Tersesat

1775 Kata
Sementara Afifah masih terus mengejar sosok kucing yang menurutnya lucu, Namun karena kucing tersebut liar jadi Afifah sulit menangkapnya, hingga Afifah tersadar jika langit mulai menggelap, bayangan tubuhnya mulai menghilang . Afifah menoleh ke depan kucing tadi seketika menghilang, Bulu kuduk Afifah naik, merinding, Ia berusaha menghalau fikiran – fikiran buruk di otaknya. Afifah menoleh ke belakang ke tempat toilet tadi. Namun tidak ada toilet tersebut , perasaan Afifah baru sebentar tadi ia mengejar kucing tadi namun ia semua yang berada di hadapannya hanya pepohonan berjejer yang terlihat mulai menggelap. “ Mila.... Kamu dimana?, Mil jangan main – main kamu dimana?, aku takut” Teriak Afifah , namun suaranya serak menahan tangis yang pecah sebentar lagi keluar. Pandangan Afifah berpendar ke sekeliling, Fikirannya melalang kemana - mana meminimalisir kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi, seperti hewan buas dan juga hantu. Afifah juga manusiawi ia punya perasaan takut terhadap hal yang mistik. Walaupun terkadang ia juga tidak pernah percaya jika orang bercerita tentang hantu, Menurutnya hantu itu tidak ada, Namun sekarang ketika Afifah di hadapkan pada suatu kenyataan dan posisi dimana ia sendiri tersesat di dalam tempat gelap, tentu keimanannya dan keberaniannya sedikit menurun. Afifah tersadar jika ia belum sholat Ashar, Afifah mencari – cari air yang bisa ia gunakan untuk berwudhu, karena tidak menemukan air akhirnya Afifah bertanyamum. Dengan tanah yang sedikit di tepuk – tepuk sebagai pengganti air, **** يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا قُمۡتُمۡ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغۡسِلُوۡا وُجُوۡهَكُمۡ وَاَيۡدِيَكُمۡ اِلَى الۡمَرَافِقِ وَامۡسَحُوۡا بِرُءُوۡسِكُمۡ وَاَرۡجُلَكُمۡ اِلَى الۡـكَعۡبَيۡنِ‌ ؕ وَاِنۡ كُنۡتُمۡ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوۡا‌ ؕ وَاِنۡ كُنۡتُمۡ مَّرۡضَىٰۤ اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ اَوۡ جَآءَ اَحَدٌ مِّنۡكُمۡ مِّنَ الۡغَآٮِٕطِ اَوۡ لٰمَسۡتُمُ النِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُوۡا مَآءً فَتَيَمَّمُوۡا صَعِيۡدًا طَيِّبًا فَامۡسَحُوۡا بِوُجُوۡهِكُمۡ وَاَيۡدِيۡكُمۡ مِّنۡهُ‌ ؕ مَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُمۡ مِّنۡ حَرَجٍ وَّلٰـكِنۡ يُّرِيۡدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَ لِيُتِمَّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏ Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” QS. Al – Maidah ayat 6. Untuk setiap umat muslim sebelum melaksanakan sholat wajib hukumnnya mengambil wudhu,dimana salah salah syarat adalah dengan wudhu.Namun karena beberapa sebab hal yang menyebabkan seseirang tidak bisa berwudhu maka diperbolehkannya tayamum.Tayamum adalah salah satu bentuk dari thoharoh yang bisa dijadikan sebagai pengganti wudhu dalam keadaan terten. Cara wudhu tayamum berbeda dengan ketika kita berwudhu menggunakan air. Para ulama sepakat bahwa ketika bertayamum, hendaknya menggunakan sho’id yang suci. Adapun sebab diperbolehkannya tayamum dijelaskan dalam secara lengkap dalam Taisirul Fiqh, yaitu sebagai berikut: 1. Tidak ada air yaitu tidak ditemukan atau sumber air begitu jauh. 2. Jika memiliki luka atau penyakit dan khawatir menggunakan air. 3. Jika air sangat dingin dan sulit dipanaskan. 4. Jika air diperlukan untuk minum dan khawatir kehausan. Dalil yang menjelaskan bahwa tayamum diperbolehkan jika kita khawatir dengan menggunakan air akan menimbulkan bahaya, atau dhoror, dapat dilihat dalam hadist berikut: Dari Jabir, ia berkata, “Kami pernah keluar pada saat safar, lalu seseorang di antara kami ada yang terkena batu dan kepalanya terluka. Kemudian ia mimpi basah dan bertanya pada temannya, “Apakah aku mendapati keringanan untuk bertayamum?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendapati padamu adanya keringanan padahal engkau mampu menggunakan air.” Orang tersebut kemudian mandi (junub), lalu meninggal dunia. Ketika tiba dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami menceritakan kejadian orang yang mati tadi. Beliau lantas bersabda, “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membinasakan mereka. Hendaklah mereka bertanya jika tidak punya ilmu karena obat dari kebodohan adalah bertanya. Cukup baginya bertayamum dan mengusap lukanya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Rasulullah SAW bersabda, "Aku diberikan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada utusan sebelumku, yakni aku ditolong (oleh Allah) dengan rasa takut yang dicampakkan pada musuh-musuhku selama satu bulan, kemudian dijadikan-Nya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seorang hamba dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ, dan aku juga memiliki syafaat yang tidak diberikan kepada utusan sebelumku, dan aku juga diutus kepada seluruh manusia, sedangkan nabi-nabi sebelumku khusus diutus hanya kepada kaumnya saja.” (HR. Bukhori no. 335) Dalam kasus ini Afifah termasuk golongan orang yang sulit menemukan air. Jadi ia di perbolehkan bertayamun. Rukun tayamum yaitu: 1. memindahkan debu, 2. niat dengan membaca Nawaitut Tayammuma Lisstibaahatish Shalaati Fardlol Lillaahi Ta’ala, 3. mengusap wajah, 4. mengusap tangan hingga siku, 5. tertib dalam mengusap. Pembatal tayammum yaitu: apa-apa saja yang membatalkan wudhu,murtad, ragu adanya air jika sebab tayamumnya karena ketiadaan air. ****** Setelah melaksanakan sholat dengan beralaskan dedaunan kering, dan juga pakaian yang memang tetap menutup aurat, Afifah berdoa agar pertolongan segera tiba, sungguh ia takut apalagi malam akan segera tiba, setelah itu Afifah bangkit melangkah ke arah sebelum ia mengejar kucing tadi. Semakin ia berjalan namun ia tetap pada tempat itu, padahal ia sudah berjalan sejauh kakinya melangkah, namun ujungnya kembali di tempat itu. “ Tolong.....” teriaknya. Namun suaranya hanya tertelan angin , menggema di hutan. Kraak. Suara ranting terpijak dan juga suara derap langkah kaki seseorang, Afifah terpaku diam ,denyut jantung berdetak kencang . Matanya terpejam rapat – rapat, kakinya melemas bak jelly yang tidak bisa berdiri, ia terduduk di tanah. Sebuah tangan berada di bahunya, semakin menjadi detak jantungnya. Ketakutan menderap dirinya. “ Fah” Afifah tidak berani membuka matanya, ia takut ketika ia membuka mata maka sosok mengerikan muncul di hadapannya. “ Fah, ini aku Satria” suara itu lagi. Afifah membuka matanya perlahan – lahan, sosok Satrialah itu. “ Kamu kenapa disini Sat?” tanya Afifah mengernyit. “ Tadi aku tiba – tiba dengar suara teriakan kamu!” ujarnya dingin. “ Iya ,tapi kenapa kamu kok bisa sampai sejauh ini masuk ke dalam hutan ini Fah” Tanya Satria. Afifah menceritakan runtut kejadian hingga menyebabkan ia berada disini, di mulai dari dirinya yang mengejar kucing. Tapi bersyukurnya pertolongan Allah datang di waktu yang tepat. “ Sat ayok kita keluar dari hutan ini , bentar lagi udah mau malam” Seru Afifah, ia merasa bersyukur karena ada Satria jadi ia tidak sendiri. Mereka berjalan beriringan hingga menemukan seorang nenek – nenek yang berjalan tertatih – tatih dengan membawa kayu bakar di punggungnya. Afifah beserta Satria menghampiri nenek tersebut, Mana tau nenek itu bisa membantu cari jalan keluar, karena ketika berada disini yaitu di dalam hutan ia merasa seperti berada di labirin yang tidak menemukan titik ujung dari sebuah jalan. “ Nek !” Seru Afifah. Nenek tersebut menghentikan langkahnya, lalu menoleh memandang mereka dengan pandangan datar. “ Nek , apakah boleh bertanya, jalan keluar dari sini bagaimana ya nek? , soalnya dari tadi jalan gak nemu – nemu ujung hutan ini nek, kami berdua tersesat nek, Apa nenek bisa bantu kami” ujar Afifah panjang lebar. Nenek tersebut termenung cukup lama hingga akhirnya ia berujar. “ Kalian gak akan bisa keluar dari sini” ujar nenek itu lalu melanjutkan langkahnya. Afifah dan Satria mengejar nenek itu . “ Tapi kenapa nek” tanya Afifah dengan berjalan beriringan di samping nenek tersebut. “ Jika kalian sudah masuk kesini maka bersiaplah tidak bisa keluar dari sini” ujarnya. Afifah merasa ketakutan dengan perkataan yang di ucapkan barusan oleh nenek tersebut. Namun ia merasa jika nenek tersebut tidak bercanda atas ucapannya, terlihat dari wajahnya yang serius ketika mengatakan tadi. Mereka terus berjalan hingga nampak dari kejauhan di depan mereka sebuah gubuk reot, Sampailah mereka di depan gubuk tersebut , nenek itu meletakan kayunya dari punggung dengan di bantu Satria. Selama perjalanan tadi ia merasa jika Satria tidak banyak bicara , malah ia terlihat biasa saja tanpa ketakutan sedikitpun, Namun Afifah mengabaikan fikirannya, yang terpenting bagaimana caranya mereka bisa keluar dari tempat ini. Nenek tersebut mendorong pintu gubuk tersebut , Pintu yang terlihat seperti akan roboh, Afifah merasa heran di tengah hutan seperti ini ada seorang nenek – nenek tinggal di tempat yang begitu terpencil dan jauh dari lingkungan masyarakat, Bagaimana jika misal nenek tersebut sakit atau ada binatang buas yang mengganggu , siapa yang akan menolong nenek yang telah tua rentah ini . “ Ayok masuk Cu” ujar nenek tersebut mempersilahkan. “ iya nek” Mereka masuk ke dalam , Mata Afifah menatap isi dalam gubuk tidak ada apapun yang menghias dinding gubuk, hanya sebuah figura terletak di pojok atas meja, figura berukuran kecil , Namun Afifah tidak begitu jelas ,foto Apa yang berada di dalamnya, foto itu keliatan usang hingga kabur jadi sulit melihat jelas jika dari jauh. “ Silahkan duduk Cu! “ ujarnya ramah. Nenek tersebut mengarah kebelakang. Mereka pun duduk , Namun diantara mereka berdua sama sekali tidak ada percakapan, hanya diam dengan fikirannya masing – masing. Nenek itu muncul dengan membawa ceret kendi dan gelas dari bambu , begitu sederhana. “ Di minum Cu , pasti haus kan” menuangkan minum ke dalam gelas bambu tersebut. “ Iya nek makasih” Malam telah tiba , seperti biasa rutinitas yang di lakukan seorang muslim yaitu beribadah sholat , ya sholat Maghrib, sebelumnya Afifah telah meminta izin kepada nenek tersebut untuk mengambil air wudhu , dan sekarang di sinilah Afifah di belakang , kamar mandi yang begitu terbuka dengan hanya susunan anyaman atap rumbia yang mengelilingi kamar mandi sebagai penutup, dengan pintu berupa goni yang di ikatkan. Setelah menyelesaikan mengambil wudhu Afifah masuk ke dalam dan melaksanakan sholat, Malam semakin malam , kini Afifah dan Satria juga nenek tersebut di ruangan berbincang – bincang, setelah mereka habis makan malam bersama dengan lauk yang di sediakan sederhana, berupa daun ubi rebus dan sambal , ya sudah cukup bersyukur masih bisa makan. “ Cu bila malam nanti jangan ada yang keluar dari rumah ya!” pesannya. “ Tapi kenapa nek?” tanya Afifah. “ Pokoknya nenek bilang jangan keluar !”ujarnya tegas , nenek tersebut membawa piring ke dapur, Afifah yang melihatnya ia segera bangkit dan membantu membawa piring – piring kotor tersebut. Dinding yang berlapiskan anyaman bambu, membuat angin begitu mudah masuk kedalam. Udara begitu menusuk kulit Afifah. Afifah segera meletakkan piring tersebut saat dirinya hendak berbalik matanya menangkap sebuah goni putih ,dengan rasa penasaran Afifah mendekati goni putih itu . Tangan Afifah telah memegang goni itu, " Apa yang sedang kamu lakukan cuk, ? " " Hem --anu " Afifah gelagapan , mulutnya canggung untul berbicara, satu hal yang telah ia lakukan ini sudah lancang memeriksa barang yang bukan miliknya. " Yaudah masuk kedalam cuk, lebih baik istirahat!" ujaranya lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN