Malam Panas

1053 Kata
"Sialan, kenapa Sagara selalu beruntung dalam hal apapun termasuk wanita. "umpat Daniel memukul setir mobilnya. Pria itu begitu penasaran dengan sosok Yurika,dia menginginkan wanita itu secepatnya. Daniel terus mengumpat selama perjalanan, entah apa yang akan dia rencanakan setelah ini nantinya. Pria itu berusaha mengumpulkan informasi mengenai wanita pujaannya itu. Di sisi lain Yurika berada di kamar mandi, seorang perempuan datang dan menyapanya. Marissa, sepupu perempuan Sagara yang baru datang dari Amerika. wanita itu memperhatikan gerak gerik Yurika dalam diamnya. "Apa kamu sudah lama mengenal Sagara, Yuri? " tanya Marissa. "Belum lama sih, awal pertemuan kami di awali kesalahan. " jawab Yurika santai. Marissa semakin penasaran dengan kisah Yurika dan Sagara. Gadis itu terus mendesaknya untuk bercerita, mereka ke luar dari toilet dan kembali bergabung bersama keluarga. Yurika tertawa pelan melihat Marissa yang begitu penasaran akan kisahnya dengan Sagara. "Mom, Dad semuanya aku dan Yuri akan ke kamar lebih dulu. " pamitnya pada keluarga besar mereka. Sagara mengajak sang istri pergi ke kamar, dia ingin istrinya segera beristirahat. Sagara membantu istrinya berganti pakaian, Yuri berdecak pelan melihat tangan nakal suaminya yang sengaja memegang buah persiknya. Pria itu memang tengah mencari kesempatan dalam kesempitan, selalu punya cara untuk menggodanya. "Umh. " Sagara merebahkan istrinya di atas ranjang, merekapun melakukan penyatuan indah di atas sana. Hanya satu ronde, Sagara tak ingin membuat istrinya semakin kelelahan malam ini. Yuri mengusap kepala suaminya yang kini tengah menyesap dadanya, pria itu seperti bayi yang haus. "Sebaiknya kita istirahat mas. " Sagara mengangguk keduanya segera bersih bersih dan kembali memakai pakaian, mereka langsung tertidur setelah ini. Hubungan antara Bella dan Jarvis semakin dekat setiap harinya, gadis itu mulai terbuka di depan Jarvis. Jarvis cukup kagum dengan Bella, wanita itu tak memiliki niat jahat dalam hubungan mantan kekasih wanita itu. Malam ini gadis itu duduk di balkon sambil memandangi langit yang tampak gelap namun cerah karena sinar bulan yang terang. grep "Kenapa masih di sini hmm, udara semakin dingin Bella? " bisik Jarvis memeluknya dari belakang. Saat ini Bella hanya mengenakan gaun tipis yang cukup seksi, gadis itu menoleh dan Jarvis langsung mengulum bibirnya. Jarvis bangkit, membawa Bella ke dalam. Keduanya duduk di atas karpet berbulu, Jarvis membaringkan tubuh gadisnya di atas sana. Melihat pancaran gairah di kedua manik Jarvis membuat Bella mengerti. "Kau menginginkan aku Jarvis, apa kau yakin? " "Kau akan terikat selamanya bersamaku, harus kau tahu aku wanita yang posesif. " ujarnya panjang lebar. . "Aku tak masalah honey, aku bukan pria b******k yang kabur setelah merebut hal berharga seorang wanita! Bella langsung menciumnya, dia membiarkan Jarvis melepaskan pakaian mereka berdua hingga polos. Keduanya saling bertukar Saliva, Jarvis menyentuh titiksensitif Bella membuat gadis itu mengerang. Dan malam ini secara sadar dia menyerahkan dirinya pada Jarvis Mohana. Jarvis yang awalnya kesulitan langsung menghentaknya dalam membuat Bella menjerit kesakitan, pria itu berusaha membuat Bella nyaman. Pria itu terus berpacu dengan cepat, Bella mendesahkan namanya membuat gairah pria itu semakin membara. Dini hari keduanya baru berhenti, karena kelelahan mereka langsung terlelap dalam mimpi. Cahaya terang matahari membuat tidur Bella terusik, gadis itu terbangun dan membuka mata. Pipinya merona mengingat percintaan panasnya bersama Jarvis, dia menoleh dan melihat Jarvis yang ikut terbangun. Jarvis mengulas senyum hangatnya, terlihat jelas jika pria itu terlihat puas akan kegiatan mereka semalam. "Ssh. " Bella merasakan sekujur tubuhnya terasa remuk dan terasa nyeri di bagian tertentu. "Kenapa honey? " tanyanya panik. "Tubuhku rasanya remuk sayang. " rengek Bella bersandar di d**a sang kekasih. Dia akui stamina Jarvis begitu kuat dan perkasa dalam urusan ranjang. Jarvis menyibak selimutnya, membawa kekasihnya ke kamar mandi dan mengabaikan jeritan Bella. Satu jam setengah keduanya baru ke luar setelah Bella kembali melayani Jarvis di dalam kamar mandi. Wanita itu merengut kesal, Jarvis terkekeh melihat kekasihnya merajuk. Pria itu terkekeh melihat wajah cemberut kekasihnya, keduanya baru saja mengulang kegiatan semalam. Bella buru buru memakai pakaiannya, dia tak ingin melayani gairah sang serigala lapar. Selesai memakai pakaiannya Jarvis mengajak kekasihnya ke luar, mereka sarapan bersama. "Sayang, apa kamu gak berniat pergi ke kota? " tanya Bella hati hati. "Belum saatnya sayang, memangnya kenapa? apa kamu tidak betah tinggal di sini bersamaku hemm? " tanyanya dengan lembut dan penuh perhatian. Bella menggeleng dengan cepat, wanita itu bangkit dan menariknya ke luar, Jarvis menurut. Keduanya duduk di sebuah kursi kayu yang cukup kuat dengan Bella di atas pangkuannya. "Apa kamu merindukan keluargamu honey? " tanya Jarvis. "Iya dan ingin sekalian mengenalkan kamu sama mama dan papaku sayang. " jawab Bella sambil tersenyum manis. Jarvis mencium bahu kekasihnya, Jarvis hanya diam tak berkomentar apapun. "Kau yakin, apa orang tua kamu akan merestui hubungan kita sayang, aku bukan pria kaya lho? " Jarvis menatap lekat wajah kekasihnya, Bella terdiam sejenak namun dia berusaha meyakinkan Jarvis. Keduanya kembali berciuman dengan mesra, Bella begitu menikmati hari harinya bersama sang kekasih di rumah hutan. Siapapun Jarvis, Bella tak peduli. Dia sudah terlanjur nyaman dan cinta pada pria yang memeluknya saat ini. "Sayang, bagaimana kalau aku menginginkanmu lagi? " bisik Bella nakal mencium telinga sang kekasih. Seringai Jarvis terbit, dia sangat suka Bella yang agresif seperti ini. Tanpa ragu pria itu bangkit, membawa Bella ke kamar, keduanya bercinta di sana. "Ugh. " Bella terus mendesak, hentakan Jarvis semakin kuat dan dalam, wanita itu terus mendesakkan namanya. Jarvis kembali menciuminya, dengan gerakan cepat pria itu terus mengajak sang kekasih menikmati surga dunia. "Ah. " keduanya telah mencapai puncak kenikmatan bersama, Jarvis melepas penyatuan mereka dan berguling ke samping. Keduanya tak sadar bermain hampir dua jam, mereka larut dalam kenikmatan. "Kau sangat nikmat honey, aku menyukainya. " puji Jarvis membuat pipi Bella merona. Mendapat pujian seperti itu tentu saja membuat Bella bahagia dan bangga akan dirinya. Wanita itu mengecup d**a sang kekasih, bersandar di sana dengan nyaman. "Apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku Jarvis, aku mencintaimu sayang! "Justru aku yang harus bilang seperti itu honey, aku bukan pria kaya dan pastinya wanita cantik dan seksi sepertimu banyak di incar lelaki kaya dan tampan. " gumam Jarvis sambil mengecup bibir wanitanya. Bella menyentuh wajah sang kekasih, menciumnya singkat kemudian meyakinkannya. Pria itu begitu bahagia, Bella menerima dirinya apa adanya. "Jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, apa kamu akan tetap mencintai aku Bella. " batin Jarvis. Ada rasa takut kehilangan dalam dirinya mengenai Bella, dia menyimpan rahasia yang belum di ketahui kekasihnya mengenai identitasnya. Dia belum siap kehilangan Bella, baginya Bella adalah dunianya dan separuh nafasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN