Pencarian

1260 Kata
Tristan pamit pada keluarganya untuk ke rumah mertuanya, karena kedua kakak iparnya menyuruhnya segera datang. Setelah shalat magrib, Tristan langsung menuju kediaman keluarga istrinya. Kali ini Tristan lebih cepat sampai karena jalanan sudah tidak serapat siang. Setelah sampai Tristan langsung masuk ke rumah, di sana sudah berkumpul seluruh keluarga. "Tristan, coba kamu ingat-ingat, apakah kamu punya musuh?" tanya Bastian penuh selidik. "Kalau musuh, sepertinya tidak, tapi …." Tristan ragu mengatakan kecurigaannya pada Pramudya. "Tapi, apa?" tanya Bima sambil meletakkan ponselnya menunggu Tristan bicara. "Ini hanya kemungkinan saja," jawab Tristan sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Iya, tapi apa?" bentak Bima kesal. "Mungkin, Byan … diculik … Pram," ucap Tristan ragu. "Apa!" seru Bastian dan Bima bersamaan. "Kenapa kamu bisa berpikir begitu? bukankah kalian berteman?" tanya Bastian sambil menatap Tristan penuh tanda tanya. "Pram, menyukai Byan," lirih Tristan sambil menunduk. "Sejak kapan?" cecar Bastian. "Sudah lama," jawab Tristan sambil menghembuskan napas gusar. "Shitt!" umpat Bima. "Ayo, kita ke apartemen Pram," ajak Bastian. "Kalian hati-hati, jangan ada keributan," pinta Fatimah. Akhirnya mereka bertiga menuju apartemen Pramudya untuk mencari Byanca. *** Setelah tiga jam tidak sadarkan diri akhirnya Byanca tersadar, di kerjabkan matanya melihat sekeliling yang tampak asing baginya. Byanca bangkit dari tidurnya, dipegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dia mencoba membuka pintu, menarik handel dan menggedor-gedor. "Tolong! Siapapun yang ada di luar, tolong!" Teriak Byanca. Byanca, mengamati ruangan tertutup itu, dia menyadari kalau ruangan itu kedap suara jadi tidak mungkin suaranya terdengar dari luar. Di ruangan yang lumayan luas itu, terdapat beberapa perabot mewah, terdapat juga kaligrafi arab yang menghiasi dinding. Byanca mengira kalau pemilik rumah itu pasti orang kaya terlihat dari perabot yang ada. Tapi, kenapa mereka menculikku, pikir Byanca. Byanca mencari sesuatu mungkin saja ada barang yang tertinggal dari sang penculik, tapi dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Di ruangan itu hanya ada buku-buku berbahasa Turki serta ada bendera gambar bulan sabit dan bintang. Byanca masih menduga siapa yang menculiknya dan untuk apa, karena selama ini dia merasa tidak punya musuh. Turki? Mengingat negara itu Byanca langsung mengingat Pramudya, sahabatnya itu memang keturunan Turki. Tapi apa mungkin Pramudya yang menculiknya? Kenapa? Hati Byanca bertanya-tanya. Byanca melihat knop pintu berputar, dia langsung berlari dan membaringkan tubuhnya pura-pura masih tidur. Byanca ingin tahu siapa yang menculiknya. Ditutupnya mata dengan rambut agar dia bisa mengintip siapa orang yang telah menyekapnya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar mendekatinya, dia menggunakan masker, kacamata hitam serta topi, dan juga jaket hitam. Laki-laki itu mengusap lembut rambut Byanca hingga terlihat pipi putih dan hidung mancung Byanca. Ditelusurinya pipi dan bibir merah Byanca dengan jarinya lembut. Byanca yakin kalau laki-laki itu adalah Pramudya. Selama lima tahun bersama, tidak mungkin dia tidak mengenalinya, tapi Byanca masih pura-pura belum sadar karena ingin tahu apa yang diinginkan sahabatnya itu. Setelah beberapa menit Pramudya termangu sambil menikmati wajah cantik wanita yang telah mengikat hatinya itu. Setelah puas menatap wajah Byanca, Pramudya keluar dari ruangan itu dan mengunci knop pintu. Tubuh Byanca merasa panas dingin melihat Pramudya yang seperti orang yang tidak dia kenal, dia masih gamang dengan pikirannya. Ada apa ini? Tanya Byanca dalam hati. Byanca duduk di pinggir ranjang sambil menyilangkan kakinya, berusaha mengingat kelakuan Pramudya padanya. Ya, memang akhir-akhir ini Pramudya terlihat beda, tapi kenapa? pikir Byanca. Berbagai pertanyaan soal Pramudya memenuhi otaknya, dia berpikir kejadian yang menimpa Tristan malam itu, apa ada hubungannya? Pramudya, setelah menculik Byanca pikirannya masih tidak tenang, dia juga bingung apa yang harus dilakukan pada Byanca, pikirannya saat ini hanya ingin menjauhkan Byanca dari Tristan karena kecemburuannya yang tidak bisa dibendungnya. Setelah memastikan Byanca dalam keadaan baik, Pramudya menuju ruangan depan untuk memberi perintah pada orang suruhannya. "Ken, kamu belikan makanan untuk Byanca," perintah Pramudya pada laki-laki bernama Ken itu, dialah orang yang pura-pura menjadi sopir taksi online. Pramudya mengulurkan uang pada Ken agar membelikan makanan. "Untuk kalian juga," ujar Pramudya. Pramudya membayar tiga orang untuk menjaga Byanca, dia juga berencana menemani Byanca selama di sini. Sungguh, rasa sayang itu membuatnya tidak bisa jauh dari Byanca. Sebelum Byanca menikah, dia memang selalu ada untuk Byanca, bahkan tidak pernah sehari pun dia lewati hari tanpa Byanca. Hal ini yang membuatnya begitu berat jauh dari wanita yang begitu dicintainya itu. Selama mereka bersama, Pramudya selalu menunjukkan rasa sayangnya pada Byanca, namun Byanca hanya menganggap kebaikan Pramudya wajar sebagai sahabat. Padahal sejatinya tidak akan ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan. "Aku mencintaimu?" ucap Pramudya waktu itu. Byanca mengernyit mendengar ucapan Pramudya, setelahnya Byanca malah tertawa menganggap ucapan Pramudya hanya candaan. "Bercandanya nggak lucu, sudah tahu aku lagi patah hati malah di godain begitu," jawab Byanca manyun. Waktu itu Byanca sedang patah hati mendengar pertunangan Tristan dan Adelia. Sejak saat itu Pramudya tidak berani menyatakan cintanya dan berencana menyatakannya setelah Tristan dan Adelia menikah, namun kini kenyataan tak sejalan dengan angannya. Pramudya meraup kasar wajahnya lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa menatap ke langit-langit, terlihat wajah Byanca yang tersenyum memperlihatkan lesung pipinya membuatnya semakin frustasi. *** Tristan, Bima dan Bastian sudah sampai di pelataran apartemen, mereka memarkirkan mobil di tempat parkir yang sangat luar. Anak-anak kecil berkejaran bermain di sebuah taman yang berseberangan dengan tempat parkiran. Mereka yang begitu polos tanpa beban membuat Tristan berhenti sejenak melihat kedamaian pada diri mereka. Tristan sempat menyesali jika Adelia tidak meninggalkan dirinya pada hari pernikahan mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini dan persahabatan mereka tidak akan ternoda oleh cinta. Tristan menghela napas panjang, dadanya begitu sesak memikirkan masalah ini. Dia sadar kalau dia yang salah karena telah merebut Byanca dari Pramudya. "Aku benar-benar tidak bisa jauh dari Byan," ucap Pramudya kala itu. "Kenapa kamu tidak jujur saja, awas keduluan orang, tahu rasa," ucap Tristan memberi semangat pada sahabatnya. "Aku tidak berani, nanti saja kalau sudah siap pasti aku akan mengatakannya," jawab Pramudya sambil melihat foto Byanca di layar ponselnya. "Tristan, ayo." Panggilan Bima mengagetkan lamunannya, dia langsung mempercepat langkahnya mengikuti dua orang bertubuh kekar di depannya. Di depan lift mereka menombol angka 15 menuju lantai apartemen milik Pramudya. Beberapa detik di lift dalam kebisuan karena mereka cemas memikirkan keberadaan Byanca. Pintu lift terbuka tepat di lantai 15. Mereka bertiga keluar lift dengan tergesa menuju ruangan apartemen nomor lima. Di depan pintu apartemen itu, mereka mengetuk pintu memanggil-manggil Pramudya, namun yang dipanggil tidak juga keluar. Setelah memastikan tidak ada orang di dalam apartemen itu, akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke rumah. "Bagaimana?" tanya Fatimah saat mereka sudah sampai dengan keadaan lemas. "Pram tidak ada," jawab Bastian sambil melempar kunci mobilnya di atas bufet lalu mendudukkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Tristan masih termenung dengan perasaan bersalah, dia menyesali yang telah terjadi karena semua terjadi karena dirinya. "Kalau kalian yakin Pram yang melakukannya, pasti Byan baik-baik saja. Kalian istirahat saja dulu, besok kita cari lagi," ucap Fatimah. "Tristan kamu tidur di sini saja, jadi kalau ada kabar dari Byan kita langsung mencarinya bersama," pinta Bastian lalu dia beranjak menuju kamarnya. "Coba kamu cari di kamar Byan, siapa tahu ada petunjuk di mana Byan berada," suruh Bima, Tristan mengangguk dan pamit menuju kamar Byanca. Tristan memasuki kamar yang identik dengan warna pink itu, dia mengingat kejadian waktu pertama kali masuk kamar ini saat Byanca menyuruhnya keluar karena ada yang ingin disembunyikannya. Tristan langsung mencari kardus yang sempat dia lihat bentuknya. Dia menyisiri ruangan itu, membuka lemari dan juga laci yang ada di ruangan itu. Tristan masih ingat betul kardus yang digunakan Byanca ukurannya besar, jadi tidak mungkin kalau di masukkan ke dalam lemari. Akhirnya dia melongokkan kepalanya di bawah ranjang, dan benar saja, kardus besar itu ada di bawah ranjang. Dengan cepat Tristan menarik kardus itu lalu membukanya dengan penuh penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN