Kehilangan

1141 Kata
Sagara tak berhasil menemukan istrinya, dia telah mendatangi kediaman mertuanya namun tak menemuk sosok Yurika. Dia kembali berusaha menghubungi sistrinya namun nomor Yurika tak aktif. "Kamu ke mana sayang, aku mencemaskan kamu dan calon anak kita. " gumam Sagara Mami Claudia ikut bersalah dengan kepergian menantunya, dia juga menghawatirkan keadaan Yurika saat ini.. "Gara, istrimu perlu waktu. Kau tidak melihat bagaimana dia hancur melihat suaminya mengabaikan dirinya hanya karena kamu mendengar kenyataan tentang Bella. Mami juga salah, kenapa mami berbicara seperti itu di depan Yurika. " tegas papi menyalahkan anak dan istrinya. Keduanya terdiam, Sagara baru menyadari kesalahannya. Pria itu merutuki kebodohannya, tanpa sadar dirinya telah menolehkan luka pada hati sang istri. "Sialan. " Sagara mengacak acak rambutnya, dia sudah mencari keberadaan istrinya di manapun namun tak berhasil ketemu. Sagara bangkit, melangkah gontai menuju ke kamarnya. Pria itu memasuki kamarnya, teringat akan kenangan manisnya bersama sang istri, bagaimana keduanya begitu bergelora saat melakukan penyatuan penuh nikmat. "Yuri sedang hamil, dia pasti tertekan dengan masalah ini. " gumamnya lirih. Menyesal tentu saja, semuanya telah terjadi dan kini dia tak tahu keberadaan istrinya saat ini. Yuri pergi tanpa mengatakan apapun padanya, menambah rasa bersalah dalam dirinya. drt Sagara mengambil ponselnya, mendapat pesan dari nomor tak di kenal. from 081 xxx Sekarang temui aku di Cafe, aku tunggu jika kamu ingin tahu keadaan istri kamu Yurika! "Jangan jangan Yurika di culik, sialan. " umpat Sagara emosi. Pria itu bangkit, ke luar dari kamar dan bergegas pergi. Dia mengabaikan panggilan ibunya, saat ini dia hanya ingin tahu keadaan istrinya itu. Setengah jam berlalu Sagara sampai di Cafe, pria itu masuk ke dalam. Dia bergegas menuju ke tempat pria yang telah menunggu kehadirannya. "Di mana istriku, katakan! Pria yang mengirim pesan adalah Derren Arkansas Langston, pria bermata cokelat itu menatap sinis kearah Sagara. Derren bangkit, menarik Sagara ke luar dari cafe, lalu melepas cekalan tangannya. Bug Derren melayangkan tinjunya, melampiaskan emosinya pada Sagara. Sagar terkejut dengan apa yang di lakukan pria di depannya ini. "Ini balasan untuk kamu, berani beraninya kamu menyakiti Yuriku! "Yuriku, sialan. Dia istriku. " Sagara emosi mendengarnya, pria itu membalas memukul wajah Derren. Dia tak akan rela istrinya di rebut pria lain termasuk pria di depannya saat ini. Seringai terbit di sudut bibir Derren, mengusap darah di sudut bibirnya akibat pukulan Sagara. "Oh ya, lalu bagaimana kamu bisa melupakannya hanya karena kenyataan tentang masa lalumu. Kau pikir Yuri patung yang tak memiliki perasaan, jika kau tak mencintainya, lepaskan dia b******k. " umpat Derren. "Yurika istriku, kau tak berhak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku sialan. " sahut Sagara. Pria itu semakin marah, Derren terus memancing kemarahannya. Sagara kembali menghajar Derren, keduanya saling menyerang satu sama lain. "Kak Derren hentikan. " pekik seseorang. Ya Yurika dan Terry menyusul Derren, keduanya menjerit histeris melihat wajah suami mereka yang lebam. Keduanya berhenti, Sagara menoleh dan matanya berkaca kaca melihat sosok yang dia cari telah muncul. Pria itu berlari kearah istrinya, memeluk tubuh sang istri. Yurika awalnya terkejut, namun dia segera mendorongnya menjauh. "Kenapa mas Gara memukul kak Derren begitu brutal, kenapa? " cecar Yurika. Sagara menatap tajam istrinya, bagaimana mungkin istrinya justru memikirkan pria lain daripada dirinya. "Kau membela pria sialan itu? " "Ya. " tegas Yurika tanpa takut menatap manik kelam suaminya, wanita itu yakin jika Sagara tengah menahan amarahnya serta cemburunya. Sagara mengeraskan rahangnya, menatap istrinya dengan tatapan tajamnya. "Kenapa kamu membelanya, apa kamu menyukai pria sialan itu hah? " Sagara meninggikan suaranya, Yurika tersenyum getir melihatnya. Wanita itu harus kuat dan tegar, menghadapi kemarahan suaminya. "Kenapa diam, ayo jawab Yurika. " bentak Sagara merasa geram dengan respon istrinya itu. Yurika sebenarnya ingin memberitahu suaminya, namun dia urungkan melihat bagaimana ekspresi yang di tunjukkan Sagara. "Cukup mas, sudah cukup kamu meninggikan suaramu padaku. Aku pikir kamu memang khawatir padaku, ternyata aku salah. Kamu justru mencurigai aku tanpa mencari tahu siapa pria yang kamu curigai! Yurika benar benar kecewa dengan suaminya, dia menoleh kearah sepupunya sambil tersenyum. Terry menatap sendu, melihat senyum palsu yang di tunjukkan Yurika. "Kalau begitu kita pulang sekarang. " Sagara menarik tangan istrinya, mendorongnya masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang, selama perjalanan tak ada orbrolan apapun. Yurika menyentuh perutnya, dia merasa kram lagi dan memilih menahannya sendiri. "Ugh. " Sagara menoleh, terkejut melihat istrinya yang tengah menahan rasa sakit. Amarahnya seketika menguapberganti khawatir, dia menepikan mobilnya, melepas sabuk pengamannya. "Sayang ada apa?" tanya Sagara khawatir terlihat dari ekspresinya. "Perutku kram mas. " gumamnya lirih. Sagara segera mengangkat tubuh sang istri, mengusap perut rata wanitanya. Merasakan sentuhan hangat di perutnya, rasa kramnya seketika menghilang, bukannya senang justru Yurika terisak dalam pelukan suaminya. Sagara memejamkan matanya sejenak lalu membukanya, kemudian menurunkan tubuh istrinya perlahan dan melanjutkan perjalanan mereka. Tiba di mansionnya, pria itu menggendong istrinya ke dalam, mommy dan daddy bernafas lega melihat Sagara membawa Yuri pulang. Keduanya menuju ke kamar, Gara menurunkan istrinya di atas ranjang. Keduanya berbaring sambil berpelukan, walaupun baru sehari, nyatanya Yuri begitu merindukan aroma mint suaminya. "Sayang apa kamu sering kram seperti tadi? " "Dua hari ini aku mengalami kram mas, aku takut terjadi sesuatu sama janin dalam perutku mas. Aku gak mau kehilangan calon anak kita. " gumamnya lirih. Sagara menghela nafas berat, ini semua salahnya yang telah membuat istrinya stres dan tertekan. "Maafkan aku, tanpa sadar aku telah menorehkan luka di hatimu sayang. " sesal Sagara. Yurika menatap suaminya dengan berlinang air mata, jujur dirinya begitu tersiksa berjauhan dari suaminya. Pria itu menciumnya bibirnya lembut, Yurika menikmati ciuman lembut suaminya. Gara mengakhiri ciumannya dengan tak rela, Yuri mengusap rahang suaminya dengan lembut. "Mungkin memang kita tidak di takdirkan bersama mas, sifat kita yang saling bertolak belakang serta kurangnya kepercayaan dalam hubungan membuat jalinan kasih kita belum terlalu kuat. " "Aku tidak akan memaksamu mencintai aku, biarlah waktu yang akan menjawab. Jika sampai waktu itu tiba, kamu masih tetap tak bisa menjadikan aku pemilik hatimu, aku akan mundur. Setelah ini aku akan kembali ke penthouse kak Derren, kita harus merenungi dan tahu akan arti kehilangan itu sebenarnya. Mungkin dengan begini agar aku bisa terbiasa tanpamu, tak lagi merepotkan kamu mas." pungkas Yurika. Yurika menjelaskan siapa Derren pada sang suami agar salah paham itu tak berlanjut. "Gak sayang, aku gak setuju kamu kembali ke rumah sepupumu itu! Yurika melabuhkan ciuman di seluruh wajah suaminya, terakhir di bibir Sagara cukup lama. Wanita itu sebenarnya berat memutuskan hal ini, namun ini demi kebaikan mereka bersama. "Setelah ini kamu bebas melakukan apapun tanpa mendengar omelanku mas, kamu harus jaga kesehatan dan fokusnya dalam menangani pasien pasienmu! Sagara mengeratkan pelukannya, dia tak akan membiarkan istrinya pergi lagi. Pria itu kembali menciumnya dalam dan penuh kelembutan, Sagara membuai istrinya dengan sentuhan sentuhan nakal. Entah kapan Sagara melepas pakaian mereka, kini keduanya sama sama polos. Dan merekapun kembali melakukan penyatuan indah, Yurika terus mendesahkan nama suaminya. Keduanya saling berbagi peluh, melepas semua rindu yang semakin hari semakin membuncah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN