Cobaan datang bertubi-tubi

1275 Kata
Malam ini Ibu Elen tampak kurang sehat dan ia tidur lebih awal, karena bu Elen kelelahan akibat harus bolak-balik dari Jakarta Barat ke Jakarta Timur, pagi sampai sore menenani Wati ditempat perawatan pengobatan dan terapi kakinya, malamnya kembali ke rumah untuk istirahat, sedangkan Wati harus berusaha tegar untuk tidur tanpa ada wali yang mendampinginya di malam hari, ia juga terpaksa beberapa kali harus menahan untuk buang air kecil atau besar, karena belum bisa menggerakkan kaki nya sendiri. Tadi pagi bu Elen sebelum rutinitasnya menemani Wati menyempatkan untuk berkeliling dari rumah-kerumah menjajakan ikan teri dan ikan asin yang di malam sebelum nya sudah ia siapkan bungkus perbungkusnya. Keesokan hari nya keadaan bu Elen bertambah parah sampai ia merasa pendengarannya tersumbat, karena tuntutan keadaan yang mengharuskan pak Sudin maupun isterinya tidak boleh sakit berlama-lama, karena siapa yang akan menemani dan merawat Wati nanti? sore itu juga pak Sudin membawa bu Elen untuk memeriksa ke poli THT di salah satu rs Swasta. "Ma.. berobat saja yuk.. biar ayah antar" bujuk pak Sudin. "Tapi nanti nambah biaya lagi.. kalau aku istirahat mungkin besok sudah seger lagi yah" bu Elen tidak ingin menambah biaya pengeluaran bulan ini, karena bulan ini banyak pengeluaran, karena tahun ajaran baru sekolah jadi mereka mesti menyisihkan untuk uang gedung saat daftar ulang, belum lagi buku tulis, buku materi pelajaran, lembar kerja siswa dan lainnya, karena masa itu sekolah belum gratis. "iya.. ayah paham kita banyak pengeluaran dan harus berhemat, tapi ingat kita juga harus mengurus dn merawat anak kita yang sedang berjuang sendirian disana hari ini, kalau besok mama sudah sehat ya syukur, tapi kalau mesti harus tetap istirahat beberapa hari kedepan bagaimana?" pak Sudin meyakinkan bu Elen, sehingga luluhlah hati bu Elen mendengarnya, ia juga merasa kasihan jika membiarkan puterinya disana, pasti akan merasa kesepian dan malu untuk meminta tolong perawat yg merawat disana kalau ia ingin buang air atau menyeka tubuhnya dengan air dan handuk kecil setiap pagi dan sore hari, maklum Wati baru saja lulus SD, jadi masih malu-malu untuk minta bantuan orang lain selain keluarganya. "Ibu Ida" perawat memanggil nama bu Elen untuk segera masuk ke ruangan poli THT. "keluhannya apa bu,,?" tanya dokter yang bertugas saat itu. "Ini dok kemarin saya agak pilek, tapi ko dari tadi pagi sampai sekarang telinga saya sebela kanan agak b***k dok, kayak penuh gitu rasanya" bu Elen menjelaskan apa yang iya rasakan. "baik, coba saya periksa dulu ya bu telinga sebelah kanan nya" dokter itu pun mengambil otoskop dari meja kerjanya. Fyi Otoskop itu adalah alat yang digunakan untuk memeriksa telinga bagian dalam, termasuk liang telinga dan gendang telinga. Alat ini dilengkapi dengan lampu dan lensa pembesar untuk membantu melihat struktur telinga dengan lebih jelas. "ini kita lakukan tindakan ya bu, karena telinga ibu penuh dengan kotoran yang sudah mengeras jadi perlu di keluarkan ya bu" lalu doker menyarankan kepada bu Sudin untuk pindah tempat duduk di sebelah mesin untuk menyedot kotoran telinga, ketika alat itu mulai di masukkan ke lubang telinganya, bu Elen merasakan sedotannya sangat kuat hingga bu Sudin merasakan sakit yang luar biasa, seketika itu juga ia berteriak .."aduuhhh saakkkitt.. sakittt..!!" tak lama kemudian bu Elen pun tak sadarkan diri, ya.. bu Sudin pingsan karena tidak tidak tahan menahan rasa sakit nya lagi. "Dok isteri saya kenapa dok, koq sampai pingsan begini?" tanya pak Sudin khawatir bukan main, wajahnya pucat karena panik, matanya berkunang-kunang dan bibirnya bergetar, kakinya gontai saat melangkah.. ia hampir saja ambruk, cepat-cepat ia mencari pegangan agar ia tak sampai jatuh.. hatinya campur aduk saat ini,, "ya TUHAANNN cobaan apa lagi inii..!!" teriak pak Sudin dalam hati nya, ia merasa cobaan membuntutinya secara bertubi-tubi.. Ada penyesalan yang terbersit di dasar hatinya, andai saja tadi dia tidak bersikeras mengajak bu Elen periksa di poli THT hari ini, mungkin saat ini isterinya tidak akan merasa sakit dan menderita seperti ini. Tak terasa air mata nya meleleh juga, lelaki yang terkenal berkharisma dan disegani baik di sekolah tempat ia mengajar maupun para tetangganya, akhir nya kini merasa tak berdaya, dua orang yang ia kasihi di dunia ini terkapar tak berdaya di tempat tidur. Pak Sudin menghapus air mata yang jatuh menetes di pipinya, ia menegarkan hatinya sebagai kepala keluarga ia tidak boleh terlihat lemah, karena hanya ia laki-laki satu-satu nya di rumah itu, lagi pula dia adalah kepala rumah tangga. Setelah pingsan selama 1 jam bu Elen akhirnya sadarkan diri, bu Elen masih merasa kesakitan, telinganya masih berdengung keras, dan berdenyut kencang.. tak lama kemudian ia pingsan kembali, dan dokter mengatakan baik nya bu Elen di rawat inap saja, agar keadaannya dapat tetap dipantau oleh dokter yang bertanggung jawab. Pak Sudin kembali kerumah sebentar untuk membawa baju dan keperluan lain yang dibutuhkan isterinya. "Loh ayah ko datang sendirian.. mama mana?" tanya Tulip dan Ara yang mulai curiga ada yang aneh dari gellagat pak Sudin, datang dengan tergesa-gesa lalu mengepak pakain dan sabun dan sikat gigi, juga handuk dan selimut ke dalam tas jinjing berwarna cokelat yang biasa Pak Sudin bawa jika ada ada acara keluar kota dari kantornya. "Mama mu harus di rawat inap, telinganya bertambah parah setelah di sedot tadi, doain ya.. supaya mama baik-baik saja.."setelah selesai mengmasi barang-barang yang dibutuhkan, pak sudin pamit ke kedua anaknya, " kalian berdua dulu ya malam ini, jangan lupa pintu dan jendela di kunci ya, ayah pergi dulu yaa.." pak Sudin kembali menstarter motor Vespa biru nya, kendaran kesayangan miliknya satu-satu nya, lalu berlalu dari pandangan Ara dan Tulip. Setelah pak Sudin tak terlihat lagi dari pandangan mereka, Ara segera menutup dan mengunci pintu dan memeriksa jendela dan pintu belakang seperti yg pak Sudin katakan kepada mereka. malam ituTulip tidur sekamar dengan Ara, mereka tidur sama-sama saling memunggungi badan satu sama lain, Tulip menangis diam-diam, ia sangat khawatir dan takut mamanya kenapa-napa, ia juga takut karena hanya tidur berdua saja dengan kakaknya Ara yang masih kelas 1 SMP di rumah. Tulip tidak tahu apakah kakaknya Ara juga sama merasakan apa yang ia rasakan saat itu, karena sesekali ia juga mendengar suara isak tangis kakaknya Ara. Keesokan paginya pak Sudin pulang kembali sekedar hanya untuk mandi, berganti pakaian, dan mebelikan sarapan untuk Tulip dan Ara lalu bersiap pergi kembali untuk menjenguk Wati dan sore nya pergi ke rs dimana bu Sudin dii rawat inap. Kali ini ia tidak mengadarai vespanya, ia pergi dengan menggunakan kendaraan umum, untungnya masih ada libur akhir tahun ajaran selama seminggu lagi, jadi pak Sudin tak perlu minta ijin cuti dikantornya. Pak Sudin tampak sedikit pucat, tampangnya agak kusut tidak seperti biasa nya, tampak jelas ada lingkaran gelap di kedua matanya. Pak Sudin jelas sangat lelah karena kurang istirahat karena harus bolak-balik ke tiga tempat yang lumayan jauh jaraknya, untuk mengurus bu Elen, Wati dan kedua anaknya yang lain di rumah. Meskipun demikian pak Sudin berusaha tegar dan tidak nenunjukkan air mata kesedihannya di depan isteri dan ketiga anaknya, meskipun mungkin hati pak Sudin saat itu sedang sangat gundah gulana tak keruan, cemas, khawatir dan bingung, tapi ia harus tetap semangat karena ia adalah pemimpin keluarga dan satu-satunya kaki-laki yang diandalkan di rumah mereka. "hari ini kalian makan telur dulu ya untuk makan siang dan makan sore, masih ada stok telur kan?" tanya pak sudin memastikan agar kedua anaknya nanti tidak akan kelaparan saat ia tinggal selama sehari semalam lagi. Ara mengangguk, dan tampak Tulip murung menatap ayahnya yang hendak pergi lagi, matanya sudah mendung dan sedikit lagi akan tumpah, pak Sudin menyadari akan hal itu, ia mengusap kepala Tulip, dan mengeluarkan uang kertas berwarna merah sebesar seratus rupiah, sebanyak empat lembar, dua diberikan ke Ara dan dua lagi kepada Tulip, "nih.. buat kalian jajan nanti ya.." pak Sudin berharap itu dapat mengurangi kegalauan hati anak-anaknya Ara dan Tulip. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN