Setelah acara makan malam tadi, dan juga malam sudah larut, Afifah dan nenek rentah tadi tidur di dalam satu kamar sedang Satria tidur di ruangan, nenek itu tidur membelakangi dirinya. sedangkan Sedari tadi Afifah tidak bisa tidur hanya tertidur sebentar lalu terbangun lagi padahal sudah larut malam , Afifah bolak – bolak mengganti posisi tidur , Namun tetap saja bahwa ia tidak bisa tidur, fikirannya masih melalang jauh ,matanya menatap atap gubuk yang tiada plavon, ia berfikir bagaimana agar ia bisa kembali ke tenda .Pasti Tiara akan khawatir. Afifah memutuskan untuk melaksanakan sholat tahajjud. ia harap fikirannya bisa tenang dan juga Allah memberi pertolongan agar ia bisa keluar dari hutan ini.
Dalam ayat:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2]: 153).
*****
Afifah berjalan pelan keluar kamar agar tidak membuat orang terbangun, ia melihat Satria yang sudah tertidur, Afifah melangkah ke belakang, sesampainya di pintu yang menghubungkan luar, Afifah membuka secara perlahan agar tidak menimbulkan derit suara.
Suasana luar begitu gelap dan menyeramkan hanya ada cahaya lampu sentir sebagai penerang walaupun terlihat remang - remang tapi masih bisa menerangi sekitarnya, Afifah berdiri di depan kamar mandi lalu menengadakan tangannya lalu melafadzkan doa dalam hati sebelum masuk kamar mandi .
Guru Madrasah Afifah pernah mengajarkan untuknya jika memasuki sebuah kamar mandi itu harus di dahulu kan kanan kemudian baru kaki kiri.begitu sebaliknya keluar dengan mengguankan kaki kiri terlebih dahulu.
Afifah tetap menatap bawah ia segera mengambil air wudhu. Ia basuhkan pada pergelangannya saat pada bagian telinga, selintas bayangan lewat di depan kamar mandi, Afifah terdiam lalu menoleh ke sumber banyangan tersebut , Namun hanya terpaan Angin yang menjadi saksi bisu, Afifah segera menyelesaikan wudhunya, ketika ia hendak melangkah keluar kamar mandi terdengar suara isak tangis anak kecil, Afifah bergidik dan merinding. Ia segera mempercepat dan melangkah kaki seribu Masuk ke dalam.
Setelah melaksanakan sholat tahajjud , Afifah kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur hingga tanpa sadar tertidur.
******
“ Nak bangun” sebuah tangan mengguncang bahu Afifah dengan kuat. Afifah memgerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya matahari yang membuat matanya silau. Seseorang di depannya menatap pergerakannya.
“ Bapak siapa?” Ujar Afifah keheranan .
“ Bapak penjaga hutan ini sekaligus wilayah di sekitar kampung ini.” jawabnya.
Afifah Memperhatikan , kelihatan ada yang aneh, sebelumnya Afifah belum sepenuhnya kesadarannya terkumpul, seperti ada yang aneh, ia berfikir apa?, hingga kesadaran menyadarkan Afifah, bukankah tadi malam ia tidur di tempat tidur bareng nenek tua itu terus bersama Satria, dan sekarang kenapa ia malah tertidur di bawah pohon dan kemana gubuk reot tersebut kenapa di hadapannya sekarang hanya pepohonan . Kemana nenek tersebut dan juga Satria kenapa semua menghilang. Afifah mengucek – ngucek matanya sekaligus menepuk wajahnya pelan lalu mencubit tangannya. “ Augh” ringisnya kesakitan. Apakah ini mimpi tapi kenapa jika ini mimpi seperti sebuah kenyataan yang benar – benar terjadi.
“ Nak kamu kenapa?”
“ Pak mana nenek tua dan juga teman laki – laki saya?” cercah Afifah.
Bapak tua tersebut menatapnya heran. “ nenek tua siapa ?, jelas – jelas kamu sendiri disini , bapak temukan kamu udah tertidur di bawah pohon ini” jelasnya.
“ Apa !enggak mungkin pak , jelas – jelas tadi malam saya tidur bersama nenek tua dan juga teman saya, semalam kami tersesat pak”
Bapak tersebut menatapnya datar . Tanpa menjawab kebingungan Afifah. “Mungkin kamu Cuma mimpi nak .”
“ enggak pak ini benar pak, tadi malam saya mengalaminya” ujar Afifah kekeh.
" dan malahan saya dan teman saya di tolong nenek tua itu pak, dan ini benar pak saya gak bohong" sambung Afifah.
“ Udah lupakan itu, sekarang mari bapak antarkan kamu ke tenda kamu , teman – temanmu pasti mencarimu” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
" Tapi pak..."
" udah ayok"
Seketika Afifah tersadar, pasti Tiara bakal mengawatirkannya. Ia segera bangkit lalu membersihkan pakaiannya yang kotor. Ia mengikuti langkah bapak itu yang membawanya keluar hutan. Selama perjalanan bathinnya tetap bertanya – tanya , kemana nenek tua dan juga Satria. Mengapa semua menghilang ketika ia bangun, Kemana mereka?, Apakah ini hanya mimpi , Tapi kenapa ini seperti nyata.
Dengan petunjuk yang Bapak tua itu berikan Afifah berjalan pada jalan setapak ,
Kemana Satria?
kemana nenek tua itu ,kenapa seakan hilang begitu saja?