Afifah dan Tiara sedang membaca sebuah buku di mana ada banyak hal berkaitan dengan kehidupan. Mereka membacanya dengan seksama dan kadang saling bertanya ketika sudah selesai membaca satu hadist.
Afifah melirik Tiara. "Berarti segala yang berat yang kita alami, Allah gugurin dosa-dosa kita, ya?" menunjuk pada buku yang mereka baca
Tiara tersenyum kecil, ia mengangguk. "Bismillah. Setau aku iya, Fa. Makanya setiap kita alamin hal susah, kita ikhlas dan tawakal. Selalu berdoa sama Allah."
"Kalau dipikir-pikir, hal berat juga buat kita makin kuat ya, Ra. Dosa-dosa kita juga gugur," gumam Afifah. "Allah baik banget."
Tiara mengangguk setuju. "Allah maha baik, Fa. Emang bener banget."
“ Terus ya Fah, pernah gak kamu merasa tanpa sebab rasanya ingin menangis”
“ pernah banget kali kali Ra, tapu itu kenapa ya, sampai sekarang aku masih bertanya – tanya”
“ Aku pernah baca kalu kita nangis tanpa sebab itu bisa jadi Allah ingin menghapuskan dosa kita atau Allah rindu dengar curhatan kita, Apalagi jika kita sudah sibuk dengan dunia pasti lupa “
“ Apalagi kita suka lalai, dan datang bersungkur jika hanya terkena musibah, jadi malu banget aku sama Allah”
“ sama Fah, aku juga”
Afifah merasa jika ia di timpa sedikit cobaan ia selalu mengeluh,padahal dibalik itu semua ada hikmah yang Allah berikan kepadanya,Allah ingin menghapuskan dosa - dosa yang kita perbuat.
Keduanya menunduk membaca hadist selanjutnya. Jam kosong kali ini mereka manfaatkan menimba ilmu dari buku yang Tiara bawa,
"Seruan jahiliyah itu cakap kotor ya, kan, Fa," ujar Tiara dan mendapat anggukan dari Afifah.
"Mestinya kan istighfar. Atau sholat minta petunjuk dari Allah," timpal Afifah.
"Tapi kadang masih ada orang yang begini." Tiara dan Afifah saling tatap dengan senyum sedih. Mereka tak bisa berkomentar banyak karena takut salah bicara.
"Aku pernah ada di posisi ini, Ra," ucap Afifah mengingat masa-masa ia di kampung. "Emang ya rasanya kayak pengen teriak kenceng-kenceng, bilang Allah enggak adil, atau apalah. Tapi, kemudian sadar, untuk apa begitu? Aku pribadi rasanya malah makin sesek."
Tiara mengerjap. "Nangis biasanya buat beban berkurang, Fa. Atau di bawa tidur. Lebih baik emang deketkan diri ke Allah. Lagian Allah enggak akan kasih ujian di mana hambanya enggak mampu ngelaluinya."
"Berarti semua cobaan yang diberi Allah, kita bisa laluin sebenernya. Cuma kadang seseorang penuh rasa takut sama cemas, jadinya merasa enggak bisa, padahal bisa."
"Iya bener. Di coba aja dulu. Ucap bismillah semuanya pasti lebih mudah."
Afifah dan Tiara sama-sama tertawa, lalu kembali menunduk membaca hadist berikutnya. Ini akan menjadi momen seru di sela-sela waktu. Di mana siswa lain sedang bercanda ria entah membicarakan apa, mereka menggunakan waktu sebaik mungkin dengan menimba ilmu.
"Ini sering banget aku lakuin," ujar Afifah langsung. Ia terperangah.
"Sama, Fa. Aku juga sering dulu begini," timpal Tiara. "Kalau dihadapkan dua pilihan dan kita yakin yang satunya dan ninggalin yang satunya ...."
".... Terus ngerasa salah, kita bakalan bayangin gimana jadinya kalau kita ambil si satunya lagi," lanjut Afifah menebak kalimat Tiara.
"Bener, Fa. Aku nyesel pernah gini. Harusnya sadar kalau semua udah diatur sama Allah. Takdir Allah pasti lebih baik dari apa-apa yang udah kita rencanakan," ujar Tiara lembut.
Mata Afifah berkaca-kaca. Ia harus menanamkan pada dirinya sendiri mulai sekarang jika semua yang terjadi dalam hidupnya adalah takdir Allah dan itulah yang terbaik baginya.
"Bahkan Allah punya rencana gimana ngebentuk diri kita ya, Ra."
"Bener, aku setuju. Istilahnya kayak keluar dari zona nyaman. Kita sebenernya enggak pengen keluar-keluar, tapi takdi Allah mengharuskan kita melakukannya. Pada akhirnya, diri kita akan semakin kuat dan terbentuk sempurna," tambah Tiara.
Afifah menyutujui itu. "Batin maupun mental, sama-sama kuat ya."
"Bismillah ya, Fa. Kita bisa kuat juga."
Afifah menunjukkan kedua ibu jarinya pertanda ia amat sangat setuju atas kalimat Tiara.
"Ini sama banget kayak perjuangan kita, Fa. Disatu sisi kita pernah berada di posisi semua masalah datang bertubi – tubi , Tapi selepas semua itu Alah berikan kelapangan dan kemudahan"
Afifah merasa terenyuh membacanya. "Iya, Ra. Ya Allah, kalau gitu kita harus perbanyak sabar ya karena suatu saat akan ada kemenangan untuk kita. Allah baik banget, Ra. Aku jadi mau nangis," ujar Afifah menatap Tiara dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Tiara tersenyum menatap Afifah, ia menepuk pipi temannya dua kali. "Udah tahan. Ntar kalau kamu nangis, aku juga ikutan nangis. Satu kelas bisa anggap yang aneh-aneh ke kita."
Bibir Afifah melengkung ke bawah, bener juga. Apalagi orang-orang suka berkomentar lebih dulu sebelum tau sebab akibat pastinya.
"Eh udah hampir jam setengah satu. Kayaknya kita lanjut di kos aja ya, Fa, baca bukunya," ujar Tiara mendongak menatap jam dinding.
"Yauda, Ra. Simpen aja. Kita bentar lagi pulang."
Benar saja, tak lama setelahnya, bel berbunyi dan semua siswa bersiap-siap untuk pulang. Afifah dan Tiara berjalan paling akhir. Mereka juga yang menutup pintu kelas.
"Besok Minggu, Ra. Mau ngapain ya serunya?" tanya Afifah berjalan bersisian dengan Tiara di koridor kelas.
"Ngapain maunya, Fa? Aku sih terserah aja."
"Ngelakuin sesuatu yang buat kita bahagia. Refreshing diri. Tapi pakai modal dikit hehe."
Ya, karena uang Afifah tidak cukup untuk membiayai kebutuhan yang terlalu mahal. Ia hanya ingin bermodalkan sedikit uang, ia bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan uang, yakni kebahagiaan.
"Bisa, Fa. Katanya di sekitaran sini ada kolam renang baru."
Afifah melempa pandangan sensitif. "Bukannya enggak boleh ya, Ra? Kan pemandiannya umum, kan?"
"Hem kalau kolam renang umum emang enggak boleh, Fa. Apalagi disitu Bercampur baur antara laki – laki dan perempuan. “
"Nah, kan. Gimana dong? Kalau gitu enggak usah ke kolam deh, Ra. Makan bakso aja gimana, makan bakso udah buat aku seneng banget. Gimana kalau kamu?"
"Aku lebih suka mi goreng sih, Fa," ujar Tiara tertawa. "Tapi kamu tenang aja. Kolam yang aku maksud ini beda dari lainnya. Nanti ada sekat-sekat antar kolam, Fa. Ya walau gak terlalu luas. Lumayan buat rendam kaki."
"Mahal enggak, Ra? Pastinya mahal ya, karena kan kayak privat gitu jadinya," ujar Afifah dengan wajah lesu.
"Karena baru. Terus ada promo. Murah kok, Fa. Bahkan mereka kasih makanan gratis nantinya, ya walau cuma sepiring buat satu orang."
Mata Afifah melebar sempurna. "Beneran? Aa mau dong, Ra. Alhamdulillah banget, two in one kalau gitu ya."
Tiara tertawa, ia sudah menduga reaksi Afifah akan seperti ini nantinya. "Pasti. Mending kita cepet-cepet pulang sekarang supaya bisa kesana segera."
Afifah mengangguk kencang. "Oke! Eh cuma hari ini ya promonya. Ra?"
"Kalau enggak salah sampai besok. Tapi biasanya hari Minggu banyak pengunjung, Fa. Enggak seru dong jadinya," ujar Tiara.
"Bener sih." Afifah berjalan lebih cepat, meninggalkan Tiara yang kaget karena ditinggal. "Kalau gitu, ayo cepet kesana, Ra!"
"Tunggu aku, Fifah!"
***
Seperti yang Afifah harapkan, semuanya berjalan dengan sempurna. Modal sedikit, keuntungan sebesar-besarnya. Afifah dan Tiara saling menciprat air dan tertawa bersama. Di saat seperti ini, Afifah berpikir, bagaimana jika ia dan Tiara berpisah suatu saat nanti? Mungkinkah harusnya ia tak berteman baik dengan Tiara saja?
Tapi ia rasa hanya Tiara yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Tidak ada yang lain. Tepatnya ia belum menemukan yang lainnya.
"Ra, gimana jadinya kalau kita pisah nanti ya?" tanya Afifah menyuarakan kegaulauannya.
"Ya gak gimana-gimana, Fa. Hidup kan emang begitu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kita gak bisa nyangkal hal itu. Meskipun di usahain sama terus, pasti bakalan pisah sama yang namanya maut."
"Kalau misalnya meninggalnya bareng?"
Tiara tertawa. "Kalau gitu kebetulan banget. Tapi ya tetep aja, mereka enggak nyatu, kan?"
Afifah mengangguk, pikirannya terlalu berkelana kemana-mana. "Sedih banget ya, Ra. Kenapa coba ada perpisahan," gumamnya di akhir.
"Ya emang gitu, Fa. Terus berotasi dan kita harus flexible."
Afifah tersenyum kecil. "Padahal enggak semua orang bisa flexible. Ada banyak orang di luar sana dan bahkan aku sendiri yang kurang bisa beradaptasi dengan orang baru. Apalagi orangnya enggak sesuai sama kita. Tapi emang harus sama dia. Yaa nasib banget kalau begitu."
"Itulah ujian, Fa. Tapi dari sana, Allah pengen kita jadi orang yang kuat kok."
Afifah tersenyum sedih. "Aku jadi kangen ayah sama bunda di kampung. Dari kemaren itu mau telepon, pulsanya abis."
"Kamu mau pakai hp aku?"
Afifah menggeleng dan tangannya melambai di udara. "Enggak usah, Ra. Makasih. Nanti aku beli pulsa aja lima ribu baru buat pake nelpon."
Tiara mengangguk dan terkekeh pelan. Afifah amat sangat hemat orangnya, ya. Tiara bisa belajar darinya tentang sifat ini.
Tiba-tiba ada suara tawa yang terdengar, sepertinya dekat dengan mereka. Suara tawa berat yang banyak. Afifah dan Tiara menoleh bersama untuk melihat siapa yang tertawa itu.
"ASTAGHFIRULLAH!"
Afifah dan Tiara istighfar bersamaan ketika mereka melihat beberapa cowok sedang berjalan dengan memakai boxer saja. Mereka sama-sama menolehkan kepalanya dan melirik satu sama lain.
"Ya Allah aku gak sengaja, Ra," ringis Afifah pelan.
Tiara menurunkan tangannya dari wajahnya ketika dirasa para cowok itu sudah menjauh pergi. "Sama, Fa. Ya Allah mereka gak malu apa ya."
"Tapi kan mereka pake boxer dari perut sampai mata kaki, itu kan emang batas auratnya laki-laki, Ra," ujar Afifah dengan tampang berpikir.
"Iya sih, Fa. Tapi kan gimana gitu jadinya ngeliat yang tadi, mana mereka abis berenang kan," sungut Tiara kesal.
"Iya juga ya."
Untungnya mereka memilih kolam yang di sekat, jadi hanya mereka berdua saja yang ada di sana. Sangat menguntungkan karena mereka tidak akan melihat aurat-aurat orang lain yang tentunya menimbulkan dosa.
"Fa, jam setengah empat kurang kita udahan, ya. Mandi terus sholat di mushola. Terus kita balik ke kos. Oke?" ujar Tiara menatap ke arah Afifah yang berada di ujung kolam.
"Oke."
"Oh ya, Fa. Kamu bisa berenang?" tanya Tiara kemudian. "Aku pengen banget bisa berenang. Dulu waktu kecil pernah diajarin abi, tapi enggak pernah bisa," sambungnya kecewa.
"Bisa, Ra. Lihat ya. Gampang kok."
Afifah berdiri membelakangi Tiara, membuat Tiara bingung melihatnya. Ia mau berenang gaya kupu-kupu?
Tapi pertanyaannya terjawab ketika Afifah berpegangan pada pinggiran kolam, kedua kakinya lalu naik mengambang dan ia ayun di dalam air. Tiara spontan tertawa, ia geli melihat Afifah yang hanya menggerak-gerakkan kakinya.
"Fa. Haha, itu mah bukan berenang namanya," ujar Tiara di sela tawanya.
Afifah ikut tertawa dan ia kemudian berdiri tegak kembali. "Hehe iya, Ra. Aku juga enggak bisa berenang kok. Susah banget."
"Aku jadi kepikiran kalau kita ada di kapal besar, di samudera yang luas. Tiba-tiba kapalnya bermasalah dan akhirnya tenggelam. Kita gimana ya?" tanya Tiara yang sebenarnya ia sendiri tahu jawabannya.
"Ya ... ketemu ajal lah, Ra."
Tiara tertawa kembali. Ia tak tahan dengan wajah polos Afifah.
"Loh kok ketawa? Ajal sama sekali bukan hal lucu, Ra."
Tiara berusaha mengendalikan tawanya sebelum akhirnya mengangguk membenarkan ucapan Afifah. "Iya, Fa. Aku setuju. Ajal bukan hal lucu. Aku tadi ketawa karena muka kamu tuh, lucu banget ekspresinya. Aku kan jadi gak tahan buat ketawa."
Afifah memberengut sebal. Tapi ia melupakannya, tidak mempermasalahkan sama sekali. Ia kemudian mendongak menatap jam yang ada di sana.
"Bentar lagi jam setengah empat nih, Ra. Kita keluar sekarang?" Afifah menatap Tiara yang sudah keluar dari kolam lebih dulu.
Afifah cukup takjub dengan Tiara yang memakai kaus kaki walaupun mereka sedang berada di kolam renang. Ia sendiri saja tak pakai. Tiara juga memakai rok, tidak sepertinya yang memakai celana piyama. Tiara itu benar-benar teman yang mungkin akan menjadi sahabat jannahnya.
"Ayo, Fa. Jangan ngelamun."
Afifah tersenyum, ia mengangguk. Ia harus bersyukur pada Allah karena memberi teman seperti Tiara. Tapi ia juga harus siap, karena tidak selamanya suatu hubungan berlangsung. Seperti yang dibilang banyak orang, setelah pertemuan, maka ada perpisahan.