Sore ini Sagara membawa istrinya pergi ke mansion orang tuanya, Yurika merasa gugup karena akan bertemu kedua mertuanya. Bagaimana reaksi keduanya nanti saat bertemu dengan dirinya. Pria itu menuntun istrinya hati hati, memasuki rumah orang tuanya. Suasana terlihat ramai membuat keduanya bertanya tanya, Sagara merangkul Yuri dan menuju ke ruang tengah.
"Mami, Papi!
"Kebetulan kamu ke sini nak, ini ada orang tua Bella yang ke sini, katanya Bella telah kembali Gara, apa benar? " tanya Mami Claudia penasaran. Yurika terkejut mendengar nama Bella di sebut, ada rasa takut dalam hatinya membuatnya teringat akan mimpinya kemarin.
"Iya Mom, dan aku belum bertemu dengannya. " ujar Sagara datar.
"Kau harus tahu alasan Bella pergi meninggalkan kamu sayang agar kamu tak menyesal nantinya. " bujuk sang mami. Sagara menghela nafas kasar, enggan rasanya jika harus bertemu mantan kekasihnya itu.
"Mi, Pi aku ke sini ingin mengatakan sesuatu pada kalian. "
"Aku telah menikah, wanita di sisiku adalah Yurika Serenity Dirgantara, istriku. " pengakuannya membuat semua orang di sana terkejut. Mami Claudia ternganga, menatap putranya tak percaya. Yurika mengeratkan tautan tangannya pada tangan sang suami. Papipun menghela nafas kasar, pria itu hanya diam, menyuruh keduanya duduk.
"Bagaimana bisa kamu menikah tanpa sepengetahuan kami Orlando Sagara Dirgantara? " geram mami kesal sekaligus marah. Sagara tetap berekspresi datar, seperti tak terusik dengan kemarahan ibunya itu.
"Why mom, ini pilihanku. Yurika berasal dari keluarga jelas dan please mom tolong jangan bahas apapun lagi tentang Bella. " pinta Sagara tegas.
"Apa kau tidak mencintai Bella lagi Gara? " cecar nyonya Aline pada Sagara. Sagara hanya diam tak berkata apapun, Yurika menatao suaminya dengan lekat. Dia bisa melihat jika suaminya sepertinya masih menyimpan rasa pada mantannya itu.
"Soal cinta itu sudah terhapus sejak lama tante, " jawab Sagara setelah beberapa saat hanya diam. Tak puas dengan jawaban Sagara, nyonya Aline terus mencecarnya, Mami Claudia menjadi jengkel melihatnya.
"Dengar Gara alasan Bella pergi karena penyakitnya dan untuk kamu Aline, berhenti mencecar putraku dengan pertanyaan yang menyudutkan itu. Apa kau lupa dengan pengakuan Sagara barusan. " tegas Mami Claudia.
Deg
Sagara terkejut mendengar kebenaran mengenai Bella, tentang alasan kepergian gadis itu meninggalkan dirinya beberapa tahun lalu. Pria itu bangkit, meninggalkan semuanya termasuk istrinya. Yurika menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar.
"Tetaplah di sini, biarkan Sagara merenung semuanya. " ujar Mami Claudia melihat gelagat menantunya yang hendak menyusul Sagara. Yurika mengangguk pasrah, dalam hati diapun sedih melihat bagaimana respon suaminya tadi.
"Sialan. " umpat Sagara kesal mengetahui kenyataan mengenai Bella yang tak dia ketahui selama ini. Pria itu mengumpati kebodohannya namun semuanya telah terlambat. Sagara teringat dengan istrinya, pria itu segera membersihkan diri, lalu turun ke bawah.
"Lho Mi, di mana Yuri, istriku? " tanya Sagara bingung.
"Yurika pamit pulang pada mami dan papi. " jawab Mami santai. Sagara terkejut, melotot kearah orang tuanya dengan tangan terkepal. Tanpa mendengar penjelasan orang tuanya Sagara pergi begitu saja.
"Kenapa mami membiarkannya pergi, apa mami tahu jika Yuri sedang hamil anakku. " Sagara meninggikan suaranya, kedua orang tuanyapun terkejut dengan pengakuan putra mereka.
Yurika menangis di dalam taksi, hatinya hancur melihat bagaimana suaminya terlihat menyesali perbuatannya, seakan masih berharap pada mantan kekasihnya itu. "Maafkan mama nak, mungkin papa memang bukan milik kita, mama janji akan menjaga kamu sekuat tenaga. Yurika mengusap perutnya yang masih rata, berbicara pada calon janinnya.
Wanita itu turun setelah sampai di tempat tujuannya, dia segera menemui sang sepupu. Yurika langsung menerjang tubuh seorang pria yang tengah berdiri menerima telepon. Dia menoleh, terkejut melihat Yurika yang menangis memeluknya. "Kenapa kamu menangis Yuri, apa uang jajanmu habis. " celetuk pria itu asal.
"Derren Arkansas Langston, berhenti bercanda. " omel seorang wanita dengan perut buncitnya mendekati keduanya. Darren mendengus sebal, wanita hamil itu mengajak Yuri untuk duduk. Dia Lucy Teresia Carter eh ralat Lucy Teresia Langston.
"Ri ada apa, kenapa kamu datang datang menangis seperti ini? " tanya Terry dengan lembut. Yuri mengatakan kebenaran pada mereka berdua, rahang Darren nampak mengeras.
"Kamu sudah di bodohi dokter sialan itu Yurika. " sentak Derren pada sepupunya. Yurika semakin terisak dalam pelukan Terry, wanita hamil itu berusaha menenangkan sepupunya.
"Masuk kamar dan istirahatlah. " tegas Derren pada Yurika, Yuri melepas pelukannya, bangkit dan melangkah gontai menuju ke kamar. Terry menatap sendu kepergiannya, ikut bersedih dengan apa yang tengah Yuri alami saat ini.
"Sayang lakukan sesuatu, aku sangat kasihan pada Yuri, apalagi Yuri tengah hamil saat ini. " ucap Terry pada suaminya. Derren hanya diam tak berkomentar, pria itu langsung menghubungi seseorang. Terry teringat awal pernikahannya dengan Derren hampir sama dengan kejadian yang di alami Yurika.
"Ternyata ucapan dan janjimu hanyalah kebohongan mas, kamu juga sepertinya tak peduli akan kepergianku mas! Yuri menangis tergugu, dia berharap suaminya berhasil menemukan keberadaannya, namun semuanya hanyalah semu. Mungkin saja Sagara memang sebenarnya benar benar tak mempedulikan dirinya serta calon anak mereka.
"Mungkin kamu memang tak butuh aku mas, lebih baik aku tinggal di sini sementara. " batin Yurika miris. Apakah dirinya tidak akan pernah mendapatkan cinta suaminya, dia kira namanya telah terukir di hati Gara namun ternyata dirinya salah. Yurika juga merasa bersalah pada orang tuanya karena tak jujur.
Dia merasa orang tua Sagara tak menerima dirinya sebagai menantu mereka, hal itu membuat hatinya semakin sakit. Yuri kembali mengusap perut rata nya, dia meski kuat dan tegar menghadapi masalah ini demi janin dalam perutnya. "Kamu keajaiban untuk mama sayang, mama bahagia memiliki kamu. Sehat sehat di perut mama. "
Yuri merasakan kepalanya pusing, memilih berbaring di ranjangnya. Dia ingin melupakan masalahnya sejenak meskipun sulit untuknya, teringat bagaimana suaminya terkejut mendengar kenyataan tentang masa lalunya. Cemburu tentu saja, istri mana yang tak sakit hati melihat suaminya masih terfokus pada masa lalunya.
"Sepertinya kamu menyesal meninggalkannya mas, jika nona Bella menemui mu apa kamu akan memilihnya dari pada aku, istrimu! Baru membayangkannya saja, dadanya terasa sesak bagaimana nanti jika itu benar benar terjadi.
Haruskah dia terus bertahan dalam pernikahan cinta sepihaknya ini atau mengakhiri semuanya. Melepas suaminya, membiarkan dia kembali pada wanita yang di cintainya. Rasanya dia tak rela jika harus kehilangan Sagara, lalu bagaimana dengan perasaan suaminya itu sekarang. Yuri menghela nafas panjang, menatap lekat cincin dalam jari manisnya.
"Jika kamu memilih dia mas, aku akan pergi dari hidup kamu selamanya. Aku pasti bisa menjaga calon anak kita tanpa kamu. " gumam Yurika lirih.