"Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa, wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun," ujar Afifah terus melafalkan doa itu di dalam hatinya, ia berharap tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi nantinya. Ia tidak bisa mengelak dan menyingkirkan rasa cemas yang perlahan semakin kuat di hatinya.
Untungnya kakak pembina mereka seorang perempuan, yang juga seperti Afifah. Sangat muslimah. Jadi meskipun nanti di siang hari atau sore hari, ia bisa sholat bersama dengan seniornya itu.
Namanya Yuki. Kebetulan, Yuki adalah siswa yang pintar, ia pecinta alam dan tidak heran bisa mengetahui hampir seluruh pepohonan di sana.
"Nah guys. Ini jambu bol. Jambu bol dengan bahasa latinnya adalah (Syzygium malaccense (L.) Merr & Perry) merupakan tanaman buah tahunan kerabat jambu-jambuan. Buah jambu bol memiliki tekstur daging yang lebih lembut dan lebih padat dibandingkan dengan jambu-jambuan lainnya," terangnya yang di catat oleh Afifah dan lainnya, tidak semua karena Kila hanya melihat-lihat sekaligus memetik dan memakan buah jambu itu.
"Oke kita lanjut aja ke sini."
Afifah hendak melangkah maju, tapi dirinya tertahan karena tiba-tiba seseorang menahan langkahnya. Ia menoleh dan ternyata itu Mila.
"Mil?"
"Kamu enak banget punya temen kayak Tiara," ujarnya langsung membuat Afifah mengernyit heran. "Kalian tuh sebenernya cocok banget sama aku. Tapi kenapa kalian harus jauhin aku? Padahal kan aku enggak ngelakuin hal yang salah banget."
Afifah mengernyit dan mengerjap melihat Mila yang menunjukkan wajah sedihnya terang-terangan. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini.
"Mil, aku sama Tiara minta maaf, ya," ujarnya yang baru bisa diucapkan sekarang. "Maaf banget, soalnya kemaren itu ada masalah dikit, tapi kami enggak jauhin kamu kok," sambungnya dengan sedikit tidak jujur karena menghargai perasaan Mila. Ia hanya takut gadis itu akan sakit hati lagi.
"HEY KALIAN!" Yuki berteriak memanggil Afifah dan Mila. "Ayo cepat ke sini, jangan ketinggalan dan ngobrol gitu aja. Nanti kalau kalian ketinggalan. Aku yang bakalan dimarahin, dan kalian juga takutnya kenapa-kenapa. Jadi selalu ikut ya," ujarnya dengan Afifah dan Mila yang berjalan mendekati mereka.
"Maaf, kak," ujar Afifah dan tersenyum minta maaf. Ia jadi tidak enak mengerepotin kakak kelasnya itu.
"Yauda gak papa. Lain kali jangan gitu, harus ikut rombongan," ujar Yuki memperingatkan. "Sekarang ikut lagi, masih banyak yang harus kita eksplor."
Semuannya mengangguk dan mengikuti langkah Yuki, mereka mendengarkan dengan cermat dan mencatat di kertas lembar yang mereka bawa.
Sedangkan Mila, ia tidak mencatat apapun, sama seperti Kila. Kertas kosong ia pegang di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang sebuah pena.
Minta maaf? Tapi hatinya yang gampang terluka tidak semudah itu untuk sembuh. Apalagi ia belum mendengar permintaan maaf dari Tiara, hanya Afifah saja. Entahlah, tapi walaupun Afifah sudah meminta maaf, entah kenapa masih ada rasa kesal dan ingin balas dendam di hati Mila.
***
Di sisi lain, Tiara sekelompok dengan Lola dan Yara, hanya dua perempuan itu teman perempuannya di kelompok. Tiga lainnya adalah pria dan pembinanya kebetulan ketua osis yakni Habib. Tiara dari tadi menghela nafas melihat kehebohan Lola dan Yura. Mereka tidak bisa diam, tapi kebanyakan ributnya mereka karena ingin mengambil perhatian Habib.
Ketika mereka menemukan pohon pisang, Habib menjelaskan singkat tentang pohon itu pada adik kelasnya. Dan pada akhirnya ia menyuruh mereka untuk mengambil beberapa pisang dan memakannya.
Tiara yang tak sampai mengambil pisangnya pun diambilkan oleh Habib.
"Makasih, Kak." Dan Habib tersenyum sebagai jawaban,
Melihat itu, Lola dan Yara juga ikut-ikutan meminta tolong pada Habib utnuk mengambilkan. Tapi setelahnya, yang tidak disukai Tiara ialah dua perempuan itu yang membuang kulit pisang sembarangan.
"Elah gak papa lah, Ra," ujar Lola ketika Tiara mengingatkan mereka untuk tidak buang s****h sembarangan. "Lagian ntar terurai juga, kan bukan s****h plastik."
Memang benar, tapi entah kenapa Tiara risih dengan itu. Ia saja memasukkan kulit pisang yang ia makan ke dalam ranselnya. Karena ia risih dengan lingkungan yang kotor, dan tidak terbiasa membuang s****h jenis apapun ke tempat umum.
Bukan hanya menambah iman kita kepada Allah SWT, menjaga kebersihan diri ternyata juga bisa mendatangkan manfaat yang banyak untuk diri kita.
"Iya, bawa aja s****h kalian." Ucapan Habib itu mau tak mau membuat Lola dan Yara menggerutu di dalam hati walau akhirnya mereka tetap menurutinya dan memasukkan s****h mereka ke dalam tas.
Tiara sendiri tersenyum senang. Senang karena setidaknya Lola dan Yara melakukan hal yang baik. Tiara menoleh dan tak sengaja pandangannya bertemu dengan Habib, mereka bertemu pandang sesaat tapi tak lama karena Tiara langsung Memutuskan pandangannya.
***
Di Yuki, ia banyak sekali menjelaskan hingga junior-juniornya kewalahan menulis ini itu. Tapi untungnya Yuki tidak terlalu memaksa hingga mereka pun sedikit lega. Hanya saja, ada seseorang yang dari tadi tidak menulis dan tidak mau menulis, ia adalah Kila.
"Kila kan nama kamu?" Yuka bertanya menunjuk Kila. "Kenapa enggak nulis? Ini ilmu loh."
"Males aja," jawab Kila enteng, seolah tidak masalah ia tidak menulis. Memang bukanlah sebuah masalah besar. Namun ada baiknya jika ia mencatat walau sedikit saja, toh ini juga ilmu buat dirinya.
"Kamu tau gak seberapa pentingnya ilmu?" tanya Yuka dengan berkacak pinggang, ia sepertinya sedang marah, jadi yang lainnya hanya diam dan melihat.
"Tau. Udahlah kak senior, lanjut aja gak usah peduliin aku. Aku juga tau kali manfaat-manfaat dari pohon-pohon ini."
Yuki menghela nafas panjang. Ia sudah mengenal watak Kila, jadi akan susah sepertinya jika ia meladeni gadis ini .maka lebih Yuki membiarkannya saja toh jika ia berdebat dengan Kila dia yang kalah,sedangkan berdebat hanya menghabiskan waktunya, maka diam adalah salah satu pilihan yang terbaik.
Padahal sudah jelas sekali jika kita harus menghormati satu sama lain. Jangankan pada seseorang yang lebih tua, orang yang seusia kita atau mungkin bahkan lebih muda saja harus tetap dihormati. Afifah memejamkan matanya ssaat, berdoa di dalam hatinya jika ia tidak akan pernah berlakku seperti itu pada orang lain. Afifah hanya mengingat, kalau ia ingin kesdaaran yang seperti ini terus ada di dalam dirinya. Ia tidak ingin dia lupa diri dan akhirnya bersikap seenaknya, lupa mencemaskan akan perasaan orang lain.
Saat mulai sore hari, ketika perjalanan mereka hampir selesai. Tiba-tiba Mila berkata jika ia ingin buang air, kebetulan ada sebuah kamar mandi tak jauh dari sana. Yuki memerintahkan Kila dan Afifah menemaninya dan langsung di sanggupi oleh mereka berdua.
"Lo cepet ya kencingnya, gue gak mau nunggu lama-lama." Kila sudah memberi aba-aba lebih dulu dan Mila hanya diam tanpa menjawabnya.
"Kalau gak kamu balik aja, Kil. Aku aja yang temenin Mila," ujar Afifah yang dibalas decakan pelan oleh Kila.
"Gak usah sok deh ya. Kalian berdua itu kan penakut, lemah-lemah, jadi harus ada yang kayak gue biar semuanya aman dan tentram."
Bolehkah Afifah membalas perkataan Kila kalau sebenarnya gadis itu yang terdengar sok kuat? Tapi tidak, Afifah tidak mau menyakiti perasaan siapapun lagi.
"Eh ini masih jauh gak? Gue capek jalan terus," ujar Kila dan berhenti berjalan. Kamar mandinya ternyata tidak begitu dekat, ia harus berjalan sejauh lima ratus meter untuk sampai di sana.
"Yauda kamu di sini aja," sahut Mila menoleh ke belakang menatap Kila.
Afifah mengangguk menyetujui ucapan Mila. Ada benarnya juga, ada Kila bersama mereka yang ada perempuan itu akan terus mengeluh ini itu.
"Yauda gue di sini. Buruan ya jangan lama-lama."
Afifah dan Mila kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Tidak ada yang berbicara diantara keduanya. Sampai Afifah merasa tempat kamar mandi itu cukup jauh, seperti yang dipikirkan Kila. Bahkan dari tempat Afifah berdiri, ia hanya melihat setitik raga Kila. Sepertinya ini bukan lima ratus meter, melainkan satu sampai dua kilometer.
Mila masuk ke dalam kamar mandi dengan diam. Afifah menunggu di luar dengan sabar, tapi kemudian, ia tak sengaja menatap anak kucing yang berlari ke arah belakang kamar mandi.
Tindakannya itu bertepatan dengan Mila yang keluar dari kamar mandi, ia menoleh ke kanan kiri mencari Afifah. Dan ketika ketemu, ketika Afifah semakin jauh dan terus mengejar anak kucing lucu itu. Mila tersenyum kecil dan buru-buru naik menghampiri Kila yang sudah menunggu.
"Lama banget," protes Kila langsung. "Trus si Afifah mana? Jangan bilang dia BAB."
Mila menggeleng. "Afifah enggak ada di sana. Kayaknya dia udah balik duluan."
"Hah? Balik duluan?"
Mila mengangguk. "Mungkin, soalnya enggak ada di sana."
Kila mendongak, memperhatikan sekelilingnya dan memang tidak ada orang lagi selain mereka berdua. "Yauda deh biarin aja, paling balik duluan kayak yang lo bilang. Kita ke rombongan aja, lagian dia juga udah besar, tau jaga diri," ujar Kila panjang sebelum berbalik dan diikuti oleh Mila dari belakang.
Dengan masa bodohnya Kila terus melangkah , Tanpa sadar ada salah satu sosok yang menampilkan senyum kemenangan.
***
Disalah satu Regu bagian Orang Tiara, Pada sibuk mencatat apa saja yang telah di ucapkan oleh kakak pembimbing mereka, Sedangkan di sebelahnya sih Yara,sibuk bercerita dengan Lita. Padahal sudah berulang kali kakak kelasnya menegurnya, namun hanya deheman dan tetap melanjutkan cerita mereka.
" Sekali lagi ya kalian cerita - cerita di belakang, aku catat nama kalian di list !"ucap kakak pembimbing kehabisan kesabarannya.
" Oke yang lain tetap fokus ya,.. Jadi ini tuh bunga lavender manfaatnya untuk obat malaria,jadi jika malaria bisa menggunakan tanaman ini"
" Dan ini namanya daun meniran " ucap kakak pembimbing dan menunjukan daun kecil - kecil seperti rumput.
" ini tuh bisa biat obat asam urat jadi yang orang tuanya sakit asam urat bisa gunakan tanaman ini sebagai obat tradisiinal. caranya cukup bisa dengan mengeringkan tanaman tersebut kemudian setelah kering cuci lalu siram dengan air hangat,kemudian minum"
dengan hikmat mereka mendengarkannya dan sesekali tangannya sibuk mencatat penjelasan di buku agenda mereka.