Restu yang sulit

1039 Kata
Berbeda dengan Yurika dan Dara yang tengah berbahagia dengan kehamilan mereka, justru Bella tengah di hadapkan situasi pelik. Orang tua Bella tak setuju dengan hubungan Bella dengan Jarvis. "Mami tak mau tahu, putuskan hubungan kamu dengan pria itu Bella. " tegas mami dengan nada datarnya. "Mi, Bella gak mau. Aku cinta sama Jarvis mami dan mami sangat egois kali ini. " tolak Bella dengan nada kecewanya. Mami tak mau dengar alasan apapun dari putrinya, Bella menitikkan air matanya. Gadis itu bangkit dan memilih pergi bersama Jarvis, keduanya mengabaikan teriakan mami. "Maafin sikap mami aku sayang hiks. " Jarvis menariknya ke pelukannya, paham akan perasaan sang kekasih. Diapun tak mempermasalahkan atas penolakan orang tua Bella padanya, meski dirinya sempat terbawa emosi. Keduanya masuk ke mobil, Jarvis melajukan roda empatnya dengan kencang. Sudah cukup selama ini mami selalu mengatur hidupnya, dan sekarang hal itu tak akan terjadi lagi. Dia yang akan menentukan hidupnya sendiri, termasuk bersama Jarvis. Bella menangis tergugu, teringat mami nya yang menyalahkan dirinya karena tak berhasil menggoda Sagara. Gadis itu tersenyum miris, hanya karena harta maminya tega mengorbankan hidup dan perasaan anaknya. Setelah menempuh beberapa jam keduanya tiba di rumah hutan milik Jarvis, pria itu segera membawa kekasihnya masuk. "Sayang dengar, tanpa restu orang tua kamu, aku tetap akan menikahi kamu! Bella mengangguk membiarkan Jarvis menghapus air matanya, pria itu membopongnya dan membawanya ke kamar. Keduanya memulai aksi percintaan panas mereka, melampiaskan rasa marah, kecewa dan sakit hati mereka melalui penyatuan panas. "Ugh sayang. " Bella meremas rambut sang kekasih, menekan kepala Jarvis agar tenggelam di dadanya. Jarvis terus melahap persik sang kekasih sambil melaju mundurkan pinggulnya. Berbagai gaya mereka lakukan, Bella berada di atasnya melakukan gerakan cepat demi memuaskan hasratnya. Jarvis mengerang, merasakan nikmat akan gerakan liar sang kekasih. Setelah gadisnya lelah, Jarvis mengambil alih permainannya. Pria itu kini berada di belakangnya, menghujamnya dari belakang hingga adik kecilnya masuk dalam guanya lebih dalam. Hingga ronde ke empat dengan durasi hampir dua jam kegiatan panas itu berakhir. Bella mengatur nafasnya yang tersengal, Jarvis menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. "Sepertinya aku harus mengumumkan identitasku yang sebenarnya! Bella bersandar di tubuh sang kekasih, Jarvis memeluknya dari samping. Gadis itu benar benar tak ingin kehilangan Jarvis, pria yang dia cintai. Sementara Jarvis terus menciumi punggung tangan kekasihnya, wanitanya serta belahan jiwanya ini. Selama ini Jarvis menepi dan mengurung diri di rumah hutan miliknya, dia lakukan itu sengaja demi mencari ketenangan sekaligus jodoh. Dia ingin lihat akankah ada wanita yang menerima dia tanpa melihat kekayaan pria itu apa tidak. Justru di sana dia di ketemukan dengan Bella, gadis kota yang rendah hati, manis, membuatnya b*******h dan puas. Jarvis sedikit menyibak selimut, tangannya masuk ke dalam dan menyentuh lekuk sang kekasih. Bella membiarkannya, wanita itu justru mencium calon suaminya dengan lembut. Pria itu menarik tangannya, segera memakai celananya, lalu pergi ke luar. Bella menarik selimut menutupi tubuhnya, turun dari ranjang dan menyusul sang kekasih. Bella memeluk pinggang Jarvis, menyandarkan kepalanya ke punggung pria itu. "Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? " Jarvis membalik tubuhnya, memeluk posesif wanitanya. "Tidak ada, sebaiknya kita mandi sekarang. " Pria itu langsung menggendongnya, membawanya ke kamar mandi. Mereka kembali mengulang penyatuan penuh kenikmatan itu di sana. Selesai berpakaian Jarvis segera menyiapkan makanan, Bella berniat membantu namun kekasihnya itu melarangnya. Gadis itu menghela nafas panjang, teringat kedua orang tuanya justru membuatnya kembali bersedih. Apa yang harus dia lakukan demi mendapatkan restu orang tuanya. "Sayang makanan sudah siap ayo. " ujar Jarvis. Bella menoleh, tersenyum dan pergi ke meja makan. Pria itu memperhatikan kekasihnya yang begitu lahap, Bella mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Kamu gak makan honey? " "Iya ini aku makan. " jawab Jarvis singkat. Selesai menghabiskan makanannya, Bella mengajak kekasihnya duduk di atas karpet bulu. "Sayang, apa kamu tidak punya keluarga? " tanya Bella hati hati takut menyinggung sang kekasih. Jarvis terdiam, pria itu bingung dengan jawaban apa yang akan dia berikan. Bella mengenggam tangannya, dia mengatakan tidak masalah jika Jarvis tak ingin berkata jujur padanya. dering ponsel mengalihkan perhatian mereka, Jarvis terlihat berbicara dengan seseorang. Setelah selesai pria itu kembali berbicara pada wanitanya. "Sayang aku antar kamu ke apartemen kamu ya, aku ke kota ada urusan. " ujar Jarvis. "Its okey, ya aku setuju. " keduanya bersiap siap, Jarvis melajukan mobil meninggalkan rumah pohon. Selama perjalanan tak ada obrolan apapun, Bella berusaha mengerti kekasihnya. Jarvis sendiri merasa bersalah karena menyembunyikan identitas aslinya pada Bella. Sampai di kota Jarvis mengantar Bella ke apartemen wanitanya, setelah itu pergi dari sana. Bella sebenarnya penasaran, ke mana kekasihnya itu pergi. Dia memilih memeriksa ponselnya, terdapat nomor mommy nya yang menghubungi dirinya dan satu nomor asing yang tak dia kenal. "Nomor siapa ini? " gumamnya bingung. Namun wanita itu memilih abai, menurutnya itu hal tak penting baginya. Bella mengirim pesan pada salah satu temannya untuk datang, dia butuh teman curhat saat ini. Di sisi lain Jarvis berada di kediamannya, pria itu langsung bergegas ke ruangan kerjanya di susul sang asisten. "Der, bagaimana bisa ada yang mengusik perusahaan kita hah? " Derrek menjelaskan siapa lawan mereka pada Jarvis, Jarvis memintnya untuk menyelidiki siapa lawannya. "Cepat cari tahu siapa dia, berani beraninya melawan aku! "Siap Tuan. " Derrek ke luar dari ruangan Jarvis, setelah kepergian asistennya itu Jarvis bangkit dan melangkah ke luar. Diapun terpaksa bergabung bersama keluarganya di ruang tamu. "Akhirnya kau kembali juga son dari pertapaanmu! Jarvis mengabaikan sindiran dari Daddynya itu, pria itu hanya berwajah datar. Nyonya Alika menghela nafas panjang,wanita paruh baya itu senang melihat putranya kembali. "Jika karena bukan masalah perusahaan, aku juga tak akan mau kembali tuan Michael Arion Mohana. " Daddy Rion berdecak pelan melihat tingkah putranya itu. Nyonya Alika hanya bisa bersabar menghadapi kedua pria tersayangnya yang sering ribut ini. "Sayang bagaimana kabar kamu nak? " tanya Nyonya Alika lembut. "Aku lebih dari baik mommy. " balas Jarvis tersenyum tipis. Nyonya Erika mengangguk, wanita itu mengutarakan niatnya pada sang putra namun Jarvis menolaknya. "No mom, aku sudah punya calon istriku sendiri! "Kenapa kau tidak mengajaknya ke sini? " tanya nyonya Alika lagi. Jarvis menggeleng, dia menjelaskan alasannya pada sang ibu, daddy-nya menatapnya tak percaya. Kedua paruh baya itu memilih mengalah, mereka akan sabar menanti sampai calon menantu mereka di pertemukan dengan mereka. Jarvis memeriksa ponselnya namun tak ada satupun pesan dari sang kekasih sedikit membuatnya resah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN