Suasana yang nyaman karena Cluster ini jauh dari kebisingan, membuat kebersamaan mereka terasa romantis, apalagi Byanca menyajikan makan malam dengan konsep romantis.
Alunan lagu 'Melukis Senja' menambah keromantisan mereka berdua. Lagu yang dipersembahkan untuk Tristan, dia ingin menghapus bayangan Adelia di hati suaminya.
Byanca menggunakan gaun tanpa lengan selutut yang membentuk tubuh langsingnya. Polesan bedak membuat wajahnya semakin cerah serta lipstik warna merah menyala membuat penampilannya terkesan elegan, apalagi senyuman Byanca yang begitu manis membuat Tristan terpukau.
Tristan merasa saat inilah dia akan menunaikan kewajibannya sebagai suami, dia juga merasa Byanca sudah siap melakukannya.
Selesai makan malam, Tristan membantu Byanca membersihkan piring yang telah dipakai.
Masih sedikit canggung, tapi pikiran mereka sama, mereka memang sudah siap melakukannya. Akhirnya karena canggung tanpa mengatakan apapun Tristan menarik lembut tangan Byanca ke kamar.
Byanca yang memang sudah siap melakukannya pasrah dengan apa yang dilakukan Tristan.
Malam itu mereka bersatu menjadi suami istri seutuhnya. Byanca bahagia karena telah menjaga kesuciannya untuk orang yang dicintainya.
Tristan telah melanggar janjinya pada Pramudya. Memang, yang dia lakukan tidak salah dia hanya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami. Harapannya setelah ini hubungan pernikahannya akan semakin erat, dia merasa Byanca juga menikmati semuanya tanpa pemaksaan.
"Byan, terima kasih ya," ucap Tristan sambil memeluk Byanca dari belakang karena Byanca malu memperlihatkan wajahnya setelah kejadian itu. Padahal terlambat juga untuk malu.
Byanca hanya mengangguk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mereka akhirnya tidur pulas dengan hati yang berbunga-bunga.
***
Tristan membangunkan Byanca untuk Shalat subuh, kali ini Tristan shalat di masjid karena Cluster itu dekat dengan masjid.
Byanca segera mandi suci dan lekas melaksanakan shalat subuh. Dia berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk karena tidak punya pengering rambut. Dia akan sangat malu jika ke kantor dengan rambut basah apalagi rambut Byanca panjang pasti akan lama keringnya.
Byanca ke dapur memasak untuk suami tercintanya, dia ingin menjadi istri yang bisa mengurus suami dengan baik meskipun dia juga bekerja.
Saat sedang asik memasak bel rumah berbunyi, dia berpikir kenapa Tristan membunyikan bel padahal pintu rumah juga tidak di kunci, kalau tamu mana mungkin pagi buta begini.
Byanca membukakan pintu dan kaget ternyata Pramudya yang datang, heran sepagi ini bertamu ada apa? pikirnya.
"Pram, pagi-pagi dari mana?" tanya Byanca heran lalu menyuruhnya masuk.
"Kebetulan tadi ada urusan lewat daerah sini," jawab Pramudya tanpa senyum sedikitpun.
Pramudya memang sengaja datang pagi-pagi untuk melihat keadaan Byanca, apakah Tristan benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak menyentuh Byanca. Tapi kenyataan yang dia lihat membuat hati Pramudya panas.
Empat malam Pramudya tidak bisa tidur memikirkan perasaannya yang tidak rela jika Byanca disentuh oleh Tristan.
Rambut basah Byanca sudah menjadi bukti bahwa Tristan telah melanggar janjinya padahal baru empat hari mereka bersama.
Byanca yang tidak tahu dengan perasaan Pramudya heran kenapa sahabatnya itu menatapnya tidak suka padahal Pramudya yang dia kenal adalah lelaki humoris.
Karena Pramudya hanya mematung dengan tatapan dingin membuat Byanca menjadi canggung dan memilih untuk diam sambil menunggu Tristan pulang.
Tristan yang pulang dari masjid kaget melihat mobil Pramudya, kenapa pagi-pagi sudah ada di rumah, pikir Tristan.
Tristan masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, melihat ke arah Pramudya nyalinya menciut apa lagi Pramudya menatapnya penuh kemarahan.
Mata Tristan beralih menatap Byanca, seketika sadar melihat rambut basah Byanca. Dia tahu kenapa Pramudya menatapnya penuh kemarahan.
Tristan telah melanggar janji yang dia ucapkan sendiri.
Byanca yang melihat suasana canggung itu akhirnya pamit ke belakang untuk membuatkan kopi.
Tristan duduk di tempat Byanca duduk tadi dengan tatapan penuh ancaman dari Pramudya, dia berusaha tenang dengan apapun yang akan ditanyakan Tristan.
"Tristan, apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu melanggar janjimu?" tanya Pramudya penuh penekanan pada kata janji.
"Maaf, Pram aku tidak bisa menepati janji. Byanca itu istriku memang kewajibanku untuk melakukannya," jawab Tristan tegas, ingin menunjukkan bahwa Byanca sudah sah menjadi istrinya.
"Aku kecewa sama kamu, Tristan. Kalau aku tahu kamu tidak bisa menepati janji, pasti Byanca akan aku bawa kabur sebelum kalian menikah," ucap Pramudya sambil berlalu meninggalkan Tristan.
Pramudya masuk ke dalam mobilnya memukul kemudi dan mengumpat dalam hati penuh kebencian.
Sejenak dia meredam amarahnya, dia memang orang yang bisa berpikir tenang meskipun terjepit masalah, bahkan terlalu bisa menahan untuk mengungkapkan sesuatu makanya dia memilih diam mencintai sahabatnya untuk menunggu waktu yang tepat.
Setelah reda emosinya, Pramudya melajukan mobilnya pelan sambil berpikir langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya, jelas dia tidak mau Tristan menyentuh Byanca lagi. Namun, tidak mungkin juga dia mengawasi setiap hari karena Tristan dan Byanca satu atap.
Setelah kepulangan Pramudya, Byanca keluar membawakan kopi untuk sahabatnya namun dia heran tidak menemukan Pramudya disana dan hanya melihat Tristan yang sedang melamun. Apa sebenarnya yang terjadi, pikir Byanca.
"Pram, mana?" tanya Byanca pada Tristan.
"Pulang," jawab Tristan singkat, dia masih memikirkan hal terburuk yang akan dilakukan Pramudya.
Byanca mendekati suaminya, masih dengan perasaan bertanya-tanya.
"Sebenarnya ada apa sih dengan Pram?" tanya Byanca.
Tristan tidak menjawab pertanyaan Byanca, dia masih resah dengan kedatangan Pramudya yang penuh dengan amarah.
Melihat rambut basah Byanca membuatnya berpikir jika Pramudya setiap pagi datang pasti akan semakin membencinya.
"Aku keluar dulu ya?" ucap Tristan tanpa menunggu persetujuan dari Byanca langsung keluar.
Byanca semakin bingung dengan kedua sahabatnya yang biasanya selalu kompak sekarang seperti musuh.
Tidak mau berpikir yang macam-macam, Byanca meneruskan untuk memasak karena sudah siang.
Selesai memasak Byanca menata masakan di meja makan sambil menunggu Tristan.
Suara mobil Tristan membuat Byanca langsung keluar untuk melihat apa yang suaminya lakukan di luar.
"Ini, cepat keringkan rambutmu " ucap Tristan sambil mengulurkan pengering rambut yang baru dibelinya.
Byanca menerima pengering rambut itu dengan perasaan yang, entahlah. Kenapa setelah Pramudya datang Tristan membeli pengering rambut apa hubungannya, pikir Byanca.
Byanca masuk ke kamar untuk ganti baju bersiap berangkat ke kantor, Tristan juga sedang mengganti bajunya.
Selesai ganti baju Byanca duduk menghadap cermin untuk memoleskan bedak, Tristan menghampirinya lalu mengambil pengering rambut dan membantu Byanca mengeringkan rambutnya.
Mereka masih saling diam dengan pikiran masing-masing, Tristan masih kepikiran dengan sikap Pramudya sedang Byanca bingung menduga-duga apa yang terjadi.
Selesai menyiapkan diri, mereka sarapan bersama. Byanca memang pekerja kantor, tapi dia juga pintar memasak, tak henti-hentinya Tristan mengagumi istrinya dalam hati betapa beruntungnya punya istri seperti Byanca, pantas saja Pramudya sangat menyukai Byanca, pikir Tristan yang baru menyadari betapa istimewanya Byanca.
Selesai sarapan, Byanca segera mencuci piring kotor yang baru mereka pakai. Dia memang tidak pernah menunda pekerjaan meskipun hanya pekerjaan sepele.
Kali ini Tristan tidak ragu untuk menggandeng istrinya, seperti ingin mengatakan pada dunia bahwa Byanca adalah istrinya.
Melihat kedatangan Tristan dan Byanca terlihat mesra, Pramudya mencelos, hatinya semakin panas dia merasa Tristan sengaja memanasinya. Sedangkan Tristan berusaha memperlihatkan bahwa mereka adalah suami istri jadi wajar melakukannya.
Byanca sangat senang, karena setelah penyatuan itu Tristan lebih menunjukkan cintanya, Tristan sudah tidak malu memperlihatkan cintanya. Semua istri di dunia ini pasti senang mendapatkan perlakuan romantis suaminya.
"Cie … pengantin baru, sekarang gandengan terus," ejek Sandi si kepo.
Tristan tersenyum menanggapi ejekan Sandi sambil berlalu menggandeng tangan Byanca lalu mengantar Byanca ke meja kerjanya.
"Terima kasih," ucap Byanca sambil tersenyum manis membuat jantung Tristan berdebar.
Tristan mengusap rambut Byanca lalu meninggalkannya dan menuju meja kerjanya.
Tatapan Pramudya tidak beralih melihat kedua sahabatnya yang sedang dimabuk cinta dengan perasaan marah. Dia merasa Tristan sengaja melakukannya untuk memanasinya.
Tristan tidak punya maksud apa-apa selain memang ingin membuat Pramudya berhenti berharap pada Byanca dan juga dirinya memang sedang jatuh cinta pada istrinya. Itu yang membuat sikap Tristan berubah berani memperlihatkan cintanya.
"Tristan, bagaimana rasanya?" tanya Sandi yang masih menggoda Tristan.
"Makanya cepet kawin biar tau rasanya," jawab Tristan sambil berlalu meninggalkan Sandi.