Setelah Pak kepala sekolah memberikan arahan, para siswa meninggalkan kerumunan , Ada yang memilih berswa foto ria, Karena Tempat Tujuan sedikit masuk ke dalam sekitar 1 kilometer dan Bus yang cukup besar tidak bisa masuk ke dalam karena jalan yang begitu sempit dan juga jalannya sedikit rusak. Setelah mengeluarkan barang – barang dalam bagasi bus, Afifah dan Tiara mengikuti arahan dari walinya untuk ke Tenda, sedikit jalan yang menanjak membuat betis terasa bengkak.
Panas Matahari begitu terik tepat di atas kepala, Afifah melirik jam tangannya , pukul 12 tepat. Bathinnya. Namun udara tidak begitu panas di sebabkan banyak pepohonan rindang di sepanjang bahu jalan.
“ Anak – Anak kebetulan sekolah kita hanya beberapa tenda, jadi mungkin akan di bagi nanti dalam satu tenda ntah beberapa orang. jadi tidurnya nanti setelah di bagi ,tidurnya di masing - masing tenda jadi gabung dan berbagi ya” ujar wali kelas.
“ Yah Bu ,kok harus gabung sih” ujarnya tidak suka.
“ iya Bu kenapa harus di gabung sih Bu, sempit dong pasti Bu” ujar Kila yang berada di belakang ,kebetulan ia mendengar perkataan tadi.
“ Kalau tidak mau sempit tidur di Bus saja sana” sarkas Bu Guru Killer, Guru Matematika Ips.
Kila langsung terdiam seribu bahasa, selanjutnya ia tak berani menjawab ucapan guru Killer tersebut, Bisa abis dia kalau sampai menjawab bisa di kasih nilai E, walaupun ia guru ips namun juga mengajar di kelasnya.
Setelah 15 menit perjalanan menuju Tenda ,Akhirnya mereka telah sampai .Mereka tidak langsung masuk,Tapi di arahkan untuk masuk secara tertib berdasarkan urutan kelas dari Ipa dulu kemudian baru kelas Ips.
Kelas Afifah tidur di bagian pojok tenda, Mereka meletakkan barang – barang yang di bawa. Jatah nasi telah di berikan ,Mereka makan bersama di dalam ruangan tersebut, Jika di luar tidak akan cukup .
“ Alhamdulillah kenyang” ujar Afifah, melipat kertas nasi beserta sendok plastik lalu ia masukkan ke dalam plastik kresek putih.
“ Ini buang dimana ya Ra sampahnya” tanya Afifah
Namun pertanyaan Afifah terjawab . “ Anak – anak s****h bekas makannya letak di luar ya, di luar sudah ada goni yang telah di sediakan “ memperingati.
“ Baik Bu!”
Siang ini tidak ada arahan apapun, Hanya di suruh beristirahat, Namun Afifah dan Tiara lebih memilih keluar untuk melihat sekitar Tenda,
“ Masyaallah keren ya Fah ,kelihatan sawah – sawahnya dari sini” ujar Tiara menunjuk sawah yang berterasering, berjejer di sepanjang lereng perbukitan . Indah bagitu melihatnya merasakan kesejukan mata sejauh memandang.
“ iya Ra MasyaAllah banget ya ciptaan Allah itu”jawab Afifah .
Dari kejauhan Afifah melihat Mila yang mengarah kearah mereka. “ Eh Ra tuh Mila “tunjuknya.
“ Eh iya Fah” Ujar Tiara,memperhatikan Arah telunjuk Afifah.
Setelah bersisian di samping mereka , Afifah menegur Mila namun Mila hanya berlalu tanpa sedikitpun membalas ucapannya . “ Mila masih marah kayaknya Ra” ujar Afifah lesuh .
“ Yaudah Fah nanti kita minta maaf aja” Tiara mengelus bahu Afifah.
Panas yang begitu terik berganti dengan Mendung, disertai rintik – rintik hujan. Ketika perjalanan tadi awan dari arah Barat begitu mendung, Angin berhembus membawa awan tebal berisi molekul hujan,
“ Ra aku suka banget yang namanya hujan, gak tau kenapa rasanya damai aja gitu loh Ra” ujar Afifah memejamkan mata menikmati rintikan hujan yang menetesi wajahnya. Menghirup udara yang mengandung hawa hujan,begitu segar rasanya masuk di paru – parunya.
“ Iya Ra, walaupun aku gak terlalu suka dengan hujan” jawab Tiara yang menoleh ke Afifah.
Afifah masih memejamkan matanya menikmati tetesan air hujan, Baginya suara rintikan hujan bagai simphony alami yang mengalun merdu di telinganya , Ada rasa kedamaian yang begitu terasa di relung jiwanya, mengalir begitu lembut . Suara yang begitu Candu sebagai obat penyembuh kerisauhan.
Afifah membuka matanya, memutar badannya menghadap Tiara. “ tapi kenapa Ra kamu gak suka hujan?” tanya Afifah.
“ Gak suka aja Fah, abisnya kalok hujan pasti ada petir, nah aku takut sama petir” ujarnya bergidik menatap langit.
“ Tau gak Fah kalok Petir itu sebagai cambuk dari malaikat loh. Kedahsyatan petir di maknai umat Islam sebagai bentuk tasbih dari para malaikat penjaga langit. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "Dan guruh bertasbih memuji-Nya (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya." Jadi gitu, Fa."
"Aku baru tau malah, Ra."
"Dalam haditsnya, Rasulullah SAW menyebut petir sebagai suara para malaikat, Fa. Ar-Ra'du atau petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah. Al-Khoro'ithi dalam Makarim Al Akhlaq mengutip pendapat Ali bin Abi Thalib RA soal ar-Ra'du. Menurut Ali, ar-Ra'du adalah malaikat, sedangkan al-Barq adalah pengoyak di tangannya sejenis besi.
"Terus, Ibnu Taimiyah mengatakan, ar-ra'du adalah mashdar berasal dari kata ra'ada, yar'adu, ra'dan yang berarti gemuruh. Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan dengan cara menggetarkan awan kemudian dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya."
Afifah mengangguk-angguk. "Oke aku paham, Ra. Jadi ar-radu' itu suara malaikat, ya."
Tiara mengangguk membenarkan. "Dalam tafsir Jalalain juga disebutkan bahwa ar-ra'du adalah suara malaikat, sedangkan al-barq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung. Umat kita meyakini ar-Ra'du dengan malaikat yang ditugasi mengatur awan atau suara dari malaikat tersebut yang tengah bertasbih dan mengatur awan. Sedangkan, al-barq atau ash-showa'iq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung. Gitu, Fa."
"Ibnu Abbas menambahkan, Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriak untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya," tambah Tiara kemudian.
"Em gitu. Aku nggak tau sebelumnya tentang ini, Ra." Afifah menoleh ke arahnya dan tertawa kecil, agak malu sebenarnya.
"Makanya itu aku ngasih tau ke kamu, ilmu itu kan bagusnya dibagi-bagi gini, Fa."
"Aku setuju banget sih kalau itu." Afifah menjentikkan jarinya, tapi gagal dan tak bersuara membuat keduanya tertawa bersama.
****
Karena Rintik hujan berganti dengan guyuran hujan yang semakin deras, Afifah dan Tiara berlari ke emperan Joglo yang memang terdapat di tempat tersebut. Baju mereka telah basah sebagian , Namun hanya sebagian.
Ketua osis menghampiri Afifah dan Tiara . “ Assalamualaikum dek ?” sapanya ramah.
Afifah dan Tiara menoleh ke asal suara yang menyapanya. “ Wa’ alaikumussalam kk” jawab mereka bersamaan , Mata mereka tidak langsung menatap objek yang berbicara.
“ Kenapa di luar dek?, kenapa gak istirahat?, ntar sore sama malam kita banyak kegiatan padat loh” ujarnya menatap satu persatu sosok muslimah yang membuatnya kagum.
“ Enggak kak, Kami gak ngantuk kak” jawab Tiara mewakili.
“ Hmm, Yaudah ya Kakah pamit ada urusan lain yang mau kakak urus” pamitnya meninggalkan mereka berdua.
“ Iya kak”
Setelah kepergian Ketua osis tersebut Afifah merasa lega , Dia merasa risih dan tidak nyaman jika berada di sekitar kaum lelaki. Dia merasa gelisah .
“ Eh Ra , aku gatau kenapa ya kok kakak itu natap kita segitunya kali ya Ra” ujar Afifah mengutarakan isi hatinya .
“ Ah kamu Fah , Gak boleh su’udzon , mungkin perasaan kamu aja kali” jawab Tiara menghalau fikiran buruk Afifah.
“ Eh tapi ini enggak loh Ra, aku ngerasa kayak beda aja tatapannya kayak tatapan kagum plus suka gitu loh Ra” ujar Afifah masih kekeh.
“ Hahaha kamu mah Fah, ada - ada aja ih, daripada fikiranmu kemana – mana mending kita masuk aja yuk”
“ lagian mana mungkin Ketua osis macem kakak itu suka ama kita – kita, secara kita kan kayak gini “ ujar Tiara merasa insecure .
sejujurnya ia juga manusiawi punya perasaan sama seperti wanita lainnya. Merasa ingin cantik juga fashionable , Namun ia sadar jika sebuah kecantikan tidak harus mulu tentang wajah dan penampilan, Tapi Hati yang bersih, suci dan akhlak yang bagus itu merupakan kecantikan yang luar biasa yang tidak dengan mudah di dapat, perlu latihan dan kedekatan kepada Allah. Lagipula jika memang benar ada yang menyukai ia harap karena Akhlaknya bukan pada kecantikan semata. Allah juga tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta umatnya, tapi ia melihat hati dan amal umatnya. Begitulah yang diketahui Afifah.
“ Yaudah deh yuk”
*******
Kegiatan pada sore hari kami di arahkan untuk mengutip s****h di persekitaran kampung , ya tepatnya di sepanjang aliran sungai, ternyata kurang kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang s****h sembarangan , begitu banyak s****h di pinggir sungai.
“Banyak bener sih sampahnya,” keluh Angel, melemparkan asal botol plastik ke sembarang arah.
“Gatau apa bikin banjir yang kek gini," sahut wanita di sebelah Angel.
“Ish jorok banget sih ini Pampers aja di buang di sini, bisa alergi ntar kulitku,” suara Kila dari arah timur.
“Perhatian anak – anak setelah kegiatan membersihkan s****h , abis ini kita mandi disini, di karenakan kamar mandi yang tidak memungkin untuk banyak orang,” himbau pak Guru.
“Yeay baik pak” sorak girang seluruh siswa, tapi tidak termasuk Afifah dan Tiara, karena kenapa menurutnya mandi di tempat terbuka plus bercampur baur dengan pria, begitu membuatnya gelisah, walaupun bagian lelaki di hulu sedang wanita di hilir, Namun tetap aja rasanya tidak nyaman. Apalagi setelah mandi mungkin pakaian akan membentuk tubuh ,sungguh bukan suatu yang baik.
Afifah dan Tiara saling lirik. Apakah mereka bisa bertahan? Sebenarnya tidak begitu bisa, tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksa mereka, mau tidak mau menjalaninya juga. Tapi meskipun begitu, mereka akan sebisanya untuk tidak terlalu menonjolkan diri. Setelah membersihkan diri, langsung memakai pakaian dan semuanya dilakukan secepat mungin. Mungkin tidak sampai dua menit dan mereka berdua teah selesai. Bahkan yang lain terpelongo karena mereka terlalu cepat, mereka saja bahkan baru selesai mandi, tapi Afifah dan Tiara sudah selesai berpakaian saja.
Kila mendecih pelan, melirik Afifah dan Tiara sinis. "Sumpah ya, apaan siih yang musti dimaluin? Mereka begini juga pasti karena takut tubuhnya diliatin sama kita-kita , padahal ya siapa coba yang mau liat, sok banget sih," ujarnya berdecak kesal. "Kalau tadi bener-bener gabung sama cowo-cowo, baru deh, ini kan enggak lebay banget deh kalian. Eneg gue."
Afifah diam saja tidak menjawab. Tiara pun begitu, meladeni Kila ujung-ujungnya hanya akan membuat mereka bertengkar, jadi lebih baik diam dan pura-pura tidak mendengarkan.
"Fa, duluan aja yuk," ajak Tiara kemmudian. Ia langsung membawa Afifah pergi dari sana, bahkan sebelum Afifah sempat bereaksi atas ajakannya.
Awalnya Afifah dan Tiara mau menunggu yang lainnya juga, tapi mereka malah mencemooh, padahal kan Afifah dan Tiara berhak melakukan apa saja yang mereka mau, toh tidak merugikan orang lain, tapi entah kenapa orang suak sekali mengkritik padahal tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, tidak merugikan mereka.
Hari mulai menggelap, suasana malam begitu indah dengan bulan purnama, di bawah pancaran cahaya bulan menerangi kegiatan malam ini, yaitu api unggun, sehabis isya tadi para pria mengumpulkan kayu yang telah mereka cari dari wilayah pepohonan pinus, api di nyalakan di depan Tenda, sebelumnya pihak sekolah telah meminta izin kepada penjaga wilayah tersebut untuk melakukan acara api unggun, dan penjaga tersebut membolehkan , namun dengan syarat harus bersih setelahnya. Bernyanyi serta di iringi petikan gitar menambah keramaian malam, hingga malam semakin larut hingga satu persatu meninggalkan tempat tersebut.
Afifah dan Tiara berjalan beriringan menuju tenda. Mereka bercanda ria dan mengobrol seputar apa saja yangs udah mereka lalui hari ini.
"Nyenengin, Fa. Tapi ya gitu,ada aja masalahnya."
Afifah terkekeh pelan, namun ia tetap mengangguk membenarkan pernyataan Tiara. "Emang, Ra. Tapi nggak papa, anggap aja ini pengalaman pertama kali buat kita."
"Pastinya, Fa." Tiara mengangkat ibu jari tangan kanannya
***