Setelah mendengar pengakuan cinta Byanca pada Tristan membuat hatinya semakin pedih, Pramudya pamit dengan membawa luka yang semakin menganga.
Byanca masih tidak menyadari meskipun terlihat ada perubahan pada Pramudya, dia mengira laki-laki yang sudah dianggapnya seperti kakak itu hanya lelah karena banyak pekerjaan.
Sepulang Pramudya, Byanca mengambil kertas, pensil dan juga penggaris.
Pikirannya mulai fokus dengan kertas yang ada di hadapannya. Pekerjaan yang memerlukan konsentrasi itu membuatnya lupa dengan keadaan sekitar. Untuk urusan pekerjaan, Byanca memang sangat profesional.
Mempelajari laporan yang dibawa Pramudya dengan teliti agar tidak ada satupun yang terlewat.
Setengah hari sudah dia menggoreskan pensil membentuk sebuah bangun ruang yang simetris, beberapa kali juga dia menghapus di bagian tertentu.
Dia tidak menyadari kalau sang suami sudah sampai, bahkan suara deru mobil tidak didengarnya karena dia butuh konsentrasi yang tinggi dalam pekerjaannya.
Tristan mengucap salam sampai tiga kali namun tidak ada jawaban. Melihat di meja ruang tamu, ada cangkir yang berisi kopi yang tinggal setengah, karena Byanca tadi lupa membawanya ke wastafel.
Deg! Perasaannya jadi tidak enak, menduga apa yang dilakukan Pramudya pada istrinya.
Tristan mempercepat langkah kakinya, membuka pintu kamar dengan tergesa sehingga menimbulkan suara hingga mengagetkan perempuan berambut panjang yang sedang fokus dengan pekerjaannya, seketika konsentrasi Byanca hilang.
Tristan terpaku, rasa lega membuatnya sejenak mematung. Dia langsung menghampiri istrinya yang menoleh ke arahnya dengan perasaan bingung.
"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Tristan penuh kekhawatiran, mengingat cangkir kopi yang ada di meja tamu.
Byanca tidak tahu kenapa suaminya tampak begitu panik.
Tristan menghampiri Byanca lalu mengecup pucuk kepalanya, ketakutannya begitu kentara. Pantas saja saat ada di proyek hatinya begitu gelisah.
"Tadi, Pram kesini?" tanya Tristan.
"Iya, ngantar ini," jawab Byanca sambil menunjuk map biru muda yang ada di sampingnya.
"Lama?"
"Lumayan," jawab Byanca sambil meletakkan pensil dan mengakhiri pekerjaannya.
Tristan melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu, lalu meletakkan tasnya di atas nakas.
"Dia bicara apa saja?" tanya Tristan penuh selidik.
"Cuma membahas pekerjaan," jawab Byanca berbohong, dia tidak mau Tristan tahu kalau Pramudya menanyakan tentang perasaannya. Byanca belum siap jika Tristan tahu begitu besar cintanya itu.
"Besok lagi, kalau Pram datang tidak ada aku di rumah, jangan kamu suruh masuk, agar tidak menimbulkan fitnah," ucap Tristan sambil menuju sofa 2 seater dan mendudukkan bokongnya di sana. Byanca mengangguk, membenarkan ucapan suaminya lalu ikut duduk di sebelah suaminya.
Tristan membelai rambut wanita yang membuatnya resah dari tadi, dia benar-benar takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Byanca.
***
Malam ini, Tristan mendapat pesan dari Pramudya. Dalam sebuah aplikasi berwarna hijau itu, Pramudya mengundang Tristan ke rumahnya tanpa Byanca, ada hal penting yang akan disampaikannya, begitu isi pesan tersebut.
Setelah makan malam, Tristan pamit pada Byanca untuk keluar sebentar. Tristan tidak mengatakan kalau dia akan menemui Pramudya. Byanca memberi izin, karena dengan kepergian Tristan dia akan bisa fokus pada pekerjaannya lagi.
Tristan melajukan mobilnya dengan perasaan tidak tenang, setiap kali berhubungan dengan Pramudya, janji yang telah diucapkannya selalu terngiang. Dia menyesali telah mengucapkan janji yang akhirnya tidak bisa ditepati.
Di sebuah apartemen yang bernuansa modern dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang, lapangan olahraga dan fasilitas mewah lainnya, Tristan menghentikan mobilnya di parkiran.
Dia masuk ke apartemen berjalan masuk lift menuju lantai lima belas, dia memang diberi akses untuk bebas masuk ke apartemen Pramudya.
Pramudya memang dari keluarga kaya, tak heran jika dia bisa tinggal di apartemen semewah itu.
Setelah sampai di depan pintu apartemen milik Pramudya, dia mengetuk pintu. Pramudya yang saat itu sedang menunggunya langsung membukakan pintu.
Tidak seperti biasanya saat sebelum pernikahannya terjadi, bahkan Tristan sering menginap di apartemen ini. Kali ini dia merasa canggung karena sang pemilik menatapnya tajam.
Tidak ada basa-basi, Pramudya langsung ke pokok pembicaraan, bahkan tidak menyuruh Tristan duduk atau menawari kopi seperti biasanya. Hubungan mereka kali ini benar-benar kaku.
Tapi Tristan masih berusaha biasa, tanpa disuruh pun dia langsung duduk.
"Aku sudah memberimu waktu, tinggalkan Byanca!" ucap Pramudya sambil mengeram karena menahan kekecewaan yang sangat dalam.
"Aku tidak bisa meninggalkan Byanca," jawabnya Tristan tegas. Kali ini Tristan akan mempertahankan Byanca bagaimanapun caranya.
"Kamu mencintai Adelia, aku tidak mau kamu menyakiti Byan," tuduh Pramudya.
"Aku sudah melupakan Adelia, sekarang aku mencintai Byan karena dia istriku," tegas Tristan.
"Kamu lupa dengan janjimu? Hah!"
Pramudya menarik kerah baju Tristan dan menatapnya tajam.
"Byan bukan barang yang bisa diberikan begitu saja. Ya, aku salah telah berjanji padamu, tapi waktu itu aku dalam keadaan kalut. Sekarang aku akan menjalani pernikahanku dan tidak akan melepaskan Byan karena kami saling mencintai," ucap Tristan sambil menatap penuh permohonan.
Mendengar kata 'cinta' membuat Pramudya naik darah, akhirnya dia memberi bogem mentah pada Tristan yang sukses membuat ujung bibir Tristan berdarah.
Tristan tidak membalas perlakuan Pramudya, dia langsung meninggalkan ruang apartemen itu dengan perasaan sedikit was was karena bisa jadi Pramudya melakukan hal yang lebih buruk lagi. Bukankah cinta bisa membuat orang gelap mata.
Tristan segera membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan tisu yang ada di mobilnya. Dia meringis karena Pramudya melakukannya sangat keras.
Pramudya memang ada darah keturunan turki dari kakeknya, tak heran tubuhnya tinggi besar, apalagi dia rajin nge-gym. Dari postur tubuh, Tristan kalah jauh dari Pramudya, satu bogem saja membuat Tristan meringis kesakitan.
Setelah sedikit berkurang rasa sakitnya, Tristan segera melajukan mobilnya untuk pulang, dia takut jika tiba-tiba Pramudya menemuinya lagi dan memberinya pukulan sekali lagi.
Setelah sampai rumah, Tristan langsung mengunci pintu dan mematikan lampu agar Byanca tidak melihat ujung bibirnya yang diyakininya pasti sudah berubah kebiruan.
Tristan langsung menuju dapur menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dia mengambil baskom dan handuk kecil, setelah air sudah hangat, dituangkan air itu ke baskom dan dia gunakan untuk mengompres ujung bibirnya yang terasa sakit.
Byanca yang dari beberapa menit lalu memperhatikan Tristan, langsung mendekatinya mengamati wajah Tristan. Setelah melihat warna kebiruan di pipi suaminya, Byanca sangat panik apalagi melihat suaminya kesakitan. Diambilnya handuk yang ada di tangan Tristan, lalu dia mengambil alih mengompres luka Tristan.
"Kenapa?" tanya Byanca sambil fokus menekan pelan handuk yang telah dicelup air hangat.
"Jatuh," jawab Tristan sambil meringis menahan perih.
"Aku bukan anak kecil, Tristan. Siapa yang melakukannya?"
"Tadi nolongin ibu-ibu kecopetan," jawab Tristan gugup, dia memang tidak pandai berbohong.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, lain kali kalau ada masalah bicarakan baik-baik, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi," ucap Byanca yang tidak percaya sama sekali alasan Tristan.
Setelah mengkompres dan mengobati luka Tristan, Byanca menuju kamarnya tanpa bicara, dia kesal dengan suaminya karena tidak mau menceritakan yang terjadi. Byanca merasa bahwa dirinya masih dianggap orang lain, padahal kemarin malam Tristan menyatakan cintanya.
Byanca merebahkan diri di ranjang king size itu, diletakkannya kacamata di atas nakas.
Tristan juga ikut berbaring miring menghadap istrinya, dilihatnya wajah teduh itu. Dia benar-benar tidak bisa melepaskan wanita yang kini telah mengisi ruang hatinya itu.
Byanca memejamkan mata, rasa kecewa serta praduga yang kini memenuhi hatinya membuat dadanya sesak. Tristan merasakan kekecewaan Byanca, diraihnya tubuh langsing istrinya yang saat ini memunggunginya.
"Byan, maaf," ucap Tristan sambil memeluk sang istri dari belakang.
"Aku belum bisa cerita sekarang, nanti kalau sudah waktunya pasti aku cerita," ucap Tristan sambil masih memeluk Byanca.
Byanca merubah posisinya, hatinya sudah luluh, berusaha memahami perasaan suaminya.
Dipandanginya wajah tampan sang suami, lalu Byanca tersenyum memberi isyarat kalau dia sudah tidak marah.
"Tidurlah, besok kamu mau presentasi 'kan?" ucap Tristan sambil merekatkan tubuhnya memberi kehangatan pada Byanca.
Pelukan suami yang begitu menenangkan membuatnya segera terbuai mimpi, sementara Tristan tidak bisa memejamkan mata karena masih teringat kebencian Pramudya padanya.