Bab2

1073 Kata
"Efron, kau adalah pewaris tunggal keluarga Jackson dan kau harus menjadi penerus ku." Efron hanya terdiam mendengar perkataan ayahnya. "Apa kau mendengarku?" Efron mengangguk kecil. "Aku tidak tuli, dad." Richard hanya berdecak kesal. "Kau harus ingat, musuh terbesar kita harus terkalahkan. Hanya ada satu cara untuk menghancurkan dirinya sejak dulu." Seringai licik terukir di bibir Richard. "Apa itu, dad?" "Kau harus bisa membunuh orang tersayang musuh kita." Efron hanya menghela napas sejenak. "Akan aku pikirkan itu." Efron beranjak dari sana. Meninggalkan daddynya yang sedang menatap tajam pada dirinya. Efron tak peduli. Karen sejujurnya, ia tak ingin mengikuti jejak sang Daddy. Efron merebahkan tubuhnya sejenak. Lelaki muda dengan wajah yang sangat tampan, warisan terindah dari daddynya. Ya, meskipun Richard sudah tak lagi muda, namun pesonanya tak lekang oleh waktu. Tapi, dia sangatlah setia dengan sang istri. Hanya satu yang membuat semua orang takut, itu karena dirinya adalah ketua geng mafia. Dan tak segan-segan untuk membunuh orang yang mengusik hidupnya, tanpa ampun. Efron kembali berdiri, meraih jaket kulit dan kunci mobil mewahnya. Lalu menuruni anak tangga. "Kau mau kemana, Efron?" "Aku akan pergi keluar, mom. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan mungkin aku akan pulang ke mansionku sendiri." "Baiklah, hati-hati boy.." Efron tersenyum dan mengangguk kepada momnya. Lalu pergi meninggalkan halaman parkir rumah mewah milik keluarganya. *** Ya, kini Efron telah berada di salah satu club ternama di kotanya. Bersama dua pengawal kepercayaan dirinya. "Apa kau baik-baik saja, Efron?" Tanya Neo pada sahabat sekaligus tuannya itu. "Memangnya aku ini terlihat sangat berantakan?" Neo menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Bukan itu, maksud Neo. Tapi, kau terlihat menyedihkan." Sambung Leon yang kini hanya di beri tatapan sinis oleh Efron. Leon dan Neo terbahak menanggapinya. Para wanita berlalu lalang dan tampak menggoda mereka bertiga, terlebih pada Efron. Selain tampan rupawan, dia pun sangat kaya raya. "Hello, boy. Apa kau mau bermain?" Efron menatap tajam pada wanita yang telah bergelayut manja di sampingnya. Yang mencoba menggodanya. "Menyingkirlah dari hadapanku, dan jangan sentuh. Atau aku akan memecahkan kepalamu." Ucap Efron dingin, lalu wanita itu sangat ketakutan dan pergi. "Wow… kau memang sangat kejam, tuan." Ujar Neo terkekeh yang diikuti Leon. "Kalian tahu sendiri, bagaimana denganku. Aku sangat membenci para wanita yang berani menyentuhku dengan nada menggoda. Cih,." Ucapan Efron lagi-lagi membuat kedua sahabatnya terkekeh. "Apa kau tidak ingin menikah, Efron?" Tanya Leon padanya. Efron memetikkan jarinya. "Hei, kau berkacalah sebelum bertanya padaku." "Hei, apa kau tidak sadar, jika aku sudah menikah?" Tanya Leon kembali dengan sangat bangga, ya hanya Leon yang sudah menikah di antara mereka bertiga. "Kau menikah karena kau telah menghamilinya, boy. Jadi tidak ada alasan untuk kau melarikan diri." Jawab Efron membalikkan ucapan Leon. Leon hanya mendengus kesal. "Efron, apa kau kabur lagi dari tuntutan daddy mu?" Efron menghela napas. "Ya, seperti itu. Aku sangat benci dengan tekanan yang ia buat." "Tapi, Efron.. di dalam dirimu mengalir darah daddy mu. Apa kau tidak sadar jika kau sudah mewarisi sifat kejam dan arogan dari daddymu itu?" Efron terdiam sejenak, ia menyadari jika dirinya pun sangat kejam. Dan tak segan pula untuk membunuh orang yang telah mengusik hidupnya. "Leon, Neo.. untuk beberapa hari kedepan, aku takkan pergi ke kantor. Aku ingin menenangkan diri." "Tidak, untuk esok. Karena esok akan ada meeting besar dan mengharuskan dirimu untuk hadir." Sambung Neo. "Baiklah, hanya meeting. Setelah itu beri aku pengawalan kemana pun. Aku ingin mengawasi dunia sekitar." Leon dan Neo pun menyetujuinya. *** Disisi lain, Elena sedang mogok bicara. Mengurung diri didalam kamar. "Sayang…" Eros menghampiri putrinya di kamar. Namun hanya hening, Elena tidak menjawab panggilan darinya. "Marah hm.." "..." Elena tetap fokus pada luar jendela, tak menanggapi papinya. Jika sudah marah, Elena akan mogok berbicara, makan disana. Eros mengusap wajahnya kasar, menghela napas. "Baiklah, kalau kau tak mau menjawab pertanyaan papi, papi akan … " "Akan apa? Akan menghukum Elena? Hukum saja, Elena tidak peduli." Eros menatap wajah putrinya, matanya sudah berkaca-kaca. Air matanya pun jatuh. "Kalian tidak pernah memberi alasan, kenapa Elena tidak boleh keluar rumah. Kalian tidak sadar, Elena tertekan. Elena mau kaya yang lain, papi. Elena ingin hidup normal." Elena menghela napas sejenak "sebaiknya papi keluar dari kamar Elena. Elena sudah capek." Eros menatap bersalah putrinya, sadar.. ia sangat sadar telah membuat putrinya tertekan. Tapi, itu semua dilakukan untuk dirinya. "Percayalah, Elena.. semua itu kita lakukan untuk keselamatan dirimu. Papi sangat mencintaimu, nak." Lalu Eros pun pergi dari kamar Elena. "Menyebalkan… Elena akan kabur lagi besok. Elena juga akan lompat dari jendela. Untung papi tidak curiga, Elena duduk di tepi jendela karena lagi mikirin cara lompatnya ckckck.." Elena terkikik sendiri dengan ide konyolnya. *** "Apa Elena masih marah?" "Kau tahu bagaimana dia jika dia marah, sayang.." "Hm, apa kita keterlaluan, Eros?" "Kita lakukan itu semua untuk dia, sayang. Aku tidak ingin dia terluka. Kau tahu, bukan? Bagaimana kejamnya orang itu." Elina terdiam, membenarkan perkataan suaminya. "Ternyata Elena sangat cerdik." Elina terkikik membayangkan putrinya yang ternyata memiliki ide untuk kabur. "Iya, itu seperti dirimu, dulu." Jawab Eros tersenyum. "Dan saat itu, aku bertemu dirimu." "Kau ingin bernostalgia?" Elina terkekeh geli mengingat masa mudanya dulu. "Atau kau ingin kita bernostalgia seperti malam pertama kita?" Goda Eros, lalu di hadiahi pukulan pelan di lengannya oleh Elina. *** Elena menyiapkan ikatan kain, untuk melompat dari jendela. Ia bersiap untuk kabur kembali. "Mami, papi.. Elena pasti akan kembali, Elena hanya ingin pergi sebentar. Elena tidak mungkin, tidak kembali. Diluar tidak begitu buruk, orang-orangnya juga sama seperti Elena, hanya berlalu lalang." Lalu Elena melempar ikatan kain panjang keluar jendela, lalu mengikatnya di tepi ranjang yang kuat. Beruntung, tubuhnya sangat mungil, dan itu memudahkan dirinya untuk keluar. "Ayo, Elena.. kita kabur. Itu bisikan di telinga kiri Elena." Elena terkekeh dengan ucapannya sendiri. Lalu ia pun dengan pelan berpegangan di kain panjang, lalu turun, turun, dan… "Hap…" Elena telah sampai di bawah. Elena mengendap-ngendap, melirik kanan dan kiri. Ternyata penjagaan rumahnya sangat ketat. Dan akhirnya, dia berhasil keluar dari pintu rahasianya. "Huh… akhirnya keluar juga. Ternyata ini masih sangat pagi ya?" "Sebaiknya, Elena pergi ke taman kota. Tapi, dimana ya jalannya?" Elena memerjapkan matanya berkali-kali, melihat papan petunjuk jalan. Elena tersenyum lebar, sangat manis. "Akhirnya ada petunjuk jalan…" Lalu Elena melangkahkan kakinya untuk pergi. Seperti biasa, ia berjalan dengan bersenandung dan berlari kecil. Di dalam kamar Elena, Elina sangat terkejut, karena putrinya tidak ada disana.. "EROS…" teriak Elina. Lalu Eros pun mendekat. "Ada apa, sayang?" "Elena, kabur.." "Kabur lagi?" Eros menepuk jidatnya. Lalu dengan cepat, memerintahkan kepada para anak buah untuk bergerak mencarinya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN