Hari Kedua

1674 Kata
Pagi-pagi sekali. Tiara dan Afifah sholat subuh bersama yang lainnya. Seorang guru menjadi imam mereka. Tidak semuanya sholat, hanya beberapa dan sedikit sekali. Mereka sholat di ruangan terbuka karena tidak ada mushola di sana. Sebenarnya, ini sangat di sayangkan. Banyak yang tidur padahal suara adzan dari beberapa ponsel sudah menggema. Pertanda sudah di mulainya waktu subuh. Tapi mereka malah mementingkan tidur ketimbang bertemu dengan Allah. Sholat merupakan tiang agama, jika kita meninggalkan sholat maka kita telah merobohkan tiangnnya. Nabi Muhammad bersabda jika yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya. Jadi, sholat itu sangat penting. Nabi juga mengingatkan tentang sholat dengan berkata siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan, siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf. Tiara bergidik memikirkannya, tidak, tentu tidak, ia tidak mau harus dikumpulkan dengan kaum seperti itu. Tapi Tiara sadar kalau ia tidak mau seperti itu, maka ia harus mengerjakan perintah Allah agar ia bisa dikumpulkan dengan orang-orang baik lainnya. Tiara menggelengkan kepalanya kemudian. Ia hendak sholat dan ia harus khusyu' tidak boleh memikirkan hal lain lagi. Setelahnya, sebagian besar dari mereka tidak tidur kembali. Mereka menyiapkan masakan dan berbincang-bincang bersama. Afifah dan Tiara termasuk ke dalamnya. Dan alhamdulillahnya, Mila bersama mereka. Walaupun hubungan mereka tidak baik, tapi perempuan itu masih ada di sana, sholat bersama dan memasak bersama juga. "Yang lain kok tidur lagi sih," omel salah satu kakak pembina, tapi tidak membangunkan mereka, hanya mengomel saja. Afifah dan Tiara saling lirik, mereka mengangkat bahu tidak tahu. Mereka juga tidak bisa melakukan sesuatu sesuka mereka. "Udah tunggu sepuluh menit lagi, kalau masih banyak yang tidur bangunin aja." "Oke, Kak." Sahut mereka semua kemudian. "Padahal Rasulullah pernah bersabda bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan. Ya kan, Ra? Kamu pernah denger itu nggak?" tanya Afifah dengan tangan mengupas bawang. Tiara mengangguk. "Pernah, Fa. Aku juga pernah baca yang ini, siapa saja yang memasuki pagi hari, dia tidak berniat mendzolimi seseorang, maka diampuni baginya terhadap segala dosa. Dan siapa saja yang memasuki pagi hari berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, maka baginya pahala seperti pahala Haji mabrur. Setan membuat tiga ikatan di tengkuk salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas." Afifah tersenyum. "Makanya itu kan. Tapi yah kadang orang-orang lebih suka tidur lagi," ujarnya tersenyum miris. "Gitu deh, Fa. Walaupun kantuk susah dihadapi, tapi harus." "Bener, Ra." Setelah selesai memasak, waktunya tepat pukul enam. Masing-masing dari mereka membangunkan sebagian orang di dalam tenda. Afifah dan Tiara kebagian tenda Kila dan teman-temannya. Mereka berdua saling lirik sebelum menghela nafas dan mulai membangunkan mereka. "Kila ... Kila bangun ...." Tiara mendekati teman Kila dan menyenggol bahunya pelan. "Yar, bangun. La, ayo bangun, kita sarapan." Kila, Yara, Lola. Ketiganya tidak menggubris sama sekali dan malah mengulet lalu melanjutkan tidur. Tiara mencoba memanggil mereka lagi tapi tetap sama, mereka mengabaikan dan hanya tidur. "Kila, Yara, Lola?" Afifah menyenggol lengan mereka sedikit lebih kuat hingga mereka bertiga bangun dan langsung memasang ekspresi kesal. Sebelum Afifah terkena semburan, Tiara cepat-cepat menambahkan. "Kalian kalau bangunnya kesiangan ntar gak dapat sarapan," ujarnya tegas. Ia tak mau menjadi bahan bullyan lagi karena terlihat lemah. "Ayo, Fa. Tugas kita selesai. Bangun gak bangun itu urusan mereka, toh yang gak dapet makanan kan mereka juga," sambung Tiara menggandeng Afifah pergi dari sana. Lola yang kesadarannya cepat pulih jadi tertawa melihat itu. "HAHAHA lihat siapa yang udah berani ke kita. Enak aja ya, nyelonong gitu. Gak sopan banget. Katanya muslimah, tau agama, tau sopan santun, tapi masak gitu ngomongnya." "Muslimah gadungan mungkin HAHAHA!" Yara menimpali. Sedangkan Kila hanya menguap dan kembali tidur. "Woi ntar beneran ga dapet sarapan lo. Ayo buru bangun, sarapan tuh hal penting," teriak Lola pada Kila, tepat di depan wajahnya. Kila pun berseru kesal, tapi ia tetap bangkit dan berjalan lebih dulu diantara kedua temannya. Mereka mencuci muka dan mengelapnya dengan handuk kecil. Sesaar, Kila melihat Mila sedang duduk di bawah pohon sendirian, hanya memandangi yang lainnya tanpa ikut bergabung. "Itu Mila kan ya, temen baru Afifah Tiara. Tapi kenapa dia sendirian?" tanya Kila terhadap dua temannya. "Mana gue tau, Kil." "Alah udahlah, ngapai urusi urusan dia. Biarin aja. Katanya emang anaknya penyendiri. Abisnya sifatnya gak bagus. Suka adu domba. Terus juga suka ngerasa disingkirin padahal kan gak juga," sahut Yara menenggak air minumnya. "Serius lo?" Kila tampak kaget. "Adu domba? Tapi dia keliatan kalem gitu." "Jangan ketipu sama tampang. Bisa ketelen lo ntar," ujar Yara. "Yaudalah yuk sarapan. Keburu abis sama anak lain." Mereka bertiga kemudian pergi dari sana, tidak peduli dengan Mila yang sudah beralih menatap ke arah mereka. Seorang muslim janganlah membicarakan keburukan orang lain dibelakangnnya. Jika seorang kamu menerima yang namanya sebuah informasi yang tidak dia tahu dengan baik kebenarannya, maka lebih baik mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu atau menyimpannya untuk diri sendiri saja. Dalam beberapa kondisi, seseorang tidak dapat mengatur informasi apa saja yang akan dia dengar. karena bisa saja apa yang kita dengar itu salah maka dari itu carilah kebrnarannya sebelum kqmu menyampaikan cerita tersebut. Ketidaktahuan atas benar atau tidaknya suatu informasi tidak bisa dijadikan alasan untuk lepas dari tanggung jawab. Seseorang memiliki kemampuan untuk mengatur apa saja informasi yang akan dia sampaikan kepada orang lain dan yang akan dia simpan. Jika seorang muslim mendapatkan informasi yang tidak dia ketahui kebenarannya, maka dianjurkan untuk mencari tahu terlebih dahulu sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Hal ini juga menjadi salah satu bentuk tanggung jawab atas setiap perkataan dan informasi yang kita sampaikan kepada orang lain. Saat ini, berita – berita bisa dengan mudah didapatkan dari mana saja. Baik berita benar ataupun berita dusta atau hoax. apalagi diera sekarang yang serba canggih ,satu informasi bisa di dapat hanya dengan saru genggaman.Karena itu, sebelum seorang muslim menyampaikan suatu berita, sudah semestinya dia melakukan cross check (pengecekan)dulu sebelum meneruskannya kepada orang lain. Hal ini untuk menjaga diri dari cap yang namanya pendusta, tapi juga menjaga orang lain dari informasi yang salah dan bahkan bisa membahayakan. *** Ketika sarapan sedang berlangsung. Sebagian dari mereka menikmati makanan dengan khidmat. Sebagian kecil lagi berbuat sebaliknya, ada yang mencela makanan tersebut, ada juga makan dengan tidak mencuci kedua tangan, berdiri, tertawa sembari mengunyah, bahkan ada yang mempraktekkan makan dengan tangan kidal padahal ia bisa makan dengan tangan kanan. Afifah menyuap nasinya dengan pelan. Hatinya tergerak ingin menasehati, tapi ia takut balasan yang ia dapat malah berbanding terbalik dengan ekspetasinya. Afifah ingat sekali di dalam kepalanya bahwa Rasulullah, jika beliau ingin tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu dahulu. Dan ketika beliau ingin makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya, baru setelah itu beliau makan atau minum. Nabi juga bersabda, Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ dan tadi sebagian dari mereka langsung makan begitu saja, bahkan sambil tertawa. Tak jauh berbeda dengan Afifah, Tiara juga sangat prihatin. Ia pernah membaca kalimat, jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya. Allah juga berfirman, hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Tiara mengunyah tidak semangat karenanya. Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. Sedangkan orang-orang di sana, dengan terang-terangan mengatakan jika sayur kangkung yang sudah dimasak susah payah tidak enak dan membuangnya sembarangan begiu saja. Tiara ingin sekali menegur, tetapi ia begitu takut, hingga akhirnya berdoa di dalam hati semoga mereka cepat disadarkan oleh Allah. Setelah mereka selesai makan. Maka perjalanan di mulai. Ketua OSIS membagi mereka semua ke dalam lima kelompok yang masing-masingnya berisi enam orang dengan satu anggota osis sebagai pemandu. "Kalian di wajibkan membuat sebuah catatan selama penjelajahan. Pahami semua dan rasakan keindahannya. Tulis apa yang kalian rasakan, tulis juga saran dan kritik kalian." Semuanya mengangguk setuju, masing-masing dari mereka sudah membawa sebuah kertas dan pena di tangan masing-masing. Kali ini, sepertinya takdir bagus tidak berpihak pada Afifah dan Tiara karena mereka berdua berada di kelompok yang berbeda dan Afifah harus sekelompok dengan Mila dan juga Kila. Sedangkan Lola dan Yara bersama Tiara. Sejujurnya Afifah merasa tidak enak, seperti akan ada hal buruk yang terjadi. Tapi ia juga tidak bisa berburuk sangka begitu saja. Namun jika di bayangkan ia akan sekelompok dengan Tiara, rasanya lebih seru dan menyenangkan. "Oke, semua udah siap ya, dan udah dibagi juga," ujar ketua OSIS dan mulai mengarahkan mereka. "Pertualangan ... dimulai!" Sepanjang perjalanan hanya pepohonan rimbun yang menjadi objek pandangan mereka,,Kesejukan udara segara hal utama yang tentu dirasakan. Mereka mulai berpencar ada yang ke arah timur, ada yang ke arah barat. Semua mengikuti arahan pembibing kelompok mereka. "Augh- " ringisnya memekak. Semua langkah berhenti seketika karena mendengar ringisan suara yang bernama rida. mata mereka menatap Rida yang telah duduk di atas dedaunan kering . " Hei Kamu kenapa?" Tanya seorang kakak kelas, yang juga sekaligus pemandu dalam kelompok mereka. " Aku capek kak,istarahat dulu napa kak"ujarnya dengan nada dibuat selemah mungkin. " Hei kita baru ajar berjalan beberapa meter, dan segitu aja kamu udah kecapekan.Masih banyak yang mau kita catat!"Ujara kakak itu tegas. " Tapi kak,aku capek!" " Istirahatlah kamu,!, tapi dengan syarat nilai akhir semester kamu nol,!"Ujarnya tajam lalu melangkah pergi di ikuti anggota kelompok tersrbut. " Issssh dasar kakak kelas nyebelin" sembari tangannya Meremas dedaunan kering di sekitarnya. dengan berat hati ia ikut melanjutkan perjalanannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN