Pulang

816 Kata
Masalah diselesaikan begitu saja. Afifah tidak terlalu menyalahkan Kila ataupun Mila tentang hal ini karena ia merasa kalau ia lah yang bersalah atas kejadian ini. Jadi ia takkan menyalahkan siapapun. Afifah yang baik-baik saja dan tidak ada menceritakan hal aneh pun akhirnya membuat yang lainnya lega dan kejadian itu dilupakan begitu saja. Padahal Afifah masih terngiang-ngiang dengan semuanya. "Afifah." Afifah mendongak ketika Kila memanggilnya. "Gue bukan bermaksud baik. Tapi gue emang ngerasa bersalah, jadi gue mau minta maaf," ujarnya ketika orang-orang sedang mempersiapkan barang-barang mereka karena mereka hendak pulang. "Dah itu aja, lo boleh gak maafin terserah aja, yang penting gue udah minta maaf," sambungnya dan pergi begitu saja bahkan Afifah belum menjawab perkataanya. Tapi Afifah tersenyum, ternyata Kila bisa juga meminta maaf kepada orang lain, tapi ia senang, ini tanda kalau Kila sebenarnya bisa baik pada orang lain. Selama ini mungkin Kila terlihat jahat dimata orang lain,Namun Bagi Afifah Kila sebenarnya anak yang baik, mungkin di balik sikapnya yang seperti itu ada sebab yang kita tidak ketahui. *** Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu) bangunkan kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, hanya kerana kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita melupakan semua kebaikan yang pernah dibuatnya. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semua. Padahal menyimpan Amarah kepada orang lain hanya akan membuat diri kita sakit, Hidup akan terasa suram jika kita masih menyimpan amarah,dendam. cobalah berlapang d**a dengan memafaakan,Tidak mudah pasti untuk melakukannya ,hanya orang berjiwa besar yang bisa melakukannya .maka mulailah dari sekarang hidup tanpa membenci. Lain halnya dengan Kila, Mila sama sekali tidak mau meminta maaf pada Afifah. Ia berlagak seolah tidak melakukan kesalahan apapun padahal ia lah yang terakhir kali melihat Afifah. Ia yang melihat Afifah mengejar-kejar kucing itu tapi seolah sengaja tidak memanggilnya. Tapi Afifah tidak mempermasalahkannya karena yang ia pikirkan adalah tentang bagaimana ia kembali berhubungan baik dengan Mila. Ia merasa hidupnya tidak tenang jika ia memiliki musuh satu saja. "Fa," panggil Tiara dari belakang. "Ayo, kamu ngelamun aja nih dari tadi. Kamu udah gak papa, kan? Kalau kamu ngerasain sesuatu, bilang aja, Fa." Afifah menoleh dan tersenyum. "Enggak ada kok, Ra. Makasih ya udah cariin aku kemarin," ujar Afifah yang dijawab anggukan oleh Tiara. "Afifah." Afifah dan Tiara sama-sama menoleh ketika Satria memanggilnya, Seketika Afifah mengingat hal tadi malam namun ia langsung menggeleng dan melupakannya. Orang yang tadi malam itu ... bukanlah Satria. "Afifah dan Tiara. Kalian udah disuruh cepet sama bu guru. Jadi buruan ya," ujar Satria kaku, membuat Tiara mengernyit heran. "Aku kira dia mau cerita sama kamu, Fa," ucap Tiara membuat Afifah tersenyum kecil. "Udah yuk, Ra. Kita pergi sekarang, nanti malah ketinggalan." Tiara mengangguk dan mereka melanjutkan acara berjalannya. Mereka harus turun dari puncak belasan meter jauhnya sebelum akhirnya menemukan beberapa bus dan masuk ke dalam bus masing-masing sesuai dengan ketika mereka berangkat. Entah kenapa, Afifah masih saja keingat yang tadi malam. Sudah ia ingin lupakan, tapi tidak mau hilang begitu saja. *** Ketika kamu berada di atas ketinggian Cobalah lihat ke bawah,disana kamu bakal melihat jika semua benda - benda terlihat mengecil. sebuah Filosofi yang menurut Afifah bisa di jadikan pelajaran untuknya. Sebuah kehidupan yang pernah terjadi selalu ada kisah yang menurut Afifah yang bisa di petik di jadikan perbaikan ke depannya. " Astaghfirullah Ra, !"pekik Afifah " Ada apa Fah?" Tanya Tiara. " Buku Agenda aku ketinggalan di deket batu tadi Ra" ucap Afifah panik. " Yaudah kita kesana aja Fah, biar kita mintak izin Sama Buk Rahma." Dengan izin yang telah di dapatkan Afifah dan Tiara kembali naik ke atas puncak, Cukup jauh mereka harus berjalan beberapa kilo. " Ra kayaknya kamu nunggu disini aja deh,biara aku aja kesana lagian tinggal deket lagi kok jaraknya" Ucap Afifah krpada Tiara,Pasalnya Afifah tidak mau membuat Tiara kelelahan. " Gak Fah aku masih kuat kok, gak mungkin aku ninggali kamu sendiri, "ucap Tiara Tulus. " Udah Ra kamu sini aja,okey !Gak butuh penolakan Ya!"Ucap Afifah Tanpa di bantah, Dengan gerak seribu Afifah berlari ke atas. " hhhh engh... capek juga ya ternyata" Afifah bermonolog. Selesai Afifah dengan urusan buku Agendanya. Afifah kembali ke tempat Tiara. " Makasih ya nak ,sekali lagi kalau butuh bantuan kayak kemarin hubungi saya saja!" Suara siapa itu! Degh bathin Afifah seketika di liputi rasa ketakutan, semenjak kejadian yang dia tersesat ,Afifah merasa sering ketakutan tiba - tiba, mendengar suara yang seperti dari alam bawah sadarnya. " Aaaaaa hikss" Afifah tersungkur ke tanah, Tangannya ia telungkupkan fikiran - fikiran itu datang kembali bercokol di memori otaknya. " Afifahhhhhh...." suara Tiara datang bersimpuh memeluk membawa Afifah ke dalam dekapannya. " Kamu kenapa Fah kok menangis,Apa yang terjadi?" Dengan segera Afifah menghapus air matanya." Aku gak papa Ra,Aku hanya kefikiran aja sama yang kemarin" dengan wajah getir. " Fah lupai kejadian itu, aku gamau kamu banyak fikiran,ujung - ujung nanti kamu jatuh sakit."Ucap Tiara prihatin. " Makasih ya Ra kamu udah peduliin aku," Afifah memeluk Tiara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN