Saling Mengungkapkan

1139 Kata
Sagara memperhatikan istrinya yang terlelap seusai percintaan panas mereka. Selain merindukan wanitanya, pria itu sengaja menahan sang istri agar tidak pergi lagi darinya. "Maaf sayang, aku egois kali ini. Aku tidak mau kau pergi dariku lagi. " gumam Sagara pelan. Pria itu menoleh kearah jendela, langit berubah gelap, menandakan malam tiba. Suara lenguhan membuat Sagara menoleh, tersenyum tipis melihat istrinya terbangun. "Mas Gara, " Yurika langsung terkejut, mengencangkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu baru ingat dengan kegiatan panasnya bersama sang suami. "Mas antar aku ke mansion Derren, aku yakin kak Derren pasti cemas sekarang. " pinta Yurika yang berniat turun namun di cegah sang suami. Sagara menggeleng, dia tak setuju dengan permintaan istrinya,Yurika berdecak pelan menatap kesal suaminya. "Di sini rumah kamu sayang, aku tidak akan membiarkan kamu kembali ke rumah sepupumu. " tegas Gara. Yurika menghela nafas gusar, jengkel dengan sikap suaminya yang menyebalkan. "Kenapa mas, apa kamu belum puas nyakitin aku. Aku tahu siapa wanita yang masih bertahta dalam hatimu, aku mengerti. Aku mohon biarkan aku kembali ke mansion kak Derren. " pintanya memohon. Sagara menggeleng, Yurika bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan selimut membungkus tubuhnya. Gara telah mengenakan celananya kembali, pria itu begitu frustrasi. Setelah keduanya sama sama selesai membersihkan diri, Sagara perlu berbicara dengan istrinya dengan kepala dingin. Pria itu bersimpuh di depan Yurika, meminta maaf pada istrinya. Yurika masih bungkam, dia memperhatikan apa yang di lakukan sang suami. Yurika membenamkan kepalanya di d**a sang suami, memeluk erat pria yang dia cintai itu. Sagara membalas pelukannya, melabuhkan ciuman di kepala Yuri dengan penuh kasih sayang. "Sebenarnya aku juga tersiksa berjauhan dari kamu mas, namun egoku enggan bertemu denganmu! Sagara melepaskan pelukannya, menangkup sisi wajah istrinya sambil tersenyum. "Aku sudah memberitahu mami dan papi tentang kehamilan kamu, setelah ini ayo kita pergi menemui orang tua kamu sayang! Yurika menatap tak percaya suaminya, masih ada keraguan dirinya mengenai kedua mertuanya. Sagara menjelaskan tentang mami dan papinya yang merasa menyesal pada Yurika. Yurika mengangguk setuju, keduanya bangkit dan beranjak pergi bersiap menuju ke rumah keluarga Wijaya. Dalam perjalanan Yuri tak bisa membayangkan bagaimana respon orang tuanya nanti. Sagara menoleh sebentar kearah istrinya dan tersenyum berkata. "Tenang sayang, kita hadapi ini bersama. " ucap Sagara. Mereka turun dari mobil, bergegas masuk ke dalam menemui orang tua Yurika. "Mommy, Daddy. " sapa Yuri dengan senyuman tipisnya. Mommy bangkit, menerjang tubuh putrinya itu, memeluknya dengan erat. Wanita itu terkejut dengan respon yang di tunjukkan ibunya. Mommy melepaskan pelukannya, menatap sendu putri bungsunya itu. "Kenapa kamu menyembunyikan semuanya pada kami sayang? " Yurika terkejut, kembali menumpahkan air matanya dalam dekapan ibunya. Sagara menatap datar Derren yang meliriknya, dia tahu jika Derren tak menyukai kehadirannya di keluarga Wijaya. Daddy bangkit, paruh baya itu tak bisa menahan emosinya melihat Sagara, dia mencengkeram kerah menantunya itu. "Kau berani beraninya menikahi putriku diam diam dokter, kau juga telah menyakiti hatinya. " geram Daddy menatap tajam Sagara. "Daddy. " gumam Yuri lirih. "Diam Yuri, kamu juga salah. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini pada daddy dan mommy. " ujar Daddy dengan nada kecewanya. "Nak bagaimana hubunganmu dengan Jerry? " Yurika mengatakan kebenarannya pada kedua orang tuanya hingga dirinya akhirnya di nikahi Sagara. "Mommy, bawa Yuri ke kamarnya sekarang. " pinta Daddy menatap lekat marah mommy. Yurika melepas pelukannya menggeleng kearah sang mommy tercinta, wanita itu langsung memohon pada orang tuanya. "Mas Gara suamiku Dad, calon ayah dari janin dalam perutku. maafin Yuri yang menyembunyikan ini semua dari kalian, aku tahu kalian kecewa tapi jangan pisahkan kami Daddy. " sesal Yurika menatap Daddy dengan berlinang air mata. Sagara segera merengkuh istrinya, dia tak akan membiarkan istrinya kembali bersedih. "Berikan restu untuk kami Mommy, Daddy. aku tahu aku salah dengan apa yang aku lakukan selama ini, tapi aku benar benar mencintai Yurika, putri kalian. " tegas Sagara sambil memeluk istrinya. Semua orang terkejut terutama Yuri, dia tak menyangka suaminya akan mengatakan perasaan pria itu. Dia tak peduli jika kedua mertuanya tak suka jika mereka tidak senang dengan ucapannya. Derren berdecak pelan, meski tidak setuju dengan keputusan Yuri namun dia tak bisa berbuat apapun. "Jika aku tahu kamu kembali menyakiti Yurika, aku tak segan segan akan membawanya pergi. Dan jangan harap hari itu kamu bisa menemukannya. " ancam Derren tak main main. Yurika menarik tangan suaminya, membawanya ke teras, wanita itu belum percaya akan pengakuan Sagara barusan. "Kau yakin itu cinta mas, bukan rasa kasihan terhadapku. " ujar Yurika penuh keraguan. "Maaf kalau aku tak percaya mas, hanya saja aku tahu rasanya melupakan seseorang yang ada di masa lalu, setelah kamu mendengar kenyataan yang sebenarnya bukankah sedikit mengusik kamu. " ujar Yuri lirih. Apa yang di katakan istrinya benar, namun dia juga tak ingin kehilangan istri dan calon anaknya. Egois sekali bukan? "Maaf kalau aku selalu menekan kamu mas Gara. " Yurika kembali memeluk suaminya, diam diam wanita itu menahan tangisan nya. Dia memilih diam, menyembunyikan perasaannya yang dia rasakan saat ini. Harusnya seorang istri bahagia bukan mendengar pernyataan cinta dari sang suami, namun berbeda dengan Yuri. "Biarkan waktu yang menjawabnya, kita harus menjalani rumah tangga kita dengan happy mas! Mereka kembali ke dalam, Sagara terus terngiang dengan ucapan sang istri, pria itu begitu kagum melihat istrinya yang kuat dan tegar, tanpa dia sadari ada kerapuhan di dalamnya. Yurika mencairkan suasana, dia ingin suaminya akrab dengan kedua orang tuanya. Derren meninggalkan kediaman keluarga pamannya, pria itu melajukan roda empatnya menuju ke penthouse. Kepulangannya di sambut istrinya dengan senyuman manis, membuat raut kesal Derren berubah ceria. "Aku mencintaimu. " Derren mencium bibir istrinya, lalu menyapa calon buah hatinya dalam perut sang istri. Dia mengandeng istrinya ke ruang tamu, Derren begitu posesif pada Terry. Terry mengusap d**a suaminya, sepertinya dia tahu jika suasana hati sang suami tidak baik baik saja. "Kenapa tiba tiba mengucapkan cinta mas, apa kamu melakukan kesalahan hubby? " tanya Terry penuh curiga. Derren mengatakan pada istrinya mengenai keputusan Yurika, Terrypun mengangguk paham. "Kita harus hargai keputusan Yuri mas, masalah Yuri dan suaminya hampir sama dengan kisah kita berdua. " Terry masih ingat bagaimana dulu Derren memperlakukan dirinya begitu kejam di masa lalu, menganggapnya sebagai w************n. Sekarang semuanya berubah, Derren memperlakukan dirinya bak seorang ratu, tentu saja dia sangat bahagia. "Please jangan ingat lagi masa lalu, aku tak kuat melihat kamu kembali tersiksa jika mengingatnya. " pinta Derren dengan wajah memohon. Terry mengulum senyumnya, menggenggam tangan sang suami lalu mengecupnya singkat. Derren dulu hampir kehilangan Terry karena keegoisan dan kebodohannya, keduanya hampir bercerai setelah pertengkaran hebat. Apalagi karena Derrenlah istrinya mengalami keguguran, membuat sikap Terry padanya berubah menjadi benci. "Kenapa melow gini sih mas, aku sudah maafin semua kesalahan kamu dengan memberikan calon benihmu dalam perutku ini. " celetuknya asal sambil mengusap perut besarnya. Derren terperangah, dia tak percaya dengan penuturan konyol istrinya. "Lagi serius juga. " Derren gemas, menarik hidung mancung istrinya kemudian menciumnya dalam. Terry terkekeh, membalas ciuman suaminya tak kalah lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN