Pandangan pertama

1265 Kata
Hiks hiks "Lho lho sayang ada apa, kenapa panik? Bagaimana tak panik sepulang dari rumah sakit, bukan di sambut dengan senyuman manis namun justru Sagara melihat istrinya menangis di ruang tamu. "Itu mas hiks. " "Itu apa sayang, apa perut kamu sakit? " Sagara mengusap perut istrinya yang mulai membuncit saat ini. Yurika menggeleng pelan, hal itu membuat Sagara bernafas lega namun tetap saja khawatir. "Pria itu jahat mas, hanya karena istrinya melahirkan anak perempuan, pria itu menceraikan istrinya. " jawab Yurika lirih dengan tangis tergugu. Sagara tercengang, hanya karena film istrinya menangis seperti ini. astaga! Yurika menatap sendu kearah sang suami sambil mengengenggam tangan Sagara. "Kamu gak akan menceraikan aku 'kan mas jika calon anak kita bukan laki laki! "Tentu saja tidak, hei dengar aku tak masalah soal jenis kelaminnya asalkan kamu dan calon anak kita sehat dan selamat. " tegasnya. "Ada apa nih? " Keduanya menoleh, Divara dan keluarga kecilnya datang berkunjung. Sagara menghapus air mata istrinya, menyambut kedatangan kakak iparnya itu. Dia menjelaskan apa yang terjadi agar tidak salah paham, Divara tertawa mendengar tingkah adiknya. "Itu cuma film Yuri. " ledeknya. Yurika cemberut, kesal dengan ledekan kakaknya itu. Adam mendengus geli, sepertinya istrinya lupa jika dirinyapun sama seperti Yuri tingkahnya. Namun dia tak berani mengatakannya, bisa bisa dia tak bisa mendapat jatah ranjang dari Divara istrinya. definisi suami takut istri bukan hahaha! "Kak Diva, besok temani aku ke rumah mommy ya. Entah kenapa aku ingin tidur sekamar dengan kakak dan mommy. " ujar Yuri dengan senyum cerianya. "No sayang. " Entah kenapa Sagara tak setuju dengan keinginan istrinya kali ini, Yurika menoleh dan menatap tajam suaminya. Sagara menghela nafas kasar, melirik kearah kakak iparnya, Adam tersenyum licik kemudian menggendong Divara dan membawanya ke kamar tamu. "Mana bisa aku tidur sendirian tanpa kamu honey. " bujuknya sambil mengusap perut sang istri. Yurika berdecak pelan, wanita itu mengerucutkan bibirnya lucu. "Ide kamu bagus juga Ri. " balas Divara mengabaikan pelototan Adam suaminya, wanita itu ingin adiknya selalu bahagia makanya dia menyetujui keinginan Yurika. Semenjak keduanya menikah, mereka jarang mengobrol bersama mommy lebih dekat sama seperti mereka sebelum menikah. "Ini semua ulah kamu 'kan mas, kamu menyuruh kak Adam membawa kak Diva pergi agar tak membujukku! Sagara langsung nyengir, pria itu mendekapnya dari samping. Wanita itu memilih mengalah, bersandar di d**a sang suami dan mengusap tangan Sagara yang berada di perutnya. "Mas, tiba tiba aku teringat dengan nona Bella, bagaimana kabar dia sekarang ya. " gumamnya lirih. "Panggil dia dengan sebutan nama sayang, memang ada apa hmm. " ujar Sagara. "Aku merasa kayak ngerebut kamu dari dia mas, pasti hatinya sangat hancur mendapat kenyataan pahit. " "Jangan pernah berpikiran seperti itu sayang, aku suamimu wajar jika kamu marah, cemburu jika ada wanita lain yang mengejar aku! " Yuri menatap dalam suaminya, wanita itu selalu berdesir setiap menatap manik kelam suaminya. Diapun meminta suaminya mencari tahu keberadaan Bella, Sagara hanya menggeleng melihat sikap istrinya yang terlalu naif menurutnya. "Aku hanya ingin meminta maaf mas, aku ingin mengajaknya berteman. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika menjalin pertemanan dengan Bella tanpa memupuk rasa kebencian dalam hati. " Sagara langsung memagut bibirnya, merasa gemas dengan tingkah sang istri, Yurika merasa terkejut di buatnya. "Baiklah sayang, aku akan mencari tahu keberadaannya asalkan nanti malam tiga ronde oke? " Sagara mengerlingkan mata nakalnya, Yurika merona di buatnya. Wanita itu mengiyakan permintaan suaminya, Sagara bersorak kegirangan membuat Yuri mencibirnya. "Dasar mesuum. " sindirnya. Drt Yurika mengambil ponselnya, membaca pesan dari Dara, setelah itu kembali fokus pada suaminya. "Dara mengirim pesan, saat ini dia dan Ben tengah honeymoon. " "Hm kau mau honeymoon juga honey? " tanya Sagara pada istrinya. Yuri menggeleng, wanita hamil itu memberikan alasannya pada sang suami. "Tapi aku gak mau kamu meninggalkan pekerjaanmu mas, lain kali aja sekalian babymoon! Sagara menuruti kemauan sang istri, kembali mengusap perut bulat Istrinya. "Mas Gara mau kopi? " tawar Yuri yang di angguki suaminya, diapun bangkit dan pergi ke dapur. Tak lama dia kembali, membawakan kopi untuk suaminya tercinta. Sagara menyesap kopinya perlahan, Yuri tersenyum tipis memperhatikan sang suami. Dering ponsel Sagara mengalihkan perhatiannya, Yurika menatap suaminya yang tengah berbicara dengan seseorang. "Keluarga besar ku akan berkumpul nanti malam sayang, kita datang ya? " Sagara tersenyum lebar melihat istrinya setuju. Lagipula Yuri ingin mengakrabkan diri dengan keluarga besar suaminya. Tepat pukul enam sore, Sagara dan Yuri memenuhi pesta yang di adakan orang tua Sagara. Mami Claudia langsung memeluk hangat tubuh menantunya, mengenalkan Yuri pada anggota keluarga yang lain. Yuri langsung menyapa bibi Cleo dan paman R Reynoldy di sambut hangat dua paruh baya itu. "Yuri sayang, ini Daniel Artajaya putra bibi Cleo dan paman Reynold. " Dengan canggung Yuri menyapa sepupu suaminya itu, sedangkan Daniel terpesona dengan kecantikan yang di miliki Yurika. "Ternyata Sagara sudah menikah, beruntung sekali si b******k itu memiliki istri yang cantik. " batin Daniel. Daniel menggenggam tangan Yuri, seakan enggan melepaskannya.Yuri sendiri berusaha melepaskan tautan tangan Daniel. Sagara segera menghempas tangan sepupunya itu, di akhiri tatapan tajamnya pada Daniel. Yurika merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami, Sagara melingkarkan tangannya posesif pada pinggang istrinya. Dia memberi peringatan pada Daniel agar tak bermacam macam dengan istrinya.Daniel terkekeh, diam diam pria itu tersenyum penuh arti sambil menatap Yuri. "Aku senang kalau kita berkumpul seperti ini sekarang sekaligus mengenalkan menantu cantikku Yurika pada kalian semua. " ujar Mami Claudia tersenyum lebar. "Seandainya Daniel yang lebih dulu bertemu mungkin saja Yurika sudah menjadi menantuku Clau. " goda bibi Cleo tersenyum tipis. Berbeda dengan Sagara yang tak suka mendengar ucapan bibinya, Daniel justru tersenyum miring. Entah apa yang pria itu pikirkan sekarang. "Mas, aku ambil minuman ya. " ujar Yuri pamit pada suaminya. "Aku temani ya sayang. " Yuri menggeleng, Sagara membiarkannya. Wanita itu berlalu dari sana setelah pamit pada keluarganya. Diam diam Daniel menyusul kepergian Yurika, mengikuti wanita itu ke mana pun. Ehem "Sepertinya kau sangat haus ya? " Yurika menoleh setelah menaruh gelasnya, wanita itu berjalan mundur dan berusaha menjaga jarak. "Sangat di sayangkan, wanita cantik sepertimu telah menikah dengan sepupuku sendiri. " ujarnya basa basi. Daniel menatapnya penuh kekaguman tanpa Yuri sadari. "Apa kau tahu bagaimana masa lalu suamimu itu Yuri? " "Iya aku tahu, aku tetap memilih mas Gara menjadi suamiku karena aku mencintainya Tuan. " tegas Yurika tanpa ada keraguan. Daniel berdecak pelan, tak suka dengan jawaban Yuri saat ini. Setelah tak ada obrolan Yurika memilih bergabung bersama Sagara, selain itu dia memang berniat menghindari Daniel. Daniel menatap kepergian Yuri dengan tangan terkepal, sejak tadi dia menahan amarahnya. "Aku menginginkannya, bagaimanapun caranya aku harus memiliki Yuri. " gumam Daniel berlalu pergi tanpa berkata apapun. Setelah merasa aman Yurika bernafas lega, dia merasa aneh dan curiga dengan sikap Daniel yang tak biasa. "Apa aku katakan saja ya sama mas Gara. " gumamnya bingung. Namun di sisi lain dia tak ingin membuat hubungan persaudaraan Sagara dan Daniel merenggang. Yurika menghembuskan nafas kasar, Sagara menyentuh bahu sang istri, membuat wanita itu tersentak dan menoleh. "Kamu kenapa sayang, kok melamun? " tanyanya penasaran. "Gak papa kok mas, em mas bisakah mas temani aku di sini. Aku gak nyaman di tinggal sendirian apalagi.. " manik matanya menatap ke sekeliling ruangan dan tak menemukan sosok Daniel. Sagara mengernyitkan dahi, tiba tiba dia teringat dengan Daniel. "Maksud kamu Daniel, honey? " "Huum. " jawabnya lirih takut menyinggung suaminya. Sagara terdiam, benar dugaannya sepertinya Daniel mengatakan sesuatu pada Yurika tadi. Sepertinya pria itu benar benar mencari masalah dengannya. "Daniel Artajaya, berani beraninya kau mendekati istriku! Sagara segera merengkuh istrinya, memberi kenyamanan untuk Yuri. Dia tak ingin istrinya kepikiran masalah sikap Daniel padanya. "Jangan kamu pikirkan masalah tadi, kamu lapar ya ayo ambil makanan sayanh, aku temani. " ajak Sagara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN