Pria m***m

1078 Kata
"Kau sangat bahagia bersamanya Gara,tak ada lagi kesempatan untuk diriku. " Ya selama satu bulan ini Bella terus memantau kediaman Sagara, mantan kekasihnya. Bella melajukan roda empatnya, entah apa yang tengah di pikirkannya saat ini. Jika dia egois dia bisa merebut Sagara dari istri pria itu namun Bella tak melakukannya. Sagara terlihat bahagia, takut kehilangan istrinya membuat hati Bella hancur dan patah, namun dia tak bisa berbuat apapun. Kini Bella memutuskan menenangkan diri di sebuah Villa, letaknya cukup asri dan udaranya sejuk. Gadis itu berusaha merelakan semuanya, menerima kenyataan yang ada. Kedatangannya di sambut pelayan yang mengurus villa, Bella menjatuhkan diri di sofa dan meminta minuman pada pelayan. "Nona, sepertinya Anda kelelahan! "Bukankah tak jauh dari sini ada air terjun Bi? " "Ada Nona, tapi nona Bella harus hati hati kalau di sana. " jawab Bibi singkat. Dara menyesap tehnya, lalu bangkit dan pergi ke kamarnya. Tak lama gadis itu kembali dan melangkah ke luar, dia memutuskan berjalan kaki menuju ke air terjun. Di sana gadis itu memilih duduk di bebatuan, menikmati suasana yang cukup menenangkan baginya. "Ucapan Bibi maksudnya apa? " Bella masih teringat dengan ucapan Bibi tadi, menghela nafas berat, tangannya masuk ke dalam air. Terdengar suara langkah kaki membuat Bella terkejut, dia bangkit namun sialnya kakinya terpeleset dan jatuh ke dalam air. "Oh my. " Bella berusaha berenang namun justru kakinya kram, seorang pria dengan rambut gondrong langsung berenang kearahnya. pria itu membopongnya, membawanya naik ke daratan. Bella masih sangat terkejut dengan apa yang dia alami barusan. "Kau tidak apa apa nona? " Bella mengangguk kecil, mengucapkan terima kasih pada pria yang menolongnya. Melihat kondisi Bella yang masih lemah, pria gondrong itu menggendongnya, membawanya pergi dari sana. "Bella Aster Kevia kalau kamu Tuan? " Bella menatap lekat wajah pria yang tengah menggendongnya saat ini. "Jarvis Mohana! Ternyata Jarvis membawa ke rumah hutan milik pria itu, menurunkan Bella di sofa dengan pelan. Jarvis menyerahkan dua pakaian untuk Bella pakai, gadis itu menerimanya. "Gantilah, aku tak akan mengintip. " Jarvis berbalik badan, Bella buru buru mengganti pakaiannya dengan dress yang di beri Jarvis. "Sudah! Jarvis menoleh, melihat Bella yang sudah berganti pakaian. Pria itu pergi ke belakang, Bellapun hanya diam dan kembali duduk di sofa. Merasa bosan, Bella memilih bangkit dan berkeliling. Menurutnya rumah Jarvis cukup nyaman untuk di tinggali pikirnya. "Apa yang kau lakukan Bella? " tangan kekar Jarvis merengkuh pinggang Bella, gadis itu hampir kehilangan keseimbangannya. Gadis itu menahan nafasnya, wajah keduanya begitu dekat. Jarvis menatap dalam wajah cantik dalam rengkuhannya saat ini. "Kau begitu ceroboh Bella! "Huft maafkan aku Jarvis, aku hanya ingin berkeliling. " sesal Bella. Jarvis membawanya kembali ke sofa dengan Bella duduk di pangkuannya, terlihat jelas gadis itu gugup dan salah tingkah. "Kau tinggal di sini Jarvis? " tanya Bella begitu penasaran. "Ya, kau sudah mendengar rumor tentang air terjun itu? " Jarvis langsung mengatakan kebenarannya pada Bella, Bellapun hanya diam mendengar kata monster terucap oleh Jarvis. "Kau bukan monster Jarvis, kau sama seperti aku dan lainnya yang memiliki emosi dan mungkin sebaiknya kamu mulai berusaha mengontrol emosimu. Selain itu mungkin saja kamu suka suasana sepi dari pada keramaian? " "Jarvis, bagaimana kalau aku memotong rambutmu sedikit, aku tak ingin mereka kembali menyebutmu sebagai monster. " tawar Bella dengan senyuman manisnya. Awalnya Jarvis menolak namun pria itu luluh dengan rayuan Bella. Bella segera membantunya memotong rambut Jarvis, setelah selesai gadis itu segera merapikannya. "Nah selesai, kamu terlihat lebih tampan Jarvis. " pujinya dengan malu malu. Bella begitu tak menyangka jika Jarvis pria yang sangat tampan menurutnya. Jarvis terkekeh, melihat rona merah di pipi Bella, pria itu tahu jika Bella merasakan malu sekarang. Cup "Ini hadiah untukmu Bella, sebagai ucapan terimakasihku. " Jarvis mengakhiri ciumannya, melihat wajah Bella yang terkejut dan semakin merona. Bella tak menyangka akan agresifnya Jarvis, pria yang baru dia kenal. "Jarvis. " pekik Bella kesal namun bibirnya kembali di bungkam membuat gadis itu tak bisa mengomel. Bella mengalungkan tangannya, terbuai akan ciuman Jarvis yang liar dan panas namun lembut. Hah hah hah "Kau harus memberikan ini padaku setiap kali aku membantumu Bella. " Jarvis membelai bibir manis Bella dengan lembut, Bella langsung melongo tak percaya. Gadis itu menghela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya. Malu, dia memilih bersembunyi di d**a bidang Jarvis yang terbalut kaos. Jarvis merengkuhnya, entah kenapa dirinya merasa nyaman berada di dekat Bella begitu juga sebaliknya. "Dasar modus. " cibirnya sambil melepaskan pelukannya. Gadis itu segera turun setelah merasakan sesuatu yang telah hidup, diapun paham akan hal itu. Jarvis tersenyum miring, menatap Bella dengan tatapan laparnya, seolah hendak menerkam mangsanya. "Kau tidak ingin menidurkannya Bella. " goda Jarvis ambigu. "Apa? " "Adik kecilku, dia sepertinya ingin mengenali kehangatan calon rumahnya. " celetuk Jarvis. Bella yang langsung paham apa maksudnya langsung meninju d**a Jarvis kesal. Jarvis terkekeh, dia sangat senang menjahili Bella, gadis itu begitu malu dengan ucapan frontal Jarvis. "Kenapa, apa kekasihmu tak lagi peduli padamu Bella? " raut wajah Bella langsung berubah, ingatannya kembali berputar akan kenangannya dulu bersama Sagara. Hatinya kembali berdenyut sakit jika mengingat kenyataan yang ada, sekuat tenaga dia berusaha mengingatnya. Melihat respon Bella, Jarvis di buat penasaran siapa gadis di sebelahnya ini sebenarnya. Dia ingin tahu apapun tentang Bella termasuk masa lalu gadis itu. Bella menghela nafas panjang, kembali menatap kearah Jarvis. "Bisakah kamu mengantarku ke Vilaku Jarvis. " pintanya sambil memohon. "Tapi aku belum bisa meninggalkan rumahku ini Bella, dua hari lagi aku baru bisa pergi setelah menyelesaikan pekerjaan di sini. " ujar Jarvis serius. "Kalau kau pergi sendiri, kamu akan tersesat nantinya Bella. " Jarvis seakan tahu apa yang ingin Bella katakan. Tubuh Bella kembali lemas, Jarvis mengangkatnya dan membawanya ke dalam kamar pria itu. Jarvis ikut berbaring di sebelahnya, merasakan tubuh Bella yang menegang kala dirinya memeluk gadis itu. "Aku tidak akan melakukan sesuatu padamu Bella, aku cuma memeluk kamu. " "Kau bisa katakan padaku hal yang menganggu pikiranmu Bella! "Aku sakit hati Jarvis, pria yang aku cintai tak bisa aku miliki lagi, pria itu telah memiliki kehidupan bersama istrinya. Aku tak mungkin merebutnya, namun rasa ini semakin menyiksaku setiap harinya. " gumam Bella yang hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Bella mengeratkan pelukannya pada tubuh Jarvis, pria itu mengusap punggung Bella, memberi kenyamanan dan kehangatan untuk gadis itu. Tak lama terdengar suara dengkuran halus membuat Jarvis menunduk dan melihatnya. "Izinkan aku mengenalmu lebih dalam Bella, entah kenapa pesonamu begitu memikat dan kuat, seakan membuatku tak berpaling darimu. " gumamnya lirih. Jarvis kembali memagut bibir Bella sekilas terakhir di kening gadis yang terlelap itu. "Tidurlah yang nyenyak Princess!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN