifah terkejut Tiara bisa menuduh seperti itu. Apa Tiara masih teringat dengan kejadian dengan Kila beberapa hari yang lalu? Apa ia masih memendam rasa amarahnya?
"Ra, istighfar. Gak boleh nuduh gitu," ujar Afifah mengingatkan.
Mata Tiara membulat, ia menghela nafas panjang dan beristighfar di dalam hati. Iya, amarahnya masih tersisa di hatinya. Masih ada sakit di sana hingga ia ingin menumpahkan sisanya ke orang-orang yang dekat dengan Kila.
"Em Satria. Mending lukanya kamu cuci dulu."
"Udah. Pakai air minum."
Afifah menggaruk keningnya. Satria sudah kesini tidak mungkin mereka tidak bantu. Siapapun mereka jika kita bisa menolong, apa susahnya mengulurkan tangan, bukan?
"Yauda bentar."
Afifah meninggalkan Tiara dan Satria di sana sedangkan ia masuk ke dalam kosnya. Ia mengambil betadine dan plester yang memang ia sediakan untuk berjaga-jaga. Sedangkan di luar, satu ibu-ibu menyadari kehadiran Satria dan langsung menanyakannya ini itu.
"Tenang, Bu. Dia cuma mau minta plester karena kakinya terluka," ujar Tiara dan membuat ibu itu terdiam.
"Oh yauda. Aku pikir kenapa. Maghrib-maghrib laki-laki gak boleh ke kos perempuan," ujar si ibu yang tidak di sahut apa-apa oleh Satria.
Satrian hanya merasa tak ada salahnya ia meminta bantuan. Kenapa orang-orang terlalu risau dengan hal-hal yang bahkan tidak mungkin terjadi.
Afifah kemudian keluar dan memberi semua benda di tangannya ke tangan Valerio. "Bawa pulang aja. Kamu obati di rumah."
Satria melongo sesaat. Tiara pun begitu.
"Kalau bisa ke rumah, aku gak akan ke sini," ujar Satria yang membuat Afifah malu. "Tapi, makasih, ya," sambungnya tulus.
Afifah cepat-cepat mengangguk dan kembali berdiri di samping Tiara. Satria sendiri duduk di sana dengan tangan membuka celana bagian bawahnya, ia menggulungnya lalu mulai mengolesi luka di kakinya dengan betadine.
"Ngomong-ngomong kamu kan laki. Apa enggak tahan sama luka ya sampai harus ke sini segala?" Tiara masih menyuarakan ketidak sukaannya.
"Aku enggak suka luka dibiarin lama-lama. Sori ya kalau ganggu," gumam Satria sembari menempelkan plester ke lukanya. "Bukannya enggak tahan, tapi lebih ke risih."
Afifah mengusap bahu Tiara, menenangkannya. Tiara terlalu emosian jika tentang teman atau pacar Kila.
"Afifah?"
Afifah menoleh ketika ia merasa namanya di panggil oleh seseorang. Namun, begitu ia menoleh, ia terkejut mengetahui siapa orang itu. Tiara dan Satria hanya melirik antara Afifah dan orang itu.
"Ayah?"