"Kak." Damar mengalihkan perhatiannya ke pintu ruang kerja yang dibuka. Sosok Raka menyembulkan setengah badannya ke pintu lalu menyengir lebar. Damar menyandarkan punggung ke sandaran kursi lantas bersedekap. Ia menatap Raka membuka pintu lebih lebar dan menghampiri meja kerjanya. "Tutup pintunya." Damar memerintah sang adik. Dagunya bergerak, menunjuk ke pintu yang dibiarkan terbuka begitu saja oleh Raka. "Iya, iya." Raka memutar badan dan menggerutu. "Apa lagi? Kalau kamu ke sini cuma mau ngerayu buat dapet informasi soal p*********n lima tahun lalu, nggak ada, mending kamu balik ke kamar dan tidur!" Raka mencebikkan bibir. Kakaknya selalu saja berburuk sangka kepadanya. Seakan Raka tidak pernah tidak membuat keributan di mana pun. Iya, sih, kemarin ia mengaku salah kepada k

