Tentang Perasaan

1194 Kata
Setelah dibuka, pertama kali yang dia lihat adalah fotonya, dia ingat betul foto itu saat tahun pertama dia kuliah dan foto itu diambil Byanca saat mereka berada di gerbang masuk kampus, Byanca mengatakan untuk kenangan tahun pertama mereka di kampus. Tristan semakin heran karena foto-foto itu dominan foto dirinya dan ada beberapa foto mereka bertiga. Ada satu foto yang menggelitiknya untuk membaca tulisan di bawah foto antara dirinya dan Byanca. 'Aku akan menunggumu' begitu bunyi tulisan kecil di bingkai foto berbentuk hati. Lalu beberapa amplop warna merah muda. Tristan begitu penasaran apa isi amplop itu. Dibukanya satu persatu isi amplop yang berisi surat cinta yang ditujukan untuk dirinya. Betapa dia tidak menyadari kalau ternyata Byanca mencintainya. Seketika bayangannya menerawang mengingat saat pertama kali Tristan jadian dengan Adelia, Byanca mengucapkan selamat namun dengan tetesan air mata yang kata Byanca, itu air mata bahagia. Pikirannya waktu itu Byanca memang ikut bahagia saat dirinya jadian dengan Adelia. Betapa bodoh dirinya hingga tidak menyadari kalau Byanca begitu mencintainya. Setelah mengetahui perasaan Byanca, membuat hati Tristan pedih. Betapa dia tidak tahu diri selalu menceritakan tentang Adelia di depan Byanca. Tristan mengutuk kebodohannya karena telah menyakiti orang yang dicintainya kini. Semakin dia tahu tentang perasaan Byanca membuatnya semakin merasa bersalah, apalagi saat membaca buku harian Byanca, betapa kecewanya Byanca saat Tristan memutuskan melamar Adelia. Di buku harian itu tertulis kesedihan hati Byanca yang dibalut dengan senyuman, sungguh sakit hatinya membayangkan perasaan Byanca waktu itu, apalagi dengan tidak punya perasaan Tristan mengungkapkan kebahagiaannya saat lamarannya diterima Adelia. Dalam hatinya, dia berjanji akan membahagiakan Byanca dan akan menebus luka yang tidak sengaja dia torehkan. "Maafkan aku,Byan" lirihnya, sambil mencium foto Byanca. "Aku akan membahagiakanmu, aku janji akan bersamamu selamanya," ucapnya lirih. Tristan menyugar rambutnya kasar, merutuki kebodohannya karena ketidak pekaan dirinya pada orang yang selalu dekat dengannya. *** Setelah orang suruhannya datang dengan menenteng makanan, Pramudya membawa makanan itu untuk diberikan pada Byanca. Sejenak dia ragu untuk masuk lagi, takut kalau Byanca tahu bahwa dirinya yang menculiknya. Pramudya memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya, dia ingin memastikan sendiri kalau Byanca mau makan, dia juga tidak bisa jauh dari wanita yang selalu membuatnya tenang jika di sampingnya. Dibukanya knop pintu, dan terlihat wanita yang memakai rok selutut itu sudah duduk dan menatapnya penuh tanda tanya. Pramudya mendekati Byanca dan mengulurkan kantung berisi makanan dan minuman. Byanca menerima makanan itu karena memang dia merasa sangat lapar. Pramudya tidak mengatakan apapun dan langsung duduk di sofa yang berada di pojok ruangan itu, dia takut suaranya dikenali Byanca. Byanca yang memang kehabisan tenaga langsung memakan makanan yang dibawa Pramudya, dia berani memakannya karena dia tahu tidak akan mungkin sahabatnya itu meracuninya. Tidak menunggu lama, makanan itu sudah tandas. Pramudya melihatnya iba, ada rasa bersalah telah menculik Byanca. Namun, rasa cintanya telah mengalahkan akal sehatnya. "Pram, itu kamu 'kan?" tanya Byanca sambil berjalan mendekat pada Pramudya. Mata Pramudya mengikuti gerak tubuh Byanca yang semakin mendekatinya, hingga tepat di depannya Byanca berhenti. Wanita tinggi semampai itu meraih tangannya dan berjongkok di depannya membuatnya salah tingkah. "Kenapa kamu melakukan ini?" tanya wanita berparas ayu itu lembut. Pramudya memalingkan wajah, dia belum siap untuk mengungkapkan perasaannya hingga membawa Byanca di sini. Byanca masih memberi ruang untuk Laki-laki bertubuh kekar itu untuk menjawab pertanyaannya. "Ma, maaf …, Byan …," jawabnya terbata. "Aku akan mendengarkan apapun alasan kamu," ucap Byanca sambil menatap mata coklat milik Pramudya. Dalam beberapa detik sunyi, rangkaian kejadian terekam kembali dari ingatan mereka. Kebersamaan yang mereka jalani, begitu indah tergambar nyata. "Maafkan aku karena telah mencintaimu, Byan," ucap Pramudya lirih. Dunia seolah berhenti berputar dan angin seperti tak berhembus hingga membuat d**a sesak mendengar kenyataan yang tidak pernah ada dalam benaknya. Byanca menghirup udara sebanyak mungkin karena persediaan oksigen di tubuhnya terasa habis. "Apa maksud kamu, Pram?" tanya Byanca masih berharap kalau ucapan Pramudya salah. "Selama ini, aku mencintaimu, Byan," jawab Pramudya sambil menunduk. Byanca duduk di sebelah Pramudya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Pramudya. "Kenapa kamu tidak mengatakannya?" tanya Byanca lembut. "Aku tidak berani mengatakannya karena kamu mencintai Tristan," jawab Pramudya masih dalam keadaan menunduk. "Aku berencana melamarmu usai pernikahan Tristan," ucapnya lagi penuh penyesalan. Ketidak jujurannya membuatnya kecewa. Mendengar pengakuan Pramudya membuat Byanca dipenuhi rasa bersalah, seandainya dia tahu kalau Pramudya mencintainya dia akan mempertimbangkan permintaan untuk menikah dengan Tristan. Meskipun cintanya pada Tristan begitu besar, dia tidak akan tega pada laki-laki yang selama ini begitu baik padanya. Seandainya dia tahu dari dulu, dia akan berusaha menerima Pramudya. Tapi, takdir begitu indah mempermainkan perasaan mereka. Memang siapa yang bisa melawan takdir, sekuat apapun menggapai hati orang yang dicintai jika Sang Kuasa tidak menyatukan, dia tidak akan menjadi milik kita. Byanca menghembuskan napasnya setelah sebelumnya menghirupnya untuk menenangkan pikirannya agar bisa menyusun kalimat yang membuat Pramudya tenang. "Pram, maaf ya. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu mencintaiku." Byanca masih berusaha membuat Pramudya tenang. "Mungkin, kalau aku tahu kamu mencintaiku, aku tidak akan menikah dengan Tristan. Tapi …." Byanca menjeda ucapannya memberi kesempatan Pramudya untuk mencerna kata-katanya. "Apa kamu percaya takdir?" tanya Byanca sambil menoleh menatap lekat laki-laki berjambang itu. Pramudya mengangguk lemah, menghela napas, mulai mengerti maksud pembicaraan Byanca. Pramudya membuka topi dan maskernya hingga terlihat wajah penuh kharisma itu. "Kalau memang kita berjodoh, pasti Allah akan memudahkannya. Tapi, kalau kita tidak berjodoh, sulit bagi kita untuk bersatu. Mungkin memang kita tidak berjodoh, sehingga kejadian yang menimpa Tristan membuatku menjadi pendampingnya," papar Byanca. Diusapnya lembut rambut Pramudya, laki-laki yang dia sayangi sebagai sahabat bukan sebagai kekasih. Dalam hati kecilnya, Pramudya mulai menerima ucapan Byanca, namun perasaan cinta yang begitu besar membuatnya menolak. Apapun yang dianggap takdir, menurutnya belum tentu juga kalau Byanca dan Tristan berjodoh. "Apa kamu yakin kalau berjodoh dengan Tristan? Lalu, bagaimana kalau Adelia kembali lagi?" tanya Pramudya sambil menatap Byanca penuh pengharapan. "Apa kamu yakin kalau Tristan tidak berpaling darimu? Kamu tahu 'kan sebesar apa cinta Tristan pada Adelia?" tanya Pramudya masih berusaha meyakinkan Byanca tentang takdir yang diyakininya. Mau tidak mau, ucapan Pramudya menggoyahkan hatinya. Ketakutan akan kedatangan Adelia membuatnya sedikit ragu apakah Tristan akan bertahan dengannya atau kembali pada kekasihnya. Kepergian Adelia yang tidak diketahui alasannya bisa saja membuat Tristan masih mengharapkan Adelia kembali. Bukankah cinta yang begitu besar bisa menerima apapun keadaan orang yang dicintainya. Bukan tidak mungkin Tristan akan melakukan hal itu, kembali pada kekasihnya bagaimanapun keadaannya. Byanca berpikir sejenak secara jernih, tentang perasaannya, tentang keyakinannya dan tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kebersamaannya dengan Tristan selama satu minggu ini memang terlalu cepat mengikat cinta mereka menjadi simpul yang tak mudah diurai. Terlalu cepat jika Tristan benar-benar mencintainya, bisa jadi itu hanya sebuah keharusan karena telah terikat janji pada Sang Kuasa. Bukankah cinta butuh waktu yang lama untuk membuatnya kokoh dan tidak mudah goyah. Waktu yang singkat itu bisa saja mudah diruntuhkan oleh perasaan cinta yang telah lama mengikat hati Tristan dan Adelia. "Byan, tidurlah dulu, aku akan melepaskanmu jika kamu benar-benar yakin dengan cinta Tristan padamu. Aku tidak rela jika kamu disakiti Tristan," ucap Pramudya sambil mengusap rambut panjang Byanca lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Byanca yang sedang merenungi perasaannya. Pikirannya masih menerka apakah Tristan benar mencintainya atau hanya karena sebuah kewajiban. Lalu apakah cintanya pada Adelia sudah pudar dalam waktu sesingkat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN