"Ugh, Om apa yang kau lakukan. " gumam Dara melihat Ben yang terlihat mabuk membuatnya sedikit heran. Pria itu mengendus lehernya, menciuminya dengan sensual membuat Dara melenguh. Tidak, dia tak boleh terlena dengan rayuan seorang pria lagi, sudah cukup dirinya hancur karena Mike.
"Hentikan om. " pekiknya sambil mendorong tubuh Benjamin.
"Aku menginginkan kamu Dara, sejak awal bertemu kenapa aku tertarik sama kamu. Aku merasa ikut sakit melihat kamu rapuh hanya karena menangisi pria b******k itu. " racau Ben. Dara tertegun, diapun hanya menggeleng tak percaya, mungkin itu hanya bualan semata. Gadis itu bangkit, memapahnya ke atas ranjang, Ben langsung terlelap setelahnya. Dara bernafas lega meski tadi sempat ketakutan.
Tepat pukul tujuh malam Dara memilih pergi ke balkon, Benjamin tersadar dan mengingat tadi sore dirinya mabuk. Pria itu memilih membersihkan diri lebih dulu, lalu menyusul Dara hanya dengan memakai celana panjang. Dia biarkan tubuh kekarnya di terpa angin, Ben langsung memeluknya dari belakang.
"Om Ben!
"Udara dingin Dara, harusnya kamu memakai pakaian tebal. " bisik Ben sambil mencium telinga Dara. Wanita itu menggelinjang geli, membalik tubuhnya dan berkacak pinggang.
"Om sendiri malah tak memakai pakaian atas. " cibirnya yang mendapat kekehan Benjamin.
"Aku merasa hangat Dara setelah memelukmu. " tangan kekarnya memeluk erat pinggang Dara dengan posesif. Dara tersipu mendengarnya, jantungnya kian berdebar cepat setiap berada di dekat Ben. Namun Dara masih menyangkalnya dengan dalih hanya sebatas teman. Ben menatap lamat wajah Dara, Dara semakin salah tingkah di buatnya.
"Menikahlah denganku Dara!
"Apa? " Dara tentu saja terkejut mendengar pernyataan Ben barusan, apakah dia tidak salah dengar tadi.
"Gak om, carilah wanita lain yang lebih pantas bukan aku. Aku hanya wanita kotor, bekas pria lain dan tak pantas menikah dengan Om Ben! Dara kini berusaha mendorongnya, Ben mengeratkan pelukannya, tak biarkan Dara lepas. Pria itu terus meyakinkan namun Dara tetap kekeh dengan keputusannya. Keduanya masuk ke dalam setelah menutup pintu balkon dan mereka lagi lagi berdebat.
Ben yang kesal langsung menciumnya, memagutnya dengan liar dan panas. Dara yang awalnya menolak akhirnya ikut terbuai dengan ciuman Ben yang menggelora. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Ben, Ben memeluknya posesif dan memperdalam ciumannya.
Hah hah
"Jika cara lembut tidak bisa maka cara ini yang aku ambil Dara. " Benjamin menggendongnya, membawanya ke luar dari kamar gadis itu menuju ke kamarnya. Di dalam sana suara lenguhan saling bersahutan satu sama lain.
Dara membuka matanya lebih dulu karena silau matahari di pagi buta ini, teringat kejadian semalam membuat hatinya kembali terluka. Wanita itu menoleh, melihat Benjamin yang masih terlelap di sebelahnya. Dia hendak bangun, pria itu tiba tiba menahannya. Ben bangun, memeluk Dara dari belakang, mengecup bahu mulus wanita yang dia cintai. "Aku mencintaimu Dara, aku tak bercanda dengan ucapanku ini!
Pria itu membalik tubuh wanitanya, Dara mengencangkan pegangan selimut yang membungkus tubuhnya. Tatapan mereka bertemu, Dara berusaha mencari kebohongan namun tak menemukannya. "Aku akan membuktikannya, kita segera mandi lebih dulu setelah itu ikut aku. " Ben membawa Dara ke kamar mandi, setelah selesai merekapun bersiap siap.
Ben melajukan roda empatnya, Dara merasa bingung namun memilih diam.Ternyata pria itu mengajaknya menandatangani surat pernikahan, Ben sempat menyuruh pengacaranya datang.
"Selamat Tuan, Nyonya kalian resmi sebagai suami istri! Ben memasang kan cincin ke jari Dara begitu juga sebaliknya. Ben dan Dara pergi dari sana setelah mengucapkan terimakasih.
"Mulai sekarang bersandarlah padaku Dara, katakan keluh kesahmu padaku jangan kau pendam sendirian lagi. " ucap Ben dengan senyuman hangatnya. Dara terisak, langsung memeluk pria yang baru menjadi suaminya.
"Kenapa kamu mau menerimaku om, aku gak pantas menjadi istrimu hiks!
"Sayang aku gak suka mendengarnya, berhentilah merendahkan dirimu sendiri. " tegas Ben. Dara menghapus air matanya, apa yang di katakan suaminya memang benar namun hatinya masih merasa tak pantas dengan status barunya saat ini. Ben dan Dara kembali ke mobil, demi menghibur sang istri pria itu mengajaknya jalan jalan ke taman.
"Manis 'kan om gulalinya. " ucap Dara dengan senyum manisnya.
"Menurutku lebih manisan bibir kamu sayang! Ben menaik turunkan alisnya, menggoda sang istri tercinta. Pipi Dara bersemu, salah tingkah dengan gombalan suaminya.
Dara menepuk lengan suaminya agar berhenti menggodanya, keduanya ingin saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Ben mengajak istrinya ke mall, memanjakan wanitanya dan tak akan membiarjan Dara kembali bersedih. "Sayang jangan lupa pilih beberapa lingerie untuk kau pakai setiap hari. " bisik Ben di telinga sang istri.
Dara melotot, bukanya takut Ben justru tertawa merasa gemas dengan tingkah istrinya itu. Sesuai ucapan Ben, pria itu langsung memilih pakaian seksi untuk istrinya, Darapun merasa malu melihat para pelayan menggodanya. Selesai memilih keduanya segera membayarnya, lalu pergi dari sana. Dara benar benar sebar dengan kelakuan nakal suaminya, Ben mengajaknya langsung ke hotel.
"Sekarang kamu coba pakai salah satu sayang, aku ingin melihatnya!
Dara mengambil salah satu lingerie berwarna merah menyala, lalu membawanya ke kamar mandi. Ben sendiri telah melepaskan kaos, menyisakan celana pendek yang dia pakai. Wanita itu ke luar, berjalan pelan mendekati suaminya.
Ben bangkit, menelan salivanya kasar melihat penampilan istrinya. Pria itu merengkuhnya, langsung merobeknya tanpa aba aba membuat Dara memekik terkejut. Setelah itu menggendong istrinya, merebahkan di atas ranjang dan mereka melakukan penyatuan indah di sana.
Benjamin memandang istrinya dengan tatapan memuja, Dara merasa bahagia begitu beruntung di cintai oleh Benjamin. Dia jadi merasa bersalah, hatinya belum sepenuhnya menjadi milik Ben. Dara memeluk punggung suaminya, mendesah panjang kala hujaman suaminya semakin keras dan panas.
"Sayang, besok mami akan kembali ke sini, selama ini beliau menetap di negara Y. " ujar Ben tiba tiba. Dara terkejut, wanita itu cemas jika sang mertua tak akan menyukainya. Ben menyakinkan istrinya jika semuanya akan baik baik saja, pria itu kembali menghentak lagi dan lagi hingga ronde ke empat baru berakhir.
Keduanya baru selesai melakukan percintaan dengan durasi hampir dua jam, Dara cukup lelah melayani gairah suaminya yang tak pernah surut. "Om eh mas, aku khawatir mami kamu tak menyukai aku!
"Kita berjuang bersama, kita hadapi mami bersama jika mami tak memberi restu. " tegas Ben yang di angguki Dara.
"Nyonya Adara Benjamin Daffin Hale, suamimu ini akan selalu bersamamu. Jangan khawatirkan sesuatu yang belum pasti, bagaimana kalau kita kembali terbang dalam kenikmatan. " goda Ben yang mendapat cubitan dari istrinya. Pria itu terkekeh, merengkuh tubuh polos istrinya yang terbalut selimut. Dara bernafas lega, bersandar di d**a suaminya yang terasa aman dan nyaman untuknya.
"Selain menginginkan anak aku juga menginginkan hatimu sayang, aku ingin menjadi pria satu satunya dalam hatimu. " bisik Ben penuh harap. Dara mendongak, menatap lamat wajah tampan suaminya.
"Kamu pasti akan segera mendapatkannya Hubby, maaf jika saat ini aku belum memberikan cintaku untukmu dan kamu harus menunggu!
"Biarlah aku menunggu, bersamamu itu hal terindah dalam hidupku Dara. "