Rasanya muak dengan keadaan

1175 Kata
Tulip berjalan menghampiri suaminya yang sedang sibuk dengan game di gadgetnya, sudah setahun ini suaminya bekerja menjadi driver taxi sejak suaminya itu diberhentikan paksa dari perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya.. setelah kurang lebih delapan bulan menganggur akhirnya ia diterima menjadi driver taxi, pendapatan perhari nya sangat gambling dan tidak bisa di prediksi, malah acap kali pulang tidak membawa hasil.. "hhhfff.." Tulip menghela nafas.. ia sudah sangat kesal dengan perilaku suaminya yang bisa-bisa nya main game dan ngepal-ngepul asap rokok diwaktu senggangnya, hari ini suaminya libur dan seperti biasa, kebiasaannya hanya main game, scrolling t****k atau youtube, rebahan dikamar kalau tidak, ia pindah ke halaman belakang sambil ngepal-ngepul asap rokok di belakang rumah. "Jadinya bagaimana ini, bantu dong bayar pinjolnya.. kamu koq masih bisa-bisanya ngerokok setiap hari satu bungkus, padahal ngasih uang belanjaan juga ga..!! kalaupun kamu kasih uang belanja 20rb sampai 40rb, tapi kamu minta dibeliin bensinlah, data internetlah.. trus token listrik, tagihan air pam, sampah, iuran rt dan lain-lain aku semua yang bayar.. dari mana uang nya..?? ya dari pinjol-pinjol ituu...!!!!!" geram Tulip matanya berkaca-kaca, karena rasa amarah yang sedikit ditahannya, ingin rasanya ia berteriak dan membanting semua yang ada dihadapannya, tapi ia tahu hal itu akan menambah rasa malu yang ia terima, karena tetangga kanan dan kiri rumahnya pasti akan mendengar, ia tidak mau permasalahan dapur rumah tangganya menjadi konsumsi publik. "Ya sabar.. mau bagaimana lagi, aku juga mikirin koq, tapi ya gak ada uang nya, mau cari dimana lagi.. apa aku harus ngerampok..?" Sahut suaminya Tulip acuh tak acuh, mata nya tetap tertuju ke layar ponsel begitu juga tangannya yg sibuk entah mengetik apa. Suaminya Tulip memang selalu seperti itu, tak jarang Tulip gerah dan merasa tidak dihargai oleh suaminya.. dan akhirnya itu menjadi akar pertengkaran rumah tangga mereka.. Tulip sendiri adalah orang yang tampak ceria diluar tapi sebenarnya ia sangat pemikir, dan gak enakan, tak jarang ia tidak bisa meluapkan isi hatinya, keresahannya.. Tulip hanya bisa menceritakan persoalan hidupnya dengan orang terdekat, yaitu kepada salah satu kakaknya, Wati. "Kamu bisa -bisanya ngomong gitu?? karena kamu egois, mereka ancam sebar data aku tahu..!!" kini air mata Tulip sudah tidak bisa ia bendung lagi, ia merasa benci sekali dengan sosok yang ada di depannya saat ini.. "Aku emang bodoh, seharusnya waktu itu aku gak usah pake memulai untuk pinjol apalagi pake data aku.. harusnya aku tahu, kamu gak akan pernah dapat dipegang omongannya, katanya kamu bakalan sanggup bawa uang minimal seratus ribu sehari.. tapi kenyataan nya, sudah setahun ini, uang seratus ribu yang kamu bawa dalam tiap bulannya bisa kehitung pakai jari.. pernah gak kamu hitung berapa yang kamu hasilkan dalam sebulan..? gak pernah sampai satu jutakan ..?!" tangis Tulip makin menjadi.. air matanya bergulir menetes di pipinya semakin deras,, tes.. tes.. dan suaminya tetap sibuk dengan ponselnya. Tulip membanting pintu kamar lalu membanting tubuhnya ke kasur, wajahnya ditenggelamkan di bantal, ia menangis dan berteriak dalam hening, suaranya tak terdengar karena ia menutupinya dengan bantal. Tulip baru mulai menyadari ini sudah sangat terlambat, nasi sudah menjadi bubur, semua yang dia alami tidak akan pernah dapat terulang.. Itulah pentingnya ketika mencari pasangan hidup perlu pertimbangan yang sangat matang, dulu Tulip sangat naif, karena ia merasa bisa merubah pola pikir suaminta itu untuk menjadi pribadi yang rajin, bersih dan juga dapat berhenti menjadi perokok. Andai saja dia lebih sabar dan selektif lagi dalam mencari suami mungkin keadaannya tidak seperti ini batinnya dalam hati. Karena menikah itu sejatinya hidup bersama bukan tinggal bersama pasangan.. Tapi yang Tulip rasakan kini ia hanya merasa tinggal bersama dengan suaminya, sedari dulu untuk urusan pekerjaan rumah sampai mengurus anak, sekolah dan tugas-tugas pelajaran anak mereka, hanya Tulip yang selalu peduli. Tulip bukan hanya isteri yang hanya meminta uang bulanan dari suaminya, ia adalah sosok yang tidak bisa berhenti berpikir bagaimana untuk menghasilkan uang, sejak ia berhenti dari pekerjaannya sembilan tahun silam, ia selalu menghasilkan uang baik itu menjual suatu hasil karyanya, maupun dari pekerjaan nya sebagai mom fluencer ecek-ecek, buzzer sampai give away hunter. Meskipun suaminya dulu pernah menjabat sebagai Manager, ia tidak pernah sekalipun membeli make up atau keperluan lainya seperti baju, sepatu mengambil dari jatah belanja bulanan dari suaminya, ia selalu membelinya dari pendapatan yang ia peroleh, tak ayal bahkan dari pendapatannya itu juga ia gunakan untuk menambah keperluan dapur.. Pakaian Tulip, sepatu dan tas nya bisa dikatakan itu-itu saja, ia tidak pernah mengeluh, karena ia termasuk orang yang simpel, ia tidak pernah merasa kepingin dengan apa yang orang pakai, paling ia sekedar mengaggumi, tapi ia selalu membeli barang-barang sesuai kebutuhan dan yang nyaman ia pakai. Tulip Memutar tubuhnya menghadap langit-langit kamar nya.. lamunannya kini membawa nya kemasa ia berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Ayah nya pak Sudin tampak sibuk dengan pena tintanya mencorat coret kertas hvs, yang semakin lama semakin tegas membentuk sebuah salah satu pulau di Indonesia, yaiitu pulau Sulawesi. Pak Sudin berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah SMP Yayasan Khatolik di Jakarta. Pak Sudin selalu sibuk dengan membuat soal pelajaran, ataupun mengoreksi kertas-kertas ujian anak-anak muridnya dirumah setiap hari saat sehabis pulang bekerja ataupun saat libur weekend. Banyak orang di lingkungan rumah mereka, yaitu tetangga mereka dari anak kecil sampai orang dewasa kalau bertemu merasa segan dan takut kepada pak Sudin. Kalaupun ia tidak terlihat sibuk dengan kertas-ketas, pasti ia terlihat sibuk dengan tanaman-tanamannya atau ayam-ayam peliharaannya. Bagaimana tidak, ketika ditanya ataupun di tegur sapa pak Sudin hanya menjawab sekenanya, pernah bu Yuli berpapasan saat ia hendak pergi ke warung dan melewati rumah Tulip dan ketika itu pakSudin sedang memberi pupuk tanaman-tanamannya, bu Yuli dengan ramah menegur pak Sudin sambil tersenyum " pak.. buah rambutannya banyak ya.." tapi apa jawab pak Sudin..? "ehemmm" udah.. gitu doang.. seketiaka suasana menjadi cangggunglah, tidak usah tetangganya.. Ara, Wati dan Tuliip juga hanya ngobrol dengan pak Sudin secukupnya.. seperlunya.. tapi mereka tetap saling menyanyangi dan peduli. Ibu Elen juga tak kalah sibuk, ia sedang memasukkan ikan asin dan teman-temannya yang sama-sama asin, seperti cumi asin, ikan teri berbagai ukuran kedalam plastik bening setelah ditimbang mulai dari berat nya se ons sampai seperempat kilogram dan bahkan setengah kilogram. Besok nya bu Elen berjalan mengelilingi rumah perkampungan dari ujung keujung menawarkan ikan asin dan teman-temannya itu ke setiap rumah. Sebelum beralih menjadi tukang jual ikan teri dan asin, bu Elen juga pernah menjajakan jualan pakaiannya dari rumah ke rumah, oleh sebab itu bu Elen angat terkenal sampai satu Rw disana, ibu-ibu disana biasa memanggilnya mama Ara. "Yah bantuin dong, aku gak bisa hitung perkalian nih.." pinta Tulip memelas, Tulip sudah duduk di kelas empat sd sekarang, karena usia Tulip masih delapan tahun lbih tujuh bulan, ia yang paling termuda di kelasnya, jadi daya tangkapnya sedikit lebih lambat dari teman-temannya di sekolah. Wali kelasnya sudah berusaha mengajarkan berulang kali tapi entah kenapa Tulip masih sulit mengerti dan memahami. "Ya, coba mana.. bawa kemari soalnya" pak Sudin meletakkan pena yang ia gunakan diatas meja. lalu dengan wajah sumringah Tulip membawa buku tulis tugas matematikanya itu dan disodorkan ke aas meja, pak Sudin dengan sabar menjelaskan, walaupun membutuhkan waktu sedikit lebih lama agar Tulip benar-benar mengerti cara perkalian menurun. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN