Bapak itu menuntun Afifah ke jalan yang perlahan mulai diingatnya. Tapi tetap saja, Afifah merasa linglung, tentang nenek dan Satria masih bercokol di dalam kepalanya. Ia tentu tidak bermimpi, ia masih ingat jelas dan semuanya nyata. Lalu kenapa mereka sudah tidak ada? Kemana perginya mereka?
"Kamu itu harusnya tidak sejauh ini perginya," ujar si bapak yang masih berjalan terus didepan Afifah. "Ini tuh bukan tempat kamu, enggak terjamah, jadi jangan coba-coba buat masuk lebih jauh."
Afifah hendak menyela, namun si bapak sudah berujar lebih dulu. "Saya tahu kamu mengejar seekor kucing makanya sampai ke sini, kan? Sebenarnya saya ikuti kamu, tapi kamu malah menghilang dan saya baru menemukanmu tadi pagi di bawah pohon."
Afifah terdiam, ia tidak berani banyak bicara. Semuanya seperti berada di luar jangkauan pikirannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah ia lalui.
Tiba-tiba si bapak berheti, mengejutkan Afifah dan ia juga berhenti. Afifah juga menjaga jarak dengan si bapak karena ketakutan yang langsung merayapinya.
"Sekarang kamu tinggal mengikuti jalan setapak ini, kamu akan bertemu dengan rombongan kamu lagi," ujar si bapak menunjuk ke arah jalan yang sedang mereka tapaki. Ia kemudian menoleh ke belakang menatap Afifah datar. "Dan bisakah kamu tidak memberitahu siapapun tentang siapapun yang kamu temui itu? Biarlah itu jadi pengalaman rahasia kamu, jangan biarkan orang lain tahu tentang itu."
Afifah mengangguk saja mengiyakan, bagaimanapun ia sudah bersalah di sini, mencoba mengejar kucing malah ia yang terkena masalah.
"Ya sudah, pergilah."
Afifah mengangguk lagi. "Terima kasih banyak, Pak. Saya pergi dulu," ujarnya tanpa menatap mata si bapak. Ia kemudian kembali melanjutkan perjalannya, sampai beberapa langkah, ia menoleh ke belakang hendak melempar senyum terima kasih terakhir kali ke si bapak. Tapi bapak itu sudah menghilang, membuat Afifah terkejut dan segera mengedarkan pandangannya, tapi memang si bapak sudah tidak ada di sana lagi.
Afifah merasa nafasnya naik turun dengan cepat, ia lemas seketika. Kenapa semuanya terasa seperti ini, aneh. Dan ia juga ketakutan tapi kedua kakinya sudah sangat merasa lemas, sulit untuk di gerakkan. Tapi kemudian ia mendengar teriakan demi teriakan dari orang-orang yang memanggili namanya.
"AFIFAH!"
"AFIFAH LO DI MANA?!"
"AFIFAH!! KAMU DI MANA?!"
"AFIFAHH!!!!"
Afifah bisa mendengar suara-suara itu dengan sangat jelas, padahal ia baru beberapa langkah menjauh dari posisi si bapak berdiri. Tadi ketika ia berada di belakang si bapak, ia tidak mendengar apapun.
"Afifah?"
Afifah dengan tenaganya yang tersisa sedikit, menoleh dan melihat Tiara sudah berdiri di belakangnya dengan mata bengkak.
"Tiara?" Afifah menyahut serak.
Namun, belum sampai Tiara di depan Afifah, Afifah sudah jatuh duluan dan tak sadarkan diri.
***
Afifah merasa ada banyak orang di sekelilingnya, ia kemudian membuka mata walaupun masih terasa berat dan suara-suara itu malah semakin banyak dan kencang.
"Afifah? Kamu gak papa?"
"Afifah, lo oke kan?"
"Fah, kamu kenapa?"
"Afifahh kamu kok bisa nyasar sejauh ituu?!"
Afifah memegang kepalanya yang terasa pusing mendengar semuanya sampai seorang guru perempuan menghampirinya dan berkata pada semuanya untuk tenang dan tidak membanjiri Afifah dengan beragam pertanyaan
"Udah bubar dulu! Biar Afifah ada ruang buat mikir tentang semuanya," ujarnya berteriak pada siswa lainnya hingga mereka bubar.
"Afifah, sekarang coba kamu jelasin apa yang sebenernya terjadi, kenapa kamu bisa sampai ke sana? Bukannya terakhir kali kamu nemenin Mila ke kamar mandi??"
Tiara berada di samping Afifah sedangkan Mila berdiri di hadapannya dengan tatapan datar mengarah ke Afifah.
"Jadi sebenernya ...."
Cerita pun dimulai dari awal, Afifah benar-benar jujur berkata hingga ia ditemukan. Hanya saja ia memang menghilangkan bagian dimana ia bertemu dengan seorang nenek dan juga seseorang yang mirip Satria.
"Kalau begitu, Mila dan Kila?" Bu guru menatap Mila dan Kila yang berdirii bersampingan. "Kalian bilang Afifah sudah balik tapi dia malah tersesat, apa maksudnya? Apa kalian tidak bisa menjaga satu sama lain? Saya tahu ini juga salahnya Afifah mengapa ia mengejar kucing itu, tapi seharusnya kalian sadar kalau ia hilang dan tidak mungkin kembali sendirian."
Kila yang berdiri melayangkan tatapan menuduh ke Mila. "Saya beneran enggak kelihatan buk dari jauh, tapi Mila yang harusnya masih kelihatan, tapi kata dia Afifah malah udah balik duluan."
Semua orang yang ada di sana memandang Mila dengan serius. Tapi Mila menyanggah dan berkata dengan kekesalan tinggi. "Kenapa semua jadi nyalahin aku? Aku mana tau kalau Afifah bisa sejauh itu. Aku cuma lihat dia udah enggak ada dan kupikir dia udah balik duluan. Lagian suruh siapa ngejer-ngejer kucing kayak anak kecil aja."
Semuanya terkejut mendengar ucapan Mila. Tapi perempuan itu bersikap tidak peduli dan hanya berbalik meninggalkan mereka. Ia hanya tidak suka disalahkan karena menurutnya Afifah lah yang salah.
***
" Gue bilang gue mau masuk!"
" Udah di bilang Afifah masih tidur,jangan ngotot deh"
samar - samar Afifah mendengar suara keributan di depan tendanya. dengan langkah berat Afifah bangkit perlahan dengan bertumpu pada tangannya,
" Ra...."panggil Afifah
" Eh Fah kamu udah sadar,Gimana keadaan kamu?"
" Alhamdulillah udah agak mendingan hanya agak pusing saja" Afifah mencari - cari keberadaan Tiara.
" Eh maaf ya Fah kamu jadi ke bangun, tadi aku udah bilangin ke dia kalok kamu masih tidur tapi dia tuh kekeh tetep mau jumpa kamu"Ucap Mega merasa bersalah. Mega adalah salah satu teman sekelasnya juga.
" iya gapapa Meg, Oh iya Tiara kemana ya Meg?" Tanya Afifah kepada Mega.
" Gatau aku Fah, cuma tadi pas Tiara pigi dia cuma pesen jaga kamu fah," ujarnya.
" Yaudah ya Fah, aku mau ke kamar mandi dulu, gapapa ya aku tinggal soalnya udah ke belet banget nih" Ucap Mega ngacir pergi meninggalkan Afifah dan Satria .
Keheningan menghampiri mereka berdua, sedangkan Afifah ingin sekali menanyakan tentang kejadian itu, Apakah Satria berada bersama ketika ia tersesat.
" Eh Fah"Ucapnya memulai pembicaraan
" Ya Sat?,Ada apa "
" Gimana ceritanya Fah kamu kok bisa nyasar sampai ke dalam hutan, Bukannya Kamu biasa selalu berdua sama Tiara?" tanya Satria,Selama kejadian Afifah menghilang Satria tidak berada disana,Itupun dia mendengar dari teman lelakinya yang membicarakan tentang Afifah yang tersesat,bisa di bilang Satria itu orang yang dingin. Saat dirinya mendengar kabar bahwa Afifah menghilang hatinya begitu cemas,tidak tahu kenapa,yang pasti itulah yang dia rasakan.
" Waktu iit-.."
" Fah?"
Belum sempat Afifah menjelaskan Tiara datang ,Namun ia tidak sendiri melainkan bersama Habib, Afifah merasa ada kejanggalan Antara Habib dan Tiara seperti ada sesuatu yang aneh.
Tapi yasudahlah Afifah tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.
" Fah kamu udah bangun, Gimana masih sakitkah?" TanyaTiara khawatir.
" Alhamdulillah udah agak mendingan Ra, kamu abis darimana Ra?"
" Tadi aku jumpai kak Habib Fah, mau minjam Peralatan P3K, "
" Eh Kak Habib" Ucap Afifah menunduk .
" Yaudah ya dek ini P3K nya ,kakak pamit dulu soalnya kakak tadi di panggil Pak Roby."
" Iya kak,sekali lagi makasih banyak ya kak udah ngerepotin"ucap Afifah Tiara bersamaan.
" Kamu lagi Sat ngapai lagi masih disini, Afifah butuh istirahat dan ini dia mau di obati .lebih baik kamu pergi saja" Ucap Tiara datar kepada Satria.
tanpa Banyak cerita Satria pergi meninggalkan mereka ,ada ketidakrelaan dalam dirinya.