Jadi Kembali?

1521 Kata
Afifah sedang berada di kelas, duduk di kursinya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Ia tampak begitu serius membaca sesuatu hingga disoraki teman sekelas, bukan sorakan mencemooh, melainkan sorakan lucu karena Afifah seharusnya tidak seserius itu dalam membaca sesuatu. Tapi Afifah hanya tersenyum melihat teman-temannya, ia senang dirinya mampu membuat orang lain tertawa tapi jangan sampai ia bertingkah konyol juga, itu terlalu merendahkan harga diri namanya. Merasa harus kembali ke dalam buku yang ia baca, Afifah pun menunduk dan melalnjutkan bacaannya. *** "Tau ga Fa. Al-Qur'an dan hadis adalah dua pedoman hidup yang ditinggalkan oleh Rasulullah bagi umat muslim agar lebih mudah dalam menjalani hidup di dunia." Afifah mengangguk. "Tau. Rasulullah juga telah menjamin bagi umat Islam yang menjalani hidup dengan berpegang kepada Al-Qur'an dan hadis, maka surga akan menjadi balasannya. Memang tak selamanya kamu akan menjalani hidup dengan mulus, ada kalanya terjatuh karena kerikil kecil kehidupan yang menyandung langkahmu. Namun, kamu harus segera bangkit dan tidak menyerah. Tetap berada di jalan Allah juga merupakan pilihan terbaik dalam menjalaninya." "Aku pernah baca, Ada beberapa kata-kata mutiara Islam dari hadis nabi yang menyejukkan hati banget. Kamu mau denger nggak?" "Boleh Fa hehe." "Oke Ra. Pertama, Dunia dan segala isinya adalah terkutuk kecuali zikir dan taat kepada Allah serta orang berilmu dan orang yang belajar. Kedua, Tidaklah termasuk golongan kami, orang yang memukul-mukul pipinya dan mencabik-cabik bajunya ketika tertimpa musibah, serta berseru dengan seruan jahiliyah." "Kayaknya aku tau yang ketiga deh. Barangsiapa datang kepada tukang ramal kemudian menanyakan sesuatu dan dia memercayainya, maka tidak diterima salatnya selama empat puluh hari. Empat. Barangsiapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isi kandungannya, maka kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang sinarnya lebih terang daripada cahaya matahari jika sekiranya matahari itu berada di rumah-rumah kamu di dunia ini. Bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya sendiri?" Afifah tertawa. "Kayaknya kita sama sama tau ya, Ra. Yang kelima. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya dia pasti melihatmu. Tidaklah suatu kegalauan, kesedihan, kebimbangan, kekalutan yang menimpa seorang mukmin atau bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan karenanya Allah akan menggugurkan dosa-dosanya. Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan.Pupuslah keputusasaan karena apa yang ada pada diri orang lain.Semua amal anak adam dilipatgandakan 10 kali lipat hingga 700 kali atau sesuai yang Allah kehendaki." "Aku yang lanjut dong. Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan. Usaplah kepala anak yatim dan beri makan orang miskin.. Celaka bagi orang yang membaca ayat-ayat Allah, tetapi tidak memikirkannya. Ya Allah, mudahkanlah bagiku sakaratul maut. Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya keadaan sekarat pasti menyertai maut.Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sedekah.Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat; buang air besar di sumber air, di tengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh.Tiap-tiap manfaat yang diberikan kepada hewan hidup, Tuhan memberikan pahala." "Banyak juga ya, Ra, artinya juga bagus-bagus banget." "Terus, barang siapa menanam pepohonan dan menjaganya dengan sabar serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa buahnya menjadi sedekah di sisi Allah.Allah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaranBarang siapa yang mempunyai kebun bersama tetangga atau bermitra, maka tidak boleh menjualnya hingga bermusyawarah dengannya.Apabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia berwudu dengan air karena marah adalah bara api.Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah memiliki kemampuan hendaknya segera menikah, hal itu akan lebih menjaga pandanganmu dan kemaluanmu. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya dia melakukan puasa, sesungguhnya puasa adalah benteng diri. "Aku pernah baca nih Ra. Lanjutannya itu. Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat, meskipun dia berada di pihak yang benar. Sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meski dia sedang bercanda. Dan istana di bagian atas bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya. Janganlah marah, maka bagimu surga. Barang siapa menahan amarah, padahal dia mampu melakukannya, pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia sukai.Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan baginya jaminan masuk surga Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Aku berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari jauh dengan-Mu." "Oke ini gantian aku terakhir ya haha, kita rebutan banget nih. Demi Allah, apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang karena ajaranmu, maka itu bagimu lebih baik daripada kekayaan ternak yang merah-merah. Sesungguhnya syafa'atku diperuntukkan bagi umat-Ku yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya itu menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang luhur." *** "Fa." "Afifah!" "Eh iya?" Afifah terkejut dan refleks melepas kacamatanya. Ia menoleh pada Tiara yang terlihat lesu. "Kenapa kamu? Udah ketemu sama mamanya Mila?" Tiara mengangguk dalam diam. "Ternyata ada alasan kenapa Mila begini, Fa. Nanti aku ceritain ke kamu di kos ya. Intinya Mila itu menderita, kata mamanya Mila juga udah mulai berubah. Gimana menurut kamu, Fa?" "Gimana apanya? Ya bagus dong, Ra. Kita berteman lagi ke dia," balas Afifah antusias. "Kenapa? Kamu mikirin tentang kamu yang marah-marah ke Mila ya? Gak papa dia pasti maafin. Yakin deh." Tiara menghela nafas panjang. "Iya sih. Kamu maafin dia, Fa?" "Kalau kamu maafin dia?" Afifah memiringkan kepalanya. "Kamu aja maafin, apalagi aku, Fa. Malah aku yang punya salah ke dia," tawa Tiara pelan. "Yauda berarti besok Mila udah masuk dong ya?" Afifah kembali antusias. "Yey kalau gitu besok kita langsung sama aja lagi sama dia." "Fa, kamu gak takut dia bakal berulah lagi?" Tiara tersenyum segan. "Kalau dia gitu lagi, aku gak tolerir, Fa. Aku gak mau punya temen toxic jujur aja." Afifah terdiam, iya dia memang pernah berpikir hal yang sama, tapi ... "Enggak papa, Ra. Kita coba aja dulu ya, kita gak tau dia bakal gimana. Kita lihat aja nanti, okey?" Tiara mengangguk sembari tersenyum. Jadi mereka kembali lagi, ya? Baiklah, Tiara akan coba. Tapi sesuai dengan perkataannya, jika Mila kembali berulah, maka tidak ada kesempatan kedua. Menurut Tiara, lebih baik memiliki teman sedikit tapi semuanya bermoral dan berwawasan luas ketimbang banyak tapi isinya toxic semua dan tidak ada hal bermanfaat yang di dapat. "Ra, ada satu kisah tentang keutamaan orang yang tidak hasad atau dendam. Kamu mau denger nggak? Atau kamu udah tau sebelumnya?" Tiara menggeleng. "Kayaknya aku belum tau, Fa. Kamu bisa cerita kalau kamu mau." “Oke aku mulai ya. Jadi, kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi atau hari yang ketiga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Ketika Nabi berdiri pergi, maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, 'aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?' maka orang tersebut menjawab, 'Silakan'." “Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.’ Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apa yang membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, 'Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’ Abdullah bertutur, ‘Ketika aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau dan inilah yang tidak kami mampui.” Afifah menyelesaikan ucapannya, ia tersenyum pada Tiara. "Jadi gitu, Ra. Kita nggak boleh dendam atau hasad ke orang lain." Tiara mengangguk menyetujui ucapan itu. "Iya, Fa. Mungkina da baiknya kita maafin Mila aja. Itu mungkin yang terbaik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN