Di jam makan siang Pramudya mengirim pesan pada Tristan untuk menemuinya di lobby kantor. Pramudya memilih tempat itu untuk berbicara dengan Tristan karena jaraknya jauh dengan kantin, sedangkan di jam makan siang semua pegawai kantor berada di kantin.
Tristan menuju lobby, disana sudah ada Pramudya yang menunggunya dengan wajah yang tidak bersahabat.
Tristan menyapa canggung pada Pramudya, "Hai, Pram," Lalu dia duduk di depan Pramudya.
Pramudya berdehem memulai pembicaraan dengan wajah tegang.
"Aku menagih janjimu," ucap Pramudya dengan tatapan tajam. Tristan berusaha tenang meskipun hatinya gusar.
"Maaf, Pram aku tidak bisa, aku sudah berjanji pada kedua kakak Byan untuk tidak menyakitinya," tegas Tristan.
Pramudya mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia memukul Tristan karena telah melanggar janjinya.
"Kamu tahu 'kan aku mencintai Byan sejak lama?"
"Aku tahu, tapi mungkin ini memang sudah takdir," terang Tristan.
"Kau yang membuat takdir itu tak seharusnya!" sinis Pramudya.
"Tolong, Pram lepaskan Byan biarkan kami menjalani rumah tangga ini," pinta Tristan.
"Aku tidak rela karena Byan hanya kau jadikan pengganti Adelia. Aku tidak yakin kamu tulus mencintai Byan," ucap Pramudya sinis.
"Aku akan berusaha mencintai Byan, beri aku kesempatan," pinta Tristan.
"Membayangkanmu menyentuh Byan saja membuatku muak," ucap Pramudya sambil memalingkan wajahnya.
Tristan diam memahami perasaan Pramudya, tapi dia juga harus melaksanakan kewajiban sebagai suami. Satu hal yang sulit untuk dijelaskan.
"Aku menagih janjimu untuk melepaskan Byan, akan aku tunggu saat itu," pungkasnya, lalu meninggalkan Tristan yang masih bingung dengan ucapan Pramudya dan harus berbuat apa.
Di ujung ruangan di balik kaca, Byanca melihat kedua sahabatnya terlihat bersitegang, terlihat dari ekspresi wajah keduanya, apalagi Pramudya terlihat marah. Dia tidak tahu kalau dialah yang jadi bahan pembicaraan kedua laki-laki itu. Dua laki-laki yang dulu manis sekarang terlihat, entahlah.
Melihat Tristan berjalan menuju kantin, Byanca langsung berlari ke meja kantin dan langsung duduk pura-pura melihat ponselnya.
Tristan mencari keberadaan Byanca, ketika matanya tertuju pada wanita berambut panjang itu, dia langsung menghampirinya.
"Sudah pesan makanan?" tanya Tristan sambil berusaha memperlihatkan senyuman untuk menutupi kegalauan hatinya.
"Sudah, itu," jawab Byanca sambil menunjuk dengan kepalanya karena pesanannya sedang di antar.
Byanca ingin bertanya ada apa dengan mereka berdua, tapi diurungkannya, dia ingin Tristan cerita sendiri padanya.
Melihat Tristan tampak gelisah membuatnya tidak nyaman. Dan akhirnya mereka menikmati makanan itu saling diam dengan perasaan dan pikiran masing-masing.
Diujung sana Pramudya mengawasi pengantin baru itu dengan masih memikirkan bagaimana caranya agar mereka berdua berpisah.
Pramudya menyesali diamnya selama ini membuatnya kalah, Tristan yang tidak pernah memperjuangkan Byanca malah tiba-tiba bisa memeluknya. Sungguh ini tidak adil, pikirnya.
Selesai makan siang mereka melanjutkan shalat berjamaah di Mushola kantor. Di sanalah, di atas sajadah kita meminta ampunan dan pertolongan, begitu juga Tristan, dia memohon pada Sang Pencipta untuk melindungi rumah tangga yang baru saja dijalani. Byanca juga memohon keselamatan untuk keluarga dan kebahagiaan untuk pernikahannya. Pramudya meminta kepada Sang Pembolak-balik hati manusia agar hati Byanca berlabuh di hatinya.
Semua orang boleh meminta karena hanya kepada Sang Pencipta kita memohon pertolongan.
***
"Byan, kita mampir ke rumah ibu, ya?" pinta Tristan, dia ingin menceritakan masalahnya pada sang ibu.
"Iya, kita juga belum mengabari mereka kalau pindah 'kan?"
Tristan menggandeng tangan istrinya mesra, ada perasaan tidak rela jika harus melepasnya. Tristan sudah benar-benar mencintai Byanca, pikirannya kini hanya ingin selalu dekat dengan Byanca. Sedangkan Pramudya menatap penuh kecemburuan.
Tristan membukakan pintu mobil untuk Byanca, lalu tersenyum sambil menggoda istrinya.
"Silahkan masuk Tuan Putri," ucap Tristan sambil membukakan pintu. Byanca tersipu mendapat perlakuan manis dari Tristan. Kemesraan yang dulu hanya dia lihat saat Tristan bersama Adelia, tak menyangka dialah yang kini jadi sang tuan putri.
"Terima kasih," ucap Byanca sambil terus menyunggingkan senyum.
"Apa kamu tidak mau memberiku hadiah?" tanya Tristan.
"Hadiah? Untuk apa?" tanya Byanca yang tidak tahu kalau dia sedang dijahili suaminya.
Tristan mendekatkan pipinya lalu menunjuk pipinya.
"Hadiah karena aku sudah membukakan pintu," jawab Tristan sambil menaikkan matanya jahil.
Byanca tersipu melihat kelakuan suaminya itu, tapi tak menunggu lama Byanca mencium pipi Tristan, setelahnya Byanca langsung memalingkan wajahnya karena malu.
Melihat perubahan wajah Byanca, Tristan tersenyum karena telah berhasil membuat Byanca tersipu. Saat itulah yang membuat Tristan senang melihat wajah istrinya yang malu-malu semakin menggemaskan.
Tristan melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya, rumah yang penuh kenangan bersama keluarganya dan juga nenek tercinta yang selalu memanjakannya.
Tristan masih ingat ucapan neneknya kalau wanita berusia senja itu sangat menyukai Byanca dan ingin Tristan menikahinya. Dulu saat dirinya masih bersama Adelia, dia hanya tersenyum mendengar permintaan neneknya karena menurutnya itu tidak mungkin terjadi, tapi kali ini apa yang dulu dianggapnya tidak mungkin sekarang keinginan neneknya itu terwujud, dia sedang tergila-gila dengan sahabatnya itu.
Memang takdir sulit ditebak, apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Begitu indahnya takdir Sang Pencipta.
Tepat di pelataran rumah, Tristan menghentikan mobilnya dan segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk sang istri tercinta.
"Terima kasih," ucap Byanca sambil tersenyum, terlihat jelas lesung pipinya yang membuat Tristan semakin gemas.
Tristan masih berdiri menghalangi langkah Byanca.
"Tristan, ada apa?" tanya Byanca.
Tristan menunjuk pipinya lagi meminta hadiah karena telah membukakan pintu.
Byanca tersenyum melihat keusilan Tristan lalu mencubit perut Tristan, dia pun tertawa karena telah berhasil menjahili istrinya. Dan satu kecupan di pipi Byanca membuatnya salah tingkah.
Tristan berlari mendahului Byanca menertawakan keisengannya dan karena sukses membuat Byanca salah tingkah.
Byanca masih meredam perasaannya, dia senyum-senyum sendiri karena ulah suaminya.
Mendengar suara mobil Tristan, Sarah langsung keluar untuk menyambut putra kesayangannya itu.
"Assalamualaikum, Bu."
Tristan langsung memeluk ibunya, perasaan tenang seketika menjalar saat berada di pelukan orang terkasihnya itu.
Sarah merasakan keresahan putranya, seorang ibu pasti akan merasakan apa yang sedang terjadi pada putranya meskipun mereka tidak mengatakannya. Perasaan seorang ibu sangat peka saat melihat wajah tak tenang dari putranya.
"Waalaikumsalam, ayo masuk. Byan, bagaimana kabarmu?" tanya Sarah pada menantunya.
"Alhamdulillah baik, Bu," jawab Byanca sambil mencium punggung tangan mertuanya.
Sang nenek yang mendengar suara Tristan langsung tergopoh menghampiri cucunya.
"Nenek!" Tristan langsung mencium pipi keriput sang nenek.
"Sini, cucu menantuku, sudah hamil belum?"
"Nenek, baru juga kemarin nikahnya sudah ditanya hamil," protes Tristan.
Nenek tertawa sambil mengacak rambut cucu laki-laki satu-satunya itu.
"Ayo sini, duduk sama Nenek," ajak nenek pada Byanca.
Byanca duduk di sebelah neneknya, sedangkan Tristan pamit ke kamarnya untuk mengambil beberapa barangnya.
Sarah mengikuti putranya ke kamar, dia penasaran ingin menanyakan pada Tristan ada apa dengannya sampai terlihat gelisah.
"Tan, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Sarah saat mereka sudah di dalam kamar.
Sarah duduk di atas ranjang dan diikuti Tristan. Dia duduk dengan gusar ingin menceritakan masalahnya, tapi dia ragu.
"Kalau ada apa-apa, coba cerita sama ibu," pinta Sarah sambil mengusap kepala putranya.
Tristan menarik nafas panjang, berusaha mencari kata untuk menceritakan yang terjadi tanpa membuat ibunya khawatir.
"Bu, Tristan bingung. Apa menikahi Byan itu sudah benar?" tanya Tristan mulai mengungkapkan keresahannya.
"Kamu tidak salah, Tristan. Ibu lihat kalau Byanca bahagia menikah denganmu," jawab sang ibu.
"Tapi Tristan bingung, Bu." Tristan membenarkan duduknya lalu menghadap ibunya.
"Bingung kenapa?" tanya Sarah sambil menatap lekat putranya.
"Pram mencintai Byan dan memintaku untuk memberikan Byan padanya."
"Memangnya kalian pikir Byanca itu barang!" ucap Sarah kesal.
"Bukan seperti itu, Bu."
"Lalu, apa maksud kalian?"
"Ini salah Tristan juga, malam itu Pram menanyakan padaku kenapa aku mau menikahi Byan padahal aku tahu kalau Pram mencintai Byan," jelas Tristan.
"Apa yang kamu janjikan pada Pram?" tanya Sarah.
"Aku akan menceraikan Byan dalam keadaan suci," jawab Tristan sambil menunduk.
Sarah menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan konyol Tristan.
"Seharusnya kamu jangan berjanji jika tidak bisa menepati, kamu pikir pernikahan itu hanya main-main." Sarah marah mendengar janji konyol Tristan.
"Tristan menyesal, Bu. Sekarang Pram menagih janji itu," terang Tristan sambil menunduk, kini dia sedang dirundung penyesalan.
"Apa Byanca tahu?" tanya Sarah.
Tristan menggeleng, pikirannya semakin kacau memikirkan nasib pernikahannya.
"Seharusnya Byan kamu beri tahu," ujar sang ibu.
"Aku tidak mau Byan ikut memikirkan masalah ini, Bu."
"Lalu rencanamu dengan pernikahan kalian?" tanya Sarah, ingin tahu apa yang dipikirkan putranya.
"Aku tidak mau mengakhiri pernikahanku, Bu. Aku sudah mulai mencintai Byan," jawab Tristan.
"Ya, Byan memang pantas untuk kamu, pertahankan dia," ucap Sarah.
"Apa yang harus aku lakukan pada Pram, Bu?"
"Minta maaf, kalian 'kan bersahabat pasti kalian bisa saling memahami. Yang jelas pertahankan Byan."
Setelah mengucapkan itu, Sarah meninggalkan putranya agar memikirkan masalah itu dengan kepala dingin.
Sarah menemui menantunya yang sedang bersama ibu mertuanya, memang dari dulu ibu mertuanya begitu menyukai Byanca, dia selalu mengatakan kalau Byanca sangat cocok dengan Tristan.
Selesai mengemasi barang-barangnya, Tristan mengajak Byanca pulang, dia ingin segera berdua dengan istrinya yang menggemaskan itu.
Setelah berpamitan, mereka langsung pulang. Hari-hari Tristan setelah menikah memang ingin selalu dekat dengan Byanca, dia selalu bahagia bersama istrinya, pikirannya tenang saat melihat senyum manis wanita berlesung pipi itu.
Sesampainya di rumah, Byanca langsung membersihkan diri. Sedang Tristan menyapu halaman rumah yang sudah terlihat kotor. Tristan merasa ada yang sedang mengawasinya, dilihatnya ke segala arah, tapi tidak ada yang mencurigakan. Setelah memastikan tidak ada siapapun, Tristan masuk ke dalam rumah.