Ada hal yang mungkin tidak semua orang tahu dari yang mereka lihat, Semua yang kau tunjukkan itu palsu , Senyuman , diam hanya menutupi kebohonganmu, sudah berapa kalikah kau bersikap seperti itu demi menutupi dan mengatakan kalau kau baik – baik saja. Dan terkadang kau lelah dengan semuanya ,ingin mengakhiri semua kepalsuan ini. Tapi apalah hanya hatimu yang berontak tapi fisikmu tidak bisa berbuat apa – apa. Miris Bukan? .
****
Di sebuah kamar seorang gadis berjalan kesana kemari sembari menggigit kuku jemarinya, Mata sembab dan hidung memerah . Menahan ketakutan untuk sesuatu yang ingin ia katakan. Perkataan yang mungkin akan mengembalikannya pada posisi sebelumnya atau bahkan lebih parah dari ini, lebih dari itu kondisi ia sekarang jauh berbeda dan sedikit ada perubahan yang membaik. Namun sikap egoisnya merusak segalanya, Sejujurnya ia benar – benar menemukan seorang yang bisa di katakan sebagai sahabat , Tapi dirinya begitu egois , Tak mau jika berbagi merasa jika tersaingi. Padahal itu semua prasangka Implisit, tidak benar hanya dirinya begitu overthinking.
Dengan keberanian yang telah di kumpul , Mila keluar kamar untuk menemui Bundanya.
Mila mencari – cari keberadaan Bundanya di sudut ruangan , namun tidak ia temukan. Berujung pada Halaman belakang di situlah Bundanya berada ,.
“ Eh sayang , kemari nak” ujar Bunda yang menyadari Keberadaan putrinya.
Mila menghampiri Bundanya ,duduk di samping Bundanya, menunduk dan meremas Ujung bajunya.
“ Ada apa sayang?, seperti ada yang ingin kamu bicarakan, bicaralah nak” ujarnya yang mengetahui kegelisahan putrinya.
“ Emmm Bun! ”ujarnya pelan ,menunduk dalam.
“ Mila mau pindah sekolah Bun”
“ Apa sayang?, sudah Bunda duga”
Bukan hal biasa dan bukan pertama kali putrinya mengatakan seperti itu, jadi ia tak terlalu terkejut, Kali apa yang mendasari putrinya sehingga putrinya ada niatan ingin pindah sekolah lagi, Bukankah terkahir kalinya ia melihat putrinya telah akrab dengan sosok teman baru di kelasnya. Tiara seingatnya nama itu.
“ Iya Bun, Mila mau pindah aja lagi, “ ujarnya sedih.
Bunda yang mengetahui kesedihan putrinya ikut merasakan sakit jika sang putrinya sedih maka hatinya ikut tergores, Belahan jiwa yang telah ia kandung dan begitu banyak tahu tabiat putrinya, Itulah sosok seorang ibu mempunyai ikatan bathin yang tak dapat di pisahkan, Bisa saja mulut berdusta namun insting seorang ibu tidak bisa di bohongi, itulah kehebatan seorang ibu.
Posisi ibu memang posisi yang paling mulia. Bahkan anak diwajibkan lebih dulu hormat kepada ibu sebelum kepada ayahnya. Pernah seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata : wahai Rasulullah, kepada siapakan aku harus berbakti pertama kali? Nabi menjawab, ‘Ibumu’. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi menjawab ‘Ibumu’.
Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘ Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab ‘Kemudian ayahmu’
Jadi, kita harus mencintai dan menyayangi ibu tiga kali lipat lebih besar dibandingkan seorang ayah. Karena, keutamaan mengandung, melahirkan, dan menyusui hanya dimiliki oleh ibu dan tak bisa digantikan oleh ayah. Jika diibaratkan, surga berada di telapak kaki ibu. Sudah sepantasnya kita semua untuk selalu hormat dan berbakti kepada ibu karena sesungguhnya ibu adalah alasan mengapa kita bisa berada di dunia ini sehingga sepatutnya kita hormat kepadanya. Betapa tingginya kedudukan seorang ibu di hadapan Allah sehingga kita diwajibkan berbuat baik kepada ibu dalam tiga kali wasiat dari Allah. Doa ibu sejati kepada anaknya tidak akan pernah putus. Seorang ibu sejati akan setia mendoakan anaknya, dengan perbuatan dan akhlak yang baik membuat seorang ibu bangga terhadap anaknya. Sehingga sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada ibu dan ayahnya.
Maka sudah sangat jelas tentang kemuliaan seorang Ibu begitu banyak yang membahas tentang kemulian dan menjaga seorang ibu, Kasih Ibu terhadap anaknya sepanjang jalan tak terbatas oleh masa, kewajiban kita sebagai anak adalah menyayangi dan menghormati serta merawatnya ketika rentah dan sakit – sakitan, Bukankah tangannya yang telah keriput dan mengecil tak berdaya untuk bisa melakukan beban berat, Tangannya yang dulu menimang, menyuapi ,membersihkan kotaran kita, dan banyak lagi kebaikan atas kedua tangan yang telah di lakukan ibu. Maka mulai dari sekarang kita untuk lebih menyayangi ibu kita, jangan sampai menyesal di kemudian hari setelah dia meninggalkanmu untuk selama – lamanya.
******
Setelah atas apa yang di utarakan oleh Mila tentang keinginannya yang ingin keluar dari sekolah. Tentu Bundanya kali ini menolak mentah – mentah, dengan ujaran ini sekolah terakhir dan tidak ada lagi namanya pindah – pindah sekolah . Bundanya berucap jika ada semua masalah jangan di hindari dan mencari pelarian, tapi selesaikanlah semua dengan kepala dingin, bukan emosi sesaat yang berkuasa. Tapi Mila harus bagaimana ia sudah benar – benar malu kepada teman – teman sekolah dan terutama Tiara, dia sendiri yag mengatakan akan pindah sekolah.
“ Aaaarghhh” Teriaknya, menyembunyikan wajahnya pada lipatan kakinya. Memukul kepalanya, begitu tertekannya dirinya atas kejadian siang tadi, Bukan salah Tiara ataupun Afifah , tapi dirinya lah yang perlu di salahkan karena ke egoisannya merusak kenyamanan yang baru saja tercipta. Hingga alam mimpi menjeputnya, menidurkannya dan menghilangkan bebannya saat ini.
Mila begitu frustasi dan frustasi tidak mungkin mengubah apapun. Rasa frustasi tidak akan mendorong orang untuk berbuat, menggerakkan orang yang diam, ataupun membangkitkan keinginan. Frustasi itu hanya akan membuatnya menunggu akhir yang menyedihkan: ia tidak akan berbuat apapun; tidak akan berpikir, berusaha mensiasati, dan hanya akan terus menunggu kematian dan kesudahan. Frustasi akan mengendurkan orang-orang di sekitarnya dan tidak menghentikan bahaya atas dirinya. Mila tahu itu tapi ia masih tidakk sanggup untuk menghilangkan kefrustasiannya.
Bunda tiba-tiba masuk ke dalam kamar, dan itu mengejutkan Mila. Ia buru-buru mengusap air matanya dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nangis kamu?"
Mila menggeleng. "Enggak, Bun," jawabnya yang jelas sekali berbohong, bahkan Bunda tahu kalau ia berbohong, jejak air matanya itu berkata yang sebenarnya.
Bunda kemudian mendekat dan duduk di pinggir ranjang. "Bunda nggak ijinin, karena kamu udah keseringan pindah, Mil. Coba kamu hadapi aja dulu ya. Jangan langsung nyerah."
"Tapi Mila frustasi , Bun. Mila nggak bisa." Air mata Mila mengalir kembali, ia merasa ia tidak akan bisa melalui semuanya.
"Jangan frustasi gitu lah. Frustasi itu akan melahirkan pola pikir memahami berbagai peristiwa secara keliru yang akan berdampak pada pola jiwa seseorang yang punya rasa frustasi itu. Frustasi biasanya ngedorong seseorang membayangkan suatu bahaya yang pada dasarnya belum tentu akan terjadi; menganggap mimpi sebagai realitas yang terindera. Ini terkait apa yang belum terjadi. Adapun terhadap peristiwa yang terjadi, frustasi akan membuat pengidapnya tidak lagi memandang peristiwa sebagaimana adanya," ujar Bunda panjang lebar, mengingatkan atau memberitahu Mila kalau frustasi itu tidak baik.
"Kamu paham kan, Mil?"
Mila diam tidak menjawab ucapn Bunda.
"Frustasi akan membuat seseorang selalu melihat pada aspek negatif dan membesar-besarkannya. Orang-orang frustasi itu selamanya akan memandang sisi gelap ini dan menyebarkannya. Sebaliknya, mereka akan menyurutkan aspek positif sekaligus meremehkan dan mengecilkan artinya. Kayak kamu ini."
Mila mengerucutkan bibirnya. "Bunda sebenernya lagi dukung atau lagi ngejek aku sih?"
"Bunda cuma ingetin, abisnya kamu sering banget frustasi. Kungkungan frustasi pada akhirnya hanya akan melahirkan orang-orang yang diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Mereka ini tidak mungkin mengubah apapun. Akibatnya, perubahan total yang kita inginkan dan kita tunggu akan terus tertunda. Kan sama persis sama kamu."
"Terus cara keluar dari rasa ini gimana, Bun? Mila nggak tau caranya gimana, Mila selalu ngerasain hal yang sama setaiap Mila punya masalah, rasanya mau nyerah aja." Mila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu harus memahami bahwa frustasi itu tercela secara syar‘i maupun menurut akal sehat kita. Menurut akal sehat, bagaimanapun buruknya realitas yang ada, suatu aktivitas perubahan pastilah meninggalkan pengaruh. Secara syar‘i, frustasi tidak dinyatakan di dalam nash syariat kecuali dalam posisi tercela; apalagi jika frustasi itu sampai pada tingkat berputus asa dari rahmat Allah, itu termasuk sifat orang kafir. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. Satu hal penting, kita harus memahami bahwa frustasi tidak mungkin mendorong kemajuan. Kita memang harus memahami betapa buruknya realitas kita saat ini, baik realita individu atau realita umat; juga memahami seberapa jauh tantangan yang akan kita hadapi, seberapa jauh bahayanya, dan seberapa jauh penyimpangan yang menimpa umat. Akan tetapi, pemahaman itu tidak boleh melampaui batasnya, karena hal itu tidak mungkin mendorong kita untuk berbuat, malah justru akan membuat kita diam saja dan menyerah. Kamu paham, Mil? Buruk kan frustasi itu?"
Mila merapatkan tubuhnya ke Bundanya. Ia menagngguk perlahan, hanya aggukan dan ia tidak tahu pasti anggukan itu sebagai iya ia paham atau sebaliknya.
"Terus, simbang dalam kritik. Kritik itu harus bersifat obyektif dan seimbang. Ketika kita menyampaikan kritik dan melewati batasnya, maka hal itu akan mengantarkan pada frustasi."
Mila diam saja tidak menyahut, terdengar mudah tapi sebenarnya menghilangkan rasa frustasi di dalam dirinya tidak semudah itu. Ia harus berjuang lagi untuk menghilangkannya.
"Sekarang masih frustasi?"
"Iya, Bun. Nggak mungkin bisa secepet itu ilangnya," rengek Mila.
"Coba kamu lakuin ini. Nenangkan diri. Karena itu cara paling ampuh yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi rasa frustasi. kamu coba menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Bunda rasa cara ini bisa bantu kamu untuk lebih tenang dan membuat tubuh lebih rileks." Bunda memberi aba-aba dan Mila mengikutinya.
"Nggak ilang juga pun, Bun," keluh Mila. Rasanya frutasinya akan benar-benar hilang kalau masalah awalnya juga hilang.
"Cara lain deh ya. coba kamu berbicara lantang dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. kalau perlu, rekam perasaan kecewa, sedih, dan frustasi yang kamu alami, sampaikan hal-hal positif yang perlu kamu lakukan untuk mengatasinya. Cara ini kayaknya bisa bantu kamu mendengar perasaan kamu sekaligus memberikan keyakinan bahwa kamu bisa melaluinya." Bunda terlihat semangat, sedangkan Mila terlihat begitu lemah, ingin menyerah.
"Atau kamu cari bener-bener apa yan buat kamu frustasi. Mencari tahu penyebab frustasi dan menemukan solusinya merupakan cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi rasa frustasi kamu, Mil. Selain itu, kamu juga bisa membuat daftar segala sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, kemudian tentukan mana yang bisa diperbaiki atau diubah. Catat pula pilihan solusi untuk memperbaikinya. Oke?"
"Mila tambah stress yang ada, Bun."
"Berusahalah untuk mengalihkan pikiran ke hal-hal yang positif dan jangan fokus pada hal-hal yang membuat kamu sedih, kecewa, dan frustasi. Pikirkan apa yang dapat kamu lakukan untuk memperbaiki kegagalan yang membuat kamu frustasi, kemudian lakukan hal-hal yang bisa membuat kamu bangkit kembali. Jangan langsung bilang stress, oke?"
Mila tidak bisa menjawab. Ia tidak bisa mengatakan iya di mana ia sendiri tidak yakin ia bisa mengubah rasa frustasi di dalam dirinya atau tidak.
"Ketika frustrasi, kamu mungkin hanya ingin berdiam diri di kamar meratapi kesedihan. Padahal jika kamu terjebak dalam suasana hati yang buruk karena suatu hal yang membuat kamu frustrasi, maka kamu harus menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal lain. Lakukanlah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk mengalihkan rasa frustasi, sehingga akan menjauhkan kamdaridari pemicu utama permasalahan yang dihadapi. Kamu bisa melewati kemarahan, emosi, kecewa, dan perasaan lainnya dengan mudah. Jadi, kamu sibukkan aja diri kamu sama apapun."
"Tapi semua udah dikerjain. Mila nggak tau mau ngapain lagi, Bun."
"Kalau gitu lakuin hal-hal yang menyenangkan. Kamu bisa nonton film komedi, membaca buku, berendam air hangat, atau pergi bersama teman untuk membantu perasaan kamu kembali tenang dan merasa lebih bahagia. Atau, melakukan hobi yang kamu miliki juga efektif dalam membantu menghilangkan frustrasi. Kalau merasa tak ada seorang pun yang dapat kamu percaya untuk berbagi cerita, dan frustrasi yang kamu alami semakin parah ... gimana kalau segera menemui psikolog? psikolog bakal membantu kamu mengatasi frustrasi yang dialami dengan memberi pengarahan yang tepat, terutama melalui konsultasi dan psikoterapi. Nanti di sesi konsultasi psikologi, kamu akan diminta untuk menggali lebih dalam penyebab frustasi yang dihadapi. Gimana? Mau ke psikolog nih?'
Mila menutup wajahnya dengan bantal dan menggeleng. Ia kemudian mendongak lagi menatap Bundanya. "Enggak, Bun. Mila bakalan sibukkan diri aja deh. Nonton film."
"Yauda bagus kalau gitu. Jangan sampai kamu Bunda bawa ke psikolog lho ya." Bunda bangkit berdiri.
"Iya Bun, Bunda sekarang keluar aja ya. Mila mau nyibukkin diri, mau nonton film."
Bunda mengangguk dan memberi satu jempolnya pada Mila. "Bagus, yauda Bunda keluar dulu."
***