Bab 1 - Batal Nikah
Sazana tampak bahagia, dalam hitungan jam, ia akan duduk di hadapan penghulu dan menyaksikan mempelai pria yang mengucap ikrar janji setia, sehidup semati dengannya.
Ia terlalu gugup hingga beberapa kali mondar-mandir di ruangannya dan sesekali tampak meremas tangannya sendiri.
Ia tak sabar ingin melihat penampilan calon suaminya. Pastilah akan tampak gagah dengan balutan jas dan dengan lantang mengucap ijab kabul di depan penghulu.
Sazana tak bisa menahan lagi. Ia tak peduli kata orang-orang tentang pamali saat akan menikah, tetapi ia rindu pada sang kekasih hati.
Sazana menyelinap keluar dari kamarnya, dengan jaket hoodie yang menutupi kepala, ia ingin bertemu sebentar saja dengan Rajata dan berbicara mengenai pernikahan mereka yang kurang beberapa jam lagi akan dilaksanakan.
Ia tahu, dirinya dan Rajata dikelilingi banyak orang beberapa waktu terakhir ini, dan mumpung malam telah larut dan suasana begitu sunyi di hotel tempat mereka menginap, tak ada salahnya untuk bertemu sebentar saja.
Sazana mengetuk pintu kamar Rajata berulang kali, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Ia nekat memutar knop pintu dan melangkahkan kaki memasuki ruangan di mana calon suaminya tidur. Pintu tidak terkunci.
Namun, sampai di dalam, ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Senyum Sazana tersungging. Rajata memang laki-laki yang bersihan. Meski malam larut, lelaki itu pasti akan membersihkan diri sebelum naik ke atas kasur untuk tidur.
Sazana memutuskan untuk menunggu.
Akan tetapi, niatnya berubah kala ia mendengar suara dari kamar mandi dan jelas bukan suara Rajata saja. Ada lenguhan aneh yang terdengar cukup jelas dari dalam kamar mandi sampai ke tempat Sazana berada.
Degup jantungnya mulai tak karuan. Apakah ia salah masuk kamar? Mengapa ada suara perempuan di dalam sana?
Sazana nekat, bangkit dan melangkah ragu menuju sumber suara yang tak lain adalah dari kamar mandi. Dan mendorong pintu kaca itu bukanlah ide bagus, rupanya. Karena apa yang ada di hadapannya membuat Sazana nyaris pingsan.
***
Suara langkah kaki tergesa terdengar mendekat dan berhenti di belakang Sazana, seorang gadis yang hari ini tampak bak putri dari negeri dongeng.
Ia memang seperti seorang putri, cantik dan menawan. Begitu pula kisah cintanya yang sebentar lagi akan berakhir ‘happily ever after’ seperti dalam kisah Cinderella—rakyat jelata yang kemudian menikah dengan seorang pangeran.
Sayangnya, tidak. Tidak seperti itu akhir kisah cintanya. Anggap saja ia sedang bermimpi, tetapi kemudian dipaksa untuk bangun dan menghadapi realita bahwa pernikahan mereka batal dikarenakan hal yang tak pernah ia duga.
Sazana seharusnya menjadi yang beruntung di antara lainnya. Menikah dengan pria mapan, seorang pemilik bisnis hotel ternama di Bali, sementara dirinya hanyalah pegawai biasa yang bekerja di tempat berbeda.
Ini jelas bukan kisah cinta antara pegawai dan atasan, karena pertemuan antara dirinya dan Rajata adalah suatu ketidak sengajaan.
“Tuan Rajata tidak ada di kamarnya, Non!” salah seorang pelayan Rajata—yang sudah akrab dengan Sazana saking lamanya hubungan mereka, dengan napas masih terengah memberikan kabar padanya saat itu juga.
Wajah muram gadis itu bukan karena kabar yang baru ia dengar dari Elia beberapa detik lalu melainkan sejak semalam.
Ia bahkan sudah rela dengan apa yang telah dilakukan Rajata terhadapnya, dan berjanji akan melupakan semua asalkan Rajata tidak membatalkan pernikahan mereka. Namun, tampaknya apa yang Sazana inginkan tak sejalan dengan keinginan Rajata.
Pria itu membuktikan perkataannya bahwa ia tidak lagi menginginkan Sazana.
Bukan karena Sazana buruk rupa, bukan juga karena gadis itu tidak pintar, karena meski hanya lulusan SMA nyatanya Sazana diterima bekerja di sebuah hotel ternama karena kepandaian dan kecerdasannya berbahasa asing dan kemampuan public service-nya.
Sayang sekali, bagi Rajata gadis itu kurang dalam service terhadap pasangan.
“Kamu selalu bilang, kamu akan berikan keperawananmu pada suamimu nanti, dan aku bosan dengan kata-katamu itu, Saz. Aku ini laki-laki normal dan harus menahan diri setiap lihat kamu, kamu pikir itu enak?” rutuk Rajata malam tadi saat Sazana memergokinya tengah bercinta dengan perempuan lain di kamar mandi.
Sazana merasa sesak saat itu. Namun, ini adalah pernikahan impiannya, kehidupan yang ia dambakan. Hingga pada akhirnya ia rela korbankan harga diri demi terwujudnya semua ini.
“Kamu mau tidur sama aku, kan? Ayo ... aku bakal kasih tubuhku untuk kamu, silakan nikmati sampai kamu puas. Tapi, please, Rajata ... jangan ambil keputusan yang akan menyakiti kita berdua,” mohonnya sembari melepaskan satu per satu pakaian yang ia kenakan.
Rajata yang tengah duduk di atas ranjangnya, memandangi Sazana dengan saliva yang ia telan sekuat tenaga. Mana mungkin ia tak tergoda? Namun, mengingat bagaimana Sazana sangat anti dengan seks di luar nikah, dan begitu menjaga keperawanannya, Rajata jadi kehilangan minat terhadap gadis itu.
Apa istimewanya seorang gadis yang masih perawan? Apakah hanya untuk kebanggaan tetapi tidak bisa ia nikmati dengan bebas? Hanya pernikahan yang bisa membuat Rajata bisa menyentuh Sazana, padahal hasratnya sebagai lelaki sudah ada sejak semula ia melihat gadis itu.
Namun, tidakkah Rajata berpikir, sangat disayangkan jika melepaskan Sazana begitu saja padahal sebentar lagi ia bebas mereguk kenikmatan itu? Ia bebas melakukan apa saja dengan tubuh Sazana, sebentar lagi.
Itu tadi, Rajata sudah kehilangan minat.
“Pakai pakaian kamu, Saz, dan kembali ke kamarmu!” titahnya, tegas.
Tentu saja Rajata sudah tidak berselera. Ia sudah kenyang menikmati santapannya sejak tadi. Bahkan Sazana tak tahu kalau ia kerap melakukan itu selama menjalin cinta dengan Sazana.
Bukan, bukan! Rajata tak terima jika dikatakan tak setia. Ia tidak berselingkuh, hanya bermain dengan beberapa wanita dan itu pun hanya untuk sebuah kepuasan.
“Rajata, please ... kamu bebas lakuin apa aja, tapi aku mohon, jangan batalkan pernikahan ini. Bapak sama ibuku pasti bakal sedih kalau tahu aku—“
“Sazana, sayang ... kembali ke kamar kamu. Jangan cemaskan apa pun,” ucap Rajata sembari menangkupkan kedua telapak tangan di pipi Sazana.
Suaranya terdengar lembut, seperti Rajata yang Sazana kenal. Benar, laki-laki itu tidak berubah dan itu membuat Sazana tenang. Namun, itu semua hanya manipulasi karena yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
“Ke mana dia pergi?” tanya Sazana, ketika angannya sudah kembali setelah berkelana pada kejadian malam tadi.
“Saya tidak tahu, Non. T-tapi tuan meninggalkan ini di meja.”
Gadis itu menyerahkan sepucuk surat untuk Sazana yang jelas tertulis namanya di sana. Sazana menarik napas dalam-dalam sebelum membuka dan membaca isinya yang pasti akan lebih menyesakkan.
Dear, Sazana, cintaku ...
Kalau kamu sudah baca surat ini, artinya aku sudah tidak lagi berada di samping kamu. Maafkan aku. Ada banyak hal yang tampaknya tidak sempat kusampaikan padamu.
Kamu terlalu tergesa dan bahagia akan pernikahan ini, hingga lupa bertanya, apakah aku bahagia atau tidak. Siap atau tidak. Kamu tidak pedulikan diriku sebagai laki-laki dan selalu mempermasalahkan waktu, padahal pada akhirnya kita juga akan menikah.
Aku yang salah karena tidak kuasa menunggu.
Dan melalui surat ini, kusampaikan apa yang harusnya sejak lama kusampaikan. Mungkin saat ini kita tidak lagi berjodoh, mungkin nanti, atau di kehidupan mendatang.
Berbahagialah, meski tanpa aku.
Salam sayang
Rajata.
***
Sazana seperti orang tak waras. Ia melangkah limbung tak tahu harus ke mana.
Tentu saja. Hotel dan segala fasilitas bahkan pelayan, adalah dari Rajata. Ia hanya bermodal dengkul, karena tak punya apa-apa. Hanya karena ia berparas ayu, bertubuh molek, dan otak secemerlang Einstein tak menjadikannya pantas untuk mendapat itu semua.
Bahkan hati Rajata, nyatanya.
Satu hal lagi yang tak bisa ia lupa. Ivana, sahabat yang selalu menemaninya, juga merupakan sepupu Rajata dan kenyataan itu tak bisa ia ungkiri. Itu sebabnya ia tidak mau bertemu dengan Ivana. Setiap kali mengingat segala hal yang berhubungan dengan Rajata, d**a Sazana terasa nyeri.
Dan sejak saat ini, pasti, Bali akan menjadi momok baginya.
Sazana melangkah gontai, tak pedulikan siapa saja yang ada di sekitar pantai. Ia hanya ingin mendinginkan kepalanya yang terasa seperti mendidih. Mungkin berendam di air laut sebentar saja bisa membuatnya lupa pada Rajata dan kenangan pernikahannya yang gagal.
Bukan gagal, melainkan batal. Namun, apa bedanya? Tetap saja intinya dia tidak jadi menikah hari ini.
Suara deburan ombak memecah konsentrasi Sazana yang semula hanya ingin memandangi air laut yang gelap, atau langit yang berhiaskan gemintang, sedikit romantis meski ia sedang tidak jatuh cinta melainkan patah hati.
Ia menyesal mengapa saat itu menerima pinangan Rajata tanpa bertanya apa yang ia inginkan.
Bisa saja lelaki itu hanya ingin merasakan tidur dengannya, karena itu menikah akhirnya jadi solusi. Tentu saja semua itu karena aturan yang Sazana buat sendiri.
“Hey! Berhenti! Apa yang mau kamu lakukan?” teriak seseorang dari kejauhan. Sazana masih berada antara ambang batas. Sadar dan tak sadar. Ia enggan menoleh.
“Geg! Berhenti di situ! Saya ke sana sekarang.”
Sazana berdecak kesal. Mengapa suara itu terus mengganggunya? Ia masih tak ingin menoleh atau mencari tahu siapa yang saat ini bergerak mendekat.
Meski ada kengerian menyusup di batinnya dan bertanya-tanya seperti apa rasanya mati tenggelam, tetapi Sazana tetap membulatkan tekat.
Dan ketika air laut sudah sebatas pinggangnya, sebuah lengan kokoh merengkuh Sazana dan membawanya dengan paksa agar menjauh dari laut.
“Lepasin aku! Hey!” Sazana berusaha memberontak dan melawan lengan kokoh yang menariknya keluar dari air yang mungkin perlahan akan menenggelamkannya. Seperti apa yang ia inginkan.
Gadis itu geram hingga memukuli tubuh laki-laki yang bisa dianggap pahlawan andai Sazana berterima kasih padanya. Namun, tentu saja tidak.
“Kamu sudah gila? Kamu bisa mati tenggelam, Geg!” sergah lelaki itu. “Saya hanya menyelamatkan kamu.”
“Tapi aku gak mau diselamatkan. Lepasin aku sekarang!”
Sazana sudah terdengar seperti orang tak waras, tetapi lelaki itu tidak mau melepaskannya sebelum mereka tiba di tepian. Dan saat sudah berada di pesisir dan lelaki itu membiarkan Sazana bebas, gadis itu kembali berlari ke laut.
“Geg kamu mau ke mana? Itu bahaya!”
“Kenapa? Biarin aku mati. Kamu gak menginginkan aku lagi, kan? Kamu Cuma butuh teman tidur, kan?” teriak Sazana yang membuat lelaki itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan suara Sazana tidak akan terdengar oleh kerumunan yang ada di sekitar mereka.
“K-kamu ngomong apa—“
“Ayo tidur sama aku. Aku rela kasih keperawananku asal kamu gak membatalkan pernikahan kita, Rajata. Aku sudah bilang, kan? Kamu gak kasih aku kesempatan, tapi langsung pergi gitu aja.”
“Eh? Rajata? Saya bukan Rajata, Geg, kamu salah orang.”
Lelaki itu berusaha menghindar dari Sazana yang kini mengejar demi menyejajari langkahnya.
“Rajata, tunggu!”
“Saya bukan Rajata atau siapa pun yang kamu maksud. Kamu salah orang!”
Sazana bergelayut pada lengan lelaki itu setelah memastikan bahwa dirinya berada tepat di samping lelaki yang telah menyelamatkannya.
“Geg, saya bukan Rajata!” ucap lelaki itu, sudah terlihat putus asa karena perempuan itu masih terus mengikuti langkahnya.
“Kalau begitu kamu juga jangan cegah aku. Biarin aku mati. Aku gak mau menanggung malu karena keputusan kamu, Rajata.” Sazana terus meracau dan dari sana lelaki itu menyadari sesuatu.
Gaun pernikahan yang tampak masih baru, dandanan menawan yang sudah mulai luntur terkena air mata, serta penampilan awut-awutan perempuan ini menggambarkan bahwa ia baru saja mengalami sesuatu yang rumit dan wajar saja jika kemudian ia ingin sekali mengakhiri hidupnya.
“Saya punya opsi lain selain bunuh diri. Sama-sama dosanya tapi akan lebih baik dibanding mati sia-sia,” tawar lelaki itu. Sazana tak tahu harus memberi tanggapan apa, karena ia terlalu patah hati sekarang.
Kalau boleh memilih, apa pun akan ia lakukan. Bahkan jika memang Rajata menginginkan tubuhnya, ia ikhlas. Namun, mengapa harus pergi meninggalkannya seperti ini?
“Apa itu?” tanya Sazana masih dengan kesadaran yang separuh-separuh.
“Ikut saya sekarang.”