Skandal sang Mantan

1154 Kata
Sementara itu hubungan Dara dan Benjamin kian dekat, Dara merasa cukup nyaman dengan kehadiran Ben di dekatnya. Namun meski begitu dia belum ingin kembali menjalin kasih dengan seorang pria. "Om terima kasih telah banyak membantuku selama ini. " ucap Dara dengan senyum tulusnya. Ben mengerutkan kening, menatap heran kearah Dara, tak biasa dengan tingkah aneh gadis itu. "Apa? " "Aku sudah menyewa rumah, om. Uangnya hasil dari tabunganku, aku tidak enak terus terusan merepotkan om Ben. " jelasnya panjang lebar. Benjamin terdiam, selama ini dia tidak keberatan dengan Dara yang tinggal di rumahnya selama ini. "Selain itu aku tidak ingin orang lain berpikiran buruk mengenai kita om, terutama reputasi om Ben! Ben justru mengacak acak rambutnya, entah kenapa dia merasa tak suka dengan Keputusan dara barusan. Dara mengomel lagi, menatap kesal kearah Ben yang mengacak rambutnya. "Aku pergi sekarang ya om, mumpung masih sore ini. " pamitnya dengan wajah cerianya. Ben bangkit, langsung menawarkan diri untuk mengantarnya, Dara sempat menolak namun keputusan Ben tak bisa di bantah. Selama perjalanan Dara banyak diamnya, gadis itu dengan iseng membuka sosial medianya. Gadis itu terkejut melihat kabar di media mengenai Mantan kekasihnya bersama seorang model di sebuah hotel. "Mike. " gumam Dara lirih. "Ada apa Dara? " tanya Ben melirik sekilas kearah Dara.Pria itu menepikkan mobilnya, menoleh kearah gadis di sebelahnya dengan alis terangkat. Dara menunjukkan ponselnya pada Ben, setelah melihatnya pria itu tak menunjukkan keterkejutan. "Om Ben sudah tahu kabar tentang Mike dan model itu? " tanya Dara memastikan. Ben mengangguk pelan, Dara membuang nafas berat. Hatinya tentu saja sakit, melihat pemberitaan di media tentang Mike. Sampai sekarang cintanya pada Mike masihlah utuh, kini dia kecewa pada mantan kekasihnya itu. "Om antarkan aku menemui Mike sekarang. " pinta Dara pelan. Tanpa banyak bicara Ben menuruti keinginan Dara, gadis itu masih belum percaya akan skandal yang beredar. "Permisi apa Mike ada di rumah Bi? " tanya Dara dengan sopan. "Ada nona tapi.. " Bibipun membiarkan keduanya masuk ke dalam. Mengingat sudah hafal seluk beluk rumah Mike, Dara bergegas menuju ke kamar pria itu setelah dia tak menemukan beradaan Mike di ruang bawah. "Sayang, aku senang kamu sudah putus dari gadis manja itu. " ucap suara seorang wanita membuat Dara berada di luar terpaku mendengarnya. "Hm tentu saja, aku juga puas menyentuhnya tanpa berniat bertanggung jawab padanya, sebelumnya aku memintanya meminum pil. " ujar seorang pria yang ternyata adalah Mike. Dara terkejut, perasaannya hancur mendengar pengakuan Mike barusan. "Jadi Mike hanya menginginkan tubuhku selama ini, dia selama ini menjadikan aku taruhan. " gumamnya lirih. Tak kuasa menahan tangisnya, Dara kembali terisak. Ben datang menyusulnya, memeluknya dan segera membawanya pergi dari sana. Dara mengeratkan pelukannya di tubuh Ben, pria itu membiarkannya. Dia merasa kasihan, entah dalam hatinya merasa ikut sakit melihat Dara yang kembali rapuh seperti sekarang. "Aku kira selama ini dia tulus, ternyata semua itu hanyalah ke pura puraan dan bodohnya aku percaya padanya. " Dara terus menangis selama perjalanan, tak dia sangka pria yang dia cintai hanya menginginkan tubuhnya. Benjamin hanya diam, dia membiarkan Dara meluapkan perasaannya. Pria itu memilih membawa Dara kembali ke penthousenya, dia tak ingin Dara sendirian di rumah kontrakan gadis itu. Mereka turun dan masuk ke dalam, Dara melangkah gontai dan hampir limbung namun Ben menahannya. Ben menghela nafas panjang, menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar Dara. Dara di baringkan di atas ranjangnya, Ben berbaring di sebelahnya. "Kau jangan lemah Dara, jangan biarkan Mike terus menganggap kamu masih menginginkannya. " Dara terdiam, Ben menghapus air matanya dengan lembut. Menatap dalam manik kelam yang kini menatapnya begitu lekat. Dia melihat ada ketulusan setiap Benjamin berbicara padanya. Benjamin mendekatkan wajahnya, mencium bibir gadis itu dengan lembut, Dara terkejut dengan tindakan Ben. "Apa yang harus aku lakukan om? " tanyanya lirih. "Jadilah kekasihku Dara, aku akan membantumu membalas pria b******k itu dengan balasan setimpal. " tegas Ben. Dara memejamkan mata sejenak lalu membukanya, memikirkan tawaran Ben padanya. Setelah banyak pertimbangan Dara mengangguk setuju. Ben tersenyum miring melihatnya. Dara melakukan ini bukan karena ingin dekat dengan Benjamin tapi untuk membalas perbuatan Mike padanya. Dia tak ingin lagi percaya pada laki laki, sudah cukup dirinya di hancurkan hanya karena cinta butanya pada Mike. "Aku beruntung memiliki teman sekaligus kakak seperti om Ben. " ucapnya dengan tulus. Namun tanpa dia sadari pernyataannya tak di sukai oleh Ben, entahlah apa maksud pria itu. "Setelah misiku berhasil, tenang saja om. Aku pasti akan membantumu mencari pasangan sebagai ucapan terima kasihku. " serunya dengan penuh semangat. Melihat wajah ceria Dara telah kembali membuat Ben mengulum senyumnya, namun kalimat terakhir gadis itu membuat wajahnya berubah masam. "Kau mau makan apa, biar aku suruh bibi menyiapkan makanan? " tanya Ben mengalihkan pembicaraan, Dara langsung menyebutkan makanan yang ingin dia makan. Ben langsung ke luar dari kamar Dara, pria itu menemui pelayan setelah itu kembali kemar Ben sendiri. Bug Ben meninju tembok kamar mandinya, saat ini pria itu di bawah shower membiarkan kucuran air membasahi tubuhnya. Ben sendiri merasa aneh dengan dirinya, selama ini dirinya baik baik saja meski tak memiliki pasangan. Namun semenjak hadirnya Dara, membuat dunia Ben berubah. "Sepertinya ada yang salah denganku! Ben teringat bagaimana dengan kedekatannya dengan Dara selama ini, melihat Dara menangis karena patah hati, membuat dirinya begitu sakit, marah dan kecewa. Ben buru buru membersihkan diri, lalu ke luar dengan selembar handuk. Pria itu segera memakai pakaiannya, lalu menghubungi seseorang. "Nona ini makannya Anda. " Bibi masuk ke dalam kamar Dara mengantar makanan gadis itu. Dara langsung bangun, tersenyum manis kearah Bibi. "Terimakasih Bi, Boleh Dara tanya sesuatu sama bibi! "Tentu saja nona. " "Apakah Om Ben pernah dekat dengan seorang wanita Bi? " Dara begitu penasaran dengan sosok Benjamin, pria yang banyak membantunya. "Tidak Nona, Tuan Ben selama ini hanya terus fokus bekerja, memajukan perusahaan Tuan Ben. " ucap Bibi yang menjelaskan masa lalu majikannya itu. Dara terkejut dengan penjelasan bibi mengenai masa lalu Ben. Dia tak menyangka Ben mampu melewati masa masa sulitnya itu. "Tapi semenjak nona Dara hadir, tuan Ben lebih sering di rumah dan sepertinya Tuan tertarik pada nona Dara! Dara merasa tidak percaya apa yang di katakan Bibi mengenai Ben padanya. Dia menghela nafas panjang, fokusnya kembali pada Bibi sambil tersenyum getir. "Enggak mungkin Bi, aku hanya menganggap om Ben sebagai kakak. Lagipula masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari aku Bi, aku hanya seorang wanita hina. " jawabnya lirih. Bibi tercengang, meski tidak tahu bagaimana kehidupan Dara sebenarnya namun wanita paruh baya itu merasa iba padanya. Bibi langsung memeluknya, memberikan semangat untuk Dara dan di balas Dara dengan senyuman. "Ya sudah bibi ke luar ya, silakan makan nona. " Dara menatap kepergian Bibi, gadis itu teringat dengan ciumannya bersama Ben tadi membuat pipinya merona. Dia segera menyantap makanannya dengan lahap, terakhir menyesap es jeruknya hingga tandas. Dara menaruh nampannya itu di atas meja lalu kembali berbaring. Darapun mengambil ponselnya, segera menghubungi sahabat yang dia rindukan selama ini. "Okey aku akan ke sana sekarang. " sambungan langsung terputus, Dara segera bersiap siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN