Bab3

1078 Kata
Hingga siang hari, Elena belum juga ditemukan. Elina dan Eros benar-benar sangat khawatir. "Ya Tuhan, papi.. bagaimana ini?" "Tenang, mi. Anak kita pasti ketemu. Papi, yakin itu." Eros pun bermondar-mandir tak karuan. "Papi, akan turun untuk mencarinya. Mami tunggu papi, dirumah ya?" Elina mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya. Lalu Eros pergi meninggalkan rumahnya, mengendarai mobil mewah miliknya. *** "Ini benar-benar enak, manis… manis seperti Elena." Elena kembali makan gulali, hanya tempatnya saja berbeda. Hari ini, dia sangat puas, setengah hari ia habiskan untuk berkeliling di tepi kota. Dia tak peduli dengan tatapan orang-orang akan kekaguman padanya. Elena bersenandung dan berlarian, hingga tubuh mungilnya menabrak tubuh kekar seseorang. "Dugh.." "Awh.. hidung Elena." Elena pun menggosok-gosok hidungnya. Lalu melihat kaki seseorang di hadapannya, perlahan menaikkan pandangan hingga dia mendongak. Tatapan tajam membunuh padanya. "Uncle, tinggi sekali.." Laki-laki itu memicingkan matanya. "Apa kau bil … " "Ssst…" Elena mengacungkan jari telunjuknya di hadapan laki-laki itu. "Uncle, membungkuk sebentar." "Aku akan membunuhmu, sialan!" Ucap laki-laki itu dingin. "Tidak, tidak. Kau tidak bisa membunuh Elena.." Jawab Elena terkekeh. "Dan Elena juga bukan pembawa sial. Jadi, uncle membungkuk lah.." Lalu dia pun menuruti permintaan Elena. Membungkuk di hadapan Elena. Elena mengusap lembut keningnya. "Tidak boleh seperti ini, jika dahimu berkerut. Kau akan terlihat tua, uncle." Laki-laki itu terdiam menatap wajah Elena . Ucapan Elena mengundang tawa dua manusia di belakang laki-laki itu. Elena memiringkan kepalanya melihat di belakang. Elena memerjapkan matanya berkali-kali. "Kalian bertiga manusia, bukan?" "Menurutmu?" "Tiang listrik." Hening.. "Eh, maksud Elena kalian tinggi." Lalu Elena masuk ke dalam mantel laki-laki itu. "Hei.. apa yang kau lakukan?" Pertanyaan dengan sedikit bentakan. "Sudahlah, Efron. Sepertinya dia menyukaimu." Ucap Leon. "Benar, dia sangat cantik. Seperti Barbie.." ucap Neo membenarkan. "Jangan menyentuhku, atau aku akan membunuhmu." Ucap Efron pada Elena. "Uncle, tolongin Elena. Ya, ya, ya? Dibelakang sana ada orang yang berlari, sedang mencariku. Aku tidak mau," Tak lama kemudian, ada beberapa orang berseragam hitam berlarian. Elena mengeratkan pelukannya di dalam tubuh Efron. "Permisi, tuan. Apa anda melihat seorang gadis berkulit putih dan hidungnya mancung?" Tanya seorang berseragam hitam yang berhenti di dekat Efron. "Aku tidak tahu. Aku tidak peduli dengan dunia sekitar." "Baiklah, tuan. Terima kasih.." orang berseragam hitam itu pun pergi dari sana. "Kau beruntung, Efron.. mendapatkan pelukan hangat dari gadis cantik nan manis seperti dia." "Jika aku menjadi Efron, aku akan membawanya pulang. Lalu aku akan menikahinya." Sambung Neo. Efron hanya memutar bola mata malas. Efron menautkan kedua alisnya, mendengar suara tangisan. Lalu ia membuka mantelnya, terkejut.. Gadis itu menangis di pelukannya. "Efron, apa yang kau lakukan?" tanya Neo. "Apa kau menusukkan pisau di punggungnya." Efron menatap sini pada Leon dan Neo. "Demi Tuhan, aku tidak tahu kenapa dia menangis." "Hei, gadis manis.. kenapa kau menangis?" Tanya Neo. "Hiks..hiks.." Elena masih terus menangis. "Apa aku melukaimu?" Tanya Efron. Lalu Elena menggelengkan kepalanya. "G-gigi Elena, sakit hiks.. hiks.." Rahang Efron mengeras. Leon dan Neo menahan tawanya. "Leon, ayo kita pergi. Sepertinya kita harus kembali ke kantor.." "Kau benar sekali, Neo. Baiklah Efron.. aku dan Neo akan kembali ke kantor. Kau urus saja bocah kecilmu itu." "Heii, kalian…." Efron berdecak kesal, Neo dan Leon sudah terlebih dulu pergi. "Sial.. kau benar-benar merepotkan." "Hiks...hiks.. s-sakit." Efron melihat Elena dengan seksama. 'Dia bukannya gadis yang kemarin ya?' batin Efron. "Uncle, gigi Elena sakit.." Efron menghela napas, dan merasa tak tega untuk meninggalkan Elena seorang diri. Lalu Efron menarik tangan Elena masuk ke dalam mobilnya. "Aduh, mami… Elena mau mami." Efron menatap tajam pada Elena. "J-jangan melotot hiks.. nanti matanya keluar. Elena mau pulang, uncle.." "Ck, dimana rumahmu? Kau benar-benar sangat merepotkan." Elena hanya geleng kepala. "Apa maksudmu? Jangan bilang, kau tidak mengetahui dimana rumahmu?" Elena mengangguk kecil. "Astaga, kau benar-benar merepotkan! Kenapa tadi kau tidak pergi dengan orang yang mencarimu." "Uncle, itu mobil papi.. hiks.." "Kalau begitu turun dari mobilku." "T-terimakasih, uncle. Elena pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi." "Tidak, aku berharap jangan pernah bertemu lagi." "Uncle, kau sangat tampan. Jika kita bertemu lagi, Elena yakin.. kita berjodoh. Bye uncle.." ucap Elena tersenyum sebelum turun dari mobil Efron. "What? Apa kata si bocah itu? Berjodoh? Dan dia, kenapa dia tak takut jika aku akan membunuhnya?" *** Di dalam mobil, Eros sedang mengamati pinggiran jalan. Berharap ada sosok putrinya disana. 'brakkk' Eros terlonjak kaget, menolehkan kepalanya. Dan terkejut, Elena sudah berada disampingnya. "Elena?" "Hiks.. papi, marahnya nanti saja. Hiks.. gigi Elena sakit, papi." "Astaga, baiklah. Sekarang kita pulang ya, sayang?" Elena hanya menganggukkan kepalanya. "Hiks.. Elena mau mami, hiks.. sakit," "Sabar ya, sayang.." ucap papinya sedikit panik. Eros sangat payah jika putrinya sakit gigi. Dengan membawa mobil cepat namun teratur agar putrinya tak ketakutan jika dia membawa mobil dengan ugal-ugalan. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di halaman rumah mewahnya. Eros membukakan pintu mobil untuk Elena. Elena tertidur saat di dalam mobil. Eros menggendong Elena, disambut dengan raut panik di wajah istrinya. "Papi, ada apa dengan Elena?" "Ssst, anak kita hanya tidur, sayang. Dia sangat bandel, mungkin dia memakan makanan manis. Dan sakit gigi." "Astaga, sebaiknya cepat tidurkan di kamar kita." Eros menatap wajah istrinya, seolah bertanya mengapa di kamar kita? "Ayolah, Pi. Papi tidak mau anak kita kabur lagi, kan?" Ya, Eros terdiam sejenak mencerna perkataan istrinya. Lalu membawa Elena ke dalam kamarnya dengan istri. "Kalau dia di kamar kami, susah pasti kami tidak bisa olahraga malam nantinya." Gumam Eros kecil. Dengan langkah pelan, Eros meninggalkan Elena tertidur di kamar orang tuanya. "Pi, kenapa Elena bisa sama kamu?" "Papi tidak tahu, tiba-tiba dia muncul dan masuk ke dalam mobil." "Maksud papi?" "Sudahlah, tidak perlu dibahas. Yang penting putri kita baik-baik saja. Yang sekarang perlu kita bahas adalah, bagaimana caranya nanti malam kita olah raga jika Elena berada di dalam kita." Ucapan Eros mendapatkan pukulan pelan dari istrinya. "Dasar suami m***m!!!" Teriak Elina pada Eros. Eros hanya terkekeh mendengar teriakan istrinya. "Ayolah, sayang. Aku merindukanmu." "Eros, kita ini sudah tua. Jangan berlaku seperti anak baru beranjak dewasa." Cibir Elina pada Eros. Eros masih terkekeh dengan raut kesal istrinya. "Sayang, bayi besar kita tadi menangis karena sakit gigi." "Astaga, dia pasti memakan gula-gula di jalanan. Dia pasti makan makanan sembarangan." Ucap Elina dengan panik. "Tenanglah, dia pulang dengan selamat saja aku sudah sangat bersyukur." "Tapi, dia --- " "Ssst...jangan bantah, aku mencintaimu. Aku harus melanjutkan pekerjaanku." Ucap Eros mengecup bibir istrinya singkat lalu pergi ke ruang kerjanya. "Astaga, dia selalu saja membuatku terkejut." Ucap Elina dengan mengusap bibirnya dengan jari. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN