Byanca keluar kamar sudah dalam keadaan sangat cantik, begitulah yang Tristan rasa saat melihat Byanca.
Tristan menatap lekat Byanca, menyusuri seluruh tubuh Byanca dengan matanya. Sungguh begitu sempurna ciptaan Sang Maha Pencipta, batin Tristan.
Byanca salah tingkah saat Tristan menatapnya, dia sampai bingung harus berbuat apa. Sedangkan Tristan masih terus menatap Byanca karena dia sangat menyukai saat istrinya salah tingkah seperti itu.
"Tristan, jangan lihatin terus!" protes Byanca karena tak tahan dilihat suaminya seperti itu.
Tristan tertawa melihat Byanca makin salah tingkah lalu dia mendekatinya dan memeluk mesra istrinya.
"Mandi dulu, bau!" Byanca pura-pura menutup hidungnya sambil menjauhkan tubuh suaminya.
"Tapi sepertinya kamu suka melihatku saat belum mandi, aku tahu diam-diam kamu mengagumi ketampananku saat aku tidur," bisik Tristan.
Byanca langsung lari ke dapur mengutuk kebodohannya karena tidak tahu saat dia memperhatikan Tristan tidur malah ketahuan. Memalukan, batinnya.
Tristan tertawa melihat Byanca gelagapan saat ketahuan. Kenapa menggemaskan sekali, batin Tristan.
Selesai mandi dan sholat ashar, Tristan mencari Byanca ke belakang, dia masih belum puas untuk menggoda istrinya yang malu-malu tapi mau.
Dipeluknya sang istri dari belakang saat dia sedang asik mengaduk ayam yang sudah menghitam karena telah menyatu dengan malika.
Byanca terlonjak ketika pinggangnya diapit dengan kedua tangan milik laki-laki jangkung yang ada dibelakangnya.
"Masak apa?" tanya Tristan yang masih melingkarkan tangan dan melongokkan kepala ke depan sehingga pipi mereka saling bersentuhan.
"Ayam kecap, di kulkas cuma ada ayam, nggak apa-apa 'kan?" jawab Byanca yang masih meredam debaran di dadanya yang tiba-tiba saja semakin kencang.
"Siapa sih yang berisik?" Tristan mengalihkan pembicaraan sambil pura-pura mencari sumber suara.
Byanca meletakkan spatula lalu menajamkan pendengaran, tapi dia tidak mendengar apapun kecuali suara masakan yang dipanaskan di atas penggorengan.
"Apa sih?" tanya Byanca sambil mengernyit.
Tristan menundukkan kepala lalu menempelkan kepalanya di d**a Byanca.
"Tuh 'kan berisik banget," ucap Tristan sambil tertawa.
"Tristan!" Byanca memukul laki-laki yang telah mengubah statusnya menjadi nyonya itu, yang dipukul malah semakin mengencangkan tawanya hingga terdengar sampai di luar rumah.
Sepasang mata yang dari tadi mengawasi rumah tipe 45 yang dihuni pasangan pengantin baru itu semakin menajamkan pendengaran, samar-samar terdengar suara tawa dari dalam rumah membuat bara di dadanya semakin membesar, jika dibiarkan akan susah untuk dipadamkan.
Akhirnya karena tidak tahan mendengar tawa mereka, Pramudya melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Kali ini Pramudya sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Air matanya luruh hingga membuat pandangannya buram, dan hampir saja Pramudya menabrak pengamen yang sedang menyeberang jalan. Untungnya dia langsung sadar untuk menginjak rem.
Suara decit akibat rem dadakan itu membuat orang disekitar berteriak. Hampir saja satu nyawa melayang karena kekesalannya.
Pramudya langsung mengucap istighfar berkali-kali. Dia melongokkan kepalanya lalu meminta maaf melihat pengamen yang masih berdiri mematung karena kaget, beruntung tidak ada luka sedikitpun. Pramudya langsung meminta maaf dan mengulurkan sejumlah uang agar urusannya tidak diperpanjang.
Ditariknya nafas panjang untuk melonggarkan dadanya yang sesak, setelah merasa tenang Pramudya melajukan mobilnya dengan pelan.
***
Byanca dan Tristan duduk di sofa yang menghadap layar 30 inch, mereka tidak sedang menonton televisi tapi mereka sedang menikmati indahnya cinta yang makin bersemi serta merasai detakan jantung yang saling bersahutan tak berirama.
"Byan, sepertinya kita harus saling jujur." Tristan memulai pembicaraan setelah beberapa menit mereka saling membisu, canggung.
"Tentang?" tanya Byanca.
"Perasaan kita."
Tristan mulai mengatur napasnya, dari tadi dia kesulitan bernapas karena jantungnya terlalu cepat berdetak.
Byanca menyiapkan hatinya untuk bisa menerima apapun yang akan Tristan ucapkan. Berbagai kemungkinan ada di pikirannya termasuk jika Adelia kembali pada suaminya.
"Byan, bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Tristan.
Byanca tidak berani mengatakan kalau dia mengagumi Tristan sejak lama, terlalu malu untuk mengakui cintanya.
"Kalau kamu?" tanya Byanca balik sebelum menjawab pertanyaannya.
"Sejak kita menikah, aku mulai terpesona denganmu."
Mendengar pengakuan Tristan membuat wajah Byanca merona. Dipalingkan wajahnya karena dia tahu saat itu wajahnya pasti sudah berubah seperti udang rebus.
"Dan sekarang aku merasakan kalau aku mulai jatuh cinta padamu," ucap Tristan lagi, dipandanginya wajah ayu sang istri setelah ditariknya dagu lancip itu dengan lembut.
"Aku mencintaimu, sayang," bisik laki-laki yang dagunya mulai ditumbuhi jambang halus.
Tristan menuntun sang istri di peraduan. Akhirnya malam ini menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua.
Diluar sana, sebuah hati yang terluka semakin resah membiarkan orang yang dicintainya kini berada di pelukan orang lain. Berbagai pikiran kotor menari-nari di pelupuk matanya.
Shitt!!
Berkali-kali dia mengumpat memukulkan tinjunya di di dinding yang tidak bersalah itu untuk meluapkan kekesalannya.
"Aku harus segera bertindak," ucap Pramudya dalam hati.
***
Pagi ini Tristan akan mengunjungi proyek yang sedang di garapnya. Sebagai seorang teknik sipil, Tristan lebih sering bekerja di lapangan. Tugasnya adalah menerjemahkan rancangan secara teknik dan mewujudkan gambar arsitek menjadi nyata.
Pramudya yang memang mengetahui jadwal Tristan ke proyek, sengaja datang menemui Byanca setelah memastikan Tristan berangkat.
Sejak dari pagi Pramudya sudah mengawasi bangunan minimalis yang setahun lalu dia ikut memberi pertimbangan sahabatnya saat mencari tempat tinggal. Dialah yang mencarikan dengan pertimbangan tempatnya satu jalur dengan apartemen miliknya.
Setelah memastikan Tristan keluar dari rumah, Pramudya segera menemui Byanca. Tentunya dengan alasan mengantar rancangan infrastruktur yang telah dia buat.
Diketuknya pintu yang terbuat dari kayu jati tersebut, setelah beberapa detik sang empunya rumah membukakan pintu dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Pram, ayo masuk," sapa Byanca yang tidak mempunyai pikiran apapun kecuali menyambut sahabat baiknya itu.
Kali ini Pramudya bersikap seperti biasa, dia masuk ke rumah Byanca lalu mendudukkan pantatnya di sofa puff yang warnanya senada dengan cat dinding, lalu menyandarkan punggungnya di dinding.
Byanca juga duduk, posisinya berseberangan dengan Pramudya, sehingga mereka saling berhadapan.
"Pagi-pagi sudah sampai aja," Byanca memulai pembicaraan.
"Aku mau mengantar ini." Pramudya menyerahkan map berisi hasil laporannya.
Byanca mengambil map tersebut lalu membuka lembar demi lembar. Kali ini mereka akan menggarap proyek besar, sebuah Mall yang rencananya akan dibangun di tengah kota.
"Apa kamu tidak ingin membuatkan aku kopi?"
Byanca baru tersadar setelah membiarkan tamunya hanya menelan ludah.
"Maaf, kopi hitam 'kan?"
"Masih ingat kesukaanku?"
"Iya, dong, kamu dan Tristan itu beda selera, aku masih hapal kesukaan kalian," ucap Byanca lalu menuju dapur untuk menyeduh kopi hitam dengan sedikit gula.
"Selera kita beda, tapi sekarang kita menyukai wanita yang sama, yaitu kamu," ucap Pramudya dalam hati.
Byanca menyeduh kopi instan selera hampir semua pecinta kopi. Aroma khas menyeruak di penciuman.
Pramudya menerima secangkir kopi buatan Byanca dan menghirup dalam-dalam wanginya menenangkan jiwanya yang sedang rapuh.
Setelah menunggu agak dingin, Pramudya menyesapnya. Rasa pahit berubah menjadi manis karena melihat pemilik wajah manis yang selalu mengganggu pikirannya.
"Byan, apa kamu bahagia?"
Byanca yang sedang asik mempelajari lembaran laporan itu langsung mendongak, berpikir sejenak kenapa Pramudya menanyakan itu.
Pramudya menunggu jawaban Byanca dengan masih menyesap kopi yang masih mengepulkan asap.
"Iya," Byanca menjawab singkat.
"Apa Tristan mencintaimu?"
Mendengar pertanyaan itu, Byanca salah tingkah mengingat pernyataan Tristan semalam yang membuat hatinya melayang.
"Sepertinya begitu."
"Apa kamu juga mencintainya?"
"Kamu tahu 'kan sejak dulu aku menyukai Tristan? Dan sampai sekarang rasa itu masih sama untuk Tristan. Aku bahagia akhirnya bisa bersamanya," ucap Byanca yang membuat perubahan wajah Pramudya menjadi sinis.
Ternyata menanyakan hal itu membuatnya bertambah sakit hati, wajahnya merah padam debaran jantungnya semakin tak menentu.
Bukan itu yang diharapkannya, dia ingin Byanca mengatakan kalau dia tidak bahagia dengan pernikahannya dia akan menjadi pahlawan untuk Byanca.
Kenyataan yang tidak seperti harapan membuatnya semakin berpikir untuk memaksakan keinginannya, memaksa Byanca meninggalkan Tristan dan mau menerimanya.
Pramudya meletakkan cangkir kopi yang baru diseruputnya setengah itu, kopi yang tadi rasanya manis sekarang terasa pahit sepahit hatinya.