Byanca Hilang
Pagi-pagi sekali Tristan berangkat ke proyek, banyak sekali hal yang harus dilakukan, dia berencana seharian ini di proyek memastikan bangunan sesuai yang diharapkan.
"Aku berangkat dulu ya, nanti kamu pesan taksi online, hati-hati di rumah," pamit Tristan, sebenarnya dia khawatir meninggalkan Byanca sendiri.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan," ucap Byanca sambil mencium punggung tangan suaminya.
Dengan berat hati, Tristan meninggalkan Byanca sendiri dalam bayang-bayang Pramudya.
Selepas kepergian Tristan, Byanca membersihkan rumah dan mencuci piring kotor bekas mereka pakai.
Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Byanca mengambil ponselnya yang ada di nakas lalu mengusap layar ponsel membuka aplikasi berwarna hijau itu, kemudian memesan taksi online sambil berjalan menuju gerbang keluar Cluster.
Byanca sudah berada di gerbang pintu masuk Cluster, menyapa ramah satpam yang berjaga.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Byanca mengernyit, cepat sekali sampainya padahal baru juga melakukan transaksi, pikirnya.
"Mbak Byanca?" tanya sopir yang menggunakan masker dan topi itu.
"Iya, mobil yang saya pesan barusan?" tanya Byanca sambil menunjukkan ponselnya.
Sopir taksi itu mengangguk, tanpa curiga sedikitpun Byanca langsung masuk mobil itu.
Setelah di dalam mobil, Byanca membuka-buka dan mempelajari lagi laporan yang akan digunakan untuk presentasi di kantor. Byanca selalu mempersiapkan dengan baik pekerjaannya.
Karena begitu fokusnya, Byanca tidak menyadari kalau mobil yang dia tumpangi berjalan berlawanan arah dengan kantor.
Mobil berhenti tepat di depan rumah kosong, Byanca tersadar ketika mobil berhenti. Melihat sekeliling, tempat asing yang tidak pernah dia tahu.
Rumah besar terlihat kosong karena di sekeliling banyak ditumbuhi ilalang serta lumut menebal di tembok.
"Pak, alamatnya salah," ucap Byanca yang mulai panik karena sopir itu turun dan membukakan pintu.
Byanca mengambil tasnya untuk melihat ponselnya apakah dia salah memberi alamat. Namun, sopir taksi itu langsung merampas tas Byanca dan melemparkan ke dalam mobil, setelah itu membekap mulut Byanca dengan sapu tangan yang sudah diberi zat kloroform.
Setelah menghirup zat itu, Byanca langsung tidak sadarkan diri. Sopir itu membopong tubuh Byanca ke dalam rumah kosong. Memasukkannya ke salah satu ruangan tertutup yang cukup bersih untuk di tempati, meletakkan tubuh Byanca di atas ranjang lalu meninggalkannya setelah memastikan Byanca dalam keadaan baik, lalu sopir itu menguncinya di dalam ruangan itu.
Sopir itu menghubungi seseorang yang menyuruhnya dan mengabarkan kalau tugasnya sudah selesai.
Laki-laki di seberang telepon memerintahkan untuk menjaga Byanca dengan baik dan tidak menyakitinya. Dia mematuhi perintah bosnya itu.
***
Sementara di kantor, semua orang menunggu Byanca karena hari ini ada rapat pembangunan Mall. Byanca akan melakukan presentasi pada rapat koordinasi pengelolaan proyek.
Pimpinan mereka sudah datang, namun Byanca belum juga datang padahal hari ini sangat penting mengingat proyek akan segera dikerjakan.
Semua sudah berada di ruang rapat, karena Byanca sebagai arsitek belum juga hadir, akhirnya mereka menunda rapat sampai Byanca datang.
Ponsel Byanca tidak bisa dihubungi, semua rekan kerjanya menjadi cemas karena tidak biasanya Byanca telat mengikuti rapat.
Mereka akhirnya menghubungi Tristan, mendengar pertanyaan dari teman kantornya yang menanyakan Byanca, Tristan panik dan memutuskan kembali saat itu juga.
Tristan melajukan mobilnya sambil terus menghubungi ponsel Byanca yang tidak aktif.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, Tristan sampai di kantor untuk memastikan Byanca memang benar tidak ada di kantor.
Menanyakan pada teman-temannya kapan terakhir Byanca menghubungi mereka. Semua orang kantor tidak tahu keberadaan Byanca karena tidak ada kabar sama sekali.
Pramudya yang dari tadi berada di kantor mendekati Tristan.
"Kamu memang tidak bisa menjaga Byanca, aku kecewa sama kamu," ucap Pramudya sambil meremas pundak Tristan.
Pikiran Tristan semakin kalut, dia sangat takut akan terjadi hal buruk pada istrinya.
Dengan perasaan cemas, Tristan melajukan mobilnya menuju Cluster untuk melihat apakah Byanca masih di sana atau tidak.
Sesampainya di depan cluster, Tristan langsung masuk ke dalam mencari ke semua ruangan, tapi nihil jejak Byanca tidak ditemukan.
Tristan berlari menuju pos satpam menanyakan pada mereka apakah melihat Byanca keluar dari Cluster.
"Tadi, Mbak Byanca naik mobil, sepertinya taksi online yang di pesan Mas," jawab salah satu satpam yang bekerja.
"Mereka berjalan ke arah mana, Pak?" tanya Tristan sambil terus berusaha menghubungi ponsel Byanca.
"Ke arah sana, Mas."
Melihat arahnya seharusnya Byanca menuju kantor, tapi kenapa di kantor tidak ada, pikir Tristan.
Tristan kembali menuju mobilnya untuk segera mencari Byanca, tujuan pertamanya adalah rumah ibu Byanca. Mungkin saja Byanca ke rumah ibunya, pikir Tristan.
Tristan dengan gusar melewati jalan yang mulai macet, di jam pulang kerja begini jalanan memang selalu macet. Bunyi klakson memekakkan telinga membuat Tristan semakin kesal.
Setelah lima belas menit terjebak macet, Tristan sampai di rumah ibu mertuanya.
Rumah tampak sepi, hanya suara burung yang berada di dalam sangkar berkicau sedih karena kebebasannya terenggut.
Tristan mematikan mesin mobilnya tepat di depan teras rumah, harapan besar bahwa Byanca ada di rumah ibunya membuatnya segera mengetuk pintu rumah bergaya minimalis itu.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Tristan.
"Waalaikumsalam," jawab wanita paruh baya itu.
Fatimah membuka pintu rumah, saat melihat Tristan berdiri di depan pintu matanya melihat ke belakang menantunya mencari keberadaan putrinya.
Tristan menyalami sang mertua dan mencium punggung tangannya, melihat ekspresi Fatimah, Tristan sudah menduga kalau Byanca tidak ada di sini.
"Byan mana?" tanya wanita yang masih tampak bingung itu.
"Apa Byan tidak di sini, Bu?" tanya Tristan.
"Kamu mencari Byan?" Fatimah balik bertanya. Pikirannya bingung menduga-duga apakah mereka sedang bertengkar hingga membuat Byanca pergi dari rumah.
"Iya, Bu. Tadi di kantor semua menunggunya, tapi sejak pagi Byan tidak ke kantor," jawab Tristan sambil duduk dengan gelisah.
"Lalu kemana dia?" Fatimah mulai panik, dia takut jika Byanca kecelakaan hingga tidak ada yang mengenalinya.
Fatimah langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi kedua putranya. Tidak menunggu lama kedua kakak Byanca datang.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Bastian panik.
Bima yang baru datang berlari sampai hampir terjatuh karena terpeleset menginjak sepatu Tristan.
"Byanca hilang!" Ibu berkata pada kedua anaknya sambil masih berdiri tegang.
"Hilang bagaimana, Bu?" tanya Bima sambil mengibaskan celananya yang kotor.
"Byan …, tidak ada di kantor dan dihubungi juga tidak bisa, Mas," jawab Tristan resah.
"Lalu, dimana?" tanya Bastian panik.
"Aku juga tidak tahu, makanya aku kesini, aku pikir Byan ada di sini," jawab Tristan sambil terus berusaha menghubungi Byanca.
Fatimah duduk karena kakinya tidak bisa menopang bobot tubuhnya, air matanya luruh karena takut terjadi hal buruk pada putri satu-satunya itu.
"Aku akan cari di rumah teman-teman Byan." Bima langsung berangkat dengan CBR-nya, melajukan kuda besi itu dengan kencang.
"Bas, kamu cari di rumah semua saudara kita." Fatimah memberi perintah pada putra sulungnya.
"Saya juga pamit, Bu, saya coba cari di tempat yang biasa Byan kunjungi," pamit Tristan.
"Iya, kamu hati-hati, selalu kabari ibu, ya," ucap Fatimah sambil mengusap lengan menantunya.
Tristan melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang penuh dengan kendaraan. Matanya menyisiri seluruh tempat memastikan pandangannya tidak lepas sedikitpun dari seluruh penjuru.
Setelah berkeliling, bahkan semua tempat dia telusuri namun tidak ditemukannya sang istri. Perasaannya semakin tidak tenang.
Akhirnya Tristan menuju rumah ibunya, menceritakan atas hilangnya Byanca. Tristan memang lupa tidak memberitahukan pada orang tuanya.
Bastian, Bima dan Tristan saling memberi kabar kalau mereka semua belum menemukan Byanca.
Tristan sudah berada di halaman rumah orang tuanya, memarkir sembarangan mobilnya hingga menghalangi jalan.
Berlari menuju pintu rumah tanpa mengucap salam, Tristan langsung mencari ibunya.
"Bu … Ibu!" panggil Tristan.
Sang ibu yang sedang membersihkan kamar mandi kaget mendengar panggilan anaknya yang terdengar panik, Sarah pun juga panik.
"Ada apa, Tristan?" tanya Sarah tergopoh sambil masih memegang sikat kamar mandi.
Nenek yang sedang membuka tudung saji karena mau mengambil tempe goreng, juga langsung berjalan menuju ruangan dimana Tristan berteriak memanggil ibunya.
"Byan hilang, Bu," jawab Tristan sambil menyugar rambutnya kasar.
Anggara yang berada di kamar langsung keluar mendengar ucapan Tristan kalau Byanca Hilang.
"Hilang bagaimana?" tanya Anggara sambil mengancingkan kemejanya.
"Ya … hilang, sudah dicari kemana-mana tidak ada," jawab Tristan gusar.
"Tristan, coba duduk sini, kamu ceritakan yang terjadi," ucap Anggara meminta anaknya untuk duduk.
Mereka semua duduk mendengarkan cerita Tristan.
Tristan menceritakan yang terjadi dari sejak kedatangan Pramudya kemarin sampai pencariannya tadi.
Sarah manggut-manggut mulai menduga yang terjadi pada Byanca.
"Apa mungkin Pram yang menculik Byan?" tanya Sarah menduga keterlibatan Pramudya atas hilangnya Byanca.
"Tadi, Pram sempat memarahi aku, Bu, apa mungkin …." Tristan menggantung ucapannya