Permohonan Byanca

1267 Kata
Permohonan Byanca. Matahari mulai menampakkan pesonanya, membuat bumi tersenyum menyambut cahaya yang menghangatkan. Fatimah sudah menyiapkan sarapan untuk tiga laki-laki yang semalam dalam istirahat yang tidak nyenyak. Tiga laki-laki dewasa itu menikmati makanan dalam rasa hambar karena pikiran yang penuh kekhawatiran. Tristan terlihat kacau setelah mengetahui kenyataan tentang perasaan Byanca hingga membuatnya tidak bisa memejamkan mata. Rasa bersalah menyelimuti hatinya yang kini telah diisi sosok yang selama ini selalu bersamanya dan selalu diabaikannya. Melihat wajah murung Tristan, membuat Bima menyenggol lengan Bastian untuk menanyakan ada apa dengan Tristan. Bastian langsung menoleh ke arah adiknya dan mendongakkan kepalanya memberi tanda bertanya. Bima menunjuk Tristan juga dengan arahan kepalanya. Bastian paham dengan apa yang dimaksud Bima. Lalu, mulai menanyakan pada Tristan ada apa dengannya. "Tan, ada apa?" tanya Bastian yang sontak membuat Tristan menoleh ke arah Kakak iparnya. Tristan ragu menanyakan tentang Byanca, dia takut mengetahui hal yang membuatnya semakin merasa bersalah. Tapi rasa penasaran yang begitu besar akhirnya dia mencoba berdamai dengan perasaannya. "O iya, Mas. Apa Byan pernah mencintai laki-laki sebelum menikah denganku?" Tristan memulai pertanyaan dengan basa-basi. Bastian dan Bima saling menoleh, sebenarnya mereka berdua mengira kalau Byanca mengakui cintanya setelah mereka bersatu, tapi kenapa Tristan menanyakan hal ini, pikir mereka penuh tanda tanya. "Maksud kamu?" tanya Bima sambil meletakkan sendoknya setelah mengakhiri suapan terakhir. "Mungkin Mas Bima tahu siapa laki-laki yang dicintai Byanca," tanya Tristan lagi sambil menatap Bima penuh rasa ingin tahu. "Sejak dulu, Byanca menyukaimu," jawab Bastian. Tristan meneguk air yang ada di gelas untuk membasahi tenggorokannya yang kering setelah mendengar perkataan Bastian. "Sejak kapan?" tanya Tristan sambil merasakan sesak di dadanya setelah mendengar kenyataan itu, meskipun sejak semalam dia tahu setelah membaca lembaran demi lembaran berisi untaian kata yang ditujukan untuk dirinya. "Sejak kalian bertemu pertama kali di kampus, saat itu Byan selalu bercerita tentang kamu," jawab Bima, lalu dia menggeser kursinya berdiri untuk mengambil air dingin yang ada di kulkas. Kebiasaan Bima selalu minum air dingin meski sering sekali dimarahi Byanca namun, dia tidak pernah menggubrisnya. Pikiran Tristan menerawang, memorinya memutar peristiwa lima tahun yang lalu saat pertama kali mereka bertemu. Gadis manis dengan lesung pipi tersenyum ke arahnya dan memperkenalkan diri. "Byanca, bisa panggil Byan saja," Sapa Byanca saat awal perkenalan mereka. "Tristan, tapi jangan panggil Tan saja ya, harus lengkap." Tristan mengulurkan tangan. Dan sejak pertemuan itu Tristan dan Byanca berteman. Tristan kembali menghela napasnya, meskipun sekarang dia sudah menikahi Byanca namun, perasaannya masih dipenuhi penyesalan. Apalagi saat ini dia tidak tahu Byanca ada di mana. Setelah mereka menghabiskan sarapannya, mereka kembali ke apartemen Pramudya, berharap kali ini menemukan Byanca di sana. Setelah pamit pada sang ibu, mereka bertiga mengendarai mobil langsung melesat menuju apartemen Pramudya. Melewati jalan semalam yang tampak berbeda karena saat siang begini apartemen terlihat lengang. Berkali-kali mereka mengetuk pintu, namun Pramudya tidak ada di apartemen itu. Mereka bertiga berpikir keras kira-kira dimana Pramudya menyembunyikan Byanca. "Bagaimana kalau kita ke rumah orang tua Pram," ajak Bastian dan langsung di setujui yang lain. Mata Tristan masih mengitari seluruh penjuru memastikan tidak ada yang mencurigakan. Mereka bertiga menuju kediaman orang tua Pramudya. Di perumahan yang berada di tengah kota, berjajar rumah mewah dua lantai yang dibatasi oleh pagar yang menjulang membuat bangunan terkesan elegan. Berbagai Fasilitas lengkap dan mewah berada di area perumahan dan di area itu juga ada pusat perbelanjaan kelas atas, sungguh bagai surga dunia bagi para pemilik uang. Dengan sedikit ragu mereka memasuki rumah saat sebelumnya melewati pertanyaan panjang lebar dari satpam. Menemui orang kaya itu memang sangat susah. Mereka bertiga turun dari mobil dan disambut pelayan muda yang tergopoh menanyai lagi. "Mau ada perlu dengan siapa, Mas?" tanya wanita muda dengan memakai seragam hitam putih menyambut ramah. "Apa Pram ada?" tanya Tristan yang sudah beberapa kali bertemu dengan wanita di depannya itu. "Tuan muda tidak ada di rumah," jawabnya sopan. "Kalau nyonya, ada?" tanya Tristan lagi. "Ada, mari silahkan masuk." Wanita berkuncir kuda itu mempersilahkan mereka bertiga masuk. Bima berdecak kagum melihat pemandangan di dalam rumah megah itu. Hamparan karpet anatolia berada di tengah ruangan, beberapa keramik khas kebudayaan kekaisaran Ottoman berjajar rapi di bufet yang penuh dengan ukiran. Dengan melihat ornamen rumah itu sudah mengidentifikasi bahwa sang pemilik adalah keturunan dari negeri kebab. Wanita berhidung mancung dengan jilbab paris yang diikat di bagian depan tersenyum ramah pada mereka bertiga. Apalagi wanita itu sudah mengenal Tristan sebagai sahabat putranya. "Assalamualaikum, Anne," sapa Tristan pada Ibu Pramudya, mereka memang biasa memanggil sang ibu dengan sebutan Anne. "Waalaikumsalam, Tristan lama nggak kesini, ini siapa?" tanya Anne sambil menangkupkan kedua tangannya. "Saya Bima dan ini Kakak saya Bastian, kami adalah Kakaknya Byanca," jawab Bima memperkenalkan diri. "Masya Allah, akhirnya ketemu juga dengan Kakaknya Byan," ucapnya senang. "Begini, Anne, sebenarnya kami kesini mau tanya tentang Pram." Tristan membuka obrolan karena tidak sabar ingin segera menemukan istrinya. "Memangnya ada apa dengan Pram?" tanya Anne heran. "Kami mencari Byan, kemungkinan bersama Pram," ucap Tristan. Anne tersentak, dia tahu kalau Byanca sudah menikah dengan Tristan dan selama pernikahan mereka membuat putranya frustasi, tapi Anne tidak menyangka kalau putranya bisa berbuat nekat. "Apa mungkin Anne tahu di mana kira-kira Pram?" tanya Tristan. "Maaf ya, Tristan. Anne tidak menyangka kalau Pram bisa berbuat nekat." Anne diam memikirkan kemungkinan Pramudya membawa Byanca pergi kemana. Pikirannya langsung tertuju pada rumah orang tuanya yang tidak ditempati karena rumah itu jauh dari jalan utama. "Mungkin Pram di rumah Dede, karena rumahnya sudah tidak ditempati." Dede adalah panggilan kakeknya. Anne yakin, karena dia tahu putranya tidak akan pergi jauh dari keluarganya. Setelah Anne memberikan alamat rumah orang tuanya, mereka bertiga segera pamit dan langsung menuju alamat yang dituju. *** Pramudya membawakan Byanca pakaian untuk ganti. Setelah Byanca membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Pramudya datang membawa makanan. Mereka berdua menikmati sarapan seperti tidak terjadi apa-apa. "Byan, apa kamu sudah memikirkan apa yang aku katakan semalam?" tanya Pramudya sambil menatap Byanca yang tampak seperti bidadari dengan mata hitam dan bulu mata lentik. "Pram …." Byanca menarik napas menetralkan perasaannya. Pramudya menyimak dengan tenang apapun jawaban yang akan Byanca berikan. Byanca memegang tangan Pramudya dan menggenggamnya, menatap lekat laki-laki beralis tebal itu. Ada rasa iba melihatnya, dia tak menyangka selama ini ungkapan kekaguman pada Tristan melukai hati pria di depannya. Takdir memang telah mempermainkan mereka bertiga, tapi apapun takdir itu pasti itu yang terbaik untuk mereka. "Pram, maafkan aku. Kamu terlalu baik padaku tapi aku tidak pernah peduli dengan perasaanmu. Kamu akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku," ucap Byanca lembut. "Tapi, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu, Byan," ucap Pramudya memelas. "Suatu saat nanti pasti kamu akan menemukan wanita yang pantas untukmu. Mungkin karena selama ini kita bersama, jadi kamu merasa aku satu-satunya wanita yang kamu cintai. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti menemukan jodohmu." Byanca berusaha meyakinkan Pramudya. Ponsel Pramudya berdering, ada panggilan dari Ken orang suruhannya yang berjaga di depan rumah itu. "Iya, Ken." "Diluar ada Tristan." "Aku akan ke depan, suruh dia menungguku." Panggilan telepon diputus, Pramudya mendesah berusaha menerima kenyataan yang begitu pahit ini. "Tristan menjemputmu," ucap Pramudya sambil memalingkan wajahnya karena tak kuasa menahan cairan bening yang susah untuk ditahan. Diusapnya cairan bening itu dengan punggung tangannya. "Byan, boleh aku memelukku sekali saja," pinta Pramudya. Dengan sedikit ragu, akhirnya Byanca mengangguk membiarkan sahabatnya memeluknya untuk terakhir kali. Pramudya memeluk erat tubuh Byanca cukup lama, lalu di kecupnya kening Byanca. "Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menerimamu kapan saja kamu mau jika Tristan berpaling darimu," ucap Pramudya sambil memeluk Byanca sekali lagi. Byanca tersenyum, " Aku akan berusaha hidup dengan baik bersama Tristan. Tetaplah menjadi sahabatku dan carilah cinta sejatimu. Lupakan rasa cintamu padaku, kamu akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN