Sazana dan lelaki itu sudah tiba di kelab pantai. Di mana semua orang berkumpul layaknya lautan manusia, mereka minum, berdansa, bahkan mencari pasangan untuk melakukan cinta semalam secara acak. Namun, tidak degannya.
Benar kata Rajata, Sazana seorang gadis frigid, anti pada hubungan semalam. Jika pun terjadi, ia pastikan akan mengejar pria yang sudah mendapatkan keperawanannya. Bahkan ke ujung dunia sekali pun.
Namun, terhadap Rajata, ia akan selalu mengejar meski tak pernah ia berikan mahkota keramat itu. Rajata baginya berharga bahkan lebih dibanding keperawanannya.
Sayang, Rajata sudah tak lagi ada di sampingnya sekarang. Entah pergi ke mana dan ada di mana lelaki itu.
“Wishkey satu, Bli,” ucapnya, sembari meletakkan b****g di kursi dan menoleh kanan kiri. Semua tatapan tertuju padanya, tentu saja.
“Jangan langsung minum whiskey, nanti kamu mabuk,” ucap lelaki itu pada Sazana sembari memberi kode pada bartender agar tidak menyajikan minuman itu. “Mocktail aja, Bli.”
“Kamu apa-apaan, sih? Kamu siapa ngatur-ngatur hidupku?” sergah Sazana, kesal karena sikap sok tahu dan ikut campur lelaki itu terhadapnya.
“Saya yang menawari kamu opsi lain selain bunuh diri—“ lelaki itu mengecilkan suara saat dirinya menyebut kata keramat itu. “Jadi kamu harus ikuti cara main saya. Atau kalau tidak—“
“Kalau tidak apa? Kamu mau ngancam aku? Dengar, ya, siapa pun kamu! Aku dari awal gak pernah mau ikut kata kamu yang hmmpf—“
“Jangan bicara sembarangan di sini, Geg. Atau kamu bisa kena masalah nanti. Sudah ikuti saja apa kata saya. Kamu gak akan rugi. Kamu akan lupa sama masalah kamu, tapi tetap bisa menjalani hidup dengan baik.”
Sazana mengangguk patuh kala lelaki itu membekap mulutnya. Dan di menit berikutnya, dia melepaskan bekapan itu dan mulai memesan satu minuman untuk Sazana.
“Kalau minuman ini sudah kamu habiskan, silakan pesan minuman lain yang kamu suka. Saya tinggalkan kamu di sini sekarang. Kamu bebas lakukan apa saja asal jangan yang satu itu. Oke?”
Sazana tidak suka ide lelaki ini. Apakah setelah membebaskannya lantas ia boleh pergi begitu saja? Dan lagi, Sazana tidak suka tatapan orang-orang yang tertuju padanya. Apakah dia terlihat aneh sampai mereka terus memerhatikannya sejak tadi?
Tentu saja. Apa Sazana tidak sadar? Mereka keheranan melihat perempuan mengenakan gaun pernikahan, putih bersih yang sedikit basah di bagian pinggang ke bawah, dengan dandanan berlepotan di sana sini serta maskara mbeleber tak karuan karena terkena air matanya.
Mungkin beberapa dari mereka sudah menyaksikan bagaimana pergumulan antara Sazana dan lelaki yang sudah menyelamatkannya. Persetan dengan namanya, Sazana tak peduli. Yang terpenting, dia akan menghabiskan malam dengan minum minuman yang tak pernah dia sentuh sebelumnya.
Ia masih marah. Siapa yang bisa ia rutuki kalau bukan dirinya sendiri?
Namun, Sazana tak peduli. Berita mungkin sudah menyebar ke mana pun, tetapi tak masalah. Setelah ini ia akan pulang ke rumah dan tidur seharian. Entah apa yang terjadi pada orang tuanya. Mereka mungkin masih berada di hotel, menanti acara sampai lelah, karena kenyataannya, harapan dan kebahagiaan yang mereka nantikan tak akan pernah terjadi.
Sazana menyesap minumannya hingga tandas. Lantas memesan lagi sesuai yang dia mau. Lelaki itu sudah pergi, jadi Sazana bebas sekarang.
Satu gelas ....
Dua gelas ....
Hingga entah berapa gelas lagi ia pesan. Tak hanya satu jenis, melainkan ia jajal semua minuman beralkohol yang ia tahu. Sebagai pegawai hotel, ia kenal hampir semuanya.
Tidak, tidak! Tidak semua, tetapi beberapa dan itu cukup untuk membuatnya lupa akan pernikahannya yang batal. Meski itu hanya sejenak.
Ia bangkit setelah bartender mengatakan kalau semua minumannya telah dibayar oleh lelaki asing itu. Ia tak pedulikan panggilan sang bartender yang menyuruhnya menunggu lelaki tadi. Ia terus melangkah hingga ke tepi pantai, menikmati sapuan ombak di kakinya yang telanjang.
Mungkin akan lebih baik kalau ia mati saja. Tak akan ada yang mencarinya. Dan kalau ibu juga bapaknya mencemaskannya, biar saja. Daripada mereka malu karena putrinya telah ditolak mentah-mentah dengan cara menyakitkan—ditinggalkan begitu saja di hari pernikahannya setelah memergoki sang calon suami bercinta dengan perempuan lain.
Sazana melangkah setapak demi setapak. Tak pedulikan gaunnya yang tadinya sudah kering kini kembali basah, ia terus berjalan ke tengah, hingga air laut setinggi pinggangnya.
Ia siap untuk menceburkan dirinya ke laut, siap untuk mati dan melepaskan segalanya. Namun, tampaknya akan selalu ada yang tidak sepemikiran dengannya dan menggagalkan rencananya. Siapa pun itu, dia merengkuhkan lengan di pinggangnya dan menarik Sazana keluar dari laut menuju ke tepian sembari menggerutu.
"Baru ditinggal sebentar, kamu sudah mau bertindak bodoh lagi. Heran saya!" omelnya.
Seperti sebuah deja vu, tetapi kali ini, Sazana tak bisa bahkan tak berniat melawan. Ia justru merangkulkan kedua lengan di leher kokoh itu dan membiarkan lelaki itu membawanya ke mana pun yang ia mau.
Persetan dengan dirinya. Siapa tahu laki-laki ini akan melenyapkannya setelah mungkin menikmati tubuhnya.
***
“Aw! Itu sakit! Berhenti!” pekik Sazana, saat merasa ada benda tumpul yang menusuknya begitu dalam dan seperti merobek sesuatu yang ada di bagian bawahnya. Ia tidak ingat apa yang sedang terjadi saat ini, atau bahkan sebelumnya.
Bukankah ia mabuk? Entah kapan, tetapi benar, dia sedang mabuk. Dan sekarang, apa yang terjadi padanya? Apa yang dia dan lelaki ini lakukan?
Sazana seperti orang linglung, berada antara sadar dan tidak sadar. Matanya mengedar, berusaha mengenali ruangan tempat dirinya berada saat ini, siapa lelaki yang ada di atasnya, dan apa yang mereka lakukan. Namun, hasilnya nol.
“Kamu mau saya berhenti, Geg?”
Sazana kenal panggilan itu, juga suaranya. Apakah lelaki berbadan tegap itu sedang menggagahinya sekarang? Apakah ini adalah tindakan pemerkosaan?
“K-kamu ... apa yang kamu lakukan?” Sazana berusaha mengembalikan kesadarannya meski sulit. Namun, apa yang ia rasakan di bawah sana sudah cukup menjawab pertanyaannya. Masalahnya sekarang, Sazana—entah sadar atau tidak—tak ingin lelaki itu berhenti. “J-jangan berhenti! Lanjutkan sampai selesai. Persetan siapa yang memulai, aku gak peduli. Kamu harus menyelesaikan ini dengan baik. Karena bisa saja ini yang terakhir.”
Sazana menahan lengan lelaki itu saat dia tampak mengambil gerakan untuk menyudahi aktifitas yang belum tuntas. Memang belum, itu sebabnya Sazana tidak ingin lelaki itu pergi begitu saja.
Dan seperti apa yang gadis itu minta, sang lelaki melanjutkan gerakan ritmisnya dan membiarkan dirinya juga Sazana melepaskan hasrat yang terpendam entah sejak kapan.
Sazana sendiri merasakan sesuatu yang berbeda yang belum pernah ia rasakan. Meski nyeri, tetapi ada rasa lain yang turut bermain di sana. Ia tak ingin berhenti, tentu saja. Tidak, sampai keduanya mencapai puncak yang mereka tuju.
Di waktu yang bersamaan, Sazana dan lelaki itu merasakan ledakan istimewa dalam diri mereka yang tak akan pernah mereka lupakan dan mungkin justru mereka dambakan lagi dan lagi.
Ada rahasia di balik pergumulan keduanya. Rahasia yang akan terungkap andai takdir mempertemukan keduanya kembali. Namun, jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kenangan yang tertinggal yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan begitu saja.
***
Sazana tergesa membenahi pakaian kerjanya sembari berlari. Ia tak menyadari kalau salah satu benda penting yang jadi identitasnya sebagai pegawai hotel ini mungkin tertinggal di suatu tempat.
Ia sudah mencarinya, kembali ke kamar hotel yang disewa oleh Rajata untuk pernikahan mereka, tetapi tak juga ia temukan benda itu.
“Sialan bener! Mungkin laki itu yang bikin aku sesial ini,” rutuknya tanpa henti. Sesekali ia membenarkan roknya, lalu rambutnya, sesekali terlintas di benaknya bagaimana malam istimewa yang ia lewatkan dengan seorang lelaki asing yang ia tidak ketahui dari planet mana datangnya.
“Ganteng, sih ... dan sudah ... ah! Sudah lupakan! Aku gak mungkin akan ketemu dia lagi.”
Sazana sudah berada di balik meja resepsionis dan siap untuk menerima tamu yang datang menginap atau memeriksa reservasi mereka, tetapi tepukan di pundaknya membuyarkan lamunannya.
“Hey, pengantin baru! Kamu kok udah masuk kerja, sih? Gak honeymoon? Oh, iya. Kamu dan lainnya diminta berkumpul di ruangan buat morning devotion. Hari ini hari Senin giliran kamu yang pimpin, kan?” sapa Alya, salah satu rekan kerja Sazana yang lumayan dekat dengannya.
Alya seharusnya tahu kalau pernikahan itu gagal dilaksanakan. Apalagi perhelatannya kebetulan di hotel tempatnya bekerja. Namun, entah apakah yang Alya lakukan hanya untuk mengejeknya, atau memang dia sama sekali tidak tahu.
Sazana mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Ia juga tak tahu apa yang akan dia katakan nanti jika bertemu Ivana.
Gadis itu setengah berlari memasuki ruangan yang biasa digunakan untuk rapat atau briefing sebelum mereka mulai bekerja. Beberapa orang sudah berkumpul dan Sazana bisa mendengar kalau penjelasan sudah dimulai.
Ia turut bergabung dan berusaha menyimak. Namun, konsentrasinya terganggu saat mendengar suara yang cukup ia kenal. Terlebih pembahasan apa yang tengah dibicarakan saat ini.
“Siapa pun pemilik bros ini, tolong ke ruangan saya setelah morning devotion. Ada yang perlu saya bicarakan.”
“Bros apa itu, Pak?” tanya salah seorang di antara pegawai yang ada di ruangan itu.
“Bros identitas pegawai hotel. Ada namanya di sini.”
Sazana merasa digelitik rasa ingin tahu hingga dia berusaha mengintip dari celah antara barisan rekan-rekannya. Dan siapa yang berdiri di sana membuat bola matanya nyaris mencelus.
“Mati aku!” gumamnya setengah berbisik.
Perlahan ia berbalik dan hendak pergi, tetapi satu suara menghentikan langkahnya sesaat sebelum dirinya nekat kabur dari ruangan itu.
“Hey, mau ke mana kamu?! Jangan pergi, Sazana!”
***
*Bli : dalam bahasa Bali merupakan panggilan untuk laki-laki yang lebih tua (sama dengan mas, abang, dll)
*Geg : kependekan dari Jegeg, yang merupakan panggilan untuk orang asing yang mereka temui. Arti harfiahnya adalah cantik. Atau bisa juga panggilan untuk adik perempuan. CMIIW