Tak lagi sama

1033 Kata
"Dara. " pekik Yurika bangkit dan berlari kecil kearah sahabatnya. "Sayang, jangan berlari. " tegur Sagara tak suka dengan tingkah istrinya. Yurika berhenti, meminta maaf pada suaminya lalu memeluk tubuh Dara erat. "Ke mana saja sih Ra, aku mencemaskan kamu! Yurika melepas pelukannya, memastikan keadaan sahabatnya itu lalu mengajaknya ke ruang tamu diikuti Ben dari belakang. Dara mengatakan semuanya pada Yurika, wanita hamil itu hampir mengumpat namun Sagara menegurnya. Yuri menatap sendu kearah Dara, merasa kasihan pada sahabatnya itu. "Its okey Ra, aku yakin bisa melewati ini semua. Ngomong ngomong kamu mau ngabarin aku apa sih? " tanya Dara penasaran. Yurika menjelaskan tentang pernikahan dan kehamilannya pada Dara, Dara yang awalnya terkejut ikut bahagia mendengarnya. Dia juga mengenalkan Ven pada Yuri dan suaminya. Dara dan Ben langsung pamit pada sang pemilik rumah, Sagara mendapat telepon penting dari rumah sakit. Yurika mengulum senyum melihat wajah memelas suaminya. "Pergilah mas, lakukan tanggung jawabmu sebagai seorang dokter! "Tapi sayang. " Yuri menciumnya sekilas, meyakinkan suaminya jika dirinya baik baik saja. Sagara menghembuskan nafas berat, mengangguk sesuai keinginan sang istri. Pria itu bangkit dan pergi ke kamar untuk bersiap siap. Sagara kembali dengan pakaian dokternya, Yurika bangkit dan tersenyum manis menikmati ciuman dari suaminya. "Jaga dirimu baik baik sayang, kalau ada apa apa hubungi aku segera. " ujar Sagara dengan lembut. "Iya mas, kamu juga hati hati di jalan! Yurika mengantar suaminya hingga ke depan, menatap kepergian suaminya dengan senyuman di bibirnya. Dia kembali ke dalam, menuju ke ruang tamu dan bersantai di sana. Tiba di rumah sakit Sagara menemui rekan sesama dokternya, dokter Aruna menjelaskan keadaan pasien. Wanita bergelar domter itu juga menunjukkan salah satu anggota pasien yang ada di sana. Sagara tak bergeming, terkejut melihat sosok gadis yang lama tak dia jumpai. Gadis itu juga sama terkejutnya, melihat pria yang masih dia cintai. "Sagara. " gumam gadis itu yang tak lain adalah Bella. Sagara melewatinya begitu saja, segera masuk ke dalam ruang operasi. "Gara, aku merindukanmu. " batin gadis itu miris. Bella menggelengkan kepala, bukan saatnya dia bernostalgia dengan masa lalunya. Dua jam berlalu Sagara dan lainnya ke luar, dokter Arga yang menjelaskan keadaan pasien pada Bella. Bella terus mencuri pandang kearah Sagara yang hanya diam sejak tadi. Setelah kepergian dokter Arga dan dokter Aruna, Belle mencekal lengan Sagara namun di tepis pria itu. "Gara apa kau lupa, aku Bella. " sapa Bella dengan tatapan berkaca kaca. "Iya aku tahu, lalu apa? Sagara menampilkan raut dinginnya pada gadis di depannya saat ini. Bella langsung menjelaskan semuanya, gadis itu tercengang melihat respon Gara yang biasa. "Dengar nona Bella, semuanya tak lagi sama apalagi hubungan di antara kita. Aku sudah melupakan kamu, ada hati yang harus aku jaga sekarang dan jaga sikapmu mulai sekarang! Sudah cukup sekali Sagara hampir kehilangan istri dan calon anaknya, dia tak akan memberikan celah untuk orang lain merusak rumah tangganya. Pria itu menunjukkan cincin di tangannya pada Bella, tangis Bella luruh. "Maafkan aku Gara, aku meninggalkanmu tanpa pesan. Aku mohon beri kesempatan untuk menebus kesalahanku. " pinta Bella sambil menangis terisak. "Sekali lagi aku tegaskan, aku sudah menikah dan istriku sedang hamil saat ini. Dan ingat ini jangan berani beraninya kamu mengusik istriku atau kau akan tahu akibatnya nanti. " Sagara melenggang pergi, mengabaikan tangisan Bella yang menyayat hati. Pria itu kembali ke ruangan kerjanya, menyampirkan jas dokternya ke kursi. Sagara mengambil ponselnya, melakukan video call dengan wanitanya. Melihat senyuman istrinya membuat hatinya terasa damai, dia tak akan membiarkan senyum itu luntur. "Sayang, bisakah kamu ke rumah sakit sekarang, aku butuh kamu. " mohon Sagara. "Baiklah aku akan ke sana di antar sopir! Sagara mengangguk, menutup sambungan videonya. Pria itu memejamkan mata sejenak sambi menunggu kedatangan istri tercintanya. Dalam perjalanan Yuri merasa ada yang aneh dengan suaminya, apa telah terjadi sesuatu di sana pikir wanita itu. Dia meminta sopir sedikit lebih cepat agar segera sampai di rumah sakit. Wanita itu turun, masuk ke dalam dan menuju ke ruangan Gara di antar oleh asisten suaminya. tok tok Yuri membuka pintu, masuk ke dalam dan mendekati suaminya. Sagara tersenyum, merentangkan tangan kearah sang istri,wanita itu masuk ke dalam pelukan sang suami. Pria itu menghirup aroma lemon dari leher istrinya, Yuri mengusap punggung lebar suaminya. "Mas, kenapa saat aku masuk, para suster tengah berbisik berbisik sambil melihatku, apa mereka menggosipkanku. " gumam Yuri. Sagara menjauhkan wajahnya dari leher sang istri, pria itu berterus terang pada istrinya. "Aku senang kamu bisa tegas seperti ini mas. " "Aku takut kehilangan kamu dan calon anak kita, kalian adalah hidupku. kamu obat dari segala keresahanku sayang. " Yuri membelai wajah suaminya, memberikan ciuman di kening dan bibir Sagara. "Terimakasih mas, kamu telah jaga hatimu dan tak berpaling dariku! Yuri benar benar beruntung, dirinya bisa di cintai oleh suaminya seperti sekarang. "Bolehkah sayang! Yurikapun paham apa maksud suaminya, dia mengangguk sambil tersenyum. Sagara membopongnya menuju ke sebuah ruangan, tak lama terdengar suara erangan dan desahan dari balik pintu. Yurika tersenyum di bawah kungkungan suaminya, Sagara terlihat semakin seksi saat berkeringat. Hingga ronde kedua berakhir, Sagara memeluk istrinya dan menaikkan selimutnya. Dia tak ingin membuat istrinya kelelahan, pria itu terlihat tenang setelah menyatu dengan wanita tercintanya. "Kamu pasti lelah 'kan sayang, maaf kalau aku meminta kamu melayani aku! "Sst sayang aku gak papa begitu juga calon anak kita, ini kewajiban aku sebagai istri kamu mas. " Yuri menahan senyumnya, merasakan elusan tangan suaminya di atas perutnya. Sagara mengecup bibirnya, beruntung memiliki istri yang begitu pengertian padanya. "I love you sayang! "Me too mas. " Yuri tersenyum lebar mengusap d**a suaminya dengan lembut, bersandar di sandar di sana dengan nyaman. Wanita itu langsung menyentuh perutnya, mengusapnya penuh kelembutan. "Mommy dan Daddy menyayangi kamu sayang, sehat sehat dalam perut mommy. " gumam Yuri tersenyum lebar. Mereka segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan yang baru lalu kembali berbaring. Di sisi lain Bella menangis meraung raung mendapati kenyataan pahit mengenai Sagara, dia masih tak percaya jika Sagara telah menikah dengan wanita lain. Hanya ada penyesalan dalam dirinya, nasi telah menjadi bubur sekarang. Merebut Sagara dari istrinya tidaklah mungkin, dirinya masih memiliki hati nurani. Dia tak ingin di cap pelakor, mendapat gunjingan dari orang lain. "Jalan satu satunya adalah melupakan! "Aku pasti bisa melakukannya, pasti! Bella menghapus air matanya, berusaha bangkit dan menerima dengan lapang d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN