Sebuah Perubahan

1632 Kata
Afifah dan Tiara sedang duduk bersama ketika tiba tiba Tiara berceletuk. " Fa, Allah bilang wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Gunjing itu dosa ya kan, Ra." "Hm gunjing itu dosa. Emang bener Fa." "Tapi sayangnya sekarang ini masih banyak orang yang gunjing orang lain ya, Ra." Afifah tersenyum miris, ia merasa kasihan dengan orang-orang itu. "Iya Fa. Sedih emang. Tapi mau gimana lagi, kita nggak tau siapa siapa aja orangnya." “Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” "Berarti kita harus selalu berparsagka baik ke Allah. Nggak boleh berperasangka jahat atau buurk. Tapi emang apa yang mau diperasangkakan buruk ya kan, Fa? Lah Allah udah begitu baik ke kita." Afifah mengangguk setuju. “Allah bilang, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalua dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalua dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” Tiara tersenyum. "Allah baik banget, kan, ya." “Heem emang, Ra. Aku juga pernah baca, sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan. Jadi kita harus selalu berprasangka baik sama Allah." "Wah aku pernah baca yang itu, Fa. Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah. Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah.” "Prasangka buruk emang mesti dijauhi, Ra. Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” Tiara bertopang dagu. "Husnuzon aja di setiap kesempatan, pasti buat kita lebih tentram.Trus prasangka itu ada dua, yaitu prasangka yang mengandung dosa dan prasangka yang tidak mengandung dosa. Yang mengandung dosa adalah seorang yang berprasangka buruk lalu ia membicarakannya. Sedangkan yang tidak mengandung dosa adalah seorang yang berprasangka, namun ia tidak membicarakannya.” "Em gitu berarti kalau aku berprasangka sama seseorang, tapi aku nggak bicarain dia, nggak dosa dong, Ra?" tanya Afifah penasaran. "Soalnya jujur aja aku pernah gitu dulu hehe." "Enggak, Fa. Kecuali kalau kamu bicarain ke orang-orang." Afifah mengelus dadanya, lega mendengarnya. "Alhamdulillah kalau gitu." *** Pagi ini, Tiara tampak gelisah, tidak seperti biasanya. Afifah hanya tersenyum kecil dengan tangan memegang tas ranselnya. Ia tahu kenapa Tiara seperti ini. Apalagi jika bukan karena mereka akan bertemu dengan Mila nanti. "Ra, ayolah, kamu harus husnudzon okey? Pasti Mila udah bener-bener berubah, kita harus yakin." Afifah mengepalkan sebelah tangannya, seolah begitu yakin dengan ucapannya. "Iya sih, Fa. Yauda deh bismillah aja. Moga beneran berubah ya." Mereka kemudian melanjutkan langkah menuju sekolah. Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di pintu gerbang, tapi seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mila sedang berdiri di sana membuat mereka berhenti melangkah dan saling lirik satu sama lain. "Fa?" Afifah entah kenapa juga khawatir, tapi kalau Tiara khawatir dan ia pun juga begitu, maka masalahnya tidak akan selesai-selesai. "Ayo kita samperin dia." Tapi kekhawatiran mereka mungkin beneran hanyalah bayangan ketakutan saja, sia-sia saja karena baru dua langkah mereka berjalan. Mila yang tahu ada mereka, langsung menghampiri keduanya dengan senyum cerah dan lambaian tangan. "Assalamu'alaikum, Fa, Ra." Ia tidak hanya berpatok ke Tiara lagi, tapi juga ke Afifah. "Maafin aku ya udah banyak banget salah ke kalian, terutama kamu Afifah." Afifah tersenyum dan melirik ke Tiara seolah berkata 'tuhkan apa aku bilang, kita harus husnudzon!' dan Tiara hanya memutar bola mata kesal karenanya. "Iya, Mil. Santai aja. Udah lupa juga. Sekarang kita masuk aja yuk. Udah mau bel," ajak Afifah yang diangguki Tiara. Benar, mungkin seperti ini lebih baik, berhusnuzdon karena siapapun tidak tahu apa yang akan terjadi satu jam kemudian, esok hari atau bahkan esok tahun. Untuk sekarang, biarlah mereka bertiga tidak ada mengungkit hal apapun yang sebelumnya pernah terjadi dan merusak pertemanan mereka. *** "Fa kamu tau Manfaat Husnudzon apa aja?" "Tau. tapi cuma sebagian Fa, kamu tau seluurhnya? Coba kamu sebutin, siapa tau bisa nempel ke kepala aku." Afifah mencoba pengetahuannya. "Pertama Mendorong manusia untuk selalu makin mendekatkan diri kepada Allah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan mempunyai kebijaksanaan, keadilan serta kasih sayang kepada makhluk-Nya. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia, dimana Allah adalah pemilik dan penetapan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dan tentunya dapat berjalan sesuai dengan aturan dan hukum Allah . Dengan bersikap husnuzan akan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketenteraman dalam hidup sebab meyakinkan apapun yang terjadi adalah semata-mata kehendak Allah. Sikap husnuzan juga mendorong manusia untuk selalu berusaha dan beramal secara bersungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah. Menanamkan sikap tawakal pada diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan untuk hasilnya langsung diserahkan kepada Allah sebagai dzat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia." "Em aku udah tau itu , Fa. Mau aku tambahin dikit lagi? Aku tau dikit dikit lagi nih." "Boleh banget, Fa!" "Oke jadi selanjutnya. Manfaat dari berhusnuzan yang pertama akan membuat kita sebagai umat muslim disayang oleh Allah karena menerapkan ajaranNya dengan benar. Hubungan persahabatan dan persaudaraan antara sesama muslim akan lebih baik karena kebiasaan berbaik sangka akan menghindari keretakan hubungan. Keharmonisan hubungan antara sesama muslim akan semakin nampak karena tidak ada berbagai kendala psikologis yang menghambatnya. Menghindarkan rasa penyesalan karena sudah berburuk sangka terhadap sesama yang membuat seseorang menimpakan keburukan kepada oranglain tanpa adanya bukti yang dapat bertanggung jawab. Dengan manfaat husnuzan maka kita juga akan terhindar dari rasa iri hati karena turut menghargai kemajuan yang didapatkan oleh orang lain, walaupun diri kita belum mengalaminya. Membuat jiwa semakin tenang karena terhindar dari keresahan dan hati yang gelap karena dipenuhi dengan prasangka buruk terhadap orang lain." "Oke deh Ra, makasih ya, ilmu aku jadi bertambah lagi. Ini semua berkat kamu sebenarnya." "Engga kok Fa, kita- sama -sama belajar di sini." "Kalau gitu aku mau sebutin arti husnudzon, kalau ada yang kurang bilang ke aku ya, Ra." Tiara terkekeh dan mengacungkan ibu jarinya. "Siap." "Husnudzon adalah salah satu sikap terpuji yang harus dimiliki umat Muslim. Husnudzon berasal dari bahasa Arab “husnu” yang memiliki arti baik, sementara az-zan berarti prasangka. Dari kedua kata tersebut, Husnudzon memiliki arti berprasangka baik. Secara istilah, Husnudzon adalah sikap dan cara pandang yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu secara positif atau mampu melihat dari sisi positif. Setiap Muslim dianjurkan untuk mengedepankan sikap Husnudzon dalam menghadapi sesuatu yang datang kepadanya. Namun, Islam juga menekankan untuk tetap bersikap hati-hati dalam menghadapi sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Sikap positif yang melandasi pandangan seseorang, tidak boleh mengabaikan sikap hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan. Husnudzon akan mengantarkan hidup seseorang ke dalam kehidupan yang lebih indah, bermakna, dan damai. Sebaliknya, seseorang yang pikirannya senantiasa diselimuti sikap Suudzon, akan memandang sesuatu dengan kejelekan yang membuat hidupnya tidak akan tenang." "Bener nggak,Ra?" tanya Afifah takut-takut. Tapi kemudian ia bernafas lega ketika Tiaara mengangguk padanya dan senyum manis. "Aku mau tambain beberapa lagi Ra. dan apa yang kamu bilang tadi udah bener banget kok." ujar Tiara. " Jadi, Husnudzon kepada Allah terbagi menjadi beberapa bentuk. Husnudzon dalam ketataan kepada Allah. Husnudzon dalam ketaatan kepada Allah harus menjadi hal utama yang tertanam pada perasaan dan pikiran manusia. Meskipun hati manusia belum bisa merasakan kebenaran peraturan atau ketetapan Allah, dan pikiran manusia terkadang melihat ada hal lain yang lebih baik menurut pendapat manusia, sebagai Muslim yang baik tidak ada sikap yang akan diambil selain sami’na waata’na, yang artinya 'Kami dengar perintah-Mu ya Allah, dan kami taat'. Apa pun yang diturunkan Allah kepada manusia pasti merupakan aturan yang terbaik untuk dijalaninya. Pasti ada hikmah besar di balik semua aturan yang Allah turunkan untuk manusia. Meskipun keterbatasan pikiran dan perasaan manusia belum bisa melihatnya." "Terus, husnudzon dalam nikmat Allah. Allah akan memberikan nikmat kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Nikmat dapat berupa harta, kesehatan, kesempatan, dan masih banyak lagi. Allah memberikan nikmat kepada manusia dengan maksud dan tujuan tertentu. Husnudzon kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan, dapat diwujudkan dengan memperbanyak syukur dan merenungkan apa sebenarnya maksud Allah memberikan nikmat tersebut kepada manusia. Wajib banget emang kita lakuin, Ra." "Selanjutnya. Husnudzon dalam Menghadapi Ujian dari Allah. Dalam keadaan tertimpa ujian dan musibah, manusia harus semakin mempertebal rasa Husnudzon kepada Allah . Apapun yang dialami dalam kehidupan manusia, pasti memiliki hikmah yang besar di masa mendatang. Ada kalanya manusia merasa tidak nyaman dan tidak terima dengan suatu keadaan, padahal sebenarnya menurut Allah ujian tersebut baik untuk manusia yang mengalaminya. Oleh karena itu, saat ujian datang, bersabarlah dan berbaik sangkalah kepada Allah." Tiara mengangguk sebagai respon. "Kalau itu, emang harusnya begitu, Fa. Dibalik cobaan yang Allah kasih, pasti ada hikmah di dalamnya." "Aku setuju sama kamu, Ra. Ini yang terakhir . Husnudzon dalam melihat ciptaan Allah. Setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT pasti memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan di bumi ini. Husnudzon kepada Allah dalam hal ini ditunjukan dengan meyakini bahwa tidak ada satu pun yang menjadi sia-sia dalam ciptaan Allah. Dengan menanamkan sikap ini, manusia akan lebih memerhatikan keadaan lingkungan sekitarnya dengan penuh penghormatan kepada Sang Pencipta." "Masya Allah banget ya Ra." Tiara bertepuk tangan sebentar saking sukanya. "Penting banget jadi reminder kalau kita harus berprasangk abaik ke setiap hal." "Banget, Fa." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN